KUHARAP ADA BAHAGIA

KUHARAP ADA BAHAGIA
CHAPTER 6


__ADS_3

“Mama, mau itu.” Seorang anak laki-laki berlarian menunjuk balon dengan berbagai bentuk, ada yang berbentuk menyerupai binatang, tokoh kartun, ataupun berbentuk huruf.


“Ibu cepat. Ibu, ada ikan terbang. Ibu, ayo cepat masuk,” rengek seorang anak perempuan yang menunggu ibunya membeli tiket. Ikan terbang yang dimaksud adalah balon dengan bentuk ikan yang tak sengaja lepas dari genggaman seorang anak.


“Jangan lari-lari! Hati-hati, Nak.”


Suara khawatir terdengar saling sahut-sahutan keluar dari seorang ibu yang melihat anaknya lincah berlari, sedang si ibu tertinggal jauh di belakang bersama bapak si anak yang berlari.


Semua terdengar lembut menelisik telingaku, mereka yang merengek, mereka yang bercanda dan riuh pengunjung yang saling melempar canda. Aku mundur dari tempatku berdiri, melihat sekeliling.


Aku di sini, berdiri bersama Joseph yang kemarin mengajakku pergi ke salah satu taman bermain dalam ruangan di kota kami. Tadi dia datang menjemputku ke rumah, setelah memberiku kabar melalui pesan singkat.


Dia sempat memperingatkanku untuk memakai pakaian yang tebal, jadi di sinilah aku dengan memakai sweater abu-abu bergambar Snoopy dan celana jeans hitam, sedangkan Joseph memakai jaket berwarna biru gelap dan jeans abu-abu, ia juga memakai topi dengan tulisan “NG” di depannya.


“Ayo,” ajak Joseph, menggenggam tanganku dan membawaku masuk, berbaur dengan pengunjung lainnya.


Aku mengikuti langkahnya, berjalan perlahan menikmati suasana hangat malam ini, aku mencoba seperti pengunjung yang lainnya, melihat-lihat sekitar. Di dalam taman bermain ini, terdapat berbagai wahana berbagai usia, tempat makan, juga permainan-permainan yang memicu adrenalin. Di dalam terasa sejuk, tapi karena banyak pengunjung, suasana menjadi hangat dan ramai.


“Mau ke mana dulu?” tanya Joseph.


“Main yang ringan-ringan dulu aja, atau jajan dulu,” jawabku masih mengamati sekitar.


“Jangan jajan dulu, entar aja pas udah capek main. Jadi mau ke mana dulu?” tanyanya, ia melihatku, mempertemukan manik mata kami.


“Sambil jalan aja nanti kalo ada yang seru mampir deh,” jawabku.


“Oke kalo gitu, gua ikut lu aja,” katanya.


Setelah memutuskan, kami berjalan dengan tangan yang saling bertaut, aku nyaman dengan perhatiannya. Aku tidak bisa berada di keramaian, tetapi dengannya, aku mencoba untuk percaya, aku berusaha untuk menikmati suasananya.


“Gua, semalem diejek sama orang rumah,” ujarku, mengadu.


“Kenapa?” tanya Joseph, ia melihat padaku.


“Ya, karena mau main sama lu,” cicitku.


“Terus, kenapa jadi diejek?” tanyanya lagi.


“Mereka ledekin gua mulu, mana yang dibela malah lu, ketimbang anaknya sendiri. Kesel gua,” ungkapku.


“Wah, kayaknya gua udah direstuin sama keluarga lu,” jawabnya percaya diri.


“Padahal apa yang baiknya dari lu, ya? Tapi, Mama bilang lu ganteng, dari mananya coba?” godaku.


“Cuman orang yang nggak punya mata aja yang bilang gua nggak ganteng, orang sempurna gini. Paslah kalo bersanding sama lu,” ujarnya, tersenyum jahil, aku melotot mendengar kepercayaan dirinya itu.


“Wah, tingkat pede lu, emang nggak ada obat, patut dijerumuskan ke panci soto,” ledekku, dia tertawa geli.


“Jujur aja kalo gua emang ganteng, coba liat gua,” pintanya, menggoyangkan tangan kami yang bertaut, memaksaku untuk menoleh padanya. Aku pun melihat padanya, mengamati wajahnya dengan seksama.


“Hmm …, setelah diamati dari samping kiri dan samping kanan, lu masih kalah jauh sama Tom Holland. Dicoba lagi besok, okay? Yuk, semangat lagi yuk,” godaku, lagi.


“Gua akan mencoba lagi, tunggu beberapa saat lagi,” ucapnya, konyol.

