
“*Rin, lu besok ikut gua*,” kata Rangga di ujung telepon sana.
Tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba-tiba Rangga mengajakku pergi bersamanya, membuatku tiba-tiba berhenti mengetik. Tahu bulat saja, kalah dadakannya dibandingkan ajakan Rangga ini.
“Hah? Ke mana? Mau Ngapain?” tanyaku, terheran-heran dan juga terkejut.
“*Besok harus cek bahan, sama tanda tangan kontrak baru sama perusahaan yang di Surabaya, jadi gua butuh lu buat ngejelasin semua prosedurnya, nih perwakilan perusahaannya rewel, kalo sama lu ‘kan enak gua banding harganya*,” jelasnya.
“Surabaya? Terus, lu baru kasih tau hari ini? Lu gila apa? Gua belum persiapan apa-apa, terus kerjaan gua yang di sini gimana, Rangga?!” protesku, sedikit menjerit, untunglah di ruanganku sepi.
Rangga tertawa mendengar teriakan protesku.“*Gampang, tunda dulu kerjaan lu, ini lebih urgent, semua akomodasi udah gua atur, tiket, hotel, dan keperluan lu udah beres, tinggal lu bawa diri lu, dokumen, sama barang pribadi lu doang, oke? Gua jemput lu besok jam 10 di kantor*,” katanya, santai sekali.
“Astaga, lu siapin semuanya tanpa persetujuan gua? Dan ini gua yakin, lu nggak mau gua nolak, ‘kan? Emang lu gila, nggak ngerti gua, ah bodo lah, nanti bahas lagi, gua mau ngerjain dulu kerjaan gua,” pungkasku.
“*Oke, besok harus udah siap semuanya, dan iya, gua nggak nerima penolakan, gua butuh banget, pokoknya lu harus ikut, nggak mau tau gua*,” katanya.
“Terserah,” jawabku, mematikan panggilan telepon secara sepihak.
Setelah mengakhiri panggilan dengan Rangga, aku tak lantas melanjutkan pekerjaanku, aku merenung. Ini akan menjadi perjalanan pertamaku tanpa orang lain (read: Joseph) dan menjadi perjalanan pertama terjauh yang pernah aku alami selama hidupku tanpa orang lain.
Aku terus merenung, tentang apa yang akan terjadi nanti, bukan apa-apa, aku tau kondisiku, aku takut menjadi beban untuk orang lain. Aku menatap layar monitor dengan tampilan halaman data yang seperti berteriak ingin segera dikerjakan, tapi mohon maklumi, aku tidak fokus sekarang.
Aku menundukkan kepala, menutup mataku sebentar, dan mengatur napasku dengan perlahan-lahan, aku tidak boleh lemah, aku harus melawan rasa yang menyiksa ini. “Gua pasti bisa, tarik napas Rinda, lu bisa, jangan khawatir, inget banyak orang yang mau kerja kayak lu, ini kesempatan bagus untuk lu, Rin … lu bisa,” gumamku, mencoba memotivasi sendiri.
Setelah napasku kembali tenang, aku membuka mataku perlahan-lahan, dan kembali fokuskan mataku pada layar monitor di depanku lagi. “Oke, kerjain dulu, baru mikirin besok,” ucapku, memegang *mouse*, dan mulai melanjutkan kegiatanku yang tertunda tadi.
\*\*\*
__ADS_1
“Lu udah siapin semuanya? Udah aman? Atau masih ada yang perlu gua beliin gitu?” tanya Joseph.
Hari ini, aku berangkat ke Surabaya untuk pertama kalinya, Joseph seperti biasa mengantarku ke perusahaan. Kemarin setelah pulang kerja, aku langsung memberitahu Joseph tentang perjalanan kerjaku ke Surabaya. Aku tidak ingin Joseph salah paham lagi, meskipun sebenarnya tidak seharusnya aku seperti ini, tapi entahlah, aku harus seperti ini, demi kenyamananku.
Aku dan Joseph masih menunggu Rangga di ruang tunggu lobi. Rangga memintaku untuk tidak ke atas dulu, berhubung perusahaan dan atasan kami sudah mengetahui juga, jadi di sinilah aku menunggu Rangga menjemput.
“Udah semua deh, gua udah masukin semuanya, nggak lama juga kok, Rangga bilang cuman dua hari, jadi nggak perlu banyak-banyak,” jawabku.
“Dokumen udah siap? Bahan presentasi, udah ada, ‘kan?” tanya Joseph.
“Udah elah, kenapa jadi lu yang bawel, sih?” protesku.
“Ini gara-gara lu juga, siapa yang ngerengek semaleman? Mana bisa gua nggak bawelin lu, apalagi ini gua jauh dari lu, cuman bisa mantau lewat HP doang, mana bisa gua tenang,” balasnya. “Apa gua ikut aja kali ya, Rin?” tambahnya menawarkan diri.
