KUHARAP ADA BAHAGIA

KUHARAP ADA BAHAGIA
CHAPTER 12


__ADS_3

“Kamu lagi berantem sama Joseph?” tanya Mama.


Kami berada di dapur, sedang menyiapkan makanan, kebetulan aku hari ini libur, jadi aku bisa gunakan untuk istirahat sejenak dan membantu Mama. Semalam aku belum bercerita, dan Mama sepertinya masih penasaran dengan sikapku pada Joseph.


“Nggak berantem, dia salah paham aja, tapi nyebelin,” jawabku.


“Nyebelin kenapa?” tanya Mama.


“Ya gitu *deh*, Ma, aku juga nggak paham, lagi aneh aja kali dia,” jawabku, sebenarnya aku tidak mau membahas tentang Joseph, setiap mengingat kata-katanya membuatku tidak karuan, marah juga kecewa.


“Oh, ya sudah, terus kamu kemarin kenapa pulangnya malem banget, Nak? Itu udah lewat dari jam biasanya kamu pulang loh, Nak,” kata Mama.


“Aku ngerjain dulu kerjaan, Ma,” jawabku.


“Mama tau, tapi kenapa sampe pulangnya malem banget, udah gitu sampe muka kamu pucet lagi, atau jangan-jangan kamu nggak sempet makan, ya?” tanya Mama, penuh selidik.


“Iya, aku sampe lupa makan, Ma, terlalu fokus aku, soalnya kerjaannya numpuk banget,” jawabku, sedikit tertawa.


Mama terkejut, sampai-sampai menghentikan kegiatannya dari mengupas bawang. Aku hanya tertawa saja, seperti tidak terjadi apa-apa, aku tau Mama akan marah jika tau yang sebenarnya terjadi.


“Ya, Tuhan, Nak. Mama nggak salah denger ‘kan ini? Kamu sampe nggak makan?” tanya Mama, khawatir.


Aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal. “I-iya, Ma,” jawabku, tersenyum kuda.


“Nak, kamu tau nggak kalo kayak gitu *tuh* bahaya? Kamu tau nggak, kalo kerja kamu sampe nggak inget istirahat nggak bakalan dapet apa-apa, selain capek?” ujar Mama, sedikit terdengar marah.


“Tau, maaf,” jawabku.


“Jangan minta maaf sama Mama, minta maaf sama diri kamu sendiri, minta maaf sama tubuh kamu sendiri, sadar nggak *sih* kamu itu udah nyakitin diri kamu sendiri? Manusia *tuh* ada batasnya, Nak, Mama seneng kamu udah bisa kerja, keluar dari rumah, tapi kalo denger kamu kayak gini, Mama jadi nyesel udah ijinin kamu kerja. Kalo kamu gitu terus, mending di rumah aja *deh*, berhenti kerjanya,” jelas Mama.


“Ih, Mama kok gitu *sih*, Mama maaf nggak gitu lagi, janji *deh*, ini yang terakhir,” rengekku.


“Mama, nggak mau kamu lebih mentingin kerjaan, dibandingin kesehatan kamu sendiri. Denger, Mama ngomong kayak gini, karena Mama khawatir, karena Mama nggak rela liat anak Mama menderita di luar sana, janji sama Mama, jangan diulangi lagi, paham Rinda?” tegas Mama.


“Paham, nggak diulangi lagi, janji,” jawabku, menunduk.


“Bagus, lebih bagus lagi cepet baikan sama Joseph,” pungkas Mama, membuat mulutku tak sadar menganga.


\*\*\*


Beberapa hari berikutnya, Joseph dan aku masih belum berkomunikasi, bahkan pesan terakhir yang aku kirim pun tidak ada balasan darinya. Aku sempat khawatir dengan keadaannya, tetapi ketika mengingat lagi sikap dia terhadapku tempo hari, aku sempat berpikir dia tidak ingin lagi bertemu denganku, aku berlebihan memang.


Di tengah kecamuk pikiranku yang sangat kacau, tiba-tiba terdengar suara perintah yang tidak bisa aku bantah. “Rinda, saya butuh laporan hari ini, datanya sudah saya kirim tadi lewat email. Kamu bisa selesaikan sekarang?” perintah Miss labil.


“Bisa, Bu,” jawabku.


“Kalo sudah selesai taruh di meja saya, hari ini saya harus pulang cepat. Jadi harus cepat-cepat kamu mengerjakannya, bisa ‘kan?” katanya lagi.

