
...Chapter VIII...
...Keris Pembawa Petaka...
Waktu itu saat pagi hari berangin dan berawan. Aku pergi sendiri ke sawah untuk menanam padi yang tinggal sedikit. Hanya ada sekitar 100 meter lagi yang belum ditanami.
Sawah yang berair setinggi lutut, membuat rasa dingin yang sedikit menusuk. Apa lagi dengan angin yang tak hentinya berembus. Jujur, aku tidak begitu menghiraukan kerna sudah terbiasa.
Dari kejauhan pun nampak orang-orang sibuk dengah sawah mereka masing-masing. Ada yang membajak dengan Traktor, ada juga yang sedang menebas rumput liar dengan alat seperti sabit. Orang daerah kami biasa menyebut Tajak. Dengan tajak, maka akan mempercepat pengerjaan ketimbang dengan sebilah parang.
Suara yang di hasilkan dari Traktor dan orang menebas rumput, entah kenapa membuat suasananya terasa tenang dan nyaman di persawahan itu. Aku pun kembali melanjutkan menanam padi.
Kini matahari pun mulai menampakkan diri hingga suasananya menjadi hangat. Di saat seperti itu, tiba-tiba ada cahaya silau yang memantul tepat ke mataku, dan ternyata itu berasal dari bantangan (garis pembatas tanah yang sengaja di buat dengan tumpukan tanah dan daun padi lama).
Saat kulihat dari jauh itu seperti Tetujah (kayu berbentuk Y yang biasa digunakan untuk menanam padi). Aku penasaran bagaimana bisa sebuah kayu membuatku silau. Aku pun mendekatinya, dan ternyata itu adalah pisau berbentuk seperti keris tanpa sarung.
Aku sangat dibuat heran. Bagaimana bisa itu tiba-tiba berada di sana, padahal saat aku berjalan ke sini tidak menemukan apa-apa.
Lalu, aku pun mencabut keris yang tertancap di bantangan itu, kemudian melihat semua sisi dan merabanya. Dikeris itu terdapat beberapa ukiran yang tidak aku mengerti. Bahkan sudah sedikit berkarat.
Saat terus melihat, tubuhku seketika merinding, pundak pun terasa berat, seperti ada yang menepuk di belakangku. Aku bahkan tak bisa bergerak untuk menoleh ke belakang, rasanya seluruh tubuhku mati rasa.
Saat itu di ujung netra, aku sedikit melihat siluet seseorang terus mendekat perlahan ketelinga. “Ambilah jika kau pemberani.”
Aku terbelalak spontan mampu berpaling, namun saat kulihat tidak ada siapa-siapa. Angin bertambah kencang terus menerpa tubuhku. kulihat lagi keris itu dengan perasaan bingung, dan saat itu juga rasanya semakin membuatku merinding.
●●●●
Chpater VIII
Keris Pembawa Petaka
Perkenalkan namaku Roni. Seorang petani di desa Anjir Serapat Tengah, Kuala Kapuas. Saat ini aku sudah berusia 40 tahunan dan tinggal di Handil Mantat. Orang-orang biasa memanggilku Julak Roni.
Saat itu sekitar pukul setengah dua siang, aku menyiapkan keperluan untuk memancing Ikan haruan (gabus). Di desa ini kami menggunakan bambu sebagai alat pancingnya untuk memancing haruan. Yaitu menggunakan bambu sepanjang 6-7 meter, kami biasa menyebutnya unjun kacar.
“Mau mancing ya Julak?” tanya Amin remaja di sini.
“Handak maunjun jua kah (mau mancing juga ya?)” balasku bertanya saat melihatnya membawa ember dan bambu kecil.
__ADS_1
“Inggeh Julak.”
“Mancing ikan papuyu ya, kalau mau bisa ikut Julak pakai motor.”
“Enggak usah, kami pakai sepeda saja bareng Mahmud,” jawabnya seraya menunjuk Mahmud di belakang yang baru datang.
“Duluan Julak,” sahut Mahmud segera menggoes sepedanya dan disusul Amin.
Setelah semua siap aku pun segera berangkat. Disepanjang jalan Handil Mantat ini di kiri dan kanan terbantang persawahan yang luas.
Ada juga dikejauhan rumah-rumah penduduk dari Handil Cempaka dan juga Handil Gardu. Apa lagi saat ini adalah musim bercocok tanam, jadi yang ada hanya air di mana-mana.
Saat itu aku kembali bertemu dengan Amin dan Mahmud di jalan. Mereka sedang memancing di salah satu sawah warga.
“Loh kenapa mancing di tempat ini, tidak ada ikannya di sini, mending ke sawah amang Ardan, di sana sangat rame.”
“Mancoba-coba ja Julak ai tadi, kalo ai ada (coba-coba aja kalo ada),” jawab Amin.
