
...Chapter I...
...Pocong di Pohon Bulan...
Namaku Amin, usiaku sudah hampir 18 tahun dan aku masih kelas 2 SMA, saat ini aku tinggal di Desa Anjir serapat tengah. Desaku terletak di kabupaten Kuala Kapuas Kalimantan Tengah. Jika kalian ingin pergi ke kota Banjarmasin maka kalian pasti akan melewati desa ini.
Saat ini aku ingin menceritakan pengalaman burukku ketika bertemu dengan dua hantu sekaligus. Cerita ini dimulai saat aku pulang dari sekolah pesantren yang dilaksanakan setiap hari sesudah Ashar, rumahku dari tempat itu lumayan jauh mungkin sekitar 2 KM, itu ditambah dengan tempat rumahku yang masuk ke jalan kecil, kami menyebutnya Handil.
Handil ialah bahasa Banjar yang artinya kawasan pertanian yang berasal dari kawasan yang sama, di desa ini terdapat banyak handil, dan jalan menuju rumahku namanya handil Mantat.
Petang itu aku melalui rumah dari keluarga bapakku yang bernama paman Arif, dia biasa kupanggil amang Arif. Saat aku sedang asik bersepeda pulang menuju rumah, tiba-tiba dia menyuruhku untuk berhenti dan memberi tahu sesuatu.
“Amin berhenti dulu,” panggilnya melambaikan tangan padaku.
Aku pun berhenti. “Napa amang Arif (ada apa paman Arif)?”
“Malam ini, amang ada acara tahlilan, acaranya ba’da Isya. Jadi kamu bisa datang dan berhadir ya,” pintanya padaku.
“Iya Mang, nanti saya pergi sehabis Magrib.”
“Kenapa tidak nunggu di sini saja, dari pada harus pulang pergi, kan? lagi pula gak lama lagi Magrib.”
Aku ingin menolak kerna tidak berani pulang malam, apa lagi harus sendiri. Rencananya, aku ingin pergi bareng ayahku pakai sepeda motor, tapi aku merasa tidak enak untuk menolak tawaran itu, jadi aku memilih mengiakannya.
••••••
Tidak lama berselang waktu Magrib pun tiba, dengan segera aku pergi ke langgar untuk melaksanakan sholat. Setelah selesai, aku bertemu dengan teman-temanku, mereka tinggal tidak jauh dari rumah amang Arif dan aku mengenal baik mereka kerna kami satu kelas.
“Sambil nunggu Isya bagaimana kita ngobrol di teras rumah Amang Arif. malam ini sesudah Isya ada acara tahlilan, kan? jadi kita bisa santai-santai dulu di sana,” ucap temanku bernama Ahmad yang biasa kami panggil Amad.
“Nah pas banar ada Amin, jadi kita kawa kasana (nah pas banget ada Amin, jadi kita bisa ke sana),” seru temanku Khairul.
“Siapa tau kita dikasih kue sama kopi,” kata Amad.
“Waduh janganlah ... kalian cuma bikin malu saja," ucapku.
“Ha ha ha ... tanang saja! Paman kau itu baik orangnya,” jawab tamanku lagi Lana.
Aku sudah berapa kali mengajak mereka ke tempat lain, akan tetapi, mereka terus memaksa hingga tidak ada cara lain yang bisa kulakukan selain mengikuti saja.
Lalu saat sampai di rumah amang, ternyata banyak orang yang sedang duduk di teras bersamanya, mereka sepertinya sangat asik saling bercerita mengenai sawah.
“Ayo sini kita duduk bercerita bersama,” panggil amang Arif menyuruh kami semua.
Aku dan ketiga temanku pun menerima ajakannya. Saat itu kami memilih duduk berjauhan dengannya kerna topik yang dibicarakan mereka tidak sesuai dengan kami yang lebih membicarakan soal anak muda.
“Kalian tau gak sama pohon bulan di handil mantat?" tanya Amad tiba-tiba bertanya soal pohon, aku tidak tahu akan pohon seperti itu, jadi aku memilih mendengarkan.
