
Aku menarik napas dengan gusar, pesawat yang kami tumpangi baru mendarat di bandara. Lega, tapi tidak begitu nyaman, biar bagaimanapun, aku harus bertemu dengan orang baru, bukan? Itu sungguh pekerjaan rumah yang sangat darurat, jadwalnya sangat ketat, dan terlalu membuatku sesak, hingga aku takut nantinya tersesat.
“Rin, gua langsung cek proyek, ya, gua udah siapin mobil buat lu, dia lagi nunggu di depan, lu tinggal jalan aja, gua udah kasih tau semuanya sama dia, kalo ada apa-apa tinggal telepon gua, oke?” jelas Rangga, begitu selesai membawa bagasi.
“Lu beneran langsung pergi lagi? tega banget ninggalin gua sendirian,” kataku, mencoba dramatis.
“Nggak cocok sumpah, lu nggak cocok buat ngerengek kayak gitu, lu kerja aja bisa sambil kayang, ngapain kayak gini,” jawabnya, kesal.
Aku tertawa dengan reaksinya. “Okelah, gua ke hotel dulu berarti, terus sore lanjut ketemu *client*?” tanyaku, mengkonfirmasi.
“Iya, bener, jangan aneh-aneh lu selama gua nggak ada,” katanya.
“Kebalik, bukannya? Lu, yang jangan macem-macem, inget umur sama inget perusahaan tercinta lu itu,” balasku.
“Inget gua, gua bisa prioritasin kerjaan dulu, baru nyicip,” jawabnya.
“Hadeh, apa yang bisa gua harepin. Ya udah, gua pamit duluan, ntar telepon aja kalo misal ada perubahan jadwal, HP gua selalu gua pegang,” kataku.
“Oke, hati-hati,” ujarnya.
“*Bye*,” pamitku.
Aku dan Rangga pergi berpisah arah, karena memang tujuannya berbeda. Aku akhirnya, keluar dari bandara, melihat sekitar dan mencoba beradaptasi dengan lingkungan baru. Sejauh mana memandang, yang kulihat gedung-gedung tinggi, ternyata tidak ada bedanya dengan tempatku, perihal pembangunan.
“Permisi, anu … Mbak Rinda? Dari Tendean?” tanya seorang pria ragu-ragu.
“Oh, e-eh, iya betul,” jawabku, canggung.
“Owalah, mari Mbak, saya yang akan antar Mbaknya,” ujarnya.
“Terima kasih, Mas, mohon bantuannya,” kataku.
“Tidak masalah, silakan,” katanya, membukakan pintu mobil untukku.
“Terima kasih,” jawabku, membungkuk sopan memasuki mobil.
Mobil yang disewa Rangga cukup nyaman, tapi karena aku tidak biasa dan terlalu canggung, mobil mewah seperti ini pun tidak sanggup untuk menopang semua kekhawatiranku. Surabaya ternyata juga panas, sungguh mewakili hati ini yang kian gusar dan ragu untuk melewati dua hari di kota ini.
“Mbak, mau ke mana dulu? Mau langsung ke hotel atau jalan-jalan dulu keliling kota, kalo mau saya bisa temani, saya tau semua tempat yang indah, di sini makanannya juga enak-enak, murah-murah, pasti Mbaknya suka,” tawarnya.
__ADS_1
“Tidak perlu, Mas, saya langsung ke hotel saja, ada kerjaan yang harus saya susun, terima kasih sebelumnya,” tolakku.
Tidak, aku tidak bisa melakukan itu, ini dunia baru untukku, aku termasuk orang yang beradaptasi lama dengan lingkungan baru. Aku tidak bisa melakukan secara spontan, jadi untuk meminimalisir semua yang akan memicuku terhambat, lebih baik aku segera menghindar dan fokus dengan tujuan awal.
“Baiklah, saya langsung antar saja, tolong *seat belt*-nya dipasang, Mbak,” ujarnya.
Aku segera menyadari jika aku belum memasang *seat belt*-nya, buru-buru aku memasangkannya dengan nyaman. “Terima kasih, Mas, langsung jalan saja,” kataku.
