KUIKHLAS KAU PERGI

KUIKHLAS KAU PERGI
Merelakan Kepergiannya " Nayaku"


__ADS_3

"Lesha" suara ibu mertuaku menyadarkan ku dari lamunan. Aku melihat ibu datang bersama dengan kedua kakak iparku mas Sugeng dan mba Tita istrinya, kak Mirna dan mas arif suaminya, aku tak tau mereka mengetahui berita ini dari mana tapi aku sangat bersyukur dan memberiku sedikit kekuatan setidaknya aku tidak merasa sendirian lagi menghadapi ini yang terasa sangat berat dan membuatku merasa sesak di dada yang teramat sakit.


"Nak, yang sabar ya sayang, Insyaa Allah ini yang yang terbaik untuk semua. Kamu harus legowo, ikhlas. Kamu gak sendirian ada ibu, mas dan mbakmu yang selalu ada untukmu"

__ADS_1


ucap ibu mertuaku untuk menguatkan ku sambil terus mengelus dan memeluk punggung belakangku, tak terasa air mataku makin deras mengalir. Bagaimanapun benar kata semua orang aku harus ikhlas merelakan kepergiannya meskipun terasa sangat berat tapi ku harus kuat dan yakin bahwa ini adalah yang terbaik yang telah di gariskan oleh yang maha kuasa Allah azzawazala.


Aku tidak menjawab, hanya menganggukkan kepalaku sambil terus memejamkan mata untuk sedikit meredakan gejolak hati ini. Setelahnya mas Sugeng membereskan semua administrasi dan kepengurusan jenazah beserta dengan urusan pemakaman karena hari sudah siang bahkan hampir petang maka di putuskan jenasah akan dimakamkan dan di jalankan di rumah sakit dan langsung di kebumikan di TPU terdekat. Aku ikut saja dengan keputusan ini, tidak membantah toh aku yakin ini yang terbaik untuk nayaku. Nayaku di bawa ke sebuah ruangan untuk di mandikan dan di kafani, aku diam terpaku dan hanya tetesan air mata yang menggambarkan betapa hancurnya hatiku saat ini, aku menyaksikan semua prosesnya mulai dari mereka memandikan, membasuh tubuh mungil yang pucat dan kaku dengan lembut dan teliti, membersihkan semua kotoran yang melekat pada tubuh mungilnya untuk terakhir kalinya sampai akhir mereka mengkafaninya, proses demi prosesnya aku merekamnya dalam ingatanku dan sebelum kain itu menutup wajahnya tertutup sempurna aku di panggil oleh seorang petugas katanya semua anggota keluarga di panggil kedalam untuk melihat wajahnya untuk terakhir kalinya. Kudekati tubuhnya yang sudah rapi terbungkus kain kafan, Kupandangi wajahnya, wajah cantik dan mungil nayaku untuk terakhir kalinya, ku hapus air mataku agar tidak sampai mengenai jasadnya, kucium dahinya, matanya, hidungnya, pipinya, bibirnya dan terakhir dagunya. Kubisikkan kata kata terakhirku untuknya sebagai kata perpisahan untuknya

__ADS_1


"Ade sayang,, umi sayang banget sama Ade, tapi Allah lebih sayang sama Ade makanya Ade pulang duluan keharibaannya, Insyaa Allah umi ikhlas,, Ade yang tenang ya di sana, Insyaa Allah umi disini akan selalu sayang dan cinta sama Ade. Ade akan selalu ada di hati umi. Umi sayang Ade,, selamanya" aku mundur kebelakang untuk bergantian dengan yang lainnya. Aku berusaha untuk ikhlas tapi mungkin belum bisa sepenuhnya karena air mata ini masih saja terus menetes tanpa bisa di tahan. Insyaallah semua pasti paham akan keadaanku sekarang, betapa berat ujian yang aku terima saat ini, jadi menangis adalah satu satu cara untuk mengekspresikan keadaan hatiku saat ini. Akhirnya kain penutup wajahnya di tutup dan jenasahnya di gendong oleh mas Sugeng pamannya sebagai pengganti ayahnya hingga ke pemakaman dengan mobil jenasah yang sudah di sediakan dari pihak rumah sakit. Aku tidak mau ambil pusing dengan ada tidaknya mas Arya, karena itu akan menambah beban dan luka hatiku. Toh juga tidak ada seorangpun yang menanyakan keberadaannya, karena memang itu semua sia sia dan hanya membuang energi dan memperkeruh suasana.


"Dede yang tenang ya disana, Insyaa Allah umi akan selalu mengingat, menyanyagi dan mendoakan Ade dari sini,, umi sayang Ade" ucapku sambil menaburkan bunga dan air mawar di tempat peristirahatan terakhirnya.

__ADS_1


Senjapun tiba, aku di ajak pulang oleh ibu dan kakak iparku karena sepertinya akan turun hujan. Aku diantarkan pulang sampai ke kontrakan oleh mereka, tadinya mereka memaksa untuk aku sementara tinggal dengan mereka, tapi aku tidak mau dengan alasan aku ingin di rumahku saja untuk menenangkan diri dan menunggu mas Arya pulang, dan akhirnya mereka mengizinkannya dan teh Mirna pun berjanji kepada mereka untuk menjaga dan mengawasi ku.


Lelah lahir dan batinku saat ini, aku hanya ingin sendiri saat ini, merenung dan berdiam diri untuk bisa mencharge jiwa dan ragaku yang serasa kosong dan hampa. Aku tidak bisa menjelaskannya bagaimana kondisiku saat ini yang ku ingin hanya diam, sendiri dan merenungi semua yang terjadi, itu saja. Smoga aku kuat dan bisa menjalani dan melewati semua ini, Bismillah..

__ADS_1


__ADS_2