__ADS_1


“Bisa, sebagian sudah saya input datanya tinggal melengkapi saja, nanti setelah selesai saya akan segera serahkan hasilnya,” balasku.


“Ya sudah,” pungkasnya.


Karena perintah dadakan atasanku, akhirnya rencana kerjaku yang telah aku susun sejak awal harus rela aku ubah secara mendadak. Sesuai dengan saran Dita waktu itu, aku sekarang lebih memilih untuk mendahulukan pekerjaan yang mendesak.


Aku mulai membiasakan diri dengan sistem kerja yang bisa kapan saja berubah, sekarang aku tidak terlalu mengkhawatirkan jadwal buatanku sendiri. Tetapi untuk masalah disiplin dan kerapian masih tetap aku pegang, hal ini tidak mungkin hilang dari kebiasaanku yang sudah mendarah daging.


“Kalo nggak sanggup, nggak usah sok rajin, bilang aja,” celetuk Dara. “Ups, nggak mungkin ya? Soalnya lu pinter, nggak mungkin menyerah gitu aja, apalagi langsung dari atasan yang nyuruh,” lanjutnya lagi.


Dia tidak mengangkat wajahnya ketika berbicara denganku, dia masih sibuk dengan handphone-nya. Aku tidak mau menggubris celotehannya, aku sedang tidak ingin diganggu ketika fokusku sedang tinggi.


“Sekarang nggak bisa lembur, lho. Atasan lu butuhnya cepet, kasian ya? Mana masih muda,” ketusnya.


“Iya, sekarang juga beres. Sebelum makan siang gua udah bisa simpen data di atas meja atasan gua, nggak perlu main HP dulu,” sindirku padanya, matanya bahkan tidak beralih dari handphone sejak atasanku masuk ke dalam ruangannya.


“Nggak kaget sih, lu tetep si perusak jam kerja,” balasnya.


“Iya dong, bangga gua,” jawabku percaya diri.


“Nggak usah bangga dulu, lu cuman dijadiin babu sama dia, kasian,” celetuknya.


“Bodo amat, yang penting gua bermanfaat ada di sini, nggak kayak orang lain yang cuman bisa sibuk maen HP,” balasku.


Aku melanjutkan pekerjaanku, jam istirahat tinggal dua jam lagi, laporan yang diminta oleh atasanku sudah hampir selesai, tinggal diperiksa kembali kelengkapannya. Setelah menyelesaikan laporan waktu itu, atasanku lebih banyak meminta bantuan dariku ketika dia membutuhkan laporan yang sifatnya mendesak.


***


Sebelum istirahat makan siang, aku sudah menyelesaikan laporan yang diminta Miss labil, aku juga sudah menyelesaikan laporan yang lainnya. Aku segera membawa laporan itu langsung ke ruangannya.


“Ini Bu, saya juga sudah selesaikan laporan yang lainnya,” kataku. Aku menyimpan tumpukan laporan itu di hadapannya, Miss labil sedang fokus melihat ke layar monitor di depannya.


“Oh, oke. Sini saya coba lihat dulu,” pintanya. Aku lebih mendekatkan lagi laporanku yang sudah aku simpan di mejanya itu.


Miss labil membalik-balik halaman yang sudah aku kerjakan. “Ini sudah lengkap, sesuai yang saya mau, ya sudah, saya bawa ini sekalian saya pulang,” katanya.


“Kalo begitu, saya mohon izin untuk makan siang, Bu. Permisi,” pamitku.


“Iya, silakan. Saya juga pulang sekarang,” pungkasnya.


Setelah mendapat izin aku keluar dari ruangan atasanku, dan aku pun kembali ke meja cubicle-ku. Hari ini aku istirahat makan siang tepat waktu, pekerjaan sudah beres hampir setengahnya.


Biasanya Dita yang menemuiku terlebih dahulu ketika sudah masuk jam istirahat makan siang, kali ini aku menemuinya lebih awal. Aku butuh pengalihan untuk menenangkan kehampaanku, aku putuskan untuk pergi ke ruangan Dita yang ada di seberang ruanganku.


Aku melihat handphone-ku beberapa kali, berharap ada notifikasi dari Joseph, aku tidak menunggunya aku hanya penasaran saja. Tidak pernah seorang Joseph membiarkanku untuk tenang sehari pun, tetapi kali ini dia benar-benar hilang.


