
Saat kami sampai, ternyata benar apa yang dibilang julak Roni. Wajahnya pucat persis kaya orang sakit, dia sedang duduk termenung di terasnya menatap arah kuburan.
“Zainal cepat ngaku, siapa sebenarnya jenazah baru itu!” teriak julak Olim sambil menghampiri.
Zainal pun terkejut terlihat bingung ketakutan. “Ada apa, kok ramai-ramai?”
“Kada usah banyak pandir, jujur ja kam (gak usah banyak bicara, jujur saja kau)!” Julak Olim menatap tajam.
“Mang ceritakan saja seperti yang kau ceritakan kemarin pada kami, bahwa itu keluarga jauh,” sahut Ogi.
Namun dia malah tertunduk termenung tak menjawab. “Mang,” panggilku.
“Maaf, yang kuceritakan pada kalian bahwa itu keluargaku sebenarnya bohong, Itu bukan keluargaku, mareka hanya orang yang baru kukenal dari temanku,” jawabnya membuat aku dan Ogi syok.
“Nah kan, pasti dah ini ada apa-apanya!” sahut Julak Olim.
“Tenang-tenang. Zainal ceritakan saja semuanya pada kami,” ucap Julak Roni.
“Sebenarnya jenazah itu ditolak oleh orang kampung mereka kerna tingkah buruknya, bahkan kematian yang tidak wajar. Sehingga mereka mencari sanak saudara mereka untuk meminta bantuan agar bisa dimakamkan, tapi mereka tidak mau dapat masalah. Jadi salah satu keluarga mareka menelponku untuk membantu pemakaman ini,” ucapnya bercerita.
“Jadi benar, kabar yang beredar kalau mayyit ini mati dibunuh?” tanya Julak Olim dan dia hanya mengangguk.
Julak Olim terlihat sangat kesal dan geram dengan Zainal, namun dia menahan itu semua dengan meremas rambutnya sendiri. “Kalau sudah gini mau di apakan, saharusnya kau jujur dari awal biar kita makamkan ditempat lain, kalau gini justru ditengah-tengah kita.”
“Aku sangat minta maaf soal ini, tapi tolong jangan apa-apakan aku. Aku sudah menderita setelah penguburan itu selesai, aku terus digentayangi oleh jenazah itu, rasanya ingin pergi saja dari sini!” ucapnya begitu ketakutan.
“Nyaman banar situlah, ikam nang maulah masalah, ikam nang handak bukah, kam kira ikam ja kah nang ditamuinya, aku malam tadi didatanginya jua tahulah! (enak sekali situ ya, kau yang buat masalah, kau yang mau lari, kau kira kau saja yang di gentayanginya, malam tadi, aku baru saja di datanginya juga)!” balas Julak Olim tambah kesal.
“Kau baru sekali, aku sudah dari kamarin!” teriaknya marah.
“Sudah dua malam ini aku tidak bisa tidur, rumahku selalu mendapat ketukan di setiap sudutnya. Dan malam tadi ....” Dia seketika terdiam dengan wajah penuh keringat dingin, matanya begitu kosong.
“Mang.” Panggil Ogi seraya hedak menyentuh pundak Zainal.
Matanya mulai layu dan tiba-tiba terjatuh pingsan begitu saja, membuat kami terkejut.
“Astagfirullah!” Julak Roni seketika menahan tubuhnya.
“Loh kenapa malah pingsan, kita belum selesai bicara,” ucap Julak Olim.
“Tidak perlu kita bahas lagi, sekarang bantu aku mengangkatnya," pinta julak Roni membuat aku dan Ogi segera membantu.
Meski sedikit bingung dengan apa yang terjadi kami membantunya untuk istirahat dirumah. Julak Roni pun meminta kami untuk pulang saja dan dia yang akan mengurus Zainal yang terlihat begitu pucat.
•••••••
Diperjalanan pulang, Julak Olim terlihat begitu kesal. “Bisa-bisanya Zainal melakukan itu dikampung kita, saharusnya dia membicarakan itu dulu dengan semuanya,” grutu Julak Olim.
“Emangnya kalau dia bicarakan dulu, apa kita akan menyetujui pemakaman itu?” tanya Ogi.
“Tentu, mungkin kita bisa menerimanya, kita bisa memakamkannya jauh dari pemukiman, misalnya di taluk Km 13. Siapa yang peduli jika kita memakamkannya di sana, pasti tidak akan ada teror kaya gini di kampung kita,” balasnya.
“Heee ... yang ada bakalan jadi 2 tuh hantu tanpa kepala di taluk km 13,” sahutku bergidik ngeri.