\*\*\*
“Jangan sampe telat, jangan sampe telat,” gumamku.
Aku sedang kesusahan menata rambutku, waktu sudah menunjukkan pukul empat, aku tidak punya banyak waktu lagi, aku harus segera bergegas, tapi rambutku menjadi kendala. Aku mencoba untuk menyisir rambutku ke belakang, tapi tak sengaja tersangkut dengan sela-sela pintu kamar mandi, membuat rambutku tertahan di sana.
“Ayolah, sumpah jangan kayak gini, baru hari pertama!” geramku, atas kecerobohanku sendiri.
Aku berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan rambutku itu, tapi tetap tertahan di sana, aku sudah tarik, sudah membuka pintu, bolak-balik, tetap saja, tidak terlepas. “Astaga …,” lirihku.
Aku tidak punya banyak waktu lagi, ada pisau yang terlihat oleh ujung mataku di dekat wastafel bekas aku mengupas buah dan untunglah masih dalam jangkauanku. Tak banyak berpikir, aku ambil pisau itu, dan langsung aku potong saja rambutku dengan pisau itu, dan terlepas. Aku bernapas lega, aku tidak peduli dengan rambutku yang terpotong itu.
Aku buru-buru menyambar curling iron yang tersedia di kamar hotel, dan langsung membentuk rambutku yang terpotong dengan bentuk bergelombang, begitupun dengan bagian yang lainnya aku samakan.
Aku sampai di bawah, menuju kafe, aku terus berdoa dalam hati, dan berharap tidak telat, dan client kami belum mendahului tiba, aku sangat takut mengecewakan mereka. Aku melihat sekeliling kafe, sudah ada satu meja yang dipesan, dan aku melihat masih kosong, aku lega sekali, dan dengan santai berjalan ke arah meja.
Tiba di meja, aku langsung menyiapkan laptop dan dokumen, dan menunggu kedatangan client. Suasana kafe sangat hangat, tidak terlalu banyak pengunjung, karena harus reservasi dulu sepertinya. Untuk aku yang tidak suka dengan keramaian, suasana seperti ini sangat nyaman dan membuatku sedikit lebih tenang.
“Rinda?” panggil seseorang.
Aku menoleh, ah sepertinya client yang ditugaskan untuk menemuiku. “Benar, saya Rinda dari Tendean, apa kabar?” sapaku, sembari mengulurkan tangan.
“Ah, benar ternyata.” Pria paruh baya ini buru-buru menyambut uluran tanganku. “Saya kabar baik, cantik sekali perwakilan dari Tendean ini, bagaimana Surabaya? Sudah keliling ke mana saja?” tanyanya ramah, tapi kenapa aku merasa janggal sekali.
“Terima kasih, saya tidak ada waktu keliling kota, Pak,” jawabku, jujur, tersenyum.
“Silakan duduk, kita nikmati waktu,” katanya, membawaku duduk.
Aku tidak berkutik, Rangga memang sempat membahas jika pertemuannya akan sangat santai. Tapi aku tidak mengira jika pertemuannya akan sangat santai seperti ini, bahkan terlewat berani, karena hingga saat ini, tanganku tetap dia genggam, aku sudah sekuat tenaga untuk melepaskan, tapi pria paruh baya ini masih betah mengelus tanganku.
Apa ini tindakan yang benar? Apa pertemuan dengan client memang seperti ini? Ini tidak benar, bukan? Ini tidak termasuk pelecehan, bukan? Astaga, aku frustrasi sekali, tolong jelaskan padaku jika ini tidak termasuk pelecehan, aku takut!
__ADS_1
“Oh, ini Pak—“
“Galih, nama saya Galih, Dek Rinda, cantik sekali,” ujarnya, memotong ucapanku sembari menyeringai membuat bulu kudukku meremang.
“O-oh, i-ini, Pak Galih, yang akan kita bahas, tapi menunggu Rangga terlebih dahulu,” kataku, canggung dan takut.
