
...Chapter IV...
...Hantu Kuda Berkepala Manusia...
Waktu itu setelah selesai Shalat Isya. Aku mundur dari shaf pertama untuk duduk ke shaf paling belakang, supaya tubuhku tepat di bawah kipas angin. Di saat membaca wirid bersama imam. Aku mendengar percakapan dua remaja dibelakangku. Kerna penasaran, aku mencoba melirik mereka.
“Katanya diseberang ada penampakan hantu kuda berkepala manusia!” ucap Fazri.
“Loh! Apa benar Zi?” jawab Pihan tak percaya.
“Beneran! katanya di dekat jembatan yang sering kita lalui itu!”
“Aku dengar dari Akmal yang bercerita petang tadi, saat dia belanja di warungku. Katanya, kejadian itu baru malam Jum’at kemarin,” sambung Fazri meyakinkan.
“Akmal jar sapa garang? (emang Akmal kata siapa?)” tanya Pihan sepertinya masih ragu.
“Akmal diceritakan oleh ayahnya. Kata ayahnya, orang yang melihat itu rumahnya gak jauh dari jembatan. Saat itu sudah jam tidur, mungkin sekitar jam 12 atau jam 1 malam. Orang ini terbangun dari tidurnya kerna mendengar suara nyaring seperti, gedebuk, gedebuk, gedebuk, begitu.” Fazri bercerita.
Mendengar dia berbicara gedebuk-gedebuk membuatku ingin tertawa, namun kutahan kerna sedang membaca wiridan.
“Ha ha ... aduh suara macam apa itu!” Pihan tertawa dan segera menutup mulutnya kerna sadar terlalu nyaring.
“Yah seperti langkah kaki kuda! Nah orang yang mendengar ini tadi mencoba melihat dikaca jendela, kerna penasaran dari suara itu yang nyaring tiba-tiba sunyi. Lalu tiba-tiba nyaring lagi seperti orang yang berlarian ke sana kemari gitu.”
“Hadang dulu yang melihat nih tuha kah anum? (tunggu dulu, orang yang lihat itu sudah tua atau masih muda?).”
“Seorang kakek! Nah pas dilihat dari kaca itu, katanya terlihat seperti seekor kuda dan-”
“Lah! salah lihat tuh kakek, paling orang naik motor. Dengernya aja gedebuk-gedebuk padahal suara kenalpotnya yang nembak-nembak aha ha ha ...” Pihan mentertawakan.
“Muyak Han ai! Menyahut ha tarus! (berisik! dari tadi ngajawab terus!)” jawab Fazri marah dan segera pergi.
“Loh Zi belum selesai ceritanya, berdoa dulu baru pulang,” balas Pihan, namun tak dijawab Fazri. Dia terus berjalan menuju pintu keluar.
Mendengar percakapan mereka, bukannya penasaran dengan kisahnya malah dibuat tertawa dengan tingkah mereka.
•••••
Setelah selesai berdoa. Aku pun segera keluar dari langgar bersama dengan yang lainnya hingga sampai menuju tempat sandal.
“Tuh kenapa imam ditinggal sendirian?” tanyaku pada temanku bernama As’ad dan Jamal.
“Jadi imam di sini harus kuat mental, jika ditinggalkan para makmumnya,” jawab As’ad membuatku tertawa.
“Kalau tidak begitu gak bisa jadi imam,” sahut Jamal.
“Kalau aku yang jadi imam makmumnya yang kutinggalkan,” jawabku.
“Ikam tu mun jadi imam, belum sampai sarakaat sudah bulikkan dah orangnya (Kalau kau yang jadi imam, belum sampai serakaat orang-orang sudah pada pulang),” ujar As’ad.
“Kelamaan yah,” sahut Jamal.
“Mbah, baca Ayatnya kepanjangan ha ha ...” jawabku mentertawakan dan dikuti mereka.
Perkanalkan namaku Hidayat. Orang-orang biasanya memanggil Dayat. Aku sudah berumur 18 tahun dan sudah kelas tiga Aliyah.
Biasanya, bila sesudah Magrib aku dan As’ad selalu membantu mengejarkan mengaji anak-anak di desa ini hingga Isya tiba. Sehabis Isya biasanya kami nongkrong di warung Fazri untuk sekedar belanja dan ngobrol.