“Yah setidaknya dia tidak bergentayangan menghantui di sekitaran warga,” balas Julak Olim.
“Jadi kita harus bagaimana soal mayat itu sebagai korban pembunuhan, apa kita harus merahasiakannya?” tanya Ogi.
Julak Olim pun sempat terdiam memikirkan. “Akan aku ceritakan saja dulu kepada guru Subhan dan pak RT untuk meminta pendapat.” Mendengar jawaban itu kami pun menyetujuinya.
“Oh ya Gi, menurutmu siapa lagi ya yang bakal digentayanginya?” tanyaku.
Tiba-tiba Ogi terhenti dari langkahnya, tubuhnya bergetar dan tatapannya kosong menghadap ke bawah. Aku tahu saat itu dia menyadari sesuatu, namun ketika kutanya, dia hanya berdalih dengan hal yang tak ada hubungannya.
••••••••
Sore itu menjelang Magrib. Kulihat Dayat, Syukri, dan Isar tengah santai bersama di bangku pinggir sungai, sambil menunggu Magrib tiba.
“Kenapa Sar malam tadi Fardi kok teriak-teriak?” tanya Dayat.
“Loh emang ada apa Yat?” sahut Syukri.
“Nggak tahu juga, mana udah larut malam lagi, bukannya tidur dia malah teriak-teriak dirumahnya,” jawab Dayat.
“Aku juga kaget pas tahu itu, kami sekaluarga langsung pergi menemui dia di kamarnya, dia bilang ada hantu di atas kelambunya,” ucap Isar.
Mendengar jawaban Isar aku bersegra menghampiri mereka. “Tolong ceritakan semuanya!” teriakku.
“Heh Nasir bikin kaget saja,” ucap Dayat.
“Iya Sar ceritakan juga pada kami,” sahut Syukri.
••••••
Saat itu seluruh keluarga Fardi telah tertidur lelap. Fardi yang sendirian di kamarnya dibangunkan oleh suara yang terus memanggil namanya, namun dia berusaha untuk tidak peduli dan kembali tidur. Akan tetapi suara itu juga tak kunjung berhenti.
“Fardi ... Fardi ... Fardi ...” Suara itu sangat mirip dengan Isar adiknya.
Fardi yang tentunya setengah sadar sangat malas untuk bangun, hingga titisan air jatuh ke wajah membuatnya semakin tak bisa tidur lagi. Dia sudah pindah posisi, namun air itu terus saja mengenai wajahnya.
“Hah ... ganggu saja!” ucapnya seketika bangun sambil nguliat dengan posisi tangan ke atas.
Sesuatu yang lengket dan basah menganai tangan yang menyentuh langit-langit kelambu. Air pun mengalir membasahi tangannya hingga kepundak dan ketiak.
Fardi pun seketika terbelalak. Air yang menetes dari tadi dan sekaligus membasahi tubuhnya sekarang, adalah darah dari wajah yang sedang dia pegang.
Posisi yang begitu dekat dengan wajah membuatnya melihat jelas sosok itu. Sesosok tubuh hitam dengan wajah terbelah bekas tebasan golok melintang dari dahi kerahang kiri.
__ADS_1
“To-lohuakhh!” Muntahan darah dari sosok itu seketika membanjiri tubuhnya.
“Aaakkhhh ...!” Seketika itu Fardi teriak sejadi-jadinya.
•••••••
“Begitulah yang dia ceritakan pada kami, dia benar-benar berteriak sangat keras.” ucap Isar.
Kami yang saat itu mendengar ceritanya, merasakan sesuatu sangat mengerikan. Tidak bisa kami bayangkan bagaimana jadinya, jika kami yang berada di posisinya.
“Apa ini juga bagian dari teror kuburan baru itu?” ucap Dayat.
Kami menatapnya diam. “Maksudku kalian semua sudah mendengarnyakan, rumor yang beredar bahwa dia mati terbunuh,” sambungnya.
“Dari cerita orang-orang juga sama, yaitu sosok hitam, namun dia selalu muncul dengan wajah yang hancur selalu terlihat jelas,” sahut Syukri.
“Kata Fardi pun ini sepertinya sosok yang sama dengan cerita Julak Olim," ucap Isar.
Aku terdiam memikirkan semuanya. Jika ini adalah teror yang memiliki pola maka siapa yang akan menjadi selanjutnya. Jika yang pertama adalah Zainal dan yang kedua Julak Olim, lalu yang ketiga Fardi. Maka apa yang membuat mereka menjadi yang pertama, kedua dan yang ketiga, dan sesuatu tentang apa yang akan membuatnya menjadi yang ke empat.
