
“Lah, kok masih manyun gitu? Udah gua bawa liburan padahal, mikirin apaan lagi, sih?” tanya Joseph.
Sesuai dengan rencana Joseph tempo hari, yang mengajakku untuk liburan, hari ini akhirnya kami bisa pergi. Dia bilang liburan kali ini untuk membunuh rasa suntukku dari pekerjaan yang selalu menuntut. Aku menyambut baik tentang rencana ini, hanya saja, aku terus gelisah dan tidak tenang.
Pikiranku terus berputar di pernyataan Miss labil yang memintaku menghadap pada bos besar, hari Selasa nanti. Menyebabkan liburan kami kali ini, tidak membuat antusias lagi, aku terjebak dengan pemikiranku sendiri.
“Kok gua tiba-tiba overthinking, dia mau ngobrolin apaan sama gua, ya? Perasaan gua nggak punya salah, tapi kenapa bisa disidak kayak gini? Dia nggak bakalan apa-apain gua, ‘kan, gua takut, gimana dong?” aku merengek pada Joseph.
“Nggak gimana-gimana, belum tentu yang lu pikirin kejadian juga, santai aja, percaya sama gua bukan apa-apa,” jawabnya. “Udah ah, kita mau liburan, harusnya lu seneng. Ayo, ceria lagi, kalo ada apa-apa nanti, gua janji bakalan jadi orang paling depan buat bela lu,” tambahnya.
“Ya udah deh,” jawabku, lesu.
“Senyum dong, mau ke pantai kita,” pintanya.
Aku menatap matanya. “Liat jalan, jangan liat gua mulu, ntar nabrak, ngerugiin orang banyak,” balasku.
“Nggak mau, sebelum lu senyum sama gua,” katanya.
Tidak ada cara lain, aku terpaksa menyunggingkan senyum, dan dibalas oleh senyuman tulus dari Joseph. “Udah, nyetir lagi sana, gua mau tidur,” pungkasku.
“Kalo di novel atau film romantis, biasanya si ceweknya nemenin si pemeran utama pria, pas lagi nyetir,” ujarnya, lesu. “Kok lu malah ninggalin gua tidur? Nggak ada romantis-romantisnya, seenggaknya kupasin gua jeruk, terus suapin sampe dijejelin gitu, sambil dipuji-puji, ganteng. Lu nggak bisa bikin suasana romantis, apa? Marah gua, lu kayak gitu terus sama gua,” tuturnya, mengerucutkan bibirnya.
Aku melemparkan syal yang aku bawa pada Joseph, tapi sayang dia bisa menghindari lemparanku. “Lu beneran kurang belaian gua rasa, norak banget, lu nonton film apaan gua tanya, pake segala disuapin jeruk, ngidam lu,” seruku.
“Film romantis lah, lu nggak ada niatan puji gua gitu?” katanya.
“Buat apa gua puji lu, orang lu udah sadar duluan,” jawabku.
“Gua perlu sadar, gua emang ganteng, baik, tidak sombong, dan berteman dengan cewek baik-baik, kayak lu,” katanya.
“Hhm, serah lu, gua ngikut aja,” balasku.
“Ngomong-ngomong, lu keren, Rin, lu nggak perlu takut lagi, gua yakin bukan hal yang buruk kok. Lu coba pikirin yang baik-baiknya aja, bos lu ngasih bonus gede misalnya,” katanya.
__ADS_1
Ini sangat tiba-tiba, dia memutar topik terlalu ekstrim, aku belum siap dengan nasihatnya, tapi mungkin ini juga yang harus aku dengar.
“Rin, nggak semuanya harus lu pikirin, udah saatnya lu menjalani hidup sesuai yang terjadi aja, ikutin alurnya. Kalo terus lu pikirin, bakalan tambah pusing jatuhnya, bakal bikin lu terhambat. Mulai sekarang, coba lepasin aja semuanya, coba mulai terima apa-apa yang nggak sesuai sama jalan pikiran lu. Lu pasti bisa, Rin,” lanjut Joseph menasihatiku.
Aku merenung sebentar, mencerna kalimat-kalimat nasihat yang Joseph coba bagi denganku. “Gua juga maunya kayak gitu, tapi apa gua akan sanggup kalo kayak gitu? Gua juga capek kayak gini terus, tapi mau gimana lagi,” kataku.
“Dicoba dulu, Rin, lu jangan dulu nyimpulin sesuatu kalo belum lu coba. Coba dulu, gua siap bantuin, gua udah pernah janji nggak akan jauh-jauh dari lu,” kata Joseph.
“Oke, gua akan mulai coba,” jawabku.
Joseph membawa tanganku, kemudian dia mengecup punggung tanganku, menyalurkan semua rasa tenang. Kali ini aku setuju dengan nasihatnya, aku harus mulai menerima luka, aku tidak bisa seterusnya menyangkal setiap kegagalan. Benar, hidup itu tak akan selamanya berhasil, aku harus mulai berani mengambil resiko.
***
“Bangun, Rin, udah sampe,” ucapnya, menggoyangkan tubuhku.
