
Setelah kurasa semua beres, aku pun bersiap untuk menyongsong hari baru, hidup baru yang kuharap akan lebih baik dari sini. Aku berencana untuk pergi meninggalkan kota ini, kota dengan penuh kenangan ini.
Hari sudah menjelang siang ketika aku keluar rumah. Kulihat rumah kak Mirna pintunya tertutup tapi masih terdengar suara televisi yang menyala,
"mungkin kak Mirna sedang istirahat siang" monolog ku dalam hati
"tok..tok..tok.. Assalamualaikum" ku ketuk pintu rumahnya yang tertutup dan ku ucapkan salam
"tok..tok.. assalamualaikum kak Mirna, ada di rumah kah? aku Alesha " panggilku lagi karena tidak ada sautan dari dalam
"Waalaikumsalam.. iya sebentar" jawabnya dari dalam rumah
kreyooooottttt,, suara pintu di buka
"oh Alesha toh, kakak kira siapa, maaf ya lama ga kedengaran tadi kakak lagi nonton sinetron favorite biasa itu cerita yang suami dzolim, istri sengsara di Chanel ikan terbang itu sha udah mau selesai,, geregetan banget tadi,,hehe" jelasnya merasa tak enak karena membuatku lama menunggu
"iya kak, gak apa apa kok. Maaf ya aku jadi ganggu me timenya kakak" ucapku merasa tak enak karena telah mengganggu wkt istirahatnya. ya aku tau kak Mirna sering sekali menceritakan sinetron favoritenya itu yang sedikit banyak mirip dengan kisah hidupku. kak Mirna suka sekali menonton acara itu bahkan sudah kategori kecanduan mungkin, karena ia suka uring uringan kalau sampai tidak menontonnya walaupun hanya sehari " jadi ga enak sha, ga nyambung, susah dapet feelnya" itu yang dia katakan. Namun aku tak ambil pusing toh itu kesukaannya, karena manusia punya cara sendiri sendiri untuk menyenangkan dirinya dan menonton sinetron salah satunya mungkin.
"sha,, kamu kenapa kok diem?"
"eh tumben dah rapi kamu sha, mau kemana siang siang gini?"
"tunggu dulu itu mukamu kenapa? kok biru biru gitu di tepi dahi dan bibirmu? kamu habis di pukulin sha? sama siapa?"
tanyanya beruntun ketika melihat aku hanya diam melamun terpaku di depannya.
__ADS_1
"yaa Allah,, ga apa apa kak. Aku mau pamit kak" jawabku singkat
"loh mau pamit kemana kamu? mau pulang kampung? Arya tau kamu mau pulang sha?" tanyanya lagi
"ayok masuk dulu ke dalam, gak baik ngobrol di depan pintu" ajaknya sambil memegang tanganku mengajakku masuk ke dalam rumahnya
"ga usah kak, aku cuma mau pamit, takut kesorean kan mau ke rumah ibu juga" tolak ku halus
"ga boleh, kamu ga boleh pergi kemana mana kalau ga cerita dulu ke kakak. kakak ga akan ijinin, Ayok masuk dulu!" paksanya sambil menarik halus tanganku untuk ikut masuk ke dalam rumahnya
"sebebarnya ada apa sha? kamu mau ke mana? mau pulang ke rumah orang tua mu? kok mendadak banget, apa orang tuamu ada yang sakit sampai buru buru mau pulang kampung? memangnya apa yang terjadi semalam? maaf aku semalam ga nengok kamu lagi soalnya aku tidur pules dari habis isya" tanyanya lagi karena tak puas dengan jawaban singkatku
"iya, gak apa apa kak. Aku sudah di talak kak sama mas Arya semalam jadi aku mutusin untuk pergi aja dari kota ini, hehe" jawabku sambil mencoba tersenyum menutupi luka hati ini
"yaa Allah,, si Arya itu semalem pulang ternyata dan cuma mau cerain kamu doang. Gila emang tuh orang, emang dasar ga punya otak ya dia, anaknya baru meninggal bukannya sadar malah tambah gila aja!" ucapnya kesal mendengar ucapannya
"hehe iya kak, aku semalem sempet ga mau tanda tangan gak mau cerai eh malah di pukul dan di paksa tanda tangan surat cerai, katanya dia mau nikah lagi kak makanya maksa aku gitu, hehe. Gak apa apa kok kak, Insyaa Allah aku ikhlas mungkin ini jalan yang terbaik" jawabku lugas. Aku tidak mau lagi ada tangisan, air mata dan kesedihan. cukup sudah! aku berusaha kuat menerima ini semua
"yaa ampun sha, tega banget tuh orang. Kita bisa laporin polisi sha, ini udah masuk ke ranah hukum. Perbuatan tidak menyenangkan dan KDRT, sudah jelas juga nih buktinya muka kamu sampai lebam kayak gini, kita laporin aja yuk kakak anterin . supaya kapok dia, masuk penjara biar di jedor tuh palanya kena otaknya yang geser supaya sadar. kakak benci banget sama laki yang kayak gitu soalnya, beraninya sama perempuan" ajak kak Mirna geram akan kelakuan mas Arya
