KUHARAP ADA BAHAGIA

KUHARAP ADA BAHAGIA
CHAPTER 7


__ADS_3

Aku memutar-mutar bolpoinku, menimbang mana yang akan aku kerjakan terlebih dahulu. Jari-jariku mengetuk-ngetuk meja cubicle, aku melirik ke arah samping, di sana terdapat post it yang menempel di sisi kiri monitor bertuliskan rencana kerjaku satu minggu ke depan.


Di leherku tergantung sebuah kartu tanda pengenal dengan tulisan “staff khusus” di depannya. Kartu ini unik, karena hanya dengan menempelkannya pada alat pemindai yang tersedia di setiap sudut perusahaan, aku bisa mengakses semua fasilitas di perusahaan ini.


Selama satu bulan ini, aku sudah beradaptasi dengan lingkungan tempatku bekerja. Iya benar, benar sekali, aku akhirnya bekerja di sebuah perusahaan besar bernama Tendean Veter.


Perusahaan ini bergerak di bidang pembangunan real estate, perusahaan ini mengembangkan dan memanajemeni properti-properti tempat tinggal, tempat usaha komersil, tempat industri dan pusat perbelanjaan, kantor dan juga tempat rekreasi.


Aku dituntut untuk teliti dalam bekerja, maka aku selalu menimbang-nimbang pekerjaan mana yang harus aku dahulukan. Pekerjaanku banyak berkaitan dengan data, merekap dan mengorganisir data yang ada di perusahaan.


Selain itu aku juga bertanggung jawab untuk menyusun agenda kerja perusahaan, maka dari itu, aku harus bisa bekerja dengan cermat dan tenang. Adakalanya aku tertekan dengan kerjaan-kerjaan yang memburu secara serentak, tetapi aku melakukannya dengan riang dan berusaha sebaik mungkin untuk tidak melakukan kesalahan.


“Nda, udah makan lu?” tanya Dita, mengejutkanku, Dita kemudian masuk ke dalam ruanganku.


Aku dan Dita akhirnya bertemu kembali, seperti biasanya Dita selalu energik. Dita satu-satunya rekan kerja yang membuatku nyaman berada di lingkungan baru. Kami sama-sama ditunjuk menjadi staff khusus, tetapi berbeda divisi. Aku ditempatkan di divisi dua, sedangkan Dita mengisi kekosongan di divisi tiga, ruangannya berseberangan dengan ruanganku.


Setiap hari biasanya kami istirahat bersama di kafe perusahaan, karena sama-sama karyawan baru, aku dan Dita menjadi cepat akrab. Aku merasa kita sama-sama punya nasib yang serupa sebagai karyawan baru. Kami berdua sama-sama mencoba berbaur dengan lingkungan kerja, yang merupakan dunia baru bagi kami.


“Belum, gua masih mikirin kerjaan, gua bingung mana dulu yang harus gua kerjain duluan,” jawabku, tidak menoleh.


Karena sudah akrab, aku sudah tidak canggung lagi dengannya, dan aku pun memperlakukan dia lebih santai, meskipun dia tiga tahun lebih tua dariku.


“Makan dulu lu, kerjaan bisa dipikirin nanti, yuk cepetan Nda, lu pingsan berabe gua,” ujarnya, sembari menarik tanganku agar beranjak dari kursi.


Dengan berat hati, aku meninggalkan pekerjaanku, aku mengunci komputer yang sedang menampilkan data-data yang sedang aku teliti, lalu memasukkan handphone-ku ke dalam saku celana. Aku pun mengikuti langkah Dita, berjalan menuju kafe perusahaan, yang berada di lantai paling atas.


Dering telepon masuk berbunyi dengan nyaring, aku melihat nama di layar handphone-ku, tidak perlu menebak orang lain, sudah pasti Joseph yang menghubungiku.


“Istirahat lu, jangan kerja terus!” katanya.


“Buset, nggak ada aba-aba dulu, Pak. Main tembak aja,” jawabku


“Lagian, buruan istirahat lu,” perintahnya lagi. “Perusahaan mah gampang, kalo ada yang sakit tinggal suruh libur di rumah, kalo seumpamanya mati tinggal kasih santunan, terus mereka bisa rekrut lagi yang baru, mereka nggak akan peduli sama perasaan lu, sama keadaan lu. Makanya, jangan terlalu tunduk sama kerjaan, kerja tuh ada waktunya, jangan terus-terusan kerja,” omel Joseph.


“Iya, gua paham, sadis banget ucapan lu. Udah diem deh, ini juga lagi jalan mau makan, mau ke kafe. Udah jangan bawel lagi! Gua nggak bakalan mati hanya karena kerja, ya!” proteskuku.