Aku menggeliat, merentangkan kedua tanganku, dan menggaruk leherku. Benar, di sepanjang perjalanan aku tertidur, aku menolak hal-hal romantis yang tadi Joseph katakan. Samar-samar aku mulai mencium aroma laut, dan mendengar suara ombak yang berdesir tidak jauh dari tempat kami menghentikan mobil.
“Ya nggak bakalan lama, orang lu tidur,” jawabnya.
“Oh ….”
Nyawaku sudah terkumpul, aku langsung melihat keluar, dan di sana, di depan sana, laut luas terpampang nyata. Pemandangan yang luar biasa megah, pantai yang sungguh di luar bayanganku, indah, bersih dan yang paling penting sepi.
Aku tak menunggu Joseph meminta, aku langsung membuka pintu mobil, dan berlari keluar, mengejar ombak yang berdebur dengan syahdu. Aku melepaskan sepatu, merasakan pasir lembut berwarna putih bersih, mencengkeram pasir dengan kaki, juga memainkannya.
Perlahan-lahan air laut naik ke pantai, menyapu lukisan acak hasil karya kakiku. Dingin, segar, dan sungguh menyejukkan, apalagi semilir angin yang terus menerpa wajahku. Hatiku tenang, memang tidak salah, jika banyak orang yang memilih pantai untuk bersantai, karena aku juga merasakan hal yang luar biasa menenangkan.
“Coba teriak, lepasin semua suntuk lu,” ucap Joseph di belakangku.
“Lu yakin mau denger?” tanyaku, tersenyum.
Joseph mendekatkan tubuhnya padaku, kemudian kurasakan tangannya mulai mendekapku dari belakang. “Lepasin aja, gua nggak keberatan,” ucapnya.
__ADS_1
“Ya udah, siap-siap,” kataku.
Air laut terus menunjukkan eksistensinya, merayuku dengan hempasan sejuknya. Joseph menyuruhku untuk berteriak, sesungguhnya aku memang membutuhkan itu, aku sudah terlalu lama memendam semua hal sendirian.
Aku bersiap dan menghela napas panjang, kemudian melihat lurus ke ujung lautan sana. “Argh …!” teriakku. “Gua capek …! Lu tau nggak, hidup gua cuman kayak gini? Please, buat hidup gua lebih tenang …! Gua mau ngerasain itu, please kasih ijin, gua maksa …!” aku berteriak tanpa peduli jika orang lain akan mendengarnya.
Joseph terus mendekapku dari belakang, ia juga menempatkan dagunya di kepalaku. “Dara …! Gua nggak takut sama lu, gua nggak peduli sama tuduhan lu …! Tapi lu brengsek, lu banyak bacot, Dara, gua benci sama lu …!” aku berhenti sejenak, menghirup napas dalam-dalam, ternyata berteriak juga membutuhkan banyak energi.
“Udah?” tanya Joseph.
Aku menggelengkan kepala sebagai jawaban, masih, masih ada yang ingin aku teriakan, jadi mohon bantu aku untuk melepaskan semuanya, biarkan tekanan-tekanan di pundakku terbawa deburan ombak.
“Buat Miss labil, lu aneh, lu banyak mau, tapi nggak pernah dengerin saran dari gua, lu nyusahin …! Dan terakhir, Pak Chandra …! please baik-baik aja sama gua, lu nggak tau apa gua banyak berkorban buat perusahaan lu …! Jadi, jangan macem-macem, gua udah capek, kasih gua bonus aja, jangan nyusahin …!” pungkasku, aku tersenyum setelahnya, aku tenang, meskipun sedikit terengah-engah dan juga membuat suaraku serak, karena terlalu banyak berteriak.
“Udah tenang?” tanya Joseph, mengelus rambutku.
“Udah, makasih, maaf kalo gua lebay,” jawabku.
“Nggak, lu emang butuh ini,” katanya.
Aku senang mendengar jawabannya, Joseph tidak pernah salah dalam mengira tentangku, dia selalu tau apa yang kubutuhkan tanpa bertanya. Aku melepaskan diri dari dekapannya, membuat dia sedikit terlonjak, dan menatapku heran.
“Mau ke mana lu, sini gua peluk lagi,” katanya, merentangkan kedua tangannya.
“Ogah,” tolakku, sembari berlari.
“Mau ke mana lu, sini …!” teriaknya.
Aku yang sedang berlari menoleh padanya, menyunggingkan senyum paling tulus yang pernah aku berikan. “Kejar gua, kalo lu bisa …!” tantangku pada Joseph.
“Oh, nantang ceritanya. Oke, gua jabanin, siap-siap ketangkep,” katanya, Joseph mulai berlari mengejarku.
Kami saling mengejar, mengitari pantai yang luas ini, ditemani suara ombak yang membuatku semakin ingin hidup. Kami saling melempar canda, menanti rasa lapar menghentikan kami. Aku senang, tawaku tak berhenti sejak pertama kali menginjakkan kaki di pantai, aku bahagia, dan kuharap akan selalu ada bahagia di hidupku.
__ADS_1