“Oh yang itu kan, yang pohonnya berseberangan dengan bunga-bunga warna kuning,” jawab Khairul mulai serius.
“Tu pohon katanya banyak hantunya, meskipun pohonnya masih kecil udah ada yang nunggu.” Si Lana ikut-ikutan.
“Makanya masih kecil aja udah berhantu apa lagi pohonnya besar,” ujar Amad menjawab.
__ADS_1
Mendengar percakapan mereka tentang itu membuatku mulai penasaran. “Loh emang segitunya ya?”
“Apa kau gak tau Min, udah banyak yang lihat hantunya di pohon itu, mereka paling banyak diganggu sama pocong,” jawab Khairul serius.
“Hiih bujur banar (iyah benar sekali)!” Amang Arif tiba-tiba ikut ngumpul bersama kami, bersuara nyaring membuat kami sepontan kaget.
“Baru-baru ini ada orang yang digentayanginya, di jalan dekat pohon itu. Saat itu, dia pulang jam sebelas malam setelah selesai dari nyari kodok, dia pulang menggunakan sepeda motor," ujarnya
"Nah pas dia mau lewat dekat tu pohon, tiba-tiba motornya malah mogok, lalu mencium bau busuk yang menyengat. Katanya, saat itu dia menyangka bau itu hanya berasal dari bangkai hewan yang terbawa arus sungai dekat jalan itu, jadi dia singgah dan melihat apa kerusakan dari motornya,” sambungnya ikut bercerita.
“Tuh orang berani banget ya, kalau aku mah dari pada singgah mending digiring aja tuh sepeda motor sampai dekat rumah warga, dari pada berhenti di jalan yang hanya ada sawah dan pohon karet.” Khairul ikut berbicara.
“Lalu ... gimana kelanjutannya?” tanyaku penasaran.
“Setelah itu, bau tadi itu bertambah menyengat, membuatnya berkata kasar. 'Hiss! bau bangkai apa ini, bikin mual saja!' ujarnya sambil marah-marah."
"Seketika itu bunyi sesuatu jatuh terdengar di sebrang sungai. Dia terkejut! segera mengarahkan sinternya. Ternyata ... itu hanyalah monyet yang sudah mati ha ha ha ...” sambungnya tertawa keras.
Kami sangat penasaran dengan ceritanya, namun dia malah melakukan itu. Beberapa temanku ada yang kesal dan ada juga yang tertawa keras. Contohnya Lana dan Amad mereka tidak bisa berhenti tertawa.
"Bercanda ... penyabab asli dari bau busuk itu, benar-benar sesosok pocong yg melompat di sekitar pohon bulan, aroma busuk itu berasal dari wajahnya yang hancur," ucapnya membuat Lana dan Ahmad seketika terhenti tertawa.
"Aku cuma tidak ingin kalian takut pulang sendiri, makanya aku buat lelocon itu he he ..." sambungnya sambil tertawa.
"Tapi malah dibongkar, sekarang kami benar-benar takut mau pulang sendiri," balas Amad membuat amang Arif semakin mentertawakan.
“Oh iya ya, kan Amin pulang bakalan melewati tu pohon. Aha ha ... hati-hati kau Amin ...” Khairul menakut-nakuti, saat itu aku hanya mentertawakannya saja.
••••••••
Setelah mereka pergi kami berdua ikut ngumpul bersama orang-orang dewasa sambil mendengarkan cerita tentang persawahan mereka.
Sungguh sangat tidak terasa, sembahyang Isya sudah selesai orang-orang pun mulai berdatangan memenuhi undangan amang Arif untuk melaksanakan acara tahlilan.
“Anu Min, suruh mereka yang datang untuk segera masuk ke rumah,” pinta amang Arif, aku pun melaksanakannya.
Saat itu para tamu sudah hampir tidak ada lagi yang datang, hingga salah satu orang yang duduk membelakangi kaca depan rumah menyuruhku untuk duduk di sebelahnya, aku sempat menolak kerna ingin bisa bercanda lagi bareng temanku, namun kerna terus disuruh aku pun menerima dan duduk bersamanya membelakangi kaca.