"ga usah kak, aku ga apa apa kok, nanti juga sembuh. Lagi pula kasian ibu sudah sakit sakitan, pasti kepikiran kalau mas Arya berurusan sama polisi dan masuk penjara" ucapku merasa kasian pada ibu mertuaku
"tapi ini udah keterlaluan sha, liat tuh wajah kamu sampai bengep gini, udah di obatin belum? kakak pakein salep ya, bentar kakak ambil dulu di kamar" hendak pergi ke kamar
"ga usah kak, udah aku obatin kok tadi"
__ADS_1
tokakku lagi halus sambil memegang tangannya mencegah
"Kak aku pamit ya, aku mau pergi hijrah ke kota lain untuk memulai semuanya dari awal, mengukir cerita baru di tempat baru, mengubur semua kenangan buruk di kota ini, Aku pengen lupain semuanya kak, semua kenangan di kota ini. Aku mungkin ga akan kuat kalau tetap di sini, karena kenangan itu akan terus teringat jika aku tetap di sini, kakak ijinin aku kan?" mohonku padanya
"kamu mau kemana sha? kamu kan belum pernah kemana mana? kakak malah khawatir sama kamu kalau kamu mau pergi tanpa tujuan gini"
"aku mau pergi aja kak dari sini, aku butuh suasana baru kak, supaya aku ga terus terusan terpuruk dengan keadaan ini. mungkin dengan Susana kota yang baru bisa menghilangkan trauma aku ini kak, kehilangan anak dan di cerai suami pada saat yang bersamaan itu sangat berat untukku"
"aku mohon ijinkan dan restui niatku ya kak, Insyaa Allah ini yang terbaik untuk aku lakukan saat ini" mohonku padanya lagi
"iya sha, kakak ngerti banget sama apa yang kamu rasain sayang. maafin kakak ya selama ini ga bisa banyak bantu. Kamu harus kuat ya, jaga diri baik baik di tempat asing, jangan mudah percaya sama orang ya, karena banyak orang jahat di luar sana. Kakak bakalan kangen banget sama kamu sha, jangan sungkan untuk kembali ke sini kalau kamu kesulitan di sana ya, Insyaa Allah kakak selalu ada untuk kamu. kamu udah kakak anggap kayak adik kakak sendiri" nasihatnya panjang lebar kepadaku sambil memeluk tubuh ku
"iya kak, terimakasih banyak ya atas semua bantuan dan perhatian kakak selama ini. Kalau ga ada kakak aku mungkin ga akan bertahan sampai saat ini. Kakak yang selalu ngedengerin curhatan aku, ngertiin aku dan selalu kasih semangat aku untuk sabar dan terus bersabar. Aku gak bisa balas apa apa ya kak, semoga Allah membalas semua kebaikan yang sudah kakak berikan selama ini dengan balasan kebaikan yang berlipat lipat. Aku pamit ya kak"
"iya sha, kakak selalu berdoa semoga kamu bahagia ya di tempat yang baru. Tetap semangat dan ingat selalu khusnuzon akan takdir Allah" ucapnya tulus
kami saling berpelukan erat, tak terasa air mataku mengalir kembali, bukan untuk meratapi lagi akan kesedihan tapi ini adalah air mata haru dan penuh syukur karena Allah telah memberikan orang orang baik di sisiku, yang selalu ada untukku
"iya kak, Skali lagi terimakasih banyak. Aku titip kunci rumah ya kak. Tolong kasihin ke mas Arya kalau suatu waktu nanti ia pulang untuk ambil barang barangnya. Oh iya untuk baju baju dan barang barang almarhumah aku sudah pack ya kak aku sudah kasih tanda di kardusnya, tolong kasihin ke panti asuhan dekat sini, mungkin bisa bermanfaat dan bisa jadi ladang pahala untuk Dede. Maafin aku ngerepotin kakak lagi nih"
"iya sayang gak apa apa, Insyaa Allah nanti kakak berikan ke panti yang Deket Deket sini ya, Skali lagi kamu hati hati ya sayang"
"iya kak, aku pamit ya takut kemalaman karena aku mau pamit juga sama ibu, aku pergi ya kak Assalamualaikum" pamit ku untuk terakhir kalinya
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh, bahagia selalu sha, Allah ga pernah tidur"
__ADS_1
aku tak menjawab hanya tersenyum menanggapinya, ku lihat rumahku lagi untuk yang terakhir kalinya
"selamat tinggal rumahku, terima kasih sudah jadi tempat bernaung untuk aku dan anakku. Aku pamit dan selamat tinggal, Bismillah" monolog ku terakhir kalinya sambil terus mantap melaju ke depan tanpa menoleh dan tanpa ada rasa penyesalan sedikitpun