
“Rinda …! Rin …! Di sini, Rin! Duduk di sini aja?” Laki-laki itu terus berteriak, tangannya terus melambai-lambai mengisyaratkan kami untuk segera mendekatinya.
Karena laki-laki itu terus melambaikan tangannya, aku dan Dita pun berjalan mendekati dirinya. Aku tidak percaya dia ada di sini, dia datang dengan pakaian santai, terlewat santai menurutku. Selama berteman dengannya belum pernah aku melihat dia dengan penampilan seperti sekarang ini.
“Lu—“
“Lu yakin dateng ke sini kayak gini?” tanyaku, memotong Dita, sepertinya Dita juga sama terkejutnya denganku.
Bagaimana tidak terkejut dan terheran-heran, dia datang ke perusahaan hanya memakai celana jeans pendek, dengan model koyakan di beberapa bagian dan kaos polos warna putih gading.
“Gila ‘kan gua, kayak gini aja ganteng banget. Udah pasti banyak yang naksir sih,” ucapnya terlalu percaya diri.
“Yang pasti bukan gua sih,” kataku polos.
“Waw, gua speechless,” ujar Dita menggeleng-gelengkan kepala, melihat dia dari atas kepala hingga ke bawah tubuhnya.
Beberapa hari ini, aku belum bertemu dengannya, dia juga tidak ada kabar, tidak meminta ini dan itu kepadaku. Aku heran dia datang pada jam istirahat, tidak seperti biasanya, dan tidak kusangka pula akan bertemu di kafe.
“Gua akuin tingkat percaya diri lu, gua acungin jempol, tapi nggak gini juga kali! Tapi, okelah, terserah Mas Rangga saja,” kataku.
Iya, benar sekali, pria ini adalah Rangga, dia tiba-tiba muncul di kafe, padahal aku yakin dia sangat banyak kerjaan di lapangan, tapi entah kenapa dia bisa ada di sini. “Kenapa lu dateng ke sini dah, pake baju gembel lagi?” tanyaku, menggelengkan kepala.
“Gua nggak niat ke sini sebenernya, tapi tadi ada temen minta ketemu, kebetulan gua lagi deket sini. Jadilah gua ketemuan di sini, sekalian mampir makan,” jelas Rangga.
“Gila sih, mana ada orang minta ketemuan dibawanya ke kafe perusahaan, gokil,” ujar Dita.
“Aneh emang, kayaknya saking cintanya dia sama ini perusahaan, jadi main bawa sini aja, dah,” sindirku.
“Bukan lagi, kurang cinta apa gua sama ini perusahaan, kalo nggak jadi wakil direktur sih, kelewatan,” jawab Rangga dengan senyum tengilnya.
“Astaga!” pekikku.
“Udah ah, mau pada pesen apaan? Gua pesenin, lu berdua pilih meja aja, tuh di sana udah ada yang kosong,” katanya, sembari menunjuk salah satu meja.
“Sekalian bayarin nggak?” canda Dita.
“Boleh, pilih aja, tenang tinggal minta sama perusahaan kalo kurang, gua ‘kan wakil direkturnya,” jawabnya, semakin menjadi.
Aku hanya tertawa mendengar gurauan mereka berdua, akhirnya hatiku bisa nyaman juga, setelah seharian dirundung rasa sesak yang tak beralasan. Setelah menyebutkan makanan yang ingin kami makan, Rangga langsung memesankannya, dan kami pun mencari tempat duduk yang nyaman.
***
“Katanya lu mau cerita, Nda?” tanya Dita.
Makanan sudah kami santap, masih ada beberapa waktu lagi sebelum jam istirahat berakhir, dan Dita sepertinya masih penasaran dengan sikapku yang berbeda hari ini.
“Cerita apaan? Gua boleh tau, kah?” tanya Rangga, menimpali.
“Gua belum tau, katanya dia mau ceritain kejadian luar biasa, yang pas nyari data tempo hari,” jawab Dita.
“Waktu itu parah sih si Rinda, keras kepala banget. Disuruh istirahat nggak diturutin, kesel sendiri gua yang bantuinnya,” kata Rangga.
__ADS_1
“Dia tuh kalo kerja terlalu nyari kesempurnaan, padahal ‘kan ya, kita manusia. Tapi buat dia nggak bisa begitu,” ujar Dita.
“Dia tuh terlalu teliti,” balas Rangga.
“Saking telitinya, ada satu titik yang nggak ke-input aja dia uring-uringan,” tambah Dita.
