
Hari berikutnya di jam pulang kantor.
Aku masih sibuk dengan beberapa bahan untuk mengisi data-data yang sedang aku kerjakan. Aku duduk menghadap ke monitor, dengan tanganku yang masih sibuk mengetikkan kata demi kata di keyboard.
Ruangan divisi dua di dalamnya terdapat dua ruangan lain yang memisahkan ruang staff dan ruangan atasanku. Aku bekerja bersama staff senior bernama Dara, dan staff lapangan yang jarang sekali ada di kantor namanya Rangga, sedangkan satu lagi masih belum terisi.
Ketika bekerja biasanya aku hanya fokus pada pekerjaanku, tak pernah peduli dengan aktifitas orang lain. Seperti saat ini, ketika orang lain sibuk berebut naik lift atau saling mendahului untuk menggunakan tangga darurat untuk segera pulang, aku masih tenang bekerja.
Mereka yang kebetulan melewati ruanganku, sesekali menoleh ke dalam ruanganku, melihatku dengan penuh tatapan heran.
Sejak aku mendengar sesuatu yang tidak mengenakkan tentang cara kerjaku, aku semakin menjauhkan diri dari rekan kerjaku. Hanya dengan Rangga aku biasanya bercengkerama, itu pun tidak lama karena Rangga selalu ditugaskan keluar, untuk memonitor lapangan, aku juga tidak begitu akrab dengan Dara.
Waktu itu aku tak sengaja menguping pembicaraan yang tidak enak tentangku, aku mendengar suara Dara yang nyaring menyudutkanku. Maka dari itu aku tidak bisa lagi percaya pada Dara, aku jauh lebih mempercayai Dita yang bekerja di divisi yang berbeda denganku.
Dara sudah hilang dari ruangan kami, dia biasanya bekerja sesuai jam operasional kantor. Aku sengaja pulang telat, dan biasa lembur untuk menyelesaikan pekerjaanku yang telah mereka tugaskan padaku. Aku memang biasanya pulang sedikit telat dari jam kerja agar bisa menyusun jadwal untuk besok harinya.
Tiba-tiba, ketika aku tengah asyik mengedit data-data yang sudah aku ketik, aku mendengar langkah kaki menggebu. Seseorang masuk ke ruangan, ternyata Dara yang kukira sudah pulang.
Dia entah kenapa kembali lagi masuk menenteng tas mahalnya, aku kira dia tertinggal barang di sini, tapi tiba-tiba dia meletakkan tas mahalnya di mejaku dengan kasar, aku tersentak, kemudian menatapnya yang juga tengah menatapku dengan sinis.
“Bisa nggak sih lu, nggak usah caper! Nggak usah ngerusak jam kerja!” tuduhnya tiba-tiba, dengan membentakku.
“Caper apaan sih?” tanyaku, tanpa rasa takut, aku mendelik padanya tak terima.
“Lu nggak usah sok pinter sendiri, lu nggak usah ngerusak jam kerja yang udah diatur perusahaan!” tegasnya.
Aku tidak terima dituduh seperti itu, aku berdiri menyamakan tinggi dengannya, aku tatap matanya. Dia memandangku bengis, kantor sudah sepi, itu juga sepertinya yang membuat dia berani bertindak seperti itu.
“Gua nggak pernah ada niatan buat ngerusak jam kerja, apalagi tatanan perusahaan yang udah jelas,” bantahku.
“Lu sadar nggak, lu itu ngerusak jam kerja kantor!” bentaknya, menunjuk-tunjuk padaku.
“Maaf, maksudnya gimana, ya?” tanyaku masih tidak terima dan cenderung heran dituduh seperti itu.
__ADS_1
Aku sangat pendiam ketika tidak diusik, tapi seperti kata pepatah bilang ‘jangan pernah sekalipun membangunkan singa yang sedang tidur’.