“Jika benar, jadi selanjutnya siapa ya?” ucap Dayat.
Aku tersentak. “Tidak benar! Mungkin tidak benar!” teriakku tiba-tiba.
“Eh apanya yang tidak benar!” teriak Isar kaget kernaku.
“Loh kalau begitu, yang giliran azan hari ini Pihan dong,” ucap Syukri.
Aku seketika bingung dengan apa yang mereka bicarakan. “Loh Pihan sudah apa belum Sir?” tanya Dayat heran.
“Kalian sedang membicarakan apa?” Aku lebih heran.
“Loh, kan kami tadi membicarakan siapa yang giliran azan hari ini,” sahut Isar.
“Sudah-sudah biar aku saja, waktunya sudah sampai,” timpal Syukri seketika pergi menuju langgar, lalu di iringi Dayat, Isar dan meninggalkanku sendirian yang masih terdiam.
•••••••
Saat itu selepas Sholat kami semua beranjak pulang. “Ahmad ke mana ya Ji, kok gak kaliatan dari siang tadi?” tanya Dayat pada Hj. Sabran.
“Dia sedang sakit, udah dari pagi tadi, kayanya kapidaraan,” jawab Hj. Sabran.
“Kapidaraan, kok bisa Ji, apa gara-gara pemakaman kemarin?” tanyaku penasaran.
“Kayanya bukan itu, lagi pula itu sudah lewat beberapa hari. Tapi ... kayanya gara-gara kejadian malam tadi,” balasnya.
“Malam tadi? apa terjadi sesuatu?” tanya Syukri.
“Jangan-jangan kaya Fardi malam tadi teriak-teriak ha ha ...” sahut Isar.
“Emang Fardi kenapa?”
“Apa Ahmad juga di datangin hantu ya, soalnya malam tadi dia sempat teriak sambil banting jendela kamar. Itu sangat keras sampai aku dan ibunya terbangun. Pas kami samperin dia cuma diam dan ngos-ngosan duduk bersandar dibawah jendela. Tapi dia tidak mau cerita,” Ucap Hj. sabran bercerita.
“Jadi sekarang keadaannya gimana Ji, Apa dia belum mau cerita?” tanyaku samakin penasaran dan takut.
“Sudah bapidara dan agak mendingan, dia juga masih belum mau cerita.”
“Syukur lah, mudahan cepat sembuh,” ucap Dayat.
Kapidaraan adalah istilah yang dipakai Suku Banjar bagi anak yang mengalami sakit demam tidak biasa, kapidaraan ini biasanya mengalami gejala panas hanya di setengah bagian badan, misalnya bagian kiri saja dari kepala sampai kaki atau sebaliknya.
Manurut banyak orang, kapidaraan itu biasanya di sebabkan oleh gangguan makhluk halus yang menegur atau menyapa, akibatnya seseorang yang kemungkinan lemah terhadap hal seperti itu akan jatuh sakit.
Nah pengobatannya sendiri disebut bapidara, bahan yang digunakan sangatlah mudah di dapat, yaitu janar (kunyit), kapur dan daun sirih.
Parutan kunyit dengan campuran kapur di taruh di atas daun sirih, atau kadang di taruh di sisi bilah parang atau pisau, lalu di oleskan ke bagian dahi, telapak tangan serta telapak kaki.
Mengoleskannya pun memiliki cara tertentu, yaitu dengan menyilang membentuk huruf X. Saat mengoleskannya pun biasanya di bacakan Sholawat atau ayat tertentu.
Nenek-nenek kami dahulu lah yang terus mewariskan cara ini secara turun temurun, kerna terbilang ampuh untuk mengatasi panyakit kapidaraan tersebut.
•••••••
Lalu dimalam itu. Aku terbangun kerna hendak kencing. Aku sempat terus menahannya kerna takut untuk keluar apa lagi setelah mendengar cerita tentang Fardi dan Ahmad.
Namun kerna sudah tak bisa di tahan-tahan, aku terpaksa membaranikan diri untuk pergi ke kamar mandi.
Tempat kamar mandi kami yang tak beratap jelas semakin manambah rasa takutku. untunglah saat itu bulan sedang terang.
Saat mau mengambil air, ternyata air di ember itu habis, mau gak mau aku harus menggapai ke ember sebelahnya yang cukup jauh, hingga harus berusaha menjangkaunya.
Saat aku berhasil mengambil air, aku merasa membantur sesuatu di dalam ember itu. Benar saja, saat kulihat sesuatu berwarna hitam yang kupikir baju sedang terendam dan mengembang di sana.
“Hadeh ... bisa-bisanya baju kotor di masukin ke sini,” gerutuku.