“Lu kurang-kurangin dah, nggak baik buat lu. Kerja nggak selamanya sedikit, ada saatnya kerjaan numpuk banget,” saran Rangga. Dia berbicara sambil menatap padaku, meyakinkan.
“Yang paling banyak tuh, kemarin pas ngumpulin data itu, ‘kan?” tanya Dita.
“Iya sih, dia beres cuman dua hari lagi, coba lu bayangin, mana ada orang yang sanggup kayak gitu, emang nih si Rinda kadang-kadang,” kata Rangga kepada Dita.
“Wah ajaib nih orang, kalo itu gua, lebih baik gua ulur kerjaannya. Males banget ngerjainnya, mana pasti banyak banget itu data. Keren sih lu,” kata Dita.
“Iye, gua bilang juga apa, dia tuh terlalu banyak mentingin kerjaan ketimbang diri dia sendiri,” tambah Rangga.
“Padahal gua udah sering nasihatin dia, bandel ya anaknya,” kata Dita lagi.
Mereka membicarakanku seolah aku tidak ada bersama mereka, santai sekali, tapi aku tidak masalah, dengan begitu aku bisa tau bagaimana diriku di mata orang lain. Aku tidak menimpali pembicaraan mereka, aku ingin tau segalanya, jika aku menyela, mungkin mereka akan canggung.
“Kayaknya harus laki yang suka jemput dia tuh yang nasihatinnya, dia pasti nurut kalo sama laki itu,” ujar Rangga.
“Oh iya, kok udah lama dia nggak jemput, Nda?” tanya Dita kemudian.
Aku tidak segera menjawab, entah kenapa mendengar pertanyaan itu, aku tiba-tiba merasakan dada ku sakit, jantungku berdetak begitu cepat, napasku pendek dan terengah-engah. Aku gemetar hebat, dengan tangan yang dipenuhi keringat dingin, aku seketika tertunduk dan terus memegang dadaku.
“Rin …!” seru Rangga panik, melihatku kesakitan.
“Ya Tuhan, Rinda …!” teriak Dita, penuh kekhawatiran.
“Nda, tarik napas,” pinta Dita.
Aku menuruti permintaan Dita, aku menarik napas dan berusaha untuk lebih tenang lagi. Aku memegang kepalaku, tiba-tiba kepalaku terasa sangat berat. Dita mencegah tanganku yang berusaha memukul-mukul kepalaku sendiri, tapi aku tetap melakukannya. Napasku semakin memburu, mereka semakin kalut melihatku begini.
“Rin, minum dulu,” kata Rangga.
“Aduh, gua nggak tau harus ngapain,” ucap Dita frustrasi.
“Lu juga tenang Dit, kalo lu panik kita nggak bisa ngapa-ngapain,” kata Rangga.
“Nda, tarik napas pelan-pelan, coba jangan nunduk. Nda, lu bisa,” pinta Dita.
Dita memeluk tubuhku agar tidak terlalu gemetar. Aku merasa lebih tenang dengan perlakuan mereka, aku coba untuk mendongak, menenangkan diri.
Aku tidak tau kenapa tiba-tiba bisa begini, sepertinya karena kondisi kafe yang sedang ramai, juga pembicaraan Dita dan Rangga yang membuatku berpikir macam-macam.
Aku tadinya ingin bercerita tentang kejadian di depan toko bersama Joseph, pemicu larangan Joseph dekat dengan Rangga, juga sebab yang mengakibatkan Joseph tidak ada kabar.
Dengan bantuan Rangga dan Dita aku berangsur-angsur pulih. Biasanya ketika aku mengalami keadaan seperti ini, selalu ada Joseph di dekatku. Joseph selalu berhasil menenangkanku kembali dengan kata-kata positifnya, untunglah kali ini aku juga tidak sendirian, masih ada yang peduli padaku selain keluargaku dan Joseph.
Aku merasa tersentuh, merasa diterima oleh orang lain, tidak butuh hal lain lagi, perasaan diterima inilah yang sekali lagi menyelamatkanku dari kondisi terburuk.
__ADS_1
Aku menatap mereka secara bergantian, setelah mengatur napas dan kembali tenang, mereka juga menatapku penuh perhatian. Mereka tampak khawatir, Dita tak henti-hentinya mengelus punggungku dengan lembut.
“Thanks, ya, nggak lari pas liat gua kayak tadi,” ujarku lirih.
