
Setelah merasa lega, aku pun segera melanjutkan pulang dan melaksanakan Shalat Magrib yang tak lama lagi. Seperti biasa sehabis magrib kami mengajarkan anak-anak mengaji dan dilanjutkan Shalat Isya berjamaah hingga selesai.
Setelahnya. Kami berjalan pergi menuju rumah sang pengantin yang akan melakukan pernikahan besok pagi. Aku pun sudah berniat untuk absen sekolah kerna rumahnya tidak jauh dariku, jadi aku bisa membantu macam-macam nantinya.
“Tadi, saat aku pulang ngantar mamaku berkerja, pas sampai jembatan. Aku malah dikejutkan dengan suara langkah kaki orang berlari. Kukira itu hantu kuda yang dibicarakan orang-orang, ternyata anak-anak yang mau pergi kelanggar. Hampir saja ketabrak kerna takut,” ucapku bercerita.
“Han napa tia, takutan jua ai sakalinya (tuhkan, takut juga ujung-ujungnya),” ejek Jamal.
“Emang kenapa Mal?” tanya As’ad.
“Tadi pas ngumpul dipos. Dia kaya nantangin gitu, sok-sok'an berani.”
“Kan cuma bercanda Mal he he.” jawabku malu.
“Baru juga suara langkah kaki yang belum pasti udah takut ha ha ...” sahut As’ad.
“Tuh Ahmad Habibi sudah pulang dari martapura. Kan dia jago buat kekambangan (hiasan).” Aku berusaha mengalihkan pembicaraan
“Katanya dia nanti nyusul,” jawab As’ad.
“Oh yaudah. Soalnya dia yang pandai dalam membuat hiasan-hiasan."
"Oh iya, emang peralatannya sudah siap Mal?” tanyaku pada Jamal kerna dia adalah keluarga dari sang pengantin.
“Sudah siap semuanya. Tadi sehabis kau pergi, aku juga disuruh pulang untuk membeli itu semua,” jawabnya dan aku mengangguk.
Setelah sampai ditujuan kulihat semua tenda sudah berdiri kokoh. Bangku serta meja pun sudah sangat siap. Kulihat juga, dibelakang rumah asap mengepul tinggi, sepertinya sedang memasak makanan untuk acara tersebut.
Beberapa dari bapak-bapak juga ada yang ngopi-ngopi santai seraya bermain catur dan domino. Permainan tersebut semata-mata hanya untuk menambah keramaian. Terlihat Ditelinga mereka tergantung potongan batang pohon berukuran dua jari yang bertali rumput jepang.
Melihatnya saja membuat kami tertawa. “Coba liat. Sudah ada empat yang tergantung ditelinganya.” Tunjuk As’ad pada seorang bapak yang sedang jongkok.
“Ha ha ... kacau dah sampai segitunya,” jawabku sedangkan Jamal tersenyum.
••••••
Setelah sampai di rumah. Ternyata sudah ada yang lain membuat hiasan-hiasan itu. Bahkan ada anak kecil yang bermain dengan kertas berwarna warni yang jadi bahan untuk dibuat kekambangan atau hiasan.
Kerna kandungan warna kertas itu cukup banyak. Maka, ketika kita celupkan ke air, warnanya akan langsung luntur. Bahkan membuat kertas itu kembali jadi warna putih.
Aku kaget keteka melihat Ahmad yang kami bicarakan tadi sudah berada disana. “Loh kata As’ad kau belum berangkat?” tanyaku heran.
“Kalian yang terlalu lama berjalan,” jawab laki-laki yang sudah berumur 22 tahun itu.
Aku sedikit bingung dan terdiam. “Dari pada bingung, mending tempelkan nih huruf di kertas ini,” sambungnya seraya menyodorkan putungan kertas yang sudah dibentuk huruf beserta kertas mengkilat berwarna biru.
“Ayo Ad susun hurufnya jadi salamat datang dan mohon do’a restu,” pintaku lagi pada As’ad yang sudah duduk.
__ADS_1
“Iya garang kitu tulisannya (emang iya gitu tulisannya?)” sahut Jamal seraya mengambilkan lem.
