KUHARAP ADA BAHAGIA

KUHARAP ADA BAHAGIA
CHAPTER 20


__ADS_3

“Pelan-pelan aja, nggak bakalan ada yang *nyomot* ayam lu,” ujar Joseph ketika melihatku makan dengan tergesa-gesa.


Kami sedang berada di restoran, Joseph tadi buru-buru membawaku ke sini, sesaat setelah perutku bersuara.


“Berisik!” seruku.


“Kenapa? Lu masih malu gara-gara tadi? Tapi, gua juga bakalan malu *sih*, kalo kayak gitu, padahal gua udah bayangin adegan paling romantis, eh …,” katanya, sembari tertawa.


“Bisa diem, nggak? Makan aja makan, nggak usap ungkit-ungkit masa lalu,” gerutuku, bukan apa-apa, aku malu setengah mati jika mengingat itu.


“Duh ilah, masa lalu, katanya. Laga lu, kayak udah pernah ditinggal nikah anak orang aja,” katanya.


“Udah!” seruku.


“Ya udah gua *mah*, nggak usah *salting* gitu dong, merah *tuh* pipinya, ‘kan jadinya gemes, rasa ingin memiliki naik lima ribu persen,” ujarnya.


“Rese, lu! Makan, nggak usah ngeliatin gua,” protesku.


“Nggak ah, sayang banget diemin cewek cantik lagi makan,” jawabnya.


“Uhuk … uhuk ….” Aku menepuk-nepuk dadaku sendiri, rasanya sakit sekali.


“*Tuh*, *tuh*, udah dibilangin pelan-pelan, keselek, ‘kan. Rasain!” ucapnya.


Aku yang berada di depannya langsung melempar sedotan ke arah tubuhnya, aku tidak terima dengan tawanya yang berlebihan itu. Aku memasang wajah kesal, tapi tak juga ia menghentikan tingkahnya itu, aku kesal dan buru-buru memegang gelas berisi minuman.


“Hey, tahan! Jangan siram gua, ampun!” serunya, menutupi kepalanya dengan kedua tangan.


“Nurut, kalo gua bilang diem, ya diem! Jangan malah makin menjadi,” omelku.


“Oke, ini diem,” katanya.


“Jangan ketawa lagi, *mingkem*!” seruku.


“Masa *mingkem*, sih,” protesnya.


“Berisik!” semprotku.


Akhirnya dia pun diam, dan hanya menatapku saja, aku paham dia hanya mencoba menenangkanku dari ketegangan di dalam pesawat tadi, tapi jika terus-menerus digoda seperti ini, aku juga merasa dongkol.

__ADS_1


Aku sangat berterima kasih dengan kehadirannya, dengan begitu aku bisa pulang ke rumah dengan keadaan hatiku yang sudah membaik, dan sudah siap melakukan aktivitas seperti biasa lagi.


“Lu nggak libur besok?” tanyanya.


“Nggak, gua disuruh masuk, dan langsung ditagih kerjaan sama atasan gua, benci banget gua,” jawabku, tiba-tiba kesal dengan pesan yang aku terima tadi dari Miss labil.


“Namanya juga kerja di tangan orang, Rin, sabar-sabarin aja, kalo nggak kuat tinggal lambaikan tangan dan gua siap buat nikahin lu,” katanya.


“Apaan, jauh amat, lu *ngebet* banget pengen nikain gua *tuh*, kenapa *sih*?” tanyaku.


“Ya nggak kenapa-kenapa, daripada sama orang lain, sayang banget, mending sama gua, yang udah jelas banget ini di depan mata, dan lagi, rasa sayang gua ke elu itu bisa buat bikin satu negara,” katanya, menggelikan.


“Tau nggak lu? Lu kayak gini terus, keliatan nggak lakunya, Jo,” sindirku.


“Wet, gua bukan nggak laku, gua nggak nerima orang baru, hati gua penuh sama lu, kalo nggak percaya, lu belah aja *nih* dada gua,” katanya, membusungkan dadanya.


Aku seketika melihat meja, mataku menangkap sebilah pisau, dan langsung saja aku membawanya. “Sini, Jo, deketan, biar gua gampang belahnya, gua butuh bukti soalnya,” kataku, mendekatkan tubuh pada Joseph.


“Rin, itu bahaya, turunin, Rin, lu nggak perlu ngebuktiin sampe segitunya, sumpah turunin, serem banget,” ujarnya, sembari mendorong kursi yang sedang ia duduki, menjauh dari jangkauanku.


“Lain kali, kalo ngomong *tuh* coba dipikir dulu, jangan asal bunyi aja,” omelku, kemudian menyimpan kembali pisau yang tadi aku acungkan pada Joseph.