“Bahas kerjaan bisa nanti-nanti, Dek Rinda. Kita senang-senang dulu, mau, ya? Di sini ada tempat yang nyaman, kita bisa pesan sekarang? Dek Rinda menginap di sini, bukan? Itu akan lebih baik,” katanya, mencoba merangkulku, aku langsung membawa laptopku ke pangkuan, dan menghindari jangkauannya.
Aku tidak mengerti, aku bahkan tidak mengenakan pakaian yang mengundang, aku tertutup, tidak menampilkan liuk tubuhku, tapi kenapa aku bisa mendapat perlakuan seperti ini, apa salahku?
“Maaf, Pak, tujuan saya ke sini untuk memastikan pekerjaan yang menyangkut kerja sama dengan perusahaan yang Bapak wakilkan berhasil dengan baik, saya tidak ada waktu untuk bermain, sekali lagi mohon maaf, Pak, saya harus menolak,” jawabku, aku sangat berharap Rangga segera datang, aku benar-benar tidak nyaman berdua dengan Pak Galih.
“Oh, itu sudah pasti berhasil, Dek Rinda, tenang, saya akan pastikan semuanya berhasil, tak perlu khawatir. Dek Rinda tinggal menerima hasilnya nanti, perusahaan tempat Dek Rinda kerja juga pasti akan berterima kasih kepada Dek Rinda. Tapi, sayang sekali, jika Dek Rinda menolak bersenang-senang dengan saya,” ujarnya.
“Aduh, Pak, sekali lagi mohon maaf, pekerjaan saya tidak membolehkan saya untuk istirahat, saya sangat ingin pergi jalan-jalan, tapi banyak yang harus saya kerjakan di sini, saya juga hanya satu hari di sini,” tolakku lagi.
“Rinda?” teriak Rangga di seberang sana.
Akhirnya. “Ah, sudah datang rupanya, itu rekan saya, Pak,” kataku, mengalihkan.
“Saya tau, sudah kenal sekali dengannya,” jawabnya.
“Sudah lama? Pak Galih, aduh saya telat sekali,” ujar Rangga, menyalami Pak Galih, dan aku pakai kesempatan ini untuk berpindah tempat, menghindari tangan tidak tau diri Pak Galih.
“Silakan, silakan, tidak masalah Rangga, saya tidak keberatan menunggu lebih lama lagi, jika dengan Dek Rinda, benar begitu, Dek Rinda?” katanya, melihat padaku.
Aku tersenyum, takut. “I-iya,” jawabku.
“Jadi sudah sampai mana bahasannya?” tanya Rangga.
“Sudah banyak, sudah jangan terburu-buru, Rangga. Kita pesan makan dulu saja,” jawab Pak Galih.
Aku memberi isyarat pada Rangga agar mempercepat pertemuan ini, tapi sepertinya tidak berhasil. “Itu lebih baik, Pak Galih, kebetulan saya belum makan,” jawab Rangga, membuatku kesal.
Dengan jawaban antusias Rangga, seakan memberi angin segar kepada Pak Galih, dia dengan semangat memanggil pelayan dan memesan banyak makanan, sembari curi-curi pandang ke arahku.
Aku kesal, aku marah, aku takut, tapi tidak bisa menyuarakannya, aku ingin segera mengakhiri ini. Aku tidak suka, aku tidak suka dengan tatapan nyalang dari Pak Galih terhadapku, aku merasa direndahkan.
Benar, tidak selamanya usia bisa mendewasakan seseorang, dan tidak hanya masalah pakaian terbuka yang bisa membangkitkan tindakan asusila. Jika memang sifatnya sudah mendarah daging, bagaimanapun perempuan melindungi dirinya, pria seperti Pak Galih pasti menemukan celah untuk berbuat semena-mena pada perempuan.
__ADS_1
Aku takut, apakah aku bisa keluar dari kepungan semena-mena ini? Aku harus apa? Baru pertemuan pertama sudah banyak kejadian seperti ini, apakah ini hari sialku? Bagaimana dengan pertemuan esok hari? Astaga, aku mual memikirkannya.