“Jangan dulu mati, gua butuh lu, gua belum ngasih apa-apa sama lu. Ah, udahlah, cepet makan, jangan ditunda,” tegasnya.


“Iya!” jawabku, sedikit berteriak, membuat Dita menoleh padaku.

__ADS_1


“Ya udah, gua tutup, ya? Jangan kangen dulu sama gua, nanti ketemu pas gua jemput,” katanya.


“Iya, baiklah. Tuan Joseph yang terhormat,” jawabku.


“Asyik, ntar gua peluk dah. Gua tutup, bye,” pungkasnya.


Oh, untuk Joseph, dia menepati janjinya untuk menjemputku pulang selama tiga hari, dan sesekali dia juga memintaku untuk berangkat kerja dengannya.


Joseph sebenarnya seorang programmer, tetapi dia tidak bekerja di perusahaan mana pun, Joseph menjadi pekerja paruh waktu di beberapa perusahaan. Sebagai programmer Joseph dituntut untuk menulis kode untuk menciptakan perangkat lunak komputer. Untuk pekerjaan seperti itu, Joseph tidak harus berdiam di suatu tempat, Joseph bisa bekerja dari mana saja, dengan internet yang memadai tentunya.


Meskipun tidak terikat di suatu perusahaan, pendapatan yang bisa dikumpulkan oleh Joseph, lebih dari gaji seorang CEO, dia selalu bilang pekerjaan dia elegan, dan aku setuju dengan itu, aku pun pasti bisa seperti itu, tunggu sana ini baru permulaan.


“Lu tadi kenapa bisa bingung gitu dah, Nda, emang lagi ngerjain apaan?” tanya Dita.


“Itu, Miss Labil minta gua olah data, terus si Bos tadi turun minta cepet bikin laporan kerja. Gua bingung, ngerjain yang mana dulu, dua-duanya penting,” jelasku.


Miss Labil adalah sebutan yang aku buat untuk atasanku, aku panggil begitu karena dia benar-benar labil. Sedikit-sedikit marah, sedikit-sedikit berteriak, tapi dalam satu waktu juga dia bisa tiba-tiba berubah jadi mellow, kemudian dia akan diam seribu bahasa.


“Pilih aja yang lebih urgent dulu, baru kerjain yang lainnya, pasti di antara dua tugas itu ada yang lebih urgent, kan?” saran Dita.


“Ada sih, laporan kerja si Bos lebih urgent. Olah data Miss Labil biasanya nunggu beres dulu dia cek file yang lain. Gua kerjain punya si Bos dulu aja apa, ya?” jawabku.


“Itu udah jelas, lu tuh jangan terlalu mikirin hal kayak gini, kalo nggak selesai sekarang, bisa dikerjain besoknya, jangan maksain, kerjaan nggak akan habis, Nda,” nasihat Dita.


Lift berbunyi dan terbuka, kami sudah sampai di kafe perusahaan, aku mulai mencari makanan yang ingin aku makan, untuk saat ini sepertinya makanan manis bisa membuat fokusku kembali lagi.


Setelah mempertimbangkan, akhirnya aku memesan paket lunch yang memang selalu tersedia di menu, dan sepotong brownies. Setelah kami selesai memesan, kami langsung mencari kursi yang masih kosong, di jam istirahat seperti ini, kafe sangat ramai pengunjung, jadi tidak mudah menemukan kursi yang kosong.


Kami akhirnya menemukan meja yang kosong, cukup untuk kami berdua, meskipun kami sudah paling telat datang, nyatanya masih banyak karyawan yang masih menghabiskan waktu istirahatnya di kafe.


***


Setelah selesai makan, aku dan Dita, memutuskan untuk diam sebentar di kafe, menikmati suasana, dan mengobrol. Aku bisa membahas apa saja dengan Dita, dari mulai masalah pekerjaan hingga masalah negara pun tak luput dari bahasan kami. Tapi tiba-tiba …


“Eh, eh, kalian tau nggak di divisi dua ada anak baru? Kerjanya baru satu bulan tapi dia udah berhasil ngejilat Bos. Masa kerjaan yang harusnya dikerjain dua hari, udah selesai dong dalam waktu satu hari kerja, gila ‘kan tuh orang, ngejilatnya bikin orang susah,” ucap seorang karyawan senior di salah satu meja kafe.


Aku mendengar obrolan senior-seniorku, obrolan mereka menarik perhatianku, kebetulan aku tepat di depan mereka, posisi dudukku membelakangi mereka. Bukan salahku bila semua obrolan mereka terdengar, mereka juga tidak ada niat mengecilkan suara.


