
...Chapter VII...
...Manusia Berkepala Anjing...
...Pemakan Ternak Warga...
Perkenalkan namaku Jamal. Sekarang, aku sudah berusia 20 tahun dan tinggal di desa Anjir Serapat Tengah Km.12,5 Kuala Kapuas.
Kerna kejadian malam tadi. Aku jadi tidak tidur nyenyak kerna memikirkan nasib ayam-ayamku, namun syukurlah yang dimakan hanya dua ekor dan sepertinya itu ulah musang.
Pagi itu aku membungkus abu yang nantinya akan dijual. Cukup menguntungkan kerna banyak abu bekas pembakaran yang berasal dari gilingan padi sebelah rumahku.
“Ka Jamal! Minta ketapi!” teriak Pihan memanggilku.
“Itu orangnya,” tunjuk Akmal segera menghampiri bersama Fazri dan Ipul.
“Minta buah katapi Ka,” ucap Pihan padaku.
“Putik ja buhan kam, ada ai kakujuknya di situ (Petik saja kalian sendiri, ada kok galahnya di situ).” Aku sibuk membungkus abu.
“Untuk apa pakai galah, kan ada Fazri yang siap memanjat,” ucap Ipul.
“Macam-macam saja kau ini Pul. Kalau salah satu kalian jatuh, nanti aku yang disalahkan,” tegurku.
“Ipul-ipul,” sahut Akmal sambil mengutip buah yang jatuh.
“Situ Han, ada banyak!” teriak Fazri pada Pihan yang tengah berusaha memetik dengan galah bambu.
Setelah cukup lama. Tiba-tiba Ipul dan Fazri terdengar bertengkar. “Itu punyaku Pul, kan bagiannya sudah rata!” teriak Fazri.
“Ai pun buhankam anam, napa ampunku lima (punya kalian enam, masa punyaku lima),” jawab Ipul tak terima.
“Kan sudah kau makan lebih dulu dari pada kami,” balas Fazri mulai kesal.
“Julung Pul. Napa kam nih macam-macam ja (Kembalikan Pul. Apa-apaan kau ini, macam-macam saja,” sahut Pihan.
“Aduh Ipul-Ipul. Bisa-bisa malam ini kau di datangi manusia berkepala anjing kerna kelakuanmu,” sahut Akmal malah membuatku penasaran.
Aku pun menghampiri mereka. “Sini biar aku petikkan lagi.” Aku segara memetikkan agar mereka berhenti bertengkar.
“Adakah hantu kitu (emang ada hantu kaya gitu)?” tanya Pihan.
“Lah serius. Amangku malam tadi mengejarnya kerna memakan ayam punya kakekku. Abis tiga ekor gara-gara dia,” jawabnya sedikit nyaring.
“Di karamputinya hakun (di bohonginya mau)” sahut Ipul.
“Lah ini nyahut terus,” balas Akmal terlihat menatap kesal.
“Emang gimana awalnya?” tanyaku sambil memberikan buah ketapi masing-masing satu.
“Saat itu kata amang Sahid, dia baru pulang dari pos. Nah, pas mau masuk rumah, tiba-tiba malah mendengar suara krauk-krauk gitu, kaya orang sedang makan. Pas dilihat ke samping rumah, ternyata ada manusia berkepala anjing memakan lahap ayam kakekku,” ucap Akmal bercerita.
“Untung ada parang yang sepertinya lupa dibawa masuk. Lalu amang Sahid berteriak meminta bantuan sambil mengejar manusia jadi-jadian itu dengan parang. Sayangnya dia pergi ke kebun karet belakang rumah, jadinya terlepas!” sambungnya.
“Emang cuma kepalanya aja yang kaya hadupan (anjing)?” tanya Fazri.
“Cuma kepalanya aja. Dan mulutnya saat itu berlumur darah mengalir ketubuhnya yang tak pakai baju. Dia juga cuma pakai celana pendek,” jawab Akmal.
__ADS_1
Mendengar ceritanya itu membuatku sedikit ngeri. “Ada-ada saja manusia yang kaya gitu,” ucap Pihan merasa heran sekaligus takut.
•••••••
Saat sore aku pergi ke gardu untuk berbincang bersama. Hal ini sudah menjadi kebiasaan untuk sekedar santai dan bercengkrama dengan warga lainnya. Dari jauh nampak terlihat sunyi, dan benar saja, hanya ada Agus dan Zainal.
Sudah menjadi hal lumrah melihat Agus dengan sarung dan peci putihnya, begitu juga Zainal yang selalu mengajaknya bermain catur. “Manaan lagi nih orangnya (Mana lagi orang-orangnya)?” tanyaku.