Kerna acara belum dimulai, teman-temanku malah asik tertawa bersama, aku penasaran dan melihat mereka dari balik kaca itu, kemudian aku berpaling lagi menghadap depan.
Aku sempat berpikir untuk keluar dan duduk bareng mereka, tapi aku merasa ragu.
Kemudian suara mereka tertawa terdengar lagi, membuatku lagi-lagi melihat kebelakang dari balik kaca itu, mereka seperti bertambah asik, aku pun berpaling lagi ke depan dan menunduk, mulai meyakinkan diri untuk keluar duduk bersama mereka.
Sekali lagi aku melihat kebelakang, dan ini yang ketiga kalinya untuk meyakinkan diriku. Namun, yang kulihat justru wajah busuk berlender menempel dikaca tepat di depan wajahku. Wajahnya yang sangat mengerikan dengan rumbut kusut dan bola mata bernanah membuatku semakin terbelalak, tubuhku bergetar, terasa begitu berat.
Parahnya lagi aku malah tidak bisa bergerak, bola mataku terus memandangi wajah menyeramkan itu. Aku terus berusaha bergerak dan berhasil segera berpaling menunduk seketika. Rasanya aku ingin berteriak keras, akan tetapi, itu hanya akan membuat orang memandangku aneh.
Wajah itu terus terbayang dipikiranku, wajahnya yang sangat rusak benar-benar membuatku takut hingga hanya bisa terdiam menunduk tak bersuara. Suara temanku masih terdengar asik, namun aku tak berani lagi untuk berpaling menghadap ke belakang melihat mereka. Hingga acara selesai, aku hanya bisa tertunduk lesu menahan tangan yang gemetar.
•••••••
Saat acara selesai orang-orang mulai menyantap hidangan yang disiapkan, mereka sangat lahap makan dengan enaknya, sedangkan aku sama sekali tidak bisa makan, kerna saat aku ingin menyuap nasi wajah hantu yang masih terbayang itu hanya membuatku mual. Beberapa orang bertanya kenapa aku tidak makan, aku hanya menjawab sudah kenyang.
__ADS_1
Orang-orang sudah mulai beranjak pulang dari rumahnya, aku masih saja tidak berani melihat ke belakang, saat semua orang yang di dalam rumah sudah habis keluar, dan hanya ada tiga orang saja, aku pun melangkah maju ke depan beberapa langkah untuk menjauh dan kemudian berpaling melihat keluar, namun sudah tidak ada siapa-siapa, para teman-temanku sepertinya sudah pulang dan hanya ada beberapa piring kotor di sana.
Aku sempat membantu membereskan piring-piring kotor sebelum beranjak pulang, rasanya ingin sekali bermalam di rumahnya kerna takut bertemu dengan hantu itu lagi, namun aku lebih merasa malu.
“Amin, nih bawa pulang lauk dan nasi ini untuk ibu dan ayahmu, sepertinya mereka tidak bisa datang,” ucapnya sambil menyerahkan kantong plastik berwarna hitam.
“Oh iya Mang terima kasih banyak, kalau gitu aku segera pulang takut kemaleman, lagi pula udah jam setengah sepuluh,” jawabku sambil melihat ke arah jam dinding.
Saat aku ingin pulang dia meminjamkanku senter yang di ikat dikepala, aku pun segera menerimanya. Sinter ini biasa dia gunakan untuk nyari kodok pada waktu malam hari.
•••••••
Ditengah perjalanan, tiba-tiba rantai sepedaku malah copot, padahal ditempat itu sangat gelap, beruntung aku punya senter yang diberikannya.
Entah kenapa, saat aku memperbaiki rantai yang copot, bau busuk tercium sangat menyengat membuat perut sedikit mual, bahkan saat aku bernafas dengan mulut, bau busuk itu seolah terasa di indra pengecapku.
Aku pun tidak sengaja berpaling dan melihat bunga-bunga berwarna kuning disebelah, dan itu sangat dekat di belakang. Seketika itu, aku memetik dan meremasnya, lalu menyumpalnya di kedua lubang hidung.