“Lah masa selamat restu mohon datang dan do’a,” jawabku membuat mereka semua tertawa.
Kerna keasikan berbincang aku hampir lupa menjemput ibuku. Waktu pun sudah hampir jam sepuluh.
Aku segera meminta untuk berpamitan lebih dulu dengan mereka yang masih sibuk. Setelah itu aku segera pulang ke rumah untuk mengambil motor dan segera berangkat.
•••••••
Sesampainya dijembatan berkayu ulin itu. Kudengar suara kayu-kayu jembatan itu berdecit seperti ada banyak motor yang melaluinya.
Kerna biasanya, kalau ada kendaraan yang melintas maka kayu-kayu jembatan itu berbunyi. Mungkin kerna beberapa baut lantainya sudah banyak yang lepas. Jadi, papan-papan itu sedikit terjungkit. Nah ketika kita melintas, maka papan yang tejungkit tadi akan berbunyi.
Tapi anehnya saat itu tidak ada suara motor dan cahaya lampu. Hanya suara dari lantai yang terjungkit seperti banyak yang melintas.
Kerna kelamaan nunggu. Aku putuskan untuk tetap melintas walau nanti jika berpepasan aku harus berhati-hati supaya tidak nabrak.
Saat sampai di atas ternyata tidak ada siapa-siapa, akan tetapi suara itu masih tidak hilang. Seluruh tubuhku seketika merinding merasa ketakutan.
Kucoba berbaik sangka sapa tau suara ini berasal dari orang yang sudah menanjaki turunan jembatan yang cukup tinggi ini.
Lag-lagi aku dibuat takut setengah mati. Kerna saat aku sampai di tanjakan menurun, tidak ada siapa pun yang turun maupun naik.
Melihat kengerian itu, aku malah melajukan kendaraanku padahal itu jalan menurun dan sangat curam, sadar atas apa yang kulakukan segera kurem paksa dan berhasil memperlambat lajunya.
Suara langkah lari dari atas terdengar nyaring, sangat cepat menuju arahku. Sontak saja aku terkejut, tak sengaja melepaskan cengkraman rem. Meluncur cepat menuju turunan.
Belum sempat lagi berteriak. Aku malah diperlihatkan dengan jelas. Bagaimana sosok menyeramkan yang baru saja menyenggulku hingga terjatuh. Dia tengah berlari menjauh ke arah SD.
Sosok itu sangat jelas, menyerupai seorang laki-laki berambut panjang sebahu tanpa menggunakan baju. Bagian tubuh bawahnya pun sangat terlihat nampak. Bahwa itu adalah tubuh kuda berwarna kecoklatan.
“Akhhh ...!” Aku berteriak ingin bangkit berdiri.
Nahas bagiku. Rasa sakit malah muncul akibat motor yang menindih kaki kiriku. Mencoba mengangkat dan menehan sakit di kaki tak bisa jadi solusi.
Entah kenapa motor itu terasa berat, sulit untuk di angkat. Kupikir dengan menunggu sesorang yang lewat akan jadi penyelesaian tepat.
Akan tetapi, ternyata, sosok siluman kuda tadi malah kembali berlari menuju arahku dengan cepat. Tidak hanya itu, Kulihat tatapan marahnya yang besar berlari dengan tombak di tengan kanan.
“Tolong ...! Tolong ...! teriakku sejadi-jadinya.
Aku terus berusaha untuk berdiri, tapi kaki kiri malah tambah sakit. Sosok itu terus berlari menghampiri. Kini, dia malah seperti ingin melempar tombak ditangannya mengarahkan padaku. Aku terbelalak segera bertelungkup, melendungi diri walau pikiranku berkata tak akan selamat.
“Lailahaillah Muhammadarrasulullah!” teriakku dengan suara bergatar.
Sorot lampu tiba-tiba tertuju padaku yang masih bertelungkup. Merasa masih takut, aku tak berani melihat ke depan.
__ADS_1
“Orang jatuh dari motor Pah!” teriak seorang wanita.
“Ayo cepat kita bantu!” jawab seorang laki-laki.