__ADS_1


“Banyak modus, lu!” kesalku, kami masih melanjutkan berjalan.


Di samping kiri dan kanan kami, banyak wahana yang bisa dinaiki dan di mainkan. Dalam jarak dua meter, aku melihat ada permainan menembak boneka dengan bola kecil, aku menengok, tertarik dengan permainan itu.


“Lu jago nembak nggak?” tanyaku, mengejutkan Joseph.


“Kenapa lu nanya gitu?” tanya Joseph sembari mengernyitkan dahi, keheranan.


“Itu di sana ada permainan nembak-nembak boneka pake bola, seru kayaknya. Lu bisa main itu?” jelasku, Aku menunjuk dengan wajahku mengarah pada stand permainan tembak boneka itu.


“Oh, kirain nembak apaan?” Dia menggaruk belakang kepalanya, dan tersenyum padaku.


“Apaan, emang?” tanyaku heran.


“Nggak, ayo ke sana bisa gua, timbang nembakin boneka pake bola mah jago gua, nembak yang lain juga lebih jago lagi,” katanya.


“Ya udah ayo ke sana, gua mau boneka lumba-lumba ya,” jawabku antusias.


“Mau semua juga gua jabanin,” jawabnya penuh, percaya diri.


“Ilih, jangan sombong dulu lu, buktiin dulu baru omong besar,” kataku.


“Ayo, gua semangat nih! Lu bakalan nyesel udah nantang gua,” katanya


***


Kami tiba di stand permainan menembak boneka, Joseph tengah memegang bola kecil, dia fokus pada boneka yang aku inginkan, dia melemparnya dan meleset. Aku tertawa, karena sudah lima lemparan, tidak ada satu pun yang mengenai incarannya.


Dia kembali fokus, aku tergoda untuk melihat Joseph dari samping, memperhatikan wajahnya yang serius. Bentuk rahangnya yang tegas terlihat indah di wajahnya, hidung mancungnya semakin jelas terlihat dari samping, aku tersenyum. Dia menoleh padaku, memasang seringai geli dan kesal di wajahnya.


“Jago gua, cuman hari ini lagi nggak beruntung aja,” jawabnya, kikuk. “Kita coba sekali lagi ya, yang ini pasti dapet,” lanjutnya.


Setelah percobaan beberapa kali boneka tidak kunjung didapat, kami pun melanjutkan mengunjungi wahana yang lain. Kami mengobrol, sesekali mengomentari orang-orang yang melibatkan diri dalam permainan ekstrim.


Jeritan dan tawa terdengar, aku sekilas melihat ke sisi kiri, di sana ada wahana giant swing. Aku melihat pengunjung yang sedang diputar-putar di atas udara, kemudian diayunkan ke kiri dan ke kanan, aku antusias dan penasaran.


Setelah menimbang, aku memutuskan untuk merasakan sendiri sensasi dari wahana ini. Setelah menunggu antrian yang lumayan panjang, aku dan Joseph berhasil menaikinya. Joseph tampak tegang di sampingku, melirik ke bawah, seolah sedang menghitung jarak antara giant swing dengan tanah. Aku hanya tersenyum dengan reaksinya itu, dia pasti ketakutan, tapi aku tidak peduli, aku akan bersenang-senang malam ini.


Giant swing akhirnya bergerak, mulai berayun, mula-mula pergerakannya lambat, tapi lama-lama kecepatannya bertambah, aku tersentak kaget. Aku yang di bawah tadi sempat meremehkan wahana ini, tapi sekarang aku mendapati diriku menjerit, minta turun di tengah ayunan yang semakin kuat, aku panik. Gejolak rasa was-was menjalar di seluruh tubuhku, tegang, takut, dan pusing kian melanda.


Tak berapa lama giant swing pun berhenti, aku cepat-cepat turun. Kaki sudah menginjak tanah perutku mual, rasanya seperti diaduk. Joseph sama payahnya denganku, kami saling adu pandang dan tertawa bersama.


“Ngide banget pake naik segala,” katanya, kesal.


“Kan penasaran,” jawabku polos, lalu kami tertawa kembali.


“Cukup sekali seumur hidup deh gua naik kayak gituan, perut rasanya aneh berasa diaduk,” jelasnya.


“Tapi seru, kapan lagi lu bisa teriak selepas itu, beban hidup berkurang satu ons,” celetukku, dan kami tertawa lagi.


“Dasar lu,” katanya.


***

__ADS_1


Rasa tegang dan mual kami sudah reda, kami menjajal permainan yang lain, riuh pengunjung menyempurnakan malam ini, aku senang, aku bahagia. Tak pernah aku merasakan perasaan sebebas ini sebelumnya.