Aku akan selalu siap melawan ketika sesuatu menimpaku tidak sesuai dengan fakta, aku tidak segan membela diriku, aku sudah diajarkan oleh realita bagaimana seharusnya aku bersikap.
Contohnya sudah banyak, tidak perlu jauh-jauh mencari, mereka yang sudah memperlihatkan kelicikannya sendiri. Aku sudah melihat sendiri, bagaimana para atasan memperlakukan karyawannya, jadi jangan heran bila aku memutuskan untuk berani melawan siapa pun ketika hal itu tidak berdasarkan kebenaran.
“Lu itu lembur mulu, ngerjain kerjaan seenak jidat lu. Lu tau nggak, lu udah bikin kita yang udah lama kerja jadi salah di mata atasan, lu tuh masih baru, jadi nggak usah sok!” bentaknya, matanya membola sempurna.
Aku menyilangkan tanganku, tak mau kalah dengan dia. “Justru karena gua masih baru, makanya gua lembur, gua pelajari semua kerjaan gua dari nol. Karena gua sadar, nggak ada yang bisa diajak kerja sama, gua coba kerja sendiri. Di antara senior yang ada di ruangan ini, nggak ada satu pun yang pernah ngajarin gua!” Emosiku sudah naik, dan tanpa sadar aku mengeluarkan semua perasaan marah yang sempat mengganjal di dadaku kepadanya.
Dia tampak mati kata, kebenaran yang aku ucapkan sepertinya sudah menyadarkan dia. Selama aku bekerja, dan sudah terhitung satu bulan lebih, dia tidak pernah membantuku, bahkan sekadar menjawab pertanyaanku pun dia enggan. Dan dengan tidak berpikirnya dia menuduh sesuatu yang tidak seharusnya dia ributkan.
“Lu bisa belajar di rumah, lagian nih, lu tuh udah bukan lagi di masa belajar sekarang, udah lewat masa belajar lu,” katanya lagi, dia membuang pandangannya dari mataku.
“Gua pikir lu nggak bodoh, mana bisa data rahasia perusahaan gua bawa balik ke rumah, saran lu nggak membantu sama sekali, dan satu lagi, gua yang ngerjain, gua yang capek, kenapa jadi lu yang sewot?!” bantahku, sinis.
Aku sudah tidak peduli lagi bila ada orang lain yang melihat pertengkaran kami. Pada saat ini kantor sedang sepi, mungkin sebagian dari mereka sudah pulang. Tetapi tidak menutup kemungkinan ada satu atau dua orang yang tidak sengaja mendengar pertengkaran kami, atau bahkan seseorang di ruang pengendali kamera pengawas sedang menyaksikan kami.
“Gua nggak sewot tanpa alasan ya, lu kalo mau caper jangan kayak gini caranya, lu miskin perhatian, ya? Kayaknya sih emang iya, makanya sampe caper di kantor,” cibirnya.
Dia berdecak, sepertinya Dara tak pernah menyangka aku yang sehari-harinya hanya diam dan hanya fokus bekerja, akan melawan. Dia sedikit salah tingkah dan bingung, aku semakin tajam melihat dirinya.
“Gua capek ya, ngomong sama lu. Pokoknya gua tekanin sekali lagi, jangan pernah merusak jam kerja kantor dan kurangin sifat caper lu itu!” tegasnya.
Belum sempat aku membalas kata-kata protesnya tentang cara kerjaku, dia sudah melengos pergi, membawa tasnya. Dia keluar, menghentakkan kaki di setiap langkahnya, kemudian membanting pintu dengan keras.
Suasana hatiku seketika hancur, napasku memburu tak karuan, jantungku berdetak kencang, pikiranku kacau. Aku sudah tak ada lagi semangat untuk melanjutkan pekerjaanku, aku sudah tak fokus lagi dengan yang seharusnya aku kerjakan, aku diam, benar-benar diam.
