KUHARAP ADA BAHAGIA

KUHARAP ADA BAHAGIA
CHAPTER 24


__ADS_3

Hari yang paling mendebarkan pun akhirnya tiba, setelah dua hari liburan dan menikmati waktu luang secara luar biasa menyenangkan, aku kembali lagi menjalankan kewajibanku. Pagi ini seperti biasa aku diantarkan oleh Joseph, sudah lebih dari enam bulan lamanya, kebiasaan itu tidak berubah. Joseph akan mengantarku bekerja, juga menjemputku ketika pulang nanti, aku sebenarnya keberatan, tapi Joseph nampaknya menikmati sekali perannya itu.


“Jangan dipikirin, kalo nanti bos lu ngomong yang aneh-aneh, lawan, kalo nuduh yang lain-lain juga, buktiin kalo lu nggak ngelakuin itu, paham?” tegas Joseph sebelum pergi.


“Iye, ntar gua lawan *dah*, kalo perlu gua bawa semua orang buat bantuin gua,” jawabku.


“Nggak perlu, lu panggil gua aja, gua pasti bantu, gua yang tau elu gimana-gimananya,” katanya, percaya diri.


“Iye *dah*, udah lu cepetan pergi, katanya banyak kerjaan hari ini,” kataku.


“Kok, gua mendadak males ketemu *client* ya, Rin, apa karena nggak bareng lu, ya?” ujarnya, menahan tanganku agar tidak langsung berlari.


“Ih, lepas! Lu nggak bosen apa, dua hari ini bareng gua terus, bahkan setiap hari lu ketemu sama gua,” kataku, berusaha melepaskan diri.


“Kurang, Rin, 24/7 masih kurang, Rin,” katanya.


“Gembel, lu! Lepas!” Akhirnya Joseph melepaskan tanganku dari genggamannya. “Gua kerja dulu, jangan aneh-aneh lu, jangan nungguin gua di sini, jangan ketemu *client* di sekitaran sini, jangan sampe gua liat lu di sekitaran sini, pokoknya,” larangku.


“Larangan dibuat buat dilanggar ‘kan, Rin?” katanya, menyeringai.


“Serahlah, gua pergi,” pungkasku.


“Oke, *I love you*, Rinda, kerja yang bener, ya, inget gua selalu kangen sama lu!” teriaknya, membuatku malu dan terpaksa menutupi wajahku dengan map yang aku bawa di tanganku.


Aku tidak menoleh lagi, aku terus berjalan masuk ke dalam perusahaan, setengah berlari, takut-takut ada yang memperhatikanku tadi dengan Joseph, sungguh tingkah Joseph sangat memalukan.


Aku terus berjalan, bahkan aku tidak melirik siapa pun yang ada di sana, aku buru-buru berlari naik ke ruanganku menggunakan tangga darurat, demi tidak bertemu dengan orang lain. Aku memang merasa malu dengan tingkah Joseph, tapi dengan dia seperti itu, aku sedikit merasa tenang atas pertemuanku dengan Pak Chandra nanti.


Setelah menenangkan diri atas insiden memalukan yang dibuat Joseph, aku kembali bisa bernapas lega, dan tersenyum kembali. Aku bahagia, tentu saja, itu sudah jelas, mengingat liburan dua hari itu, membuatku benar-benar segar.


\*\*\*


“Widih, ada yang lagi bahagia *nih*,” celetuk Rangga begitu aku tiba di ruanganku.


“Kok, jam segini ada di sini? Gua nggak salah liat, ‘kan?” tanyaku, terheran-heran.


“Astaga … lu bener-bener, sama gua gitu banget. Kayaknya gua nggak boleh gitu, dateng ke perusahaan ini. Asal lu tau ya, setahun lagi gua yang jadi eksekutifnya,” jawabnya, percaya diri.


“Bukan gitu juga, *sih*, tapi … okelah gua percaya, gua doain lu jadi eksekutif biar gua bisa jadi direkturnya,” kataku.


“Wah, boleh-boleh, tapi harusnya gua yang jadi direktur nggak *sih*, Rin? Oke lupakan, tapi ya gua liat-liat *nih*, lu lagi bahagia banget, liburannya pasti berhasil *nih*,” ujar Rangga.

__ADS_1


Aku tersenyum, sumringah. “Pasti dong, gua habisin dengan sangat bergembira,” kataku, antusias.


“Bagus *deh*,” katanya. “Semangat aja buat hari ini, gua punya firasat nggak enak soalnya,” tambahnya, membuatku tertegun.


“Hah? Apaan, firasat apaan?” tanyaku, perkataan Rangga tiba-tiba membuatku mematung.


Rangga malah tertawa melihatku panik. “Gua bercanda, nggak bakalan ada apa-apa, tenang aja,” katanya.


“Ih, lu tega ya, kurang ajar banget,” keluhku, sembari mendudukkan diri.


“Udah-udah, tenang,” katanya.


Aku tidak membalas Rangga lagi, pikiran buruk yang tadi sudah terbang terbawa gurauan Joseph, dengan santainya dijatuhkan begitu saja oleh Rangga. Aku buru-buru menenangkan diri, karena jika tidak begitu, bukan hanya tubuhku yang akan melemah, tapi juga kondisiku yang akan terpancing keluar. Seketika aku menyesal melarang Joseph berada di sekitarku, aku mengakui, hanya berada di sekitarnya lah, diriku bisa terkendali.


“Rinda …!” teriak Miss labil, begitu tiba di ruangan.


Aku terperanjat, jika begini terus, usahaku untuk menenangkan diri sia-sia saja. “I-iya … B-bu …,” jawabku, tergagap.