Mendengar suara manusia. Aku pun memberanikan diri untuk bangun dari telungkup, melihat kedepan. Benar saja, sepasang suami istri sedang berlari menuju arahku.
“Kenapa bisa sampai jatuh kesini?” tanya pria itu.
“Anu Mang, ada yang menggangguku,” jawabku dan mereka bertatap heran.
“Yasudah, tidak perlu kita bahas. Aku juga sudah tahu siapa yang kau maksud dengan orang yang menganggumu. Ini bukan pertama kalinya. Beruntung kau hanya jatuh ke semak-semak ini,” jawabnya dan aku mengangguk.
“Ada yang sakit?” tanya istrinya. Sedangkan pria itu membangunkan kendaraan yang menindih kakiku.
Kerna tak merasa sakit lagi aku pun menjawab tidak apa-apa.
“Yasudah, lain kali berdoa dulu kalau mau pergi,” ucap peria itu menasihati.
“Iya Mang, Acil (bibi). terima kasih banyak sudah membantu,” jawabku dan mereka berdua pun pamit pergi.
Rasanya jantungku masih berdegup keras, dan tubuhku pun masih merinding. Rasa ketakutan pun masih menyelimuti semakin mengikat.
Aku bahkan berpikir bagaimana jadinya jika orang itu tidak ada, bisa saja aku mati kerna tertombak. Akan tetapi, terlepas dari kedua hal tersebut. Aku sangat bersyukur bisa selamat. Tak henti-hentinya mulutku berzikir mengingatnya.
Setelah sampai tujuan. Ternyata ibuku sudah cukup lama menunggu. Dia bahkan sedikit marah. Hanya saja aku tak mau menceritakan itu.
Saat pulang pun aku beralasan untuk membeli makanan di Km.11. Jadi, aku bisa mengambil jalan memutar, ketimbang kembali ke jambatan itu.
••••••••••
Keesokan harinya. Acara pernikahan yang digelar pun berjalan dengan lancar. Aku pun ikut membantu mengangkat piring kotor, sekaligus ikut mencuci dibelakang rumah sang pengantin bersama As'ad, Jamal dan juga bapak-bapak.
Aku juga menceritakan pengalamanku yang hampir dibunuh oleh siluman kuda itu.
"Bahwa siluman itu tidak berniat membunuh. Kemungkinan besar dia cuma ingin bermain dan menakut-nakuti. Ini diperkuat dengan pengakuan orang lainnya, yang juga diganggu seperti yang dilakukannya padamu," ucap guruku.
Saat sore hari. Ibuku minta di antarkan lagi kerna ada urusan mendadak. Aku pun beralasan bahwa kakiku terasa sakit. Dan ternyata, dia malah menyuruh adik perampuanku untuk mengantar.
Merasa tak tega, kuputuskan biar aku saja lagi yang mengantar. Walau pun saat harus melalui jembatan itu, aku sangat merasa khawatir.
Pada malam harinya, sama seperti jam kemarin. Aku memberanikan diri untuk tetap pergi lewat jalan jembatan itu. Supaya nantinya tidak terbiasa selalu takut. Apa lagi ini adalah jembatan penyeberangan terdekat. Kalau terus-terusan takut, kupikir nantinya hanya akan menyusah saja.
Seperti yang diamanatkan oleh orang yang menolongku, dan juga guru disekolahku yang membahas soal hantu kemarin. Aku berdoa sebelum pergi dan meyakinkan hati, bahwa mereka hanya seperti ikan ditanah kering, gak akan bisa bertahan lama dan pasti ujung-ujungnya menghilang juga.
Nyatanya benar saja. Aku tidak diganggu seperti kemarin malam, dan bisa pulang bersama orang tuaku dengan selamat.
Bahkan setiap harinya ketika melewati jembatan itu aku bisa melaju dengan tenang tanpa ada rasa takut dan terlalu khawatir lagi.
__ADS_1
Salah satu yang bisa aku amalkan adalah berdoa sebelum pergi, bertawakkal dan memohon perlindungan dari kejahatan setiap makhluk. Dan yang paling utama, selalu bersyahadat kemana pun kita pergi.
-Selesai-