KUIKHLAS KAU PERGI

KUIKHLAS KAU PERGI
Penderitaan Ini Ternyata Belum Berakhir ( apa aku kuat?)


__ADS_3

Aku berusaha tegar menghadapi ini semua, berusaha untuk kuat dan ikhlas menerimanya. Tepat setelah aku menunaikan ibadah sholat isya aku menepati janjiku ke rumah pak RT melaporkan kematian anakku. Ternyata kak Mirna sudah ada tepat di depan pintu rumah ketika aku membuka pintu


"kak Mirna, maaf kak. kakak udah lama nunggu aku ya" tanyaku sungkan karena merasa bersalah


"ga kok sha, aku baru mau ngetik pintu eh udah keduluan kamu buka duluan. Aku aja yang kecepatan kesininya. Kalau sudah siap hayu atuh kita ke rumah pak RT nya sekarang takut kemaleman" ajaknya


"iya kak"


Aku dan kak Mirna segera mendatangi rumah pak RT, kami berbincang sebentar dan menyerahkan surat kematian anakku sebagai bukti otentik atas laporan ku. Pak RT dan Bu RT turut berbelasungkawa atas meninggalnya putriku dan memberikan sedikit wejangan yang intinya aku harus bersabar dan ikhlas menerima takdir ini, beliau juga menanyakan keberadaan suamiku tapi aku beralasan mas Arya sedang dinas keluar kota dan belum kembali. Aku tidak mau mengumbar aib rumah tanggaku karena bukankah salah satu tugas istri adalah menjaga nama baik suaminya, itu yang aku lakukan sekarang. Setelah berbincang sebentar aku dan kak mirna segera pulang karena waktu sudah agak larut malam, aku sangat berterima kasih kepada kak Mirna dan keluarganya yang selalu membantuku.


"sha kakak langsung masuk ya, cape banget mau istirahat dulu. Kamu juga langsung istirahat ya, jangan mikir yang macem macem nanti sakit. Kalau ada apa apa berkabar aja, kakak selalu ada untukmu" ucapnya sebelum masuk ke dalam rumah


"iya kak, Skali lagi terima kasih banyak ya, maaf aku selalu ngerepotin kakak dan mas Arif"


"iya, ga apa apa sayang. Ya udah ayok kamu duluan yang masuk baru setelahnya kakak"


"iya kak, aku duluan ya,, Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam salam, lekas tidur sha"

__ADS_1


"iya kak"


Aku segera masuk kedalam rumah, ketika masuk bayangan dan kenangan itu terlintas kembali memenuhi isi kepalaku. Tidak mau larut dalam kesedihan, segera ku ambil air wudhu dan melaksanakan sholat shunah dengan khusyuk untuk kembali menjernihkan pikiranku yang kalut setelahnya ku lanjutkan dengan berdoa untuk almarhumah anakku. Karena kelelahan akhirnya aku tidur di atas sajadah dengan perlengkapan sholat yang masih lengkap melekat pada tubuhku. Dalam tidurku, aku seolah melihat ada bayangan orang dan memanggilku membangunkan ku. Rasa kantuk yang teramat sangat membuatku sulit sekali untuk membuka mata, dan byuuuurrrr kurasakan wajahku basah karena siraman air yang menyentuh wajahku. Aku kaget, siapa yang tega melakukan ini padaku, apa ia tidak tau aku sangat lelah hari ini, lelah lahir dan batin. Setelah kesadaran ku penuh karena siraman air tadi aku melihat di depan mataku ternyata mas Arya yang melakukannya. "


By,, kamu sudah pulang? maaf tadi aku ketiduran setelah sholat" ucapku


"Kamu bisa tidur setelah kematian anak kita? hah! dasar ibu macam apa yang masih bisa tidur tenang padahal anaknya baru meninggal!"


cecarnya menghakimiku


"maaf by, Umy tadi capek banget, ini juga ketiduran abis sholat tadi. Dan untuk berita duka yang Aby sudah tau kebenarannya, Umy minta maaf karena gak bisa jagain Dede dengan baik hingga terjadi musibah ini"


"by,,kok kamu ngomongnya gitu. Maaf kalau Umy gak becus ngurus Dede sampai musibah ini terjadi. Tapi semua ini qodarullah by, umy bisa apa? Umy dah berusaha semaksimal dan sebisa Umy untuk memberikan yang terbaik untuk anak kita, tapi jalan Allah berbeda, "ia" lebih sayang sama dede makanya dede dipanggil duluan sama Allah by. Unit juga sedih by, terpukul dengan kejadian ini, ibu mana yang ga sedih kehilangan anaknya tapu Kita harus ikhlas, Insyaa Allah ini yang terbaik untuk Dede" jawabku sambil berderai air mata menjelaskan kepadanya bahwa yang di tuduhkannya itu semua tidak benar


