KUHARAP ADA BAHAGIA

KUHARAP ADA BAHAGIA
CHAPTER 11


__ADS_3

“Maksud Lu apa, sih? Kenapa lu kayak gini sama gua?” tanyaku pada Joseph, tak percaya.


Joseph terlihat menarik napas panjang, dia juga sepertinya kalut dengan pemikirannya sendiri. “Dia cowok, Eli, bahaya, nurut coba, sekali ini aja, lu nurut sama gua, jangan deket-deket sama dia,” katanya, aku masih saja tidak habis pikir.


Eli adalah panggilan buatku dari Joseph, dia memanggilku begitu ketika kami membicarakan hal serius ataupun ketika Joseph sedang marah. Hanya Joseph yang memanggilku dengan panggilan Eli, dan itu menjadi khusus, aku tidak pernah membiarkan orang lain memanggilku dengan sebutan Eli.


Aku memutar bola mataku, malas. “Nggak ada alasan lain? Lu nggak sadar kalo lu juga cowok, lu lupa, apa gimana?” kataku, aku menatapnya tajam.


“Beda, Li, gua temen lu, sahabat lu, nggak mungkin gua bahayain lu,” jawabnya.


“Kata siapa? Lu, bisa aja punya pikiran jelek tentang gua, lu bisa aja ngerencanain sesuatu di belakang gua, nggak ada yang tau, semua bisa berubah kapan aja,” ujarku.


“Oh, jadi gua kayak gitu di mata lu selama ini, nggak nyangka gua, Li, gua padahal udah kenal lama sama lu. Baru kenal cowok lain aja, lu langsung kayak gini sama gua, Li, tega lu,” ucapnya.


Sudah, cukup sudah, aku sudah jengah dengan ini semua, aku lelah, tapi Joseph tidak juga berhenti. “Elu yang tega! Lu bilang, lu udah kenal lama sama gua, kenapa lu nggak ngerti juga! Kenapa malah larang-larang gua nggak jelas kayak gitu, kita nggak ada hubungan apa pun, ngapain lu segitunya sama gua?” Aku sudah tidak bisa menahan diri, aku berteriak padanya.


“Gua cuman mau ngelindungin lu, gua nggak mau lu kenapa-kenapa, cuman itu yang bisa gua lakuin, gua cuman bisa mastiin lu dari jauh, tolong ngertiin gua,” katanya, terdengar memelas.


“Ngertiin elu? Harusnya lu yang ngertiin gua, lu harusnya tanyain kenapa muka gua sampe pucet, kenapa gua telat keluar kantor, bukan bahas hal nggak penting kayak gini!” bentakku padanya.


“Lu … lu nggak kenapa-kenapa, ‘kan?” tanyanya, salah tingkah.


“Basi!” seruku.


Aku beranjak dari tempat duduk itu, untunglah keadaan sudah sepi dan tidak banyak orang yang berlalu lalang. Aku meninggalkan Joseph dengan tergesa, aku tau dia pasti mengikutiku, tapi aku tidak peduli, aku tetap berjalan dengan cepat.


“Eli?” panggilnya.


Aku terus saja berjalan tanpa menggubris panggilan Joseph, hari ini tidak tau kenapa aku merasa sangat sial, aku benar-benar tidak habis pikir bisa berdebat dengan Joseph seperti ini.


“Rinda?” panggilnya, aku merasakan Joseph menggapai tanganku, kemudian dia menarikku, hingga aku mau tidak mau berhenti dari langkahku. “Rin, kita harus lurusin dulu, jangan kayak gini lah,” pintanya.

__ADS_1


“Lepas! Gua udah capek, biarin gua pulang,” kataku, tegas.


“Pulang sama gua, Rin,” katanya.


“Nggak butuh, gua bisa pulang sendiri, lepas!” Aku berusaha melepas tangannya dari lenganku, tapi karena memang keadaanku sudah lemah, aku tidak bisa melepaskan tangannya.


Seolah ingin menyempurnakan hariku yang sudah terlanjur hancur, alam pun menambahkan kekacauan. Hujan mulai turun, dengan gemuruh petir saling menyambar dan kilatnya yang melukis garis tidak beraturan di langit malam, hatiku benar-benar diombang-ambing oleh keadaan.


Hatiku begitu sakit, juga kepalaku mendadak sakit sekali, dan mungkin karena aku stres dan kelaparan, asam lambungku naik sampai tenggorokan rasanya panas dan perih. Keadaanku payah dalam arti yang sebenar-benarnya, aku lelah dan sudah pasrah dengan semua kejadian yang kini menimpaku.


Baru saja aku merasakan keindahan, baru saja aku merasakan diterima, baru saja aku merasakan perhatian orang lain, tapi dengan mudahnya juga semesta menampakkan realitanya. Aku ingin marah, aku ingin berteriak saja, tapi aku lemah, aku juga tidak tau siapa yang harus aku salahkan.


“Rin?” panggilnya lagi.


“Lepas!” teriakku, di tengah hujan yang sudah turun dengan derasnya.


“Rin, gua cuman khawatir sama lu, nggak lebih, tolong, Rin,” ucapnya.