Bersyukur aroma busuk itu sedikit mereda, kerna aroma wangi dari bunga tersebut. Aku sempat berperasangka, mungkin ini bau bangkai dari Warik (monyet) yang di ceritakan amang Arif, mengingat itu malah membuatku tertawa.
Akan tetapi, tawaku seketika terhenti, mengingat ceritanya dan temanku tentang pohon bulan, Khairul menyebut bunga kuning dan itu ada disebelah, dan pohon karet juga ada di belakang, lalu amang juga bilang bahwa itu memanglah pocong dan bukanlah monyet. Aku langsung menunduk menatap jalan.
Sekilas aku melihat benda warna putih tengah menggantung di seberang, bau busuk bertambah menyengat. Entah apa yang ada dipikiranku, aku malah repleks mengarahkan pandangan ke depan, lalu, sorot cahaya senter itu tepat diwajah hantu pocong yang menggantung di batang pohon bulan.
Wajahnya hitam membusuk, dari hidungnya nampak darah dan nanah mencucur keluar, satu bola matanya pun copot. Sontak melihat kengerian itu membuatku lari tunggang langgang, menggiring sepeda yang belum berhasil kuperbaiki.
Kali ini aku sudah tidak bisa lagi menahan teriakan seperti yang kulihat di depan kaca, aku berteriak sekencang-kencangnya terus berlari menjauh dari tempat itu, hingga sampai di kawasan rumah warga tempatku tinggal.
Aku singgah dibawah lampu depan rumah orang untuk memperbaiki rantai yang copot itu, keringat dingin bercucuran di pelipis, aku masih sangat takut rasanya sudah tak sanggup lagi untuk berlari, bahkan bunga yang kusumpalkan kehidung masih ada.
Saat itu juga aku mencopotnya dan segera pulang ke rumah. Setalah selesai memperbaiki sepeda. Sesampainya dirumah beruntung ayah tengah duduk diteras menghisap rokoknya, aku pun menyerahkan kantong plastik yang diberikan amang Arif. Ayah nampak bingung melihatku, namun aku langsung mengatakan ingin segera tidur sebelum sempat dia bertanya.
Sampai di kamar, kukunci pintu dan menutup diri dengan selimut kerna tubuhku terasa panas, hingga akhirnya aku tertidur nyenyak sampai pagi kerna kelelahan.
••••••••
Besoknya matahari pagi sudah bersinar terang, dari jam dinding yang kulihat sudah menunjukkan pukul 7:28, aku pun segera bangun keluar dari kamar dan ingin segera mandi lalu mencuci pakain, saat sampai di dapur ayah menanyakan sesuatu bersama dengan ibuku.
“Kenapa pulang dari tahlilan malah membawa plastik kosong?” tanya ayahku dengan raut wajah heran.
“Loh bukannya isinya lauk sama nasi dari acara tahlilan,” jawabku ikut heran.
"Ada nggak kamu masukin daun segar ke dalam plastik ini dan bertawaran dengan mereka.”
Mendengar ucapan ibu membuatku langsung paham dengan siapa yang dia sebut mereka, benar saja kantong plastik yang kubawa telah kosong, padahal saat aku berlari sama sekali tidak tumpah kerna kuikat kencang, bahkan tidak ada sedikit pun berlobang.
Namun yang pasti itu telah di ambil semua oleh mereka kerna kelancanganku yang membawa makanan malam-malam, tapi tidak bertawaran.
Aku pun menceritakan kepada ayah dan ibu tentang aku yang diganggu oleh dua hantu itu. Mereka menjawab bahwa itu terjadi kerna kelakuanku yang salah, dari yang belum sholat hingga hanya ingin ikut bercanda saja ketimbang ikut membaca doa-doa tahlilan.
Mulai saat itu aku tidak pernah berani lagi pulang malam kecuali bersama teman-teman, dan juga tidak lagi melakukan kesalahan yang sama.
-Selesai-
__ADS_1