
“Huaaaghh!” Sendawa seorang laki-laki seraya meminum khamar berjalan sempoyongan di tengah pasar.
“Orang-orang di pasar ini tidak tahu diuntung. Sudah bagus aku menawarkan diri sebagai petugas keamanan, bukannya membayar lebih, malah sedikit!” ucapnya terus menggurutu.
“Orang itu setiap hari pasar selalu keliling dengan kaadaan mabuk, bahkan tanpa sesuatu yang jelas mengacak dagangan orang lain. Apa tidak ada yang mengusirnya,” bisik seorang pembeli perempuan kepada penjual baju di sekitar itu.
“Rumahnya tidak jauh dari sini, dia orang kampung sini juga. Beberapa warga kami sudah sering menegurnya untuk tidak berterang-terangan mabuk seperti itu, tapi tidak pernah didengar,” jawab laki-laki sipenjual baju.
“Kata orang-orang sini. Padahal kelurganya termasuk orang yang berada, sayang orang itu keburukannya sudah gak ketolong,” sahut seorang perempuan di sebelahnya yang berjualan sandal.
••••••••
Disisi lain. Seorang peria penjual ikan nampak termenung, duduk sambil sesekali mengucek-ngucek rambut, memandangi dagangannya yang masih banyak. Sedangkan lapak sebelah yang sama berjualan ikan terlihat dagangannya sudah mulai habis.
Laki-laki pemabuk itu tiba-tiba tertawa memandangi sipenjual ikan yang terlihat gelisah dan risih. Dia menghampiri sambil terus menenggak khamarnya.
“Huaaghhh!” Dia sengaja bersedawa di sisi wajah sipenjual ikan.
“Minta jatahnya bro, kau belum bayar uang keamanan hari ini.”
__ADS_1
“Pergilah, aku belum dapat uang hari ini,” jawab penjual ikan pelan tanpa melihat sipemabuk itu.
“Itu urusanmu! dasar muka masam hahaha!” Pemabuk itu tertawa keras.
Dia kembali bersendawa di sisi wajah penjual ikan tersebut sambil terus tertawa. “Kau tahu persamaanmu dengan ikan itu seperti apa?” tanyanya sambil memegang satu ekor ikan.
Penjual ikan itu hanya diam, masih tanpa sedikit pun menoleh pada pemabuk tersebut. Mengetahui itu sipemabuk tersebut terlihat kesal.
“Cih ... kau tahu apa yang sama ikan ini dengan dirimu ha! kalian itu sama-sama bau dasar bodoh!” teriaknya seraya mengobrak abrik dagangannya hingga berjatuhan.
Bahkan melempar ikan itu mengenai dada sipenjual ikan yang masih terlihat diam. Beberapa orang di pasar itu pun mulai memperhatikan keduanya.
Tidak berhenti disitu, sebelum pergi dia masih sempat-sempatnya menyondol kepala sipenjual ikan dengan tangannya, lalu berlalu pergi begitu saja sambil terus mentertawai.
“Awas!” teriak mereka yang melihat sipenjual ikan itu mengayunkan golok, hendak menebas punggung pemabuk itu. Mendengar teriakan itu, pemabuk pun seketika menoleh kebelakang.
*Krakkss
Tebesan itu tepat menencap diwajahnya. Golok pun terlepas dari genggaman sipenjual ikan. Pemebuk itu seketika terjengkang kebelakang disertai cipratan darah yang memercik ke beberapa lapak pedagang.
__ADS_1
Bagai seorang yang kerasukan, penjual ikan pun mencabut golok tersebut dan terus mengayunkannya kewajah serta ketubuh si pemabuk yang sudah tewas seketika.
Orang-orang yang menyaksikan kejadian itu lari menjauh, takut ikut diserang oleh penjual ikan yang terus menebas membabi buta, hingga beberapa bagian tubuhnya terpotong beberapa.
Kini wajah sipemabuk itu benar-benar hancur dengan kepala yang sudah terputus, dan darah yang membasahi jalan di pasar itu.
•••••••
Kini berita itu pun sampai kekeluarganya, membuat dua anggota keluargannya nampak kalang kabut memikirkan harus bagaimana jadinya.
“Kan sudah kubilang Mah, Ayah lebih baik dimasukkan ke rumah sakit gila ketimbang dia terus membuat onar di kampung ini!” ucap seorang remaja.
“Tapi Nak, ayahmu itu tidak gila, jadi tidak mungkin bisa seperti itu,” jawab sang ibu.
“Kalau gitu kenapa dulu tidak kita masukkan saja kepenjara!” balasnya terlihat kesal.
“Astagfirullah Nak, itu ayahmu sendiri, tidak sepantasnnya kau bicara seperti itu.” Ibunya terlihat sedih membuatnya tertunduk.
“Baiklah sekarang harus bagaimana untuk masalah pengurusan jenazah ayah ini, kalau sudah begini, para warga pasti akan menolak keras, jika ayah dikuburkan di kampung kita.”
__ADS_1
“Tenang saja Ibu punya kenalan di salah satu desa yang jauh dari sini, kita akan meminta teman ibu agar ayahmu bisa dikuburkan di sana,” jawab Ibunya menatap yakin kepada anaknya yang kini sudah mulai tenang.