“Gua ‘kan kaget, udah lah, lu nggak usah lebay gitu, gua bisa kok, semalem gua mau ngadu aja, gua takut lu salah paham lagi, ntar ngambek lagi, kayak waktu itu,” jawabku, menyindir Joseph atas kejadian tempo hari. “Dan, lu nggak perlu ikut kali ini, gua bisa sendiri, percaya sama gua,” tambahku, meyakinkan.
Aku berkata percaya diri, tanpa sadar tanganku gemetar, Joseph menyadari itu, tiba-tiba ia membawa tanganku untuk digenggam. “Ya udah kalo gitu bagus,” katanya. “Kalo udah sampe, kasih kabar gua, orang rumah, jangan sampe lupa makan, gua akan cek lu dua jam sekali, pokoknya,” tambahnya, mengelus-elus tanganku dengan ibu jarinya.
“Paham gua—“
“Rin, lu udah siap?” teriak seseorang di luar lobi, memotong obrolan kami.
“Tuh udah dateng, gua berangkat sekarang,” kataku pada Joseph, sembari tersenyum lebar.
“Ya udah hati-hati,” katanya.
Sebelum melepas tanganku, Joseph mengeratkan genggamannya, menyalurkan energi kepadaku, inilah Joseph, dia tidak perlu diminta, ia akan langsung bertindak, dia paham sekali dengan keadaanku. Setelah itu, Joseph mengusap kepalaku, membubuhkan doa-doa sepertinya, aku juga tidak tau, tapi dia lama sekali mengusap bagian atas kepalaku itu.
__ADS_1
Dirasa semuanya sudah siap, aku keluar ditemani Joseph, dan menghampiri mobil yang ditumpangi Rangga.
“Bawaan lu cuman segitu?” tanya Rangga, melihat tas ranselku.
“Iya lah, tenang dokumen ada di tas laptop gua,” jawabku, sembari menepuk tas laptop di tanganku.
“Okelah, masuk,” katanya.
Aku tidak banyak berkata lagi, aku langsung masuk saja, aku juga sudah berpamitan dengan Joseph. Aku harus menghemat energiku, apalagi perjalanan udara ini memakan waktu kurang lebih dua jam lamanya.
“Rin, gua kasih tau dari sekarang aja ya, setelah kita landing, gua langsung ke tempat proyek, lu siap-siap dulu di hotel, client minta ketemu jam lima sore. Abis ketemu client, nggak ada kegiatan lain, lu bebas mau jalan ke mana aja, asal besok udah ada lagi di hotel. Terus, pagi-pagi, lu siap-siap lanjut buat tanda tangan kontrak baru, udah dari sana kita lanjut pulang, gua nggak bisa lama-lama, di sini banyak kerjaan juga yang nungguin,” jelasnya, di dalam mobil yang sedang melaju.
“Buset, Bang, lomba lari marathon kita, rapet amat jadwalnya,” ujarku.
Rangga tertawa. “Sorry, ya, lu pasti kaget sama cara kerja gua, gua nggak bisa atur rinci dari jauh-jauh hari, soalnya kalo di lapangan semua bisa berubah, lu bikin jadwal pun percuma, tapi sebagai gambaran, itu yang akan lu sama gua lakuin di Surabaya, santai aja, nggak bakalan kaku juga pertemuannya, ini cuman formalitas aja,” jawabnya.
“Ya udah, mau gimana lagi, gua udah setuju juga,” kataku. “Eh, tapi, kamar hotel kita beda, ‘kan?” tanyaku, memastikan.
Rangga tiba-tiba memutar kepalanya, menatap padaku dengan heran. “Lu yakin nanya ginian? Ya beda lah gila, kenapa emang? Lu nggak mungkin minta ditemenin, ‘kan? Sorry, Rin, kalo itu gua nolak, gua takut kelepasan, kita terpaksa beda kamar, Rin,” jawabnya, menggebu-gebu.
“Siapa yang minta ditemenin?” seruku. “Gua cuman nanya aja, bagus deh kalo emang beda kamar,” tambahku.
Rangga tertawa lagi, aku hanya membuang muka, malu juga sudah menanyakan hal konyol seperti itu.
“Udah, lu tenang aja, siapin aja semuanya, sisanya lu bebas,” pungkasnya.
Mobil melaju membelah jalanan kota menuju bandara, Rangga sengaja mengambil penerbangan siang. Aku kembali menenangkan diri, mengendalikan hati dan pikiranku, ini sudah seperti persiapan perang untukku, dan nyatanya memang seperti itu. Aku sekuat tenaga, harus melawan ketakutanku, agar tidak membebani banyak pihak.
__ADS_1
Arah pandanganku memang keluar jendela, tapi hati dan pikiranku entah mengawang ke mana, aku takut? Jelas. Aku terus mengkhawatirkan tentang apa yang akan terjadi nanti di Surabaya, apa yang nanti akan aku hadapi di sana, hingga bagaimana seharusnya aku bertemu dengan orang baru.
Apa aku sudah berlebihan? Apa wajar saja jika ketakutan seperti ini? Entahlah, aku pun tak bisa mengendalikan pikiran-pikiran buruk itu, tapi semoga saja semuanya berjalan lancar selama berada di sana.