Seperti malam ini. Aku dan yang lain singgah sebentar untuk sekedar berbincang biasa. “Mang mie goreng satu,” pintaku.
“Malam esok gimana dipengantin?” tanya As’ad.
“Kalo bisa nanti kita bantu menghias dan membikin tulisan selamat datang,” jawab Jamal.
“Nih Mang uangnya,” ucapku seraya menyodorkan uang pada amang warung.
“Bisa tuh nanti, mumpung malam Ahad gak kemana-mana,” sahutku dan mereka yang tengah duduk mengangguk.
“Sudah dengar gak katanya ada hantu kuda disebrang dekat jembatan?” tanya Pihan.
“Tadi aku sedikit dengar pembicaraan kalian di belakang. Emang gimana kisahnya?” tanya Jamal.
“Hantu kuda berkepala manusia itu dilihat oleh orang tua yang tinggal di dekat jembatan. Dia dengar seperti suara langkah kuda sedang mondar-mandir di depan rumahnya. Kerna penasaran si Kakek tadi menengoknya lewat jendela kaca."
__ADS_1
"Benar saja, dia dibuat kaget ketika melihat kaki depan dan belakang menyerupai kuda. Sedangkan bagian atas bertubuh menusia dari kepala sampai pinggang. Hantu itu lari kearah jembatan dan menghilang.” Pihan bercerita.
“Lah nambahin. Eh tapi malah asik ceritanya,” pikirku.
“Hebat bener tambahannya, yang kudengar dari Fazri tadi gak sampai situ ceritanya. Dia keburu ngambek kerna terus dipotong olehmu,” sahut As’ad dan dia tertawa seolah mengakui kebohongannya.
“Kitu pang bila sawat Pihan bakisah nih. Asik ha lalu mandangarnya (Gitu dah kalau Pihan yang bercerita. Selalu asik mendengarnya),” jawab Jamal.
Setelah terjadi beberapa percakapan kami pun memutuskan untuk pulang kerumah masing-masing. Aku lebih dulu mengajak pulang kerna perutku sudah terasa lapar.
•••••••••
Keesokan harinya. Aku pun berangkat sekolah seperti biasa. Sekolahku tidak jauh dari rumah hanya berjarak sekitar 1,5 km saja.
Sesampaikan dikelas, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 8:00 dan jam pertama pun hampir dimulai. Biasanya aku pergi sekolah memang suka lambat, agar saat sampai sudah mulai masuk waktu jam pertama. Dengan begitu aku tidak perlu menunggu lama lagi untuk belajar.
Tanpa terasa waktu istirahat telah tiba. Aku pun beranjak dari tempat dudukku yang berada dibarisan kedua paling tengah untuk menyapa temanku yang berada dibarisan pertama paling buncu.
Saat itu temanku yang bernama Hafi ini lebih dulu menyapaku. “Yat! katanya ada penampakan siluman kuda di SD dekat jembatan Km 12,” sapa Hafi ingin bercerita.
“Loh bukannya kau itu tinggalnya cukup jauh dari situ. Kok bisa tau?”
“Yang melihat penampakannya orang dari tempat kami handil sinjung. Katanya dia habis pulang dari sebrang tempat kalian, kau ini sudah dengar kisahnya atau belum?”
“Aku sudah dengar soal penampakan itu.”
“Kalau begitu gak jadi aku cerita.”
“Eh enggak. Ini ceritanya beda. Orang yang liat penampakan itu, kakek yang punya berumah dekat jembatan.”
“Oh ... yang ini beda, katanya dia ngelihat dari turunan jembatan. Dia sengaja singgah kerna mendangar suara langkah kaki berlari-lari. suara itu cukup keras hingga dia tau suara itu berasal dari halaman SD."
"Kerna takut itu anak-anak yang sedang keliaran malam-malam. Dia pun memutuskan untuk mengahampiri dan hendak menegur. Eh ... pas disemperin, ternyata malah seekor kuda berkepala manusia. Dia sedang berkeliling mengitari tiang bendera!” ucap Hafi bercerita.
“Bukan hanya itu. Orang dari dekat situ juga pernah ngelihat di SD itu sedang berkeliaran ke sana kemari,” sambungnya.