Aku semakin jijik ketika melihat air itu berwarna merah, kerna saking kotornya baju hitam itu. “Baju siapa sih, sampai kotor banget gini, mana kaya banyak rambut-rambut lagi.”
Aku sangat terpaksa harus mengambil baju itu dan membuang airnya. Dan saat menyentuh dan mengangkat baju itu, aku terkejut, ternyata yang kusentuh itu benar-benar sebuah rambut dan yang ku angkat itu adalah sebuah kepala manusia.
Cahaya Bulan yang terang membuatku berharap lebih baik malam itu tidak ada bulan. Kerna bagaimana tidak, wajah lengket, basah, dan mengalirkan darah bercempur air dari setiap sobekan daging di wajahnya terlihat begitu jelas.
“To ... Long.” Mulut yang sobek itu semakin mengeluarkan darah.
“Aakhhh ...!” Aku berteriak sekencang-kencangnya sambil melempar seonggok kepala itu entah ke mana. Aku hanya memalingkan wajah dan berusaha lari ke rumah.
“Astagfirullah!” teriak Ayahku kerna tak sengaja menabraknya saat sampai ke dapur.
__ADS_1
“Kenapa kau lari-lari dan teriak seperti itu. Diamlah, orang pada sudah tidur!” bentaknya.
“Huhh hahh ... ada hantu!” teriakku.
“Hantu? Hantu apa?”
“Serius! di sana! ini pasti gara-gara makam baru itu! semuanya sudah mendapat teror, dan sakarang giliran kita!” ucapku.
Mendengar itu Ayahku nampak terkejut dan langsung menutup pintu dapur yang masih terbuka. “Kita berjaga malam ini, jangan sampai hantu itu menganggu adikmu dan yang lain.”
Aku cukup terkejut kerna dia mempercayaiku. “Aku sudah banyak mendengar dari yang lain, sudah banyak yang melihat penampakan itu. ini tidak terus dibiarkan,” sambungnya dan aku mengangguk.
Malam itu pun kami terpaksa berjaga sampai pagi. di beberapa waktu kami selalu mendengar ketukan dari pintu depan, dapur dan juga jendela. Namun kami tidak memperdulikannya dan syukurlah tidak terjadi hal lainnya.
•••••••
Keesokan harinya kami dipanggil untuk berkumpul di rumah RT, yaitu Aku, Ogi, Julak Olim, Julak Roni, termasuk Fardi dan Juga Ahmad Rifa’i. Nampaknya Julak Olim sudah membicarakan kebenaran tentang jenajah itu, sehingga kami juga ikut dipanggil.
Kami semua diminta menceritakan penampakan dan teror yang kami terima. Ternyata malam tadi, Ogi pun mendapatkan teror yang sama.
Waktu selepas Isya saat dia pulang dari sungai, dia melihat seseorang berdiri menghadap pohon mentega di halaman rumahnya, dia mengira bahwa itu Hj. Agus kerna rumah mereka bersebelahan.
“Haji Agus, kau sedang apa di sana, pohonnya belum berbuah lagi,” panggilnya.
“Tumben pakai baju hitam, biasanya baju putih mulu,” sambungnya.
Sosok itu pun menoleh perlahan membuat Ogi terbelalak, sinar bulan malam itu lagi-lagi menampakkan sesosok wajah hancur menyeramkan begitu jelas, kepala itu terus menoleh hingga wajahnya berada dibelakang tubuh.
Ogi yang melihat penampakan itu terdiam membeku hingga kepala itu lepas, jatuh menggelinding ke arahnya, sangat dekat tepat di bawah kakinya.
“To-long.” Mulut yang sobek itu mengeluarkan darah mengalir di tanah mengenai kaki Ogi.
“Aakhhh ...!” Ogi tersentak sadar seketika lari menuju rumahnya.
Dia bilang malam itu beberapa ketukan terdengar di setiap sudut rumah, namun dia tidak berani untuk melihatnya.
Ahmad pun juga akhirnya mau bercerita, di malam itu dia juga dibuat terbangun oleh suara ketukan, hanya saja ketukan itu terus menerus di jendela kamarnya. Awalnya dia sama sekali tidak berfikiran yang aneh-aneh dan mengira itu Syukri orang sebelah rumahnya.
Tanpa curiga dia membuka jendela begitu saja, hembusan angin pun menerpa tubuhnya dan membawa aroma yang begitu busuk. Matanya pun mulai tertuju dengan jelas ke arah sesosok hitam sedang memegang kepalanya yang putus.
