KUHARAP ADA BAHAGIA

KUHARAP ADA BAHAGIA
CHAPTER 5


__ADS_3

“Besok gua jemput, siap-siap aja,” ujar Joseph, yang ikut turun dari mobil setelah sampai di depan rumahku.


“Atur ajalah,” jawabku.


“Jangan marah lagi dong cantik, ‘kan gua udah kasih makan tadi,” katanya, sembari menjawil hidungku.


“Apaan sih, gua masih dendam ya,” kataku.


“Uluh-uluh, masih ngambek ternyata, sorry, besok gua janji bawa lu ke tempat yang asyik,” katanya lagi, membelai wajahku.


“Terserah,” jawabku, malas.


“Ya udah, gua pulang dulu, kalo kangen telepon aja,” katanya, Joseph tersenyum dan meninggalkanku di depan rumah, kemudian dia masuk lagi ke mobilnya, sembari melambaikan tangan padaku, aku diam saja tidak membalas.


Mobil Joseph sudah melaju, aku masih berdiri memandangi kepergian Joseph, ingatan obrolan kami masih terbayang di pikiranku, ragu itu kian menyapa.


“Udah dong, sampe dipandang terus kayak gitu loh, orangnya udah pulang, telepon aja nanti kalo kangen,” tegur Mama, sekaligus menggodaku.


Aku terkesiap, tidak menyadari jika Mama ada di luar. “Apa-apaan, Mama? Kenapa ikut-ikutan dia?” kataku, murung.


“Emang dia kenapa?” tanya Mama, tersenyum.


“Nyebelin,” jawabku, cemberut.


Mama tertawa. “Masuk dulu, Kak, atau masih mau nunggu dia balik ke sini?” goda Mama.


“Enggak!” tegasku, aku pun masuk ke dalam rumah, diikuti Mama yang tidak henti tertawa.


Aku memandangi wajah Mama, entah kenapa aku paham arah pembicaraan yang akan terlontar beberapa saat lagi. Bukan aku menghindari pertanyaan itu, tidak juga membenci topik itu diangkat, tetapi tidak sampai hati aku menjawab pertanyaan yang penuh harap itu. Aku tidak tega melihat mata berbinar Mama, ketika memandangku sedari tadi ketika kami memasuki ruangan ini.


“Kalian semakin akrab, ya? Kapan kira-kira Mama punya cucu, Kak?” tanya Mama, menghentikan langkahku.


“Astaga, pertanyaannya, serem banget, Mama,” jawabku.


Aku tau maksud Mama, tapi aku masih belum sanggup mewujudkan itu, aku masih harus berjuang mencari siapa diriku. Bukan tidak ingin aku mewujudkan keinginan orangtua, tetapi aku juga masih berusaha untuk mengenal diriku sendiri, aku masih berjuang untuk mencintai diriku sendiri.

__ADS_1


“Kamu udah makan?” tanya Mama.


“Udah, Ma, aku makan bareng Joseph,” jawabku.


“Gimana tadi, bisa wawancaranya?” tanya Mama lagi.


“Nanti aku cerita, aku bersih-bersih dulu. Mama tunggu di kamar aku aja,” ujarku.


“Gih, cepetan. Mama nggak sabar denger cerita kamu,” ujarnya, sembari berjalan menuju kamarku.


***


Mama sedang duduk bersandar pada pinggiran ranjang, membaca buku dari salah satu koleksiku yang berada di rak tepat di atas ranjangku. Aku membuka lemari, memilih baju tidurku untuk malam ini, kulirik Mama masih terhanyut dengan buku bacaannya.


Mama menoleh. “Gimana ceritanya, Kak?” tanya Mama tidak sabaran.


Aku mendekat, mendudukkan diri di sampingnya. Mama menutup buku yang ada di pangkuannya, mencondongkan badannya ke depan, sedikit memiringkan badannya, menyesuaikan arah pandang agar bisa melihatku dengan baik. Aku melihat Mama, siap untuk bercerita tentang hari ini dan tentang semua keresahanku.


“Tadi, ternyata bukan aku aja yang datang wawancara kerja,” kataku, memulai cerita.


“Aku jawab semuanya, aku juga udah ikut diskusi waktu itu, jadi nggak begitu canggung,” jawabku.


Aku berpikir sejenak sebelum melanjutkan kisahku pada Mama, aku kembali memikirkan kecemasanku tentang dunia luar. Seakan paham apa yang sedang aku pikirkan, Mama menggenggam tanganku.


“Ada apa?” tanya Mama dengan lembut.


“Ma, di sana banyak orang …,” lirihku.


“Terus, bukannya perusahaan besar pasti banyak karyawan, Kak?” tanya Mama.


