
Ucapan menggantung itu tetap tak ada lanjutannya, padahal aku sudah siap mendengarkan. Tapi, tak sangka jaket Joseph akan hangat seperti ini saat diduduki, jaket besar berukuran XL itu tergelar dengan nyaman di rerumputan.
Aku melihat padanya, berniat untuk menyandarkan kepalaku di bahunya yang kokoh, tetapi ada ragu yang aku rasakan. Biar bagaimanapun dia sudah hilang selama seminggu, sangat mengundang banyak tanya di benakku.
“Sini dong, deketan sama gua, lu beneran mau jauhin gua, apa gimana? Tega bener lu,” ujarnya, sembari melihatku dengan tatapan memelas.
“Sumpah demi Tuhan, lu modus banget, nggak usah banyak drama deh,” kataku, kesal, tapi aku juga tidak bisa menolak, aku menggeser tubuhku agar lebih dekat lagi dengannya.
“Rin …,” ucapnya, akhirnya dia akan melanjutkan lagi, aku tidak sabar mendengar apa yang ingin dia sampaikan padaku.
“Apaan?” tanyaku, lugas, takut dia menggantungkan ucapannya lagi.
“Kalo dalam ilmu matematika bagian statistika, modus tuh nilai yang sering muncul, selama gua hidup, kebetulan elu yang sering muncul di mana pun gua berada, Li. Lu yang sering muncul di kepala gua dan lu juga yang nggak pernah hilang dari hati gua, jadi sebenarnya yang bertingkah modus itu elu, bukan gua. Dan sampai saat ini dan seterusnya akan selalu elu modus di hidup gua,” jelas Joseph, mengutarakan isi hatinya secara tidak langsung.
“Oh, gitu, oke, oke, bisa gombal juga lu, pake segala bawa-bawa ilmu statistika buat gombal, capek deh,” ejekku.
Ucapan Joseph memang terdengar menggelikan, tapi entah kenapa itu juga yang menarikku untuk memberanikan diri bersandar padanya. Aku perlahan-lahan menyandarkan kepalaku di bahunya, aku sudah tidak canggung lagi, aku bahkan lebih merapatkan tubuhku padanya, hingga parfum khasnya tercium dan aku nyaman dengan kehadirannya.
“Gua nggak gombal, itu kenyataan yang kadang lu nggak pernah sadari, padahal gua udah ganteng gini, lu bener-bener dah. Tapi, nggak masalah, selama lu sama gua, lu akan jadi tujuan doa-doa gua,” ungkapnya.
“Haduh, masih aja, lu sebenernya belajar gombal dari mana sih, ngeri banget?” ledekku.
Joseph terkekeh, langsung merengkuh tubuhku dengan tangan kekarnya lalu aku didekapnya, aku tak mampu untuk menolak. Joseph sempat menghilang, dan kini akhirnya aku bisa menikmati semua perhatian Joseph kembali. Mau sekeras apa pun aku mengelak, nyatanya aku memang merindukan sosok Joseph, rindu, aku rindu, aku akhirnya berani mengakuinya.
Joseph menarik daguku agar wajahku menghadap padanya, jadilah wajah kami saling berhadapan. Aku masih dalam dekapannya, dia memandangku dengan senyuman yang lembut dan tulus, aku membalas tatapannya dengan degup jantung yang bergemuruh.
Dia lebih mengeratkan pelukannya padaku, sedikit demi sedikit memajukan wajahnya dengan wajahku, aku tersenyum. Dia semakin mendekatkan lagi wajahnya dengan wajahku, kemudian dia menyentuh hidungku dengan hidung mancungnya, menggesekkannya dengan lembut, hingga napas kami saling menyapa wajah masing-masing.
Kami terkekeh, menertawakan kelakuan kami yang sungguh menggelikan. Dia memperlakukan aku layaknya permata yang berharga, Joseph selalu mengutamakan kenyamananku. Itulah yang akhirnya membuatku merasa kehilangan ketika tidak ada dirinya di sekitarku.
Joseph tidak melepaskan dekapannya, membuat hatiku seperti ditumbuhi banyak bunga yang dengan ajaib saling bermekaran, ada euphoria tersendiri ketika Joseph memperlakukanku demikian.
“Lu sadar nggak sih, kita selalu pelukan di taman ini?” tanya Joseph. Kami mengedarkan pandangan ke hamparan rerumputan luas di depan kami.
“Sadar gua, waktu itu, pas gua lagi kehilangan kendali, lagi gila-gilanya, lu juga nemuin gua di sini, tapi waktu itu kok lu bisa tau sih gua ada di sini?” jawabku.
Aku mengingat momen yang paling kacau dalam hidupku, ketika itu Joseph mendapatiku sedang berada di taman ini, menangis dan berteriak tidak karuan. Joseph datang memberikan kenyamanan yang sama seperti sekarang ini.
“Apa yang gua nggak tau tentang lu, ke mana pun lu pergi, lu pasti akan selalu ada di radar gua,” katanya.
__ADS_1
Aku menatap matanya, tidak percaya dengan kata-katanya. “Hari ini kok lu manis banget sih?” Aku sejujurnya tidak siap dengan jawaban yang di luar kendaliku, aku juga belum siap menerima sensasi yang disebabkan oleh setiap jawaban-jawaban ajaibnya.
“Gua kangen,” lirihnya.
Aku tersenyum, tidak pernah menyangka Joseph akan mengutarakan semua perasaannya. Dia kembali menggenggam tanganku, tangannya selalu terasa nyaman ketika kami saling bertaut seperti ini.
“Jadi kita baikan nih?” tanya Joseph.
“Heem,” jawabku.