Dia melihat jelas mulut yang sobek itu hendak berbicara, namun dia segera menutup jendela dan mengunci rapat-rapat. Dan ketukan itu pun tidak terdengar lagi.
••••••
“Aku sempat berfikir kalau teror ini memiliki pola, dan mengira-ngira siapa yang akan menjadi selanjutnya. Tapi sepertinya itu salah, sosok makam baru itu sepertinya hanya ingin menakuti kita saja,” ucap Ogi.
“Aku juga memikirkan hal yang sama. Sosok itu jelas hanya ingin membuat kita ketakutan dan dibayang-bayangi dengan teror ketukan itu,” balasku.
“Nampaknya hanya guru Subhan yang tidak mendapat teror itu,” sahut Fardi.
“Tidak, aku juga sempat melihat sosok hitam itu beberapa kali, namun hanya sekilas saja. Nyatanya kita tidak usah terlalu memikirkan dan takut berlebihan pada sosok itu."
"Sebaiknya kita senantiasa mendekatkan diri padanya, banyak doa-doa yang bagus untuk terhindar dari segala kejahatan makhluk. Amalkan saja, Insya Allah kita akan selalu terjaga dari kejahatan-kejahatan mereka,” ucap guru Subhan.
Kami semua mengangguk setuju akan hal itu. Apa yang dikatakan beliau sangatlah benar, kami terlalu larut akan teror ini.
“Oh ya jadi bagaimana soal kebenaran bahwa mayit itu mati dibunuh, apa kita harus memberitahukan samua warga?” tanya Ogi.
“Sebaiknya kita rehasiakan saja. jika memberi tahukan itu, takutnya beberapa warga malah meminta untuk memindahkan makamnya, tentu akan menjadi masalah nantinya dengan keluarga yang ditinggalkan, masalah itu takutnya juga akan menyangkut masalah nama baik kampung kita,” jawab pak RT.
“Tapi bagaimana kalau teror ini terus berlanjut, seluruh warga pasti akan terganggu ketentramannya,” sahut Julak Olim.
“Aku rasa kita bisa menahan itu sedikit lagi, teror-teror seperti ini pasti tidak akan bertahan lama. Cerita-cerita yang tidak jauh beda sudah sering kita dengar, namun hanya sekitar seminggu, itu lenyap begitu saja,” balas guru Subhan.
“Benar, sepertinya ini cara yang terbaik, kita bisa membiarkan ini berlalu begitu saja,” sahut julak Roni.
Kulihat Ogi, Ahmad dan Fardi nampak setuju soal itu, sedangkan Julak Olim masih terasa berat menyetujuinya.
“Julak Olim, untuk sementara kita bisa menerima usulan ini, jika sampai kedepanya masih saja mengahantui warga, terpaksa kita akan memindahkannya,” ucap pak RT.
“Bagaimana apa kalian satuju?” sambungnya.
“Satuju ja kami ni (kami mah setuju aja),” jawab Ahmad Rifa’i.
“Yang terbaik saja,” jawab Fardi.
Aku dan Ogi seling menatap dan mengangguk. “Yah kami setuju,” jawab Ogi.
Guru Subhan dan Julak Roni tersenyum dan mengangguk. “Julak Olim?” tanya lagi pak RT.
“Baiklah,” jawabnya singkat membuat kami semua tersenyum.
“Oh ya Julak, mana Zainal kok gak datang?” tanyaku.
“Iya kok gak ada, apa terjadi sesuatu lagi?” sahut Ogi.
“Kini dia benar-benar jatuh sakit, tidak seperti kemarin wajahnya pucat murni ketakutan. Dia juga sudah menceritakan semuanya,” jawab julak Roni.
“Apa dia masih terus mendapat teror?” tanya Ogi.
“Kupikir ini sesuatu yang berbeda. aku yakin ini tidak ada hubunganya dengan teror kuburan baru itu, ini sosok yang jauh berbeda dari cerita kalian,” jawabnya sangat serius.
“Berbeda?” Ogi menatap heran.
“Mungkin kalian pernah dengar cerita ini. Seseorang yang pergi ke Taluk km 12, berlampah (bertapa) dan meletakkan sesajen mencari dan meminta sesuatu tentang perjudian kepada makhluk penunggu."
"Akan tetapi yang datang justru sesosok makhluk hitam raksasa, baru saja tangannya yang muncul menyingkai semua pohon karet di teluk itu, orang ini sudah lari ketakutan dan tak pernah datang lagi,” sambungnya membuat kami semua terdiam mengingat kisah yang sangat menyeramkan itu.
__ADS_1
“Sepertinya ... sosok itulah yang dilihat jelas, dan meneror Zainal.”
-Tamat-