“Nggak mungkin lah, udah jangan mikirin yang macem-macem,” kata Dita. “Ih, sumpah, gua deg-degan, gua nggak sanggup liat lu kalo lebih dari yang tadi, please. Lu bisa, pasti bisa, gua ada buat lu, jangan dipendam lagi,” tambah Dita.
“Nggak bakal lagi, makasih banyak. Demi Tuhan, terima kasih banyak,” ucapku. Aku benar-benar bersyukur bertemu dengan orang-orang yang tepat.
“Gua udah nggak mood denger cerita lu, nanti aja dah,” kata Rangga.
“Iya dah, nanti aja, kalo lu belum siap buat lebih terbuka, jangan dipaksain. Gua bakalan nunggu sampe lu siap, gua nggak bakalan ke mana-mana,” lanjut Dita.
Dengan kejadian ini setidaknya aku belajar sesuatu, ketika kita merasakan hal buruk tidak pada tempat yang tepat, setidaknya kita mempunyai teman yang tepat dan tidak perhitungan, yang lebih penting adalah kita diterima oleh orang lain bukan hanya merasa diterima.
***
Waktu istirahat makan siang sudah habis, aku sudah jauh lebih tenang. Rangga pamit untuk pulang setelah memastikan keadaanku baik-baik saja, Dita dan aku kembali ke ruangan masing-masing.
Dita terus menanyakan keadaanku, juga tak henti mengirim pesan singkat, memastikanku dalam kondisi yang siap untuk bekerja kembali.
Di ruanganku, aku bekerja seperti biasanya, aku masih sempat untuk menyelesaikan laporan yang sudah ditugaskan padaku. Aku tidak mempersulit keadaan dengan membuat kesalahan, aku tetap bekerja dengan teliti.
Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat, ternyata sudah waktunya aku untuk pulang, hari ini pekerjaan semuanya sudah selesai. Aku bersiap pulang, dan membereskan barang-barangku ke dalam tas.
“Tumben lu balik tepat waktu,” celetuk Dara dari meja cubicle-nya.
Aku menoleh, tak percaya dia berbicara kepadaku, biasanya kami hanya berkomunikasi ketika terlibat pekerjaan saja, selebihnya kami hanya saling mendiamkan diri. Aku merasa tidak punya kepentingan selain pekerjaan dengan dia, aku tidak ingin terlibat lebih jauh dengan hidupnya.
“Iyalah, bukannya lu yang nyuruh,” balasku, ketus.
“Bagus, nurut juga lu,” katanya.
“Iya pasti. Kerjaan gua udah kelar, gua mah kalo ada kerjaan langsung diberesin, nggak kayak lu, nunggu batre HP habis dulu baru kerja,” sindirku.
“Apa?!” suaranya meninggi. “Lu udah berani ya—“
“Kenapa?” potongku.
“Lu mulai berani ya sekarang. Mentang-mentang udah sering disuruh sama atasan, awas ya lu!” ancamnya.
“Perasaan gua dari awal udah berani, cuman elu ini,” kataku.
“Lu jangan ngelunjak ya, ada saatnya lu dibuang sama ini perusahaan, jangan terbang terlalu tinggi, nanti kalo lu jatuh sakit sampe bisa bikin lu mati, baru tau rasa lu,” geramnya.
“Sorry ya, gua nggak perlu terbang buat keluar dari ini perusahaan, tinggal turun pake lift nyampe ke bawah, nggak perlu terbang. Ribet amat harus terbang dulu. Oh kalo nggak tau, itu pintu keluarnya, lift ada di sebelah kanan, silakan,” balasku berani, tak lupa aku menunjuk pintu dan mempersilakan dia pulang.
“Terserah, awas aja lu!” tegasnya.
“Silakan, Mbak Dara yang terhormat,” godaku.
Dia meninggalkan ruangan melewatiku dengan tatapan tajam terus terarah padaku, tidak lupa dia juga membanting pintu sangat keras, hingga kaca-kaca jendela bergetar. Dia melakukan hal ini ketika kami hanya berdua, dan keadaan kantor dalam keadaan sepi.
__ADS_1
Hari ini benar-benar sangat menguras emosi dan rasa sakit di hati, aku yang tiba-tiba dihantam badai dari reaksi tubuhku, Joseph yang tak kunjung ada kabar, dan ditutup dengan ancaman Dara yang begitu berani ketika tidak ada orang lain.
Sungguh untuk melengkapi kehidupan kita memang dituntut untuk merasakan semua emosi yang sudah tertulis dengan jelas, alam semesta memang sudah ada dengan segala isinya, apalah daya kita yang hanya harus siap dengan segala kejutan-kejutannya.