“Emang bentuk silumannya kaya gimana?” tanyaku.
“Ya itu, dari leher sampai kepala bertubuh manusia. Yaitu dari kepala sampai pinggang. Sisanya tubuh kuda dengan empat kaki,” jawabnya seraya menggerak-gerakkan tangannya untuk membentuk yang dia sebutkan.
disaat aku dan Hafi asik bercerita. Tiba-tiba temanku yang berada dilokal sebalah datang untuk sekedar menyapa. “Yat napa diulah (Yat lagi ngapain?)” tanya Mujahidin.
“Eh Ja. Nih si Hafi cerita hantu kuda di Jembatan penyebrangan daerah kami,” jawabku.
“Malam kamis kemarin aku justru melihat langsung!”
“Gimana tuh ceritanya sampai bisa melihat langsung,” sahut Hafi.
“Malam kamis itukan ada acara majelis di masjid km.16. Nah kerna ada yang mau kuambil, aku memutuskan untuk menyebrang di jembatan itu. Lalu, ketika aku melajukan motorku untuk naik tanjakannya yang tinggi itu."
"Tiba-tiba sesuatu yang cepat melintas di sisi kananku. Sontak saja aku hampir oleng kerna kaget. Beruntung aku masih bisa mengendalikannya,” ucapnya bercerita.
“Emang apaan Ja?” Aku penasaran.
“Sepintas kulihat seperti seekor kuda berwarna kecoklatan, tapi kebagian lehernya malah berwarna seperti kulit manusia. Bahkan memiliki tangan seperti kita. Suara langkahnya pun memang seperti langkah larinya kuda yang kudengar di tv-tv."
"Nah, saat sampai di atas jembatan. Aku coba lihat kebawah dan kejalan sekitar, namun tidak ada apa-apa. Kupikir makhluk itu penunggu jembatan!”
“Bukan penunggu jembatan, tapi penunggu SD yang ada didekat jembatan itu,” sahut Hafi.
“Memang penunggu dijembatan. Sudah banyak yang lihat penampakannya dijembatan!”
“Tapi, orang-orang dari tempatku sering lihat di SD!” balas Hafi.
Mereka berdua berdebat soal. “Kalau sudah begitu. Ada kemungkinan dia penunggu daerah situ, mungkin dari SD sampai jembatan,” sahutku niat melerai.
Hafi nampak tak puas. “Tapi-” ucapnya terhenti kerna bunyi lonceng tanda berakhir istirahat terdengar.
Mujahidin pun segera keluar dan bergegas untuk kembali ke kelasnya. “Nah kaasikan bakisah kita, sampai kada ingat lagi handak belanja (Lah kerna keasikan bercerita, jadi lupa mau belanja),” ucapku.
“Ha ha ... Nanti aja pas pulang,” jawab Hafi.
Kerna gurunya sudah datang. Aku pun bergegas untuk kembali ketempat dudukku. Saat itu guru mengajarkan sesuatu yang sangat pas dengan apa yang kami ceritakan tadi.
__ADS_1
Dia bilang kalau hantu yang orang lihat dan sering kita dengar, tidak lain adalah kaum Jin yang sengaja menampakkan diri dengan menyerupai makhluk-makhluk tertentu.
Jika kita melihat penampakan tersebut jangan takut, tapi berusahalah untuk berani serta meminta perlindungan pada Allah.
Guru juga bilang bahwa makhluk seperti mereka laksana ikan yang kita letakkan di darat atau tanah. Paling cuma sebentar tuh ikan akan mati. Ujarnya membuat kami semua tertawa.
••••••••
Saat sudah sore, aku ikut ngumpul bareng As’ad dan Jamal di pos yang biasa, namun kali ini tidak seperti biasanya. Dimana biasanya banyak bapak-bapak yang bersantai.
Kali ini hanya amang Agus dan julak Roni sedang bermain catur. Dari pakain julak Roni yang kotor sepertinya dia baru selesai bekerja di sawah.
“Dayat, As’ad, Jamal,” sapa amang Agus yang selalu pakai kupiah haji dan bersarung.
“Inggih mang! Mau nonton TV dulu,” jawabku seraya duduk bersebelahan dengan jamal dan bersebrangan dengan As’ad.