“Kalo dia nggak ada, gua nggak akan pernah keluar dari ruangan itu, kalo dia nggak ada gua nggak bakalan pulang sampe tuh kerjaan kelar, kalo dia nggak paksa gua keluar, lu nggak akan pernah nemuin gua dalam keadaan hidup!”


Joseph tertegun dengan kata-kataku, aku tidak mengada-ada, memang seperti itulah kejadiannya.


“Gua kerja di ruangan itu, sampe gua lupa diri, sampe gua lupa istirahat, sampe gua nggak sadar kalo gua kelaparan, dan asal lu tau aja, gua bahkan sampe lupa caranya buat napas. Lu temen gua dari lama, lu tau kehidupan gua, keadaan gua, lu harusnya paham, tapi apa yang gua dapet?”


Joseph terlihat bersalah, baju kami sudah basah, Joseph secara perlahan melepaskan tangannya. Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan, aku berlari meninggalkannya, sudah saatnya dia berpikir, dia juga harus sadar, aku tidak akan selamanya menuruti keinginannya.


Aku langsung memberhentikan taksi, setelah taksi berhenti tepat di depanku, aku pun langsung masuk, tanpa menoleh lagi ke belakang.


“Rin … Rinda?” teriak Joseph memanggilku.


Aku tidak menggubrisnya, aku tidak ingin goyah, aku sudah bertahan sejauh ini, aku tidak ingin dipandang lemah lagi. “Jalan aja, Pak,” pintaku pada sopir taksi, taksi pun langsung melaju.

__ADS_1


“Rinda …!”


Sayup-sayup aku masih mendengar teriakan Joseph, dia pasti langsung mengikutiku dari belakang. Aku lihat tadi dia memakai motor, dia pasti akan cepat mengikutiku, benar saja, Joseph sudah berada di samping taksi, mengimbangi laju taksi yang kutumpangi.


“Rinda …! Rin, buka dulu bentar …!” teriaknya, lagi-lagi aku tidak menoleh.


Di dalam taksi, perasaanku hancur, pikiranku kalut, aku bahkan tidak sempat khawatir dengan Joseph yang kehujanan di luar sana. Aku sekuat tenaga untuk tidak menjatuhkan air mataku di dalam taksi, aku tidak ingin orang lain melihatku menangis.


Aku tidak ingin terlihat lemah, biarkanlah hujan yang mewakili air mataku, biarkanlah hujan yang membasahi kesakitanku, dan aku juga memohon agar hujan membawa setiap keraguanku kelak.


***


“Ya, Tuhan, kamu kenapa, Nak?” tanya Mama, panik.


Kulihat raut wajah Mama sangat terkejut, melihatku pulang dari kantor dengan penampilan yang kacau. Wajah pucat, baju basah kuyup, aku pastikan siapa pun yang melihatku saat ini akan merasa iba, itu pun yang terjadi ketika di dalam taksi.


Waktu di dalam taksi tadi, beberapa kali sopir taksi melihat ke arahku melalui kaca spion yang menempel pada plafon mobil di dekatnya. Meskipun aku mencoba acuh dengan sekitar, nyatanya aku bisa menangkap tatapan sopir taksi yang terus memerhatikanku. Ditambah lagi dengan Joseph yang terus membuntuti dari belakang.


“Aku capek, Ma. Aku ke kamar duluan, Ma,” ujarku.


Aku langsung masuk ke dalam kamar, meninggalkan Mama yang masih berdiri panik juga khawatir. Ku dengar Joseph masuk ke rumah, dan berbincang sedikit dengan Mama. Aku yang berada di dalam kamar, langsung menjatuhkan diri di balik pintu yang tertutup.


“Kak, Mama masuk, ya?” Mama mengetuk pintu kamarku. Aku tidak menjawab permintaan Mama, aku juga tidak beranjak dari balik pintu. Aku hanya ingin sendiri, Mama sepertinya mengerti karena Mama sudah tidak mengetuk pintu kamarku lagi.


Setelah Mama tidak lagi terdengar suaranya, aku berjalan mendekati tempat tidur. Aku mematung melihat cermin di depanku, melihat nanar penampilanku yang jauh dari kata baik. Tidak tahan lagi, aku pun menangis, untuk kali pertama, aku menangis karena Joseph, bukan karena marah, tapi karena aku tidak menyangka dengan semua yang terjadi.


Aku keluarkan rasa kesalku melalui air mata ini, aku terus menangis berharap semua lelah dapat terobati. Aku tetap menangis, aku sudah seharian menahan air mata ini untuk jatuh, sekarang kesempatan itu ada, aku bisa menjatuhkan sesuka hatiku, tanpa rasa takut, tanpa penghakiman orang lain.


Aku yang sudah berpegang teguh untuk tetap tegar menghadapi semuanya sendirian, nyatanya tidak pernah sanggup untuk bangkit, tidak pernah bisa untuk keluar dari zona yang terus menyeretku untuk terus berlaku sempurna.


Aku ternyata bisa hancur, aku ternyata bisa menangis, aku ternyata butuh seseorang.

__ADS_1


__ADS_2