Aku menikmati malam ini bersama Joseph, aku bisa bercanda, tertawa dan saling mengejek satu sama lain, bahkan tak sungkan saling melempar popcorn yang kami beli.


Kami semakin masuk ke dalam, mendapati diri kami yang kelelahan. Kami kemudian memilih wahana bianglala atau kincir raksasa, sebagai tempat terakhir yang kami kunjungi di taman bermain ini.


“Lu seneng?” tanya Joseph, di dalam kabin bianglala yang mulai berputar.


“Seneng banget, banget, banget. Gua nggak pernah sebebas ini, kita jajal semua permainan, cuman wahana anak aja yang kita lewatin, gua seneng,” jelasku, aku tersenyum melihat padanya.


“Syukur deh, gua juga lebih seneng kalo lu seneng,” katanya, senyumannya terlihat cerah dan damai.


“Makasih …,” lirihku. “Makasih, udah bawa gua ke sini,” lanjutku.


“Nggak biasanya lu kayak gini, aneh gua dengernya,” ejeknya.


“Ye, dibaikin malah kayak gitu, tapi serius makasih untuk semuanya,” ucapku. Dia mengalihkan pandangannya ke samping, melihat ke arah luar.


“Di sini ada mitos, katanya kalo lu ngucapin harapan pas lagi di puncak nanti, harapan lu bakalan terwujud,” ujar Joseph.


“Apa sih, kok lu percaya yang kayak gitu-gituan?” kataku, geli.


“Bukan gitu, siapa tau beneran, apa salahnya berharap. Makanya dicoba, tutup mata lu, dan sebutin harapan lu, pas di puncak nanti,” pintanya.


“Apa korelasinya? Ada-ada aja deh, lu,” kataku.


“Dicoba aja, cepetan, sebentar lagi kita sampe puncak,” desaknya.


“Beneran ya, gua tutup mata nih, lu jangan aneh-aneh,” ancamku.


“Iye, buruan ah,” desaknya lagi.


Atas dasar dorongan dan keinginan kuat, aku menutup mata mengucapkan semua harapanku di dalam hati, harapan yang tak pernah berani aku semogakan, harapan yang dulu sempat membuatku takut, harapan yang bahkan untuk memikirkannya pun segan. Tetapi di sini, di atas puncak bianglala, ditemani oleh Joseph, aku mengucapkan dengan sungguh-sungguh semua harapan itu, mengucap syukur atas semua nikmat yang diberikan-Nya.


Aku selesai, dan membuka mataku kembali. Pemandangan di atas bianglala begitu indah, semua yang ada di bawah sana terlihat jelas. Lampu-lampu kota menambah kesan mewah, membuat kebahagiaanku lengkap.


Malam ini untuk kesekian kalinya, Joseph mampu membuatku bahagia dengan caranya sendiri, dia bisa mengeluarkan sisi lain dari diriku, dan yang terpenting dia selalu menjagaku.


“Makasih,” ucapku sekali lagi.


“Jadi, gua udah ganteng belum?” tanyanya, tiba-tiba.


Aku tersenyum, dia berpindah tempat dengan hati-hati, yang semula berhadapan denganku kini dia tepat di sampingku.


Dia mendekatkan tubuhnya padaku, kemudian membelai wajahku dengan tangan besarnya. Joseph dengan ragu mendekatkan wajahnya padaku, hingga wajah kami tak berjarak lagi.


Hembusan napas kami, menggelitik wajah kami, jarak sudah terkikis, dia lebih mencondongkan tubuhnya, mengulas senyum, kemudian mempertemukan bibirnya tepat dengan bilah bibirku. Aku terkejut, tapi tak bisa berbuat banyak, mataku perlahan terpejam, dia diam dan hanya mengecupku penuh perhatian.


“Gimana, udah ganteng belum?” tanyanya setelah menjauhkan diri dari wajahku.


“Ganteng,” ucapku, pelan.


Untuk pertama kalinya jarak kami sedekat itu, juga untuk pertama kalinya bukan hanya tangan kami yang bertaut. Aku tersenyum, dengan tatapan matanya yang masih tertuju padaku, aku senang, aku tidak akan melupakan malam indah ini.

__ADS_1


Di sini, di atas puncak bianglala, aku temukan diriku yang baru, dengan pemandangan kota dan terang lampu yang indah menjadi saksi akan wajahku yang perlahan bersemu. Seketika harapanku terasa seakan terkabul seluruhnya. Malam ini bersamanya akan menjadi sejarah baru yang kami toreh sebagai sepasang sahabat yang penuh dengan rasa tabu


__ADS_2