Joseph mengelus dadanya. “Serem banget, lu di Surabaya ketemu apaan *dah*?” tanyanya.


“Ampun,” ujarnya, menyatukan kedua tangannya. “Tapi, gua mau serius dulu,” lanjutnya.


“Mau apa lagi, gua perlu ambil gergaji nggak *nih*?” ucapku, membuatnya mengerutkan kening.


“Astaga, bener-bener bar-bar banget, ah beneran ini serius dulu, dengerin dulu coba. Lu, ada libur panjang nggak deket-deket ini?” tanyanya.


“Emang ada apaan?” aku balik bertanya.


“Mau ngajak liburan,” jawabnya, tersenyum senang.


“*Weekend* ini ‘kan libur panjang, hari Senin libur nasional,” kataku.


“Oh, bener.” Matanya membulat dan berbinar. “Oke, liburan yuk, lu udah suntuk, perlu charge energi baru,” ajaknya.


“Hhm … liat ntar aja *dah*,” jawabku.

__ADS_1


“Harus mau, gua maksa,” katanya, memelas.


“Gua pikir-pikir dulu,” balasku.


“Tapi, bener loh Rin, gua pengen liburan bareng lu, udah lama banget nggak liburan kita,” ujarnya.


“Astaga, gua nggak bisa janjiin, gua takut tiba-tiba ada acara dadakan,” jawabku.


“Yah, jangan main sama orang lain, sama gua aja, gua maksa *nih*,” katanya lagi, sedikit merengek.


“Ih, gua jijik banget dengernya,” kataku. “Udah *deh*, gua pulang dulu aja,” tambahku.


Joseph segera beranjak dari tempat duduknya. “Eh, lu makannya udah beres emang?” tanyanya tiba-tiba, lalu kembali duduk.


“Udah, lu nggak liat ini tinggal tulang, mata lu nggak bisa liat apa?” omelku.


Dia tertawa. “*Sorry*, lu lebih asyik buat dipandang ketimbang ayam-ayam itu,” jawabnya.


“Banyak ngomong banget, buruan ah, lu anterin gua kagak? Kalo nggak mau, gua pesen taksi aja,” kataku.


“Eh, jangan, ini gua siap, ayo,” ajaknya, menyambar tanganku dan menarikku, meninggalkan kursi, aku yang tidak siap terperanjat, sampai-sampai aku tidak sempat membereskan meja.


Joseph tidak melepaskan pegangannya, malah mengayunkan tangan kami, seperti anak kecil yang berjalan dengan teman-temannya. Setelah Joseph selesai membayar, kami pun segera keluar dan meninggalkan restoran itu.


Joseph membawaku ke dekat mobilnya yang ia parkirkan tidak jauh dari restoran, aku tidak bergeming, aku sedang menikmati segala macam afeksi yang Joseph berikan padaku. Aku tidak menyangkal, aku membutuhkan Joseph dan segala perlakuan manisnya, yang kadang membuatku jengkel juga dengan kelakuan ajaibnya.


“Silakan masuk Tuan Putri, jangan lupa pake sepatunya, kaki kanan dulu, awas *kepentok*,” ujarnya, tersenyum jahil.


“Gua berasa naik angkot, terima kasih Mang,” balasku, membuat wajahnya menekuk, pura-pura marah, tapi masih telaten membantuku untuk memasangkan *seat belt*.


“Masa udah seganteng ini, disamain sama Mamang angkot,” rengeknya.


“Nggak pantes, sumpah, cepetan *dah*, gua pengen istirahat,” kataku.


“Siap!” serunya, langsung berlari ke sisi pintu kemudi.


Joseph sudah berada di sampingku, siap untuk mengantarku pulang, hari ini rasanya campur aduk. Tapi, akhirnya keteganganku perlahan-lahan tergantikan dengan perasaan penuh kasih yang diberikan oleh Joseph padaku.


Mobil Joseph selalu hangat dan memberi ketenangan padaku, hingga aku perlahan-lahan mulai memejamkan mata. Aku sudah kelelahan menahan setiap gejala pada tubuhku, selama beberapa waktu lalu, aku habiskan dengan rasa takut terhadap reaksi tubuhku sendiri.

__ADS_1


Joseph tidak bersuara, tapi tangannya bisa aku rasakan tengah mengelus tanganku dengan lembut. Membenarkan kepalaku agar kembali pada posisi nyaman, aku belum tertidur, hingga aku masih bisa merasakannya.


Semoga aku masih bisa bertahan sedikit lagi, jujur saja aku sudah lelah dengan kondisiku ini. Tapi, aku juga tidak bisa berbuat banyak, ini salahku sendiri yang tidak bisa menciptakan ketenangan, semoga esok hari aku bisa lebih siap dan coba hidup lebih tenang lagi.


__ADS_2