“Gila, nyusahin banget, emang siapa? Gua tau nggak orangnya? Kalo gua tau, gua harus ngasih pelajaran sama dia, berani-beraninya ngerusak kerjaan orang,” ucap temannya, terdengar jengkel.

__ADS_1


“Tau! Gua pernah ketemu selewat doang tapi, namanya Rin … Rin … ah Rinda! Iya bener si Rinda,” jawab seseorang yang membahas pertama kali.


“Oh, gua tau, gua tau, dia si sok pinter itu, ‘kan? Gila bener, berani banget, gua tau orangnya, nanti kalo ketemu gua kasih pelajaran, yang kayak gini nggak boleh dibiarin, seenaknya aja, dia nggak tau apa ya, masuk kerja di sini nggak gampang,” ujar temannya lagi.


Jantungku seketika memompa dengan cepat, aku melirik Dita yang juga memandangiku, aku tak sempat berpikir apakah Rinda namaku yang disebut atau Rinda yang lain. Mengingat aku adalah karyawan baru di perusahaan ini, pernyataan mereka semakin meyakinkanku bahwa mereka memang sedang membahas cara kerjaku.


“Udah sok pinter, aneh lagi, caper banget sumpah,” timpal suara lain di perkumpulan itu.


Kalau memang mereka benar sedang membahasku, aku tidak pernah merasa membuat mereka kesulitan, aku hanya mengerjakan tugasku, aku hanya mengikuti perintah yang telah ditugaskan padaku, tidak lebih.


Mendengar kata “menjilat Bos” membuat otakku mendidih, alasanku bekerja sesuai target, dan sangat teliti adalah karena aku tau tugasku apa, aku tau apa yang harus aku kerjakan.


Di minggu pertama aku kerja di perusahaan ini, aku melihat manajerku dimarahi oleh bos besarku, sumpah serapah bos besarku terdengar nyaring ke mana-mana, aku ada di situ untuk meminta tanda tangan atas semua laporan yang manajerku minta.


Usut punya usut manajerku salah memasukkan data kuantitas, menyebabkan anggaran perusahaan membengkak dari yang sudah disepakati, marah besarlah bosku. Karena hal itulah, untuk meminimalisir kejadian serupa aku berusaha untuk teliti, lebih cermat lagi, dan berusaha mengerjakan sesuai jadwal bahkan sebelum jadwal.


Aku masih memandang Dita, tak percaya dengan semua yang aku dengar dari obrolan rekan-rekanku. Tanpa bicara, aku meminta Dita untuk beranjak dari tempat duduknya, aku tidak bisa lagi berada kafe. Bukan karena takut, tapi karena aku tidak mau menimbulkan kekacauan jika tiba-tiba mereka mengetahuiku ada di kafe.


***


“Emang gua salah ya …?” tanyaku pada Dita, setelah jauh dari kafe.


“Udah jangan didengerin,” jawab Dita.


“Mereka ngomongin gua, dan gua kebetulan dengar, Dit, gua nggak bisa tenang lagi,” kataku.


“Iya, dia emang nyebut nama lu, tapi lu ngerasa nggak kayak yang mereka omongin?” tanya Dita.


“Nggak lah, mana pernah gua ngejilat Bos, gua kerja sesuai sama tugas gua aja, lu tau sendiri ‘kan alasan gua kerja kayak gitu apa,” jawabku.


“Gua paham, tapi ‘kan mereka nggak tau alasannya, Nda, yang mereka lihat lu salah aja di mata mereka, apalagi kita karyawan baru, emang santapan empuk buat jadi bahan omongan senior. Ya, udahlah, Nda, nggak usah dipikirin lagi, lu kerja aja kayak biasa, nggak perlu mikirin mereka, nggak penting, yang gaji kita bukan mereka ini,” jelas Dita.


“Tapi kenapa mereka bisa ngomong kayak gitu?” tanyaku, masih merasa heran.


“Mereka nggak mampu kayak lu, mereka secara tidak langsung mengakui kalo lu itu jauh lebih baik dari kebanyakan senior-senior di sini,” jawab Dita.


“Gitu, ya?”


“Iya, udah jangan bikin mereka menang, buktiin lu lebih segalanya dari mereka,” pungkasnya.

__ADS_1


Perkataan Dita benar, selama aku mengerjakan pekerjaanku sesuai dengan apa yang sudah ditentukan perusahaan, aku tidak perlu mengkhawatirkan sesuatu dari mulut orang lain.


Aku sudah seharusnya menerima hal baik dari perjuanganku, akan sangat sia-sia jika aku menanggapi mereka yang bahkan tidak tau tentangku. Ini pilihanku, maka aku juga harus siap menerima konsekuensinya.


__ADS_2