“Duluan saja, nanti kami juga akan ke sana,” sahut Mahmud.
“Oh yasudah, terserah kalian saja.”
Aku menyapa mereka. “Banyak banar saku kulihan sudah (kayanya sudah banyak nih dapat).”
Zainal menoleh menatapku sambil menghisap rokoknya. “Mana ada, aku juga baru sampai. Nih Hj. Sabran yang sudah banyak dapat,” jawab Zainal seraya menunjuk dengan rokok di tangan.
“Hanyar dua ikung, tugin halus-halus (Baru juga dua ekor, itu pun kecil-kecil),” balas Hj. Sabran.
“Lumayan tuh. Oh ya gimana sawah kalian sudah selesai?” tanyaku.
“Masih Banyak, mungkin sekitar 5 borongan lagi yang balum di tanami,” jawab Zainal.
“Pun pian pang Ji (kalau punya Haji)?”
“Alhamdulillah sudah selesai, tinggal yang di hulu masih belum,” jawab Hj. Sabran seraya terus memancing.
“Banyak banar Haji ni bisi pahumaan (banyak sekali haji ini punya sawah),” sahut Zainal sedangkan Hj. Sabran cuma mentertawakan.
“Kata orang Handil Gardu, ada yang mancing malah kena keris nyangkut dikailnya,” ucap Hj. Sabran.
__ADS_1
“Ai beneran.” Aku sedikit kaget mendengarnya.
“Gimana Ji ceritanya?” sahut Zainal.
“Orang itu mancing ikan papuyu disalah satu sawah warga Handil Gardu. Gak nyangka juga pas ditarik malah berat katanya. Sampai kesusahan, dan yang aneh talinya gak putus. Orang mencing ini pun menyangkanya cuma kesangkut kayu atau rumput sampai berat seperti itu,” ucap Hj. Sabran bercerita.
“Pas terus ditarik, ternyata malah seperti tatujah yang kita gunakan menanam padi, mana berlumut lagi katanya. Pas dilihat lebih dekat, anehnya lagi itu cuma sangkut di ujung kailnya,” sambungnya.
“Mana tidak telapas juga, kok bisa ya?” Zainal heran.
“Ya itu anehnya. Pas diambil dan di lihat-lihat baru sadar, ternyata itu keris lengkap dengan sarungnya. bahkan kata orang yang ikut mencing bersamanya, sempat melihat ada bayang-bayang gitu yang membantu mengangkat keris itu,” jawab Hj. Sabran.
“Lalu apa dia ambil tuh keris?” Aku sangat penasaran.
“Di bawa pulang malah. Tapi ada kabar lagi katanya ingin dikembalikan atau diberikan keorang yang mau menjaga,” jawabnya.
“Ai napa jadi kitu ha (lah kenapa jadi gitu)?” sahut Zainal.
“Tidak sanggup katanya, bukannya bikin nyaman malah bikin susah. Penunggunya suka gentayang bikin heboh satu rumah. Makanya ingin dikembalikan ke tempat asal atau diberikan ke orang yang tepat,” jawabnya.
“Hiii ... kayapa wujudnya jar (gimana bentuknya katanya)?” tanya Zainal begidik ngeri.
“Lidahnya berjuluran sampai ke lantai dari plapon. Mana ada yang lihat lagi katanya di pohon depan rumah berbulu hitam besar duduk menghadap rumah. Seperti menunggu yang punya rumah keluar, itu pun baru malam pertama, belum lagi malam kedua ketiganya,” jawab Hj. Sabran ikut bergidik ngeri.
Aku yang mendengarnya saja sampai merinding. “Katanya parah lagi. Sampai-sampai hantunya berada di dalam kelambu, duduk menunggu di ujung kaki orang yang menemukan keris tadi,” sambungnya.
“Kayapa kada takutan kitu, sawat batungguan di kalambu, lewar (gimana gak takut coba, sampai menunggu di dalam kelambu, parah)!” balas Zainal seraya menggeleng heran.
“Ada habar baru nih katanya keris tu sudah-”
“Hiii ... sudah ja Ji kada sanggup lagi nah mendangar. Menggatar dah batis (Sudah Ji tidak tahan lagi aku mendengarnya. kakiku sudah bergetar),” potongku.
Jujur aku benar-benar ketakutan mendengarnya. “Kedinginan kali nih, masa orang tua takut,” ejek Zainal.
“Dua-duanya,” balasku dan ditertawakan mereka.
•••••••
Saat mulai sore aku pun pulang ke rumah. sepanjang jalan aku terus memikirkan apa yang diceritakan Hj. Sabran. Cerita itu benar-benar membuatku takut dan was-was. Bukan tanpa alasan. Jujur, aku mengambil keris yang kutemukan pagi tadi dan membawanya pulang.
__ADS_1
-Bersambung-