Aku sudah ada di depan ruangan Dita, aku melihat ke dalam ruangannya, di sana terlihat Dita sedang membereskan barang-barangnya, sepertinya hendak menemuiku. Aku masuk ke ruangan Dita, mendekatinya yang masih sibuk dengan kegiatan membereskan mejanya.

__ADS_1


“Udah siap?” tanyaku.


Dita terperanjat kaget karena aku yang berkata tiba-tiba tanpa aba-aba, dia membalikkan badannya melihat padaku. “Ngagetin ah, jail. Tumben udah keliaran, mau ke mana?” katanya, heran.


“Kerjaan gua udah beres, sekali-kali pengen nyamperin lu ke sini, bolehkan?” tanyaku.


“Nggak ada yang bisa larang lu, nggak berhak juga gua ngelarang lu. Mau makan di luar atau ke atas aja?” tanya Dita.


“Kafe aja, gua males gerak jauh,” jawabku.


“Yeu, dasar jompo lu,” candanya.


“Bukan, gua cuman mau menghemat energi, masih banyak yang harus gua kerjain, jadi marilah kita hidup dengan penuh pertimbangan,” jelasku.


“Saking banyaknya, lu nggak sadar hati lu nggak lu pertimbangin, sampe-sampe hati lu jadi ikut ketutup gitu,” ujarnya.


“Maksud lu?” tanyaku.


“Lu nggak seperti biasanya, gua yakin lu lagi kacau, tapi denial mulu. Coba lu terbuka sama hati lu sendiri,” jelasnya.


“Kok, jadi bawa-bawa hati? Mengapa engkau sok tau wahai kakak tertua,” ledekku.


Sepertinya Dita menyadari sikapku yang tidak seperti biasanya. Aku memang cenderung terlalu diam, tetapi aku tetap bisa menanggapi semua hal dengan ceria. Tetapi kali ini, aku hanya tersenyum seadanya, dan lebih diam dari keseharianku.


Sejak pertemuan terakhirku dengan Joseph, perasaanku selalu sesak, dan tidak enak, ada rasa hampa ketika aku sedang sendirian. Apakah aku merindukan Joseph? Tetapi tidak mungkin, yang aku rasakan ketika mengingat namanya hanya rasa kesal dan marah.


“Kita lanjutin ceritanya di kafe aja, biar lebih leluasa. Cepet kita ke atas sekarang,” ajaknya.


“Okelah,” jawabku, aku masih berdiri mematung ketika Dita melewatiku.


“Ayo, kok malah diem,” tegur Dita, menyadarkanku.


Aku pun mengikutinya, dan kami berjalan saling bersisian. “Gimana kerjaan lu, yang nyari data itu, udah beres?” tanya Dita


“Udah, gua sampe nyari ke ruang arsip, terus bolak-balik nanya Rangga, effort gua besar banget buat ini perusahaan,” jawabku, antusias. Minatku kembali lagi, memang pembicaraan seperti ini yang aku harapkan agar bisa mengalihkanku dari bayangan tentang Joseph.


“Keren lu, cakep banget dong harusnya, kenapa malah lemes gini?” tanya Dita, khawatir.


“Karena gara-gara kerjaan itu yang buat gua jadi banyak masalah,” lirihku.


“Masalah gimana?” tanyanya lagi.


“Nanti gua cerita di kafe aja. Yuk cepet ah, gua tiba-tiba laper,” ajakku.


Kami pun terus berjalan melanjutkan menuju kafe yang berada di bagian lantai atas, aku sudah membulatkan tekad untuk menceritakan masalahku dan Joseph kepada Dita, aku sudah hilang ide menanggapi sikap Joseph.


Kami sudah ada di kafe, melihat sekeliling ternyata tidak begitu ramai, sepertinya mereka lebih memilih makan di luar kantor. Mereka yang bosan dengan menu yang disediakan kafe perusahaan biasanya memilih untuk makan di luar, sekalian cuci mata. Aku dari pertama kali kerja di perusahaan, belum pernah sekalipun istirahat makan siang di luar, itu terlalu membuang waktu.

__ADS_1


Di kejauhan ada laki-laki yang melambaikan tangannya kepada kami, laki-laki itu tersenyum, aku memandangnya dari atas sampai bawah, tidak percaya.


__ADS_2