Aku tidak bisa mengutarakan perasaanku secara langsung seperti Joseph, ada gunung-gunung keegoisan yang tidak bisa aku daki. Untuk saat ini biarkanlah aku mengetahui perasaan Joseph, aku tidak perlu membagi rasa berdebar ini yang kian bergemuruh di dalam dada.
“Lu mau nggak, hubungan kita dibawa lebih jauh lagi?” tanya Joseph.
“Sejauh mana?” tanyaku.
“Sejauh yang gua bisa,” jawabnya.
“Nggak ah, gua masih menikmati hubungan yang sekarang, hubungan kayak gini, hubungan yang belum terlalu terikat,” jawabku, sembari memainkan jari-jari tangannya.
“Tapi kalo gua berharap lebih, boleh nggak?” tanyanya lagi.
Aku masih menyandarkan kepalaku di bahunya, semakin lama semakin nyaman. Tetapi untuk mengikat sebuah hubungan, mungkin selama aku belum yakin dengan keputusan terbaiknya yang mana, aku akan lebih memilih hubungan persahabatan kami. Aku akan menyimpan perasaanku, hingga suatu saat aku siap untuk menerima perasaanku dan perasaan manusia lain di hidupku.
“Kalo mau lihat kisah yang bagus dari persahabatan yang banyak orang tau, ada Pangeran William dan Kate Middleton. Mereka juga awalnya karena satu sekolahan, terus temenan kayak kita, lanjut dah tuh, mereka jadi pasangan yang tinggal di istana. Kalo kita liat dari kisah itu, gua di sini ada lu, lu juga temen gua dari kapan hari juga. Bisa kali ya, kita lanjut,” katanya, berharap.
“Perumpamaan lu bagus, tapi gua nggak sanggup jadi Kate Middleton,” balasku.
“Gua juga nggak bisa kayak Pangeran William, terus bawa lu ke istana. Tapi, gua selalu sanggup bawa lu ke masa depan gua, biar gua bisa bareng lu terus,” jawabnya.
“Ya udah nikmatin aja kaya sekarang,” kataku.
“Tapi, Eli. Orang sahabatan, mana ada yang sampe ciuman?” ujarnya, mengingatkanku dengan kejadian yang terjadi di bianglala, ketika kami pergi ke pasar malam berdua tempo hari.
“Ada, kita. Tapi mohon maaf nih, itu bukan ciuman ya, lu cuman nempelin bibir lu sama bibir gua, nggak lebih,” sanggahku.
“Oh iya, kita beda ya. Tapi itu itungannya ciuman, ciuman juga, lagian lu nggak nolak juga,” balasnya.
“Kita ya kita, lagian cuman ciuman doang, ‘kan?” kataku.
__ADS_1
“I-iya sih, kenapa lu berharap lebih?” tanya Joseph jahil, tapi aku sedikit terkejut mendengar pertanyaannya.
“Ng … nggak gitu juga …,” rengekku.
“Uhuk …, uhuk ….” Joseph terbatuk-batuk, dia terlihat kepayahan, padahal sedari tadi dia baik-baik saja.
Aku menepuk-nepuk punggungnya. “Kok lu batuk? Perasaan dari tadi bae-bae aja, kenapa tiba-tiba bisa batuk sampe kayak gini? Aduh, mana nggak ada minum lagi,” ujarku, panik.
“Gua sakit,” ungkapnya,
“Hah?! Sakit apaan? Kok nggak ngasih tau gua? Wah, parah lu,” kataku, terkejut, dan semakin panik.
“Gua sakit pas udah nganterin lu pulang waktu itu, gua ‘kan pulang pas ujan-ujan. Kenapa nggak ngabarin lu? Ya, lu pikir aja, kepala gua pusing, liat HP aja gua nggak bisa, kleyengan gila, susah deh jadinya. Boro-boro inget ngasih tau lu,” jelasnya.
“Nyebelin lu! Kirain gua lu ke mana? Tiba-tiba ngilang secara misterius abis berantem. Tapi nggak parah ‘kan sakitnya?” protesku. Kini aku tau kebenarannya, aku tau alasan kenapa dia tidak ada kabar selama satu minggu ini.
“Nggak cuman demam biasa sama batuk pilek, gitu-gitu deh. Gua nggak ngilang tanpa alasan, lu pikir gua bisa hidup tanpa lu,” celetuknya.
“Ya …!” teriakku tak tahan dengan kejahilan-kejahilan Joseph yang tidak berhenti sejak tadi.
“Heh, kok malah teriak? Kalo ada yang denger, gua bakalan dikira mau bunuh lu,” katanya.
“Berhenti bisa?” tanyaku sinis.
“Berhenti apa?” godanya, dia terlihat mengulum senyum, puas menggodaku.
“Ih, jangan kayak gitu, berhenti bersikap menggelikan,” kataku.
“Dasar lu,” katanya. “Udah larut banget, pulang yuk, bahaya kalo kemaleman di sini,” ajaknya.
“Emang kenapa kalo udah malem masih di sini?” tanyaku, heran.
“Nggak papa, takut gue ngereog aja, terus teriak aing maung …,” candanya.
Aku tertawa. “Ngapain takut, tinggal gua bales aja, aing teu sieun …,” balasku.
Aku menatap mata Joseph, lalu kami tertawa, dan saling lempar rumput kering yang berada di sekitaran kami.
“Udah, udah, bahaya, bubar, bubar,” katanya, sembari beranjak dari duduknya, tak lupa membantuku berdiri.
__ADS_1
Hari ini seakan semua resah telah musnah, mendengar tutur kata yang begitu menggugah, di tempat kita saling melempar kegundahan yang dihiasi pemandangan yang begitu indah dan megah. Suasana seperti ini semoga menjadi awal yang indah dalam kisah kehidupanku dan Joseph, semoga semua yang aku kerahkan terobati dengan kebahagiaan yang melimpah.