Aku masih berdiri, berkacak pinggang, menghirup napas dalam-dalam, aku menengadahkan kepalaku ke atas mencoba mencari tenang di sana. Aku berusaha menyalurkan amarah-amarahku pada langit-langit ruangan kantor, berusaha sekuat tenaga untuk tidak meneteskan air mata, yang justru membuat dadaku semakin sesak.
Setelah mulai kembali tenang, aku kembali duduk, melihat kertas-kertas data yang sudah berpencar ke mana-mana. Niatku untuk menyelesaikan laporan sudah hilang, kini aku mulai membereskan meja dari kertas-kertas data yang berserakan, aku juga tidak peduli dengan rencanaku menyusun jadwal kerja untuk besok, fokusku sudah hilang.
Setelah memutuskan untuk pulang, aku membereskan kekacauan di meja kerjaku. Merapikan kembali ke dalam map file document dan menyusunnya kembali, aku melihat sekitar, semuanya telah terlihat rapi kembali, aku membereskan barang-barangku ke dalam tas kerja yang biasa aku bawa.
__ADS_1
Sebelum beranjak keluar, aku membawa handphone-ku, kemudian mengirimkan pesan. Aku mengirim pesan dengan penuh amarah di chat room Joseph, dia pasti sangat kaget dengan pesan yang penuh nada emosi itu.
Joseph tidak membalas pesanku, ia langsung meneleponku. Aku segera menerima panggilan teleponnya.
“Gua kesel!” teriakku, ketika baru saja terhubung dengan Joseph.
“Kenapa?” tanyanya.
“Ada orang gila ngajak berantem, kesel!” jawabku.
“Siapa? Ngomong apa dia sama lu?” tanya Joseph, dia juga terdengar kesal.
“Dia nuduh gua caper, masa dia ngelarang gua lembur, ini kerjaan gua. Astaga, gua kesel banget sumpah!” jelasku.
“Lu masih di kantor? Dia masih ada di sana nggak? Gua samperin sekarang, gua mau kasih pelajaran,” geramnya.
“Udah balik dia, kalah ngomong sama gua,” jawabku.
“Ya udah, gua jemput sekarang aja, ya?” katanya.
“Gimana lu aja, gua capek,” pungkasku.
“Ya udah, lu keluar dulu. Tenangin sambil jalan, gua otw sekarang,” katanya. “Gua tutup. Lu turun sekarang,” tambahnya.
Joseph mengakhiri panggilannya, aku bergegas keluar, karena sedang kesal, aku membanting pintu begitu kencang.
Aku turun ke bawah menuju lobi, aku keluar dengan wajah yang merah dan air mata yang siap jatuh kapan saja. Aku begitu kesal, sehingga tidak ada cara lain untuk melepaskannya selain menangis dan berteriak.
Tidak lama Joseph datang, dia sepertinya langsung berangkat setelah selesai menghubungiku, hingga tak sempat memakai pakaian yang patut, ia hanya mengenakan t-shirt putihnya, dan celana jeans yang robek-robek bagian lututnya.
Dia turun dari mobilnya, kemudian langsung mendekat padaku. Aku berlari menatapnya, aku langsung memeluknya, karena tidak siap dia sempat terdorong ke belakang, dia bingung tapi tidak protes.
Aku menangis di pelukannya, aku sudah tidak bisa lagi menahan kekesalanku, aku sudah sesak dengan pemikiranku sendiri. Dia dengan telaten mengelus punggungku, memberikan ketenangan.
__ADS_1
Aku masih menangis melepaskan semua rasa sakit yang tak pernah aku rasakan sebelumnya. Rasa sakit ini membuatku seakan terhempas, aku kecewa tentang semua pendirianku yang mereka hancurkan begitu saja, aku marah, juga tidak percaya.
Aku semakin mengeratkan pelukanku pada Joseph, dengan posisi ini aku menerima belaian-belaian sayang yang coba Joseph salurkan melalui usapannya pada rambutku. Aku sedikit tenang, tetapi tidak juga membuatku berhenti dari tangisanku, hatiku benar-benar hancur.