“Paling bersemayam dikelambu bersama istrinya,” jawab Zainal yang berusia 30 tahunan itu.
“Ha ha ... suasana sudah dingin jadi semakin enak," sahut Agus mentertawakan.
“Bagaimana ternak ayam punyamu Mal?” tanya Zainal.
“Alhamdulillah sehat-sehat saja, tapi malam tadi dimakan musang dua ekor.”
“Jangan-jangan manusia berkepala anjing yang memakan!” sahut Agus.
“Rasa takut juga, apa lagi kata Akmal, ayam kakeknya di makan itu, Sahid yang lehat lalu mengejar dengan parang.”
“Di Handil Gardu sudah lebih dulu kejadiannya muncul dan bikin geger. Sekarang mereka akan memperketat jaga malam,” sahut Zainal.
“Katanya di handil kita sudah dua malam, manusia jadi-jadian itu terlihat oleh warga yang sering pulang bekerja saat kemaleman. Ada yang lihat, dia berjalan dengan santai di tengah jalan tanpa baju dan hanya pakai celana pendek."
"Dikira orang biasa, pas dipanggil dia langsung lari ke samping mengarah ke kebun karet seberang handil. Dia langsung melesat lompat keseberang,” ucap Agus bercerita.
“Orang yang melihat tadi pun langsung segera lari, setelah melihat kepalanya yang berbentuk anjing dengan telinga yang lebih panjang,” sambungnya.
“Ayam milikku saja tiba-tiba berkurang pagi tadi. Orang sebelahku juga sama. Tidak hanya kami, ternyata, warga lainnya pun mengalami hal serupa. Bisa saja itu ulah orang yang sama,” ucap Zainal.
“Pun kam tu dasar dimakan musanglah (punyamu itu memang dimakan musang ya)?” tanya Agus.
“Mudahanai dasar musang amun gara-gara manusiatu, siap-siapai kalo inya bebulik lagi (Semoga saja memang musang, kalau itu gara-gara manusia tadi, siap-siap saja kalau dia kembali lagi),” jawab Zainal membuatku merasa takut jika itu akan terjadi. Jika demikian, maka apa yang harus kulakukan.
•••••
Saat itu sudah menjelang magrib. Aku pun pulang ke rumah. Setelahnya aku pergi ke warung untuk membeli keperluan.
“Mang beli gula sama kopi.”
"Sebentar ya," jawabnya mengambilkan.
“Ujar Akmal, Dahid manyasahi menusia berkepala Anjing jar, bujuran lah (kata Akmal, Sahid mengejar manusia berkepala anjing, emang bener)?” tanya amang warung sambil memberikan yang kuminta.
“Beneran Mang, manusia jadi-jadian itu memang ada, bahkan sudah lebih dulu menggegerkan warga handil gardu ujar amang Zainal.”
“Katanya juga memakan ayam warga. Punya kai Rusdi kemarin juga ada yang mati dengan tersisa kaki sama kepala. Untung saja cuma satu ekor,” jawab amang warung.
“Makanya kita perlu hati-ha-” Belum selesai aku bicara, tiba-tiba terdengar suara anjing melolong, dan parahnya lagi saat kami lihat anjing itu berada di tengah jalan searah lurus ke rumahku.
“Nah ada apa ini Mal. Cepat kau segera pulang. Kalau dia memanggil temannya, nanti kau gak bisa pulang kerna di jaga mereka ha ha ...” ucap amang warung manakutiku. Aku pun hanya ikut tertawa.
•••••••
Menjelang isya aku pergi ke langgar untuk shalat berjamaah. Saat berwudu di kran, lagi-lagi terdengar anjing menggongong. Kali ini suaranya terdengar bersahutan dengan monyet di gelapnya kebun karet belakang rumah. Entah kenapa saat mendengar suara mereka, membuat rasa semakin tak nyaman.
“Sepertinya mereka bertengkar,” ucap haji Sabran saat baru keluar dari rumahnya yang bersebelahan dengan langgar.
__ADS_1
“Inggih, sekarang banyak anjing liar ditempat kita.”
“Sumalam hanya ada berapa bikung ja, wahini babanyak (kemarin hanya ada beberapa ekur saja, sekarang semakin banyak),” jawabnya berjalan menghampiriku.
Kami berdua terdiam mendengarkan suara mereka. Entah kenapa semakin mendengarnya semakin membuatku merinding.
“Ayo kita segara masuk ke langgar,” ajak haji Sabran. Aku pun mengangguk dan mengikutinya di belakang.