Sedangkan Agus dan julak Roni berada di lantai yang luas, terhubung dengan bangku panjang tersebut.
“Loh, 'kan dirumah lebih nyaman,” balasnya seraya menyodorkan remot.
As’ad mengambil remot itu. “Asik disini bisa ngumpul bareng,” sahut As’ad dan amang Agus tertawa. Sedangkan julak Roni nampak fokus pada permainannya.
“Ada pesan dari Preseden di TV. Katanya hati-hati kalau mau menyebrang di jembatan Km. 12 Anjir Serapat Tengah,” ucap julak Roni.
Pikirku ada-ada saja caranya untuk memulai bercerita. Walaupun begitu aku dibuat tertawa. "Emang kenapa jadi hati-hati?” tanya As’ad penasaran.
“Nah ini, nggak tau cerita tentang penampakan siluman kuda dijembatan!” jawab julak Roni.
“Dari kemarin malam sampai kesekolahan membahas penampakan siluman kuda terus,” bisikku pada Jamal.
“Lah, emang disekolahan bahas itu juga?”
“Temanku orang dekat situ. Si Hafi sama orang dari handil setuju Mujahidin.”
“Ha ha ... sudah bosan ya.”
“Ya gitu dah,” jawabku sedangkan julak Roni terus bercerita pada As’ad.
“Memang dia penunggu jembatan itu ya?” tanya amang Agus.
“Kebanyakan orang lihatnya dijembatan. Beberapa dari mereka bahkan harus menunggu lama kerna dikira ada banyak motor yang mau menyebrang, mereka takut untuk berpapasan kalau-kalau ketabrak,” kata julak Roni.
“Ha ha ... hebat juga ya hantunya bisa ngelabui orang-orang gitu. Kalau aku mah langsung terobos aja dari pada nunggu lama,” bisikku pada Jamal.
“Lah emang berani? nanti ketika digantayanginnya kabur.”
“Alah ... gitu aja kabur. Ajak balapan aja sekalian!”
“Nah ini nih yang bakal di temuinya. Hati-hati aja kau nanti.”
“Ha ha ... nggak mungkin orang-”
“Kak! mama manggil!” teriak adikku dari jauh.
“Nah, dikiyau kuitan dah disuruh bulik (Nah, udah dipanggil orang tua tuh disuruh pulang),” ucap As’ad.
“Duluan. Nanti malam lagi kita ngumpul,” jawabku berlalu pergi.
••••••
Sesampainya dirumah. Ternyata ibuku nyuruh antarkan dia ketempat kerja disebrang. Katanya, jemput sekitar jam 10 malam. Mendapat perintah dari orang tua aku pun segera bersiap dan mengantarkannya sampai tujuan.
Setelah sampai tujuan dia kembali memperingatkanku. “Ingatakan kina ambili mama jajam sepuluhan tuh (ingat ya, nanti sekitar jam sepuluh jemput mama),”ucapnya memperingatkan dan aku mengiyakannya.
Saat pulang tenyata waktu sudah hampir senja. Padahal rasanya tadi baru pukul setengah lima. Sekarang suasananya sudah sedikit gelap. Kupikir mungkin kerna didekat situ pohon sedikit rimbun.
Tiba-tiba suara langkah kaki berlari terdengar samar saat aku sampai ditanjakan jembatan. Aku menepi sebentar untuk memperjelas pendengaranku.
Suara itu berasal dari SD yang ada didekat situ. Suara itu semakin kencang terdengar seperti berlari menuju arahku. Saat itu rasa takut malah mulai menyelimuti.
Kutakutkan suara langkah kaki yang kudengar itu adalah langkah kaki siluman kuda yang mereka ceritakan. Aku bahkan tidak berani menengok ke belakang.
Merasa sangat takut. Aku seketika menjelankan motorku untuk kabur. Tiba-tiba, sekelompok anak-anak yang berpakaian rapi berlari melewatiku. Beruntung dengan sigap aku segera merem untuk menyelamatkan diriku dan mereka.
__ADS_1
“Huh astaga hampir saja aku menabrak mereka. Gara-gara ketakutanku yang tak terkendali bisa saja celaka,” ucapku mengelus dada melihat anak-anak itu terus berlari menjauh, tak mengheraukan apa yang hampir terjadi pada mereka.
-Bersambung-