"Halah,, alasan aja kamu mah, selalu merasa benar, bawa bawa agama sok agamis. Sekarang karena Naya udah ga ada, cepet nih tanda tangan!"


ia memberikan selembar surat yang harus aku tanda tangani, aku terpaku. aku tau ini surat apa karena jelas di judul atasnya, tapi mengapa harus sekarang, belum 24 jam anak kami meninggal, mengapa ia Setega ini, apa benar benar sudah tidak ada rasa cinta sedikitpun di hatinya? salah apa aku padanya sampai ia sejahat ini padaku


"surat apa ini by? untuk apa?" tanyaku pura pura bodoh

__ADS_1


"dasar bodoh, cewe kampung. udah cepetan tanda tangan! sebelum kesabaran ku habis, aku sudah muak melihat wajah dungu mu itu!"


" ya Allah by, kamu kenapa? kenapa pulang pulang langsung kayak gini? memangnya kita gak bisa ngomong baik baik, apa salah aku sama kamu by?"


"salah kamu apa? masih nanya lagi, banyak kalau kamu mau tau. Udah jangan banyak tanya lagi, cepet tanda tangan! lama banget sih" ia memaksaku untuk mendatangi surat itu, dengan memegangi tanganku untuk segera melakukannya. Tapi aku bersikeras tidak mau melakukannya, akhirnya karena kesal perintahnya tidak aku turuti, ia menarik paksa mungkena yang sedang aku pakai hingga terlepas, di hambanya rambutku, di tampar ya pipiku berkali kali dengan keras tanpa ampun hingga mengeluarkan darah dari pelipis bibirku. Belum puas ia benturkan kepalaku kelantai berkali kali, di injaknya tubuh kemahku dan di tendangnya sampai aku tersungkur. Setelah ia mendekat, mencengkram kedua pipiku dengan kasar


"jika kau bersikeras tidak mau tanda tangan, maka aku akan menyiksamu dengan lebih dari ini, jadi sebelum kesabaran ku benar benar habis cepat tanda tangani ini, jika kau tidak mau mengalami yang lebih oarah lagi!" ancamannya.


Akhirnya dengan tubuh lemah yang penuh luka dan rasa sakit yang teramat ini, dengan sangat terpaksa aku menandatangi surat cerai itu. "


yaa Allah maafkan aku hamba mu yang lemah ini tidak bisa mempertahankan mahligai rumah tangga ini, ayah ibu maafkan anakmu karena tidak bisa menjalankan nasihat mu untuk selalu menjaga pernikahan ini" ucapku dalam hati sambil air mata yang terus membasahi kedua pipiku.


"mulai saat ini aku talak kau, Alesha Nur Aisyah. kita tidak lagi mempunyai hubungan apapun, mulai detik ini kewajiban ku padamu telah selesai dan apabila kita suatu saat bertemu pun maka ku anggap kita tidak saling mengenal satu sama lain" ucapnya padaku. Akhirnya kata talak itu keluar juga dari mulutnya, kata sakral yang memutuskan hubungan suami istri kami.


"kenapa kamu sekejam ini padaku by? kenapa kamu Setega ini padaku? mana janji manis mu dulu untuk selalu menjaga dan mencintaiku? sudah lupakah kamu aja semua kenangan manis kita dulu? apa semudah itu kamu melupakannya by? apa karena wanita itu? wanita yang kau cumbu di dalam mobil tadi pagi? sehingga kamu Setega ini kepadaku?"


"hahahaha,,, kau sudah tau rupanya, ia semua ini kulakukan untuknya karena ini permintaanya, wanita yang sangat aku cintai. sudah puas kan? aku pergi, jangan pernah mencari keberadaan ku lagi, karena aku akan segera menikah dengan wanita pujaan hatiku, jika kau berani muncul di hadapan ku ataupun dirinya maka aku jamin kau akan segera menyusul anakmu ke alam baka, camkan itu!" ancamnya padaku.


Setelah mendapatkan yang ia inginkan, ia segera pergi lagi. Pergi dan tak kan kembali. Tubuhku terasa remuk semua, kepalaku terasa sangat nyeri, perut dan pinggangku sakit karena injakan dan tendangannya tadi. Tubuhku terasa lemah tak bertenaga, bahkan hanya untuk bangun pindah ketempat tidurpun aku tak sanggup, akhirnya karena sakit lahir dan batinku yang teramat sangat aku hanya bisa menangis meratapi keadaanku saat ini, menangis sampai tak terasa tubuhku kehilangan kesadarannya.

__ADS_1


"Apa aku masih bisa bernafas sampai esok hari yaa Allah? ku harap jika engkau mengambil nyawaku saat ini aku bisa meninggal dalam keadaan Khusnul khatimah, Insyaa Allah aku ikhlas atas semua yang terjadi padaku saat ini" monolog ku sebelum hilangnya kesadaranku..


__ADS_2