•••••••
Malam itu aku tinggal sendirian di rumah kerna ibuku ada keparluan dan bermalam di rumah saudara. Merasa bebas aku malah menonton tv sampai larut malam.
Saat asik menonton, rasanya terdengar suara samar-samar di samping rumahku, seperti ada yang tak sengaja menginjak sampah gelas pelastik.
Aku segera mengecilkan volume TV. benar saja, suara itu kini terdengar keras sedang mengais-ngais sampah di samping rumahku, tepat didekat kandang ayam. Entah kekuatan dari mana aku malah berani untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Aku menuju pintu depan dan segara membuka tanpa pikir panjang, hingga malah dibuat kaget saat melihat seekor anjing berukuran kambing tepat di halaman, sontak saja aku segera membanting pintu.
Saat menenangkan diri dengan bersandar di pintu, anjing itu pun menggonggong. Aku penasaran siapa yang ia gonggong, jadi aku melihatnya dari kaca depan rumah.
Saat kulihat, anjing itu terus menggonggong menghadap ke atas pohon ketapi di halaman rumah, dan parahnya, tidak ada siapapun di sana.
Aku segara mengunci pintu, berlari menuju TV yang menyala. Mematikan semua lampu luar dan segera masuk ke kamar. Menutup diri dengan selimut, melupakan yang terjadi dengan berusaha tidur di tengah malam yang terus larut.
Aku pun berhasil tidur meski rasanya hanya sebentar. Suara ayam kembali membangunkanku. Merasa kesal aku pun menghiraukannya. Namun mereka tidak berhenti terus bersuara semakin nyaring. Kerna tak bisa tidur lagi, aku merasa sangat kesal.
Dengan cepat aku segera bangun dan membuka jendela. Aku sangat yakin itu pasti ulah musang yang kemarin, sehingga aku berancana untuk memukulnya dengan tongkat yang kupakai mengunci jendela.
Tanpa senter aku melihat ke sekitar yang sangat gelap. Tiba-tiba bau aneh menusuk hidungku, dan kali ini bercampur bau amis darah.
Aku pun mencoba untuk melihat lebih jelas dan parahnya, aku malah dikejutkan dengan seorang manusia tengah berjongkok tak memakai baju, hanya menggunakan celana hitam pendek.
Menyadari kehadiranku dia berdiri perlahan lalu berpaling menghadap arahku. Saat itu aku tak bisa melakukan apa-apa selain terdiam ketakutan. Dia berjalan menghampiriku tanpa melepas potongan ayam mentah di tangannya.
Seluruh tubuh dan wajahnya berlumur darah membuat perut mual melihatnya. Dia manatapku dan mengerang, menunjukkan gigi-gigi tajam dengan wajah anjing berbulu kuning ke coklatan.
Aku tersedar dan berteriak. “Tolong-tolong!”
“Tolong ... Tolong! Ada manusia jadi-jadian!” itulah yang terus kuteriakkan.
Manusia jadi-jadian itu pun segera lari ke arah tumpukan abu bekas pembekaran gilingan padi, dan juga padang bambu serta pohon pisang di belakang rumahku. Aku segera menutup jendela dan keluar rumah meminta pertolongan pada warga.
Aku merasa beruntung kerna saat itu ternyata ada orang-orang yang mendapat giliran jaga sedang berpatroli. Orang di sebelah rumahku pun ikut keluar dengan membawa parang, bahkan ada yang membawa senapan angin.
“Kemana dia pergi Mal?” tanya haji Sabran yang ikut keluar.
“Dia ke arah padang abu belakang rumah, lurus ke kebun karet.”
“Kalau gitu sepertinya sudah tidak bisa dikejar. Kalau sudah masuk kebun karet kita sudah pasti kehilangan jejaknya,” sahut Sahid yang ikut berjaga malam.
Aku dan warga lain pun melihat ke kandang ayamku yang telah di rusaknya. Saat kuhitung ternyata dia sudah berhasil memakan tiga ekor. Mau gak mau aku hanya bisa mengikhlaskan saja.
Kerna hampir menjelang pagi aku pun memutuskan ikut bersama Sahid untuk berpatroli menjaga kampung.
Keesokan harinya. Mulai saat itu RT dan warga lainnya mengetatkan jaga malam, dan mulai saat itu juga manusia berkepala anjing tidak terdengar lagi. Baik di Handil Mantat maupun Handil sebelah.
Menusia berkepala anjing pemakan ternak warga itu hilang ditelan seiring waktu, hingga yang tersisa hanyalah sebuah cerita horor biasa.
__ADS_1
-Selesai-