“Tapi, Ma, aku tadi sempet ngobrolin ini sama Joseph juga, aku ngobrolin tentang keadaan aku. Gimana ya, Ma? Mereka bakalan menerima aku atau nggak ya, Ma? Aku takut, takut sama diri aku sendiri, takut nantinya malah jadi beban buat orang banyak,” jelasku.


Mama menghela napas, menyadari arah pembicaraanku, Mama pasti tau maksud dari apa yang ingin aku bahas. Mama dengan lembut mengusap tanganku yang tadi ia genggam, kemudian membawa tanganku ke pangkuan Mama.


“Mama paham. Paham sekali tentang kecemasan kamu, tapi kamu harus lebih yakin sama diri kamu sendiri,” ucap Mama.

__ADS_1


“Dengerin ya, ada satu ayat yang bilang gini, ‘Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus dari rahmat Allah, melainkan orang-orang yang kufur.’ Kamu harus senantiasa bersyukur, bisa saja ini salah satu rahmat Allah dari sekian banyak rahmat yang telah diberikan Allah sama kamu.” Mama membelai rambutku, memberi ketenangan.


“Jadi jangan putus asa dulu, kamu belum berperang dan yang kamu khawatirkan belum tentu terjadi, percayakan sama tekad kamu, kamu pasti bisa. Mama dukung semua keputusan kamu,” nasihat Mama.


Aku langsung memeluk Mama dari samping mencari kenyamanan di sana, aku bangga dengan kehebatan Mama yang bisa dengan penuh kasih sayang menanamkan tekad padaku. Aku terbuai dengan segala sisi kasih sayangnya.


“Iya, Ma. Padahal kerja aja belum, siapa tau mereka menerima aku kerja berikut menerima keadaan aku, kenapa aku malah cemas sama hal yang belum terjadi? Aku akan meyakinkan diri mulai sekarang, Ma, aku akan coba dulu, doain aku, aku siap berperang sekarang, Ma,” tekadku.


“Mama akan selalu berdoa buat kamu, adekmu, papamu, Mama akan selalu berdoa. Kamu jangan khawatirkan yang belum terjadi. Fokus dulu aja sama apa yang akan kamu lakukan besok malam,” jelas Mama, kembali meyakinkanku.


Aku fokus dengan perkataan Mama, hingga abai ada kata yang janggal dari yang Mama ucapkan tadi. “Besok emang ada apa?” tanyaku, heran.


“Kamu bukannya mau dijemput, sama Joseph,” jawab Mama, jahil.


Aku terperanjat, seketika melepaskan pelukanku pada Mama, aku menatap Mama penuh selidik. “Mama tau dari mana? Ih, Mama nguping ya?” selidikku.


“Nggak nguping, kebetulan kedengeran,” jawab Mama, polos.


“Ah, Mama. Ini lagi serius, malah bahas-bahas yang lain,” ujarku, tak terima.


“Jangan serius-serius amatlah, besok pasti diajak main, harus seneng kamu. Apalagi sama Joseph,” katanya.


“Emang kenapa kalo sama Joseph? Biasanya juga emang sama dia terus, ‘kan? Terus sekarang kenapa tiba-tiba jadi spesial dari pergi sama Joseph?” cerocosku, masih tak terima.


“Udah, udah, kenapa jadi ngomel-ngomel gitu? Pokoknya besok pergi aja sama Joseph, Mama nggak bakalan larang kok, tenang aja,” ujar Mama.


“Heem,” jawabku.


Mama tersenyum, dan merapikan anak rambut yang menghalangi wajahku. “Inget ya Kak, setiap kesakitan kamu adalah kesakitan Mama juga, setiap kebahagiaan kamu adalah pemicu bahagia Mama juga, tapi setiap kali kamu putus asa, Mama yang akan memecut semangat kamu agar kembali pulih. Mama juga sama, sama-sama pernah berjuang menerima keadaan. Jadi Mama mau kamu percaya dulu sama diri kamu sendiri, janji ya?” ungkap Mama, tak henti menyemangatiku.


“Iya Ma, aku janji, aku akan bahagia, aku pastikan akan berjuang, tidak akan mudah menyerah, aku sayang Mama,” pungkasku.


Aku kembali memeluk Mama, mengucapkan beribu-ribu rasa syukur di dalam hati. Mama mengelus punggungku, ia dekap tanganku dengan sayang, aku yakin bahkan di kehidupan berikutnya, aku hanya ingin dilahirkan dari rahim Mama yang aku peluk sekarang.


Bersandar pada kuasa yang hebat adalah yang terbaik, aku meyakinkan diri pada janji-Nya yang tak akan Ia ingkari, aku berpegang teguh akan kepercayaan diriku yang aku yakini merupakan jalan terbaik untuk langkahku yang baru. Aku siap, aku pasti bisa dan akan terus mengucap syukur dengan patuh terhadap setiap nikmat-Nya.

__ADS_1


__ADS_2