
Ku berada di tanah lapang yang sangat luas di tumbuhi rumput hijau dengan gamis dan kerudung putih yang melekat pada tubuhku. Sunyi, sepi di tempat ini hanya ketenangan yang aku rasakan di sini. Ku lihat dan perhatikan sekeliling, Tak ada satupun pohon ataupun bunga, hanya tanah lapang yang sangat luas tak ada ujung pangkalnya
"di mana aku? Apa aku sudah meninggal? apa ini yang di sebut Alan kubur?" fikirku
Ketika aku sedang mencoba menerka di mana keberadaan ku saat ini, mataku terfokuskan dengan apa yang ada di depanku, samar samar ku lihat seseorang berjalan perlahan mendekat ke arahku, perlahan semakin lama makin mendekat. Setelah keberadaannya mulai jelas karena jarak yang sudah tidak terlalu jauh dapat kulihat ternyata ia adalah seorang pria tua yang sedang menggendong seorang bayi mungil, mungkin kalau perkiraanku tidak salah bayi itu seumuran dengan Almarhumah anakku. Mereka sama sama mengenakan baju putih seperti yang aku kenakan saat ini. Perlahan tapi pasti mereka mendekati diriku, setelah ia berada tepat di hadapanku, dapat kulihat seorang kakek tua, wajahnya putih berseri terlihat ada sinar yang menghiasi wajahnya. Ia tersenyum tulus kepadaku
"Assalamualaikum nak, mengapa kau hanya diam? apa kau bingung di mana sekarang kau berada" ia bertanya dengan nada yang sangat lembut sambil terus tersenyum ke padaku.
Ku perhatikan ia dengan seksama, dan tak lupa juga aku melihat bayi yang sedang ia gendong.
Wajah yang tak asing bagiku, wajah yang selalu aku ingat dan terpatri dalam hati dan ingatanku, malaikatku, buah hatiku. Ya, ternyata bayi yang sedang di gendong oleh kakek itu adalah nayaku. Aku terdiam, air mata menetes tak bisa di bendung. Aku menangis bukan karena sedih tapi ini adalah air mata bahagia karena aku bisa kembali bertemu dengan buah hatiku yang sangat aku rindukan. Aku tak berani lekas mengambilnya dari gendongan sang kakek, aku hanya diam, dengan air mata yang terus menetes
"kakek, Apa benar ini anakku kek? apa aku boleh menggendongnya? aku rindu sekali dengannya, bahkan sangat rindu" pintaku memohon pada sang kakek dan tak menghiraukan pertanyaannya sebelumnya
"Assalamualaikum nak, jawab dulu salam dariku. Setelahnya baru kamu boleh mengendong dan memeluknya" jawab sang kakek padaku
__ADS_1
"Yaa Allah, aku lupa.. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh. maafkan aku kek, karena terlalu bahagia dapat bertemu kembali dengan anakku, aku sampai lupa menjawab salam darimu" jawabku sungkan dan merasa bersalah pada kakek
"tidak mengapa nak, aku dapat memakluminya. Ini anakmu, gendong dan peluklah ia" jawabnya sambil menyerahkan anakku
"ia kek, terima kasih" tanpa banyak kata segera ku ambil anakku dari gendongannya, ku peluk dan ku ciumi anakku. semua bagian wajah dan seluruh tubuhnya ku ciumi tak ada yang terlewatkan. Ku peluk erat tubuh mungilnya yang sangat harum, mata indah yang selalu memancarkan cahaya cinta dengan di hiasi senyum wajahnya akhirnya kembali dapat aku lihat.
"anak umi, Ade,,, umi kangen banget sama Ade. Terimakasih yaa Allah telah mempertemukan kembali hamba dengan anak hamba. Hamba tidak menyesal dengan takdirmu ini yaa Allah" ucapku sambil terus memeluk dan menciumi anakku
"nak apa kamu senang dengan pertemuan ini?" tanya sang kakek setelah beberapa saat
"nak, kata siapa engkau telah meninggal? engkau hanya sedang berada di alam bawah sadarmu, Allah yang maha kuasa mengizinkan kamu untuk bertemu dengan mendiang anakmu ini hanya sebentar nak, untuk memberitahukan dan memperlihatkan kepadamu bahwa anakmu bahagia dan sudah tenang di sisinya. coba kau perhatikan anakmu. Lihat betapa ia sangat bahagia berada di sini, maka kamu pun harus bahagia berada di alam mu nak. Hidupmu masih panjang, akan datang saatnya kamu akan di penuhi dengan orang orang yang tulus mencintaimu, menjagamu dan memberimu banyak kebahagiaan. Maka dari itu, bersabarlah dan terus berusaha untuk jadi orang yang baik dan bermanfaat untuk orang banyak" pesan sang kakek
"tapi kek, aku tidak menginginkannya. Yang aku inginkan hanya bisa tetap bersama dengan anakku" pintaku tak ingin lagi berpisah dengan anakku
"tidak nak, kamu pasti akan berkumpul kembali dengan anakmu, tapi nanti, tidak sekarang.
__ADS_1
kamu harus segera sadar, kembali menjalani hidupmu nak. ingat kamu harus ikhlas, anakmu sudah tenang dan berbahagia di sini" setelah mengatakan itu perlahan kakek dan anakku hilang dari gendonganku. Aku menangis dan terus menangis meminta agar anakku kembali
"tidak kek, aku tidak mau,,tolong kek kembalikan anakku, jangan pisahkan kami lagi kek, ku mohon" pintaku terus sambil terus memohon
"nona apa anda sudah sadar? bos nona ini sepertinya sudah sadar, saya akan memanggil dokter untuk memeriksanya"
"iya, biar aku di sini menjaganya" ku dengar suara seseorang sedang berbicara
perlahan ku buka mataku, cahaya lampu menyilaukan pandangan mataku.
"Aduh kepalaku sakit sekali" ucapku ketika kesadaranku hampir pulih
"iya tahan nona, sebentar lagi dokter akan datang untuk memeriksamu" ucap seorang pria tepat di samping tempat tidurku.
Aku tak menjawabnya, pandangan mataku berkeliling menatap sekitar. Tembok bercatkan warna putih dan bau obat yang menyengat langsung menyergap indera penciumanku. Yah aku segera menyadari di mana kini aku berada. Ternyata tadi hanya mimpi, mimpi yang jika boleh aku memilih aku lebih senang jika tetap berada di sana, berkumpul dengan anakku. Tapi kenyataannya aku masih hidup dan pesan dari kakek tadi akan aku ingat selalu bahwasanya anakku sudah tenang dan bahagia di sana, aku harus ikhlas. Hidupku masih panjang di disini, aku harus terus berusaha menjadi orang yang lebih baik lagi dan bermanfaat untuk orang banyak. Terimakasih yaa Allah telah mempertemukan aku dengan anakku, meskipun hanya sebentar dan dalam mimpi tapi aku sangat bersyukur, rinduku terobati. Insyaa Allah aku ikhlas dan akan berusaha untuk jadi manusia yang lebih baik lagi kedepannya
__ADS_1