Mata Miss labil menatapku dengan tajam, sekejap kemudian sebuah map terbang ke arahku, aku semakin bingung dengan apa yang terjadi. “Itu maksudnya apa? Kamu salah, dokumen itu tidak lengkap!” hardiknya.


“Ma-maksudnya, Bu?” tanyaku, masih bingung.


“Jangan pura-pura tidak tau kamu! Kamu sudah lama bekerja di sini, bikin laporan lengkap saja kamu tidak becus!” tuduhnya. “Semuanya tidak lengkap, saya harus kirim hari ini, kamu kerjanya bagaimana, yang begitu saja tidak bisa, mau saya pecat?!” lanjutnya dengan berteriak.


“Bu, maaf, tapi ini semuanya sudah lengkap,” kataku, membela diri.


“Lengkap dari mana? RAB saja tidak ada! Rincian harga barang kamu tidak satukan di sana, lengkap dari mana, saya tanya?! Kalo kamu tidak bisa kerja, bilang ke saya, biar orang lain yang mengerjakan!” sungutnya.


Aku berdiri dan menghampiri Miss labil, takut-takut, aku harus menjelaskannya, sebelum semuanya merembet ke mana-mana. “Maaf, Bu, tapi RAB yang Ibu maksud sudah saya lampirkan di belakang laporan, begitu juga dengan rincian harga, saya juga satukan dengan RAB, karena memang begitu urutannya,” jelasku.


Aku membuka laporan, selembar demi selembar, agar Miss labil melihatnya dengan jelas, pelan-pelan sekali. Begitu tiba di lembaran yang diminta, Miss labil mengambil laporan itu dari tanganku secara paksa. Miss labil buka lagi, dari halaman awal hingga akhir, wajahnya berubah, malu sepertinya.


“Kenapa tidak bilang dari tadi! Buang-buang waktu saya saja!” geramnya.


*Lah, kenapa jadi gua yang salah, lu aja matanya yang siwer. Astaga, Rin, lu nggak boleh gitu, itu atasan lu*, batinku.


“Maaf, Bu,” ucapku.


“Ya sudah, ini saya bawa, kamu jangan lupa datang ke ruangan Pak Chandra sehabis makan siang,” katanya.


“Ba-baik, Bu,” jawabku.

__ADS_1


Setelah itu Miss labil meninggalkan kami tanpa kata maaf, atau rasa bersalah sedikit pun, padahal aku sudah menahan diri agar tidak pingsan di tempat akibat teriakannya yang nyaring itu.


Aku kembali mendudukkan diri, dan lagi-lagi mengatur napas dan menenangkan diri. Apa yang sebenarnya terjadi, apa mungkin yang dikatakan Rangga tentang firasat buruknya adalah benar? Astaga semua itu membuatku pening saja.


“Rin?” panggil Rangga, aku hanya menoleh.


“Ada apa nih, abis ribut-ribut, ya?” tanya Dara, yang baru saja datang dari entah berantah.


“Si Rangga abis ngereog,” jawabku tanpa menoleh padanya.


“Kenapa lu, Rangga?” tanya Dara.


Rangga tertawa. “Mau tau aja, lu,” jawab Rangga, membuat Dara mendengus.


***


Aku berada di ruangan Pak Chandra setelah makan siang, hatiku berdebar, bahkan waktu istirahat pun aku tidak tenang. Ruangan Pak Chandra begitu sejuk, tapi kepalaku rasanya tetap panas, memikirkan apa yang akan terjadi padaku di ruangan ini.


Pak Chandra masih belum datang, tapi dadaku semakin berdebar, bahkan lebih kencang dari biasanya. Di saat aku harap-harap cemas, satu pesan dari Joseph masuk, ia menyemangatiku, dan berkata padaku agar tidak terlalu dipikirkan. Tapi semuanya tidak berdampak, aku malah semakin ingin melarikan diri dari ruangan ini.


Tak berapa lama, Pak Chandra pun datang, bertambahlah debaran di hatiku itu, aku sempat menahan napas, untung saja aku segera menyadari, dan buru-buru bersikap seperti tidak terjadi apa-apa.


“Oh, sudah datang, apa kabar, Rinda?” tanya Pak Chandra, tersenyum ramah.


“Baik, Pak,” jawabku, singkat.


“Sudah lama menunggu?” tanyanya lagi, sembari duduk di kursinya.


“Belum, Pak, saya juga baru datang,” jawabku.


“Sudah tau, kenapa saya panggil ke sini?” tanyanya lagi.


Aku menggelengkan kepala. “Ti-tidak, ada apa ya, Pak?” aku memberanikan diri bertanya.


“Kalo begitu, langsung saja, kamu tidak keberatan, bukan?” katanya.


“Tidak, Pak, silakan,” jawabku.


“Kamu sudah lama ‘kan bekerja di sini,” ujarnya, hatiku semakin tidak karuan. “Saya juga sudah lihat bagaimana cara kerja kamu selama berada di sini,” lanjutnya.


Pak Chandra berhenti berkata, membuatku tidak sabaran, dalam situasi seperti ini, kadang aku ingin mempunyai kekuatan super yang bisa membaca pikiran orang. Alih-alih melanjutkan perkataannya, Pak Chandra malah menyempatkan diri minum minuman yang dia bawa dari luar tadi.

__ADS_1


Apa yang ingin Pak Chandra katakan sebenarnya? Apa aku dipecat dari perusahaan ini? Tapi, apa salahku? Ada apa ini? Semuanya membuatku mual saja, cepatlah, aku tidak bisa menahan lebih lama lagi.


__ADS_2