Kumpulan Cerita Horor Desa

Kumpulan Cerita Horor Desa
Teror Kuburan Baru Part 1


__ADS_3

...Chapter X...


...Teror Kuburan Baru...


“Kayapa Gi pas ja kah sudah (gimana Gi apa sudah pas)?”


“Emm ... pendekin dikit lagi Sir,” ucapnya sambil bercermin.


“Oke siap.”


“Nasir! Sir!”


“Oh iya Guru, ada apa?”


“Nah kebetulan ada Ogi juga, kalian bisa gak bantu untuk menggali kubur?” pinta Guru Subhan.


“Loh emang siapa yang meninggal, kok gak ada pengumumannya?” tanyaku.


“Inggih, kada tahu dihabar kami nah (Iya, kami malah tidak tahu kabar),” sahut Ogi.


“Yang meninggal bukan warga kita, tapi orang luar. Aku juga baru dapat kabar dari Zainal, jadi sangat mendadak.”


“Apa kalian bisa, soalnya yang biasa gali kubur sedang pergi,” sambung guru Subhan kembali meminta kami.


Aku dan Ogi saling menatap dan kami mengangguk setuju. “Insya Allah Guru, kami bisa,” jawab Ogi.


“Syukurlah, nanti kalau sudah selasai cukur rambutnya, bisa segara pergi kepemakaman, namun sebelum itu jika ada perlu sesuatu kalian bisa tanyai Zainal dirumahnya. Aku izin pergi dulu mau ngurus yang lain,” balasnya kemudian pergi setelah kami setuju.


“Kada biasanya lah orang luar bakubur di wadah kita nih (Tidak biasanya ya, ada orang luar berkubur ditempat kita ini),” ucap Ogi.


“Aku juga heran soal itu, rasanya ini pertama kali, kira-kira ada apa ya?” 


“Nah gimana apa sudah pas,” sambungku telah selesai mencukur rambutnya.


“Sip, tambah ganteng dah,” jawab Ogi membuat kami berdua tertawa.


Namaku Nasir, aku sudah lama tinggal di desa ini, desa yang dikenal dengan Anjir Serapat Tengah, Kabupaten Kapuas Provinsi Kalimantan Tengah. Lebih rincinya yaitu di Km.12,5 Handil Mantat.


Aku bekerja sampingan sebagai tukang cukur biasa. Untuk mempermudah dan memberi kenyamanan, aku juga membuat pondok kecil sebagai tempatku menerima pelanggan.


Menurutku ini adalah pekerjaan elit, selain membutuhkan skil tinggi, kita juga bertugas untuk membuat orang menjadi tampan he he.


•••••••••


Sebelum pergi kepemakaman, aku sempat singgah untuk membeli rokok di warung. “Sudah dengar kabar gak, katanya ada orang luar yang mau dimakamkan di desa kita?” tanya amang warung.


“Ni! sekarang aku mau pergi kepemakaman, baru saja tadi guru Subhan meminta aku dan Ogi untuk menggalikan kuburnya.”


“Jadi bujuran lah! apa kada masalah, maka lain orang kita? (Loh jadi memang bener! apa tidak masalah, kan bukan warga kita)?”


“Aku juga heran soal itu, kan bisa dikuburkan di kampungnya sendiri, tidak perlu susah-susah membawa jenazahnya jauh-jauh hanya untuk dimakamkan.” 


Aku dan amang warung saat itu sempat terdiam heran memikirkannya. “Moga memang cuma kainginan keluarganya aja, dami kemudahan sesuatu hal yang kita tidak tahu,” ucapku dan amang warung pun mengangguk setuju.


“Oh ya, Mang beli rokok yang biasa, nih uangnya,” sambungku dan amang warung pun pergi mengambilkan.

__ADS_1


Setelah itu aku segera pergi menemui Ogi yang ternyata sudah siap dengan alat-alat penggali dan motornya siap untuk berangkat.


“Kayapa Gi menggali kubur nih hanyar sakali nih aku nah, jadi kuterima tadi kerna kada nyaman handak nolak (Gimana Gi caranya menggali kubur? Aku baru pertama kali, alasan kuterima tadi, kerna gak enak mau nolaknya).”


“Yah mau gimana lagi, habisnya orang biasa gali kubur gak ada, dan gak ada salahnya juga kita terima sambil belajar,” jawab Ogi sambil memasukkan cangkul dan alat galian lain kedalam karung.


“Maksudku, kan menggali kuburan ini ada ukuran tertentu.”


“Tidak perlu khawatirkan soal itu. Aku cukup tahu beberapa hal tentang menggali kubur, yang penting kita coba lakukan yang terbaik saja,” jawabnya membuatku mulai tenang, kerna aku sangat mempercayainya.


••••••••


Setelah sampai di wilayah pemakaman, kami lebih dulu menemui Zainal yang kebetulan terlihat mondar-mandir diteras sedang berbicara lewat telpon. Dia pun tak sengaja menoleh pada kami.


“Yah nanti aku kabari lagi, ini tukang gali kuburnya sudah datang,” ucapnya kemudian menutup telpon dan berjalan menuju kami.


“Kalian bisa segera mulai menggali. Jatanya jenazahnya mungkin akan sampai menjelang siang nanti,” sambungnya pada kami.


“Untuk masalah ukuran lobang kuburnya gimana?” tanya Ogi.


“Kalian gali saja seperti biasa, aku sudah meminta mereka untuk menggunakan tabala (peti jenazah).”


“Kanapa garang jar jadi kada bakubur di wadahnya surang (emang kenapa katanya, jadi tidak dikuburkan di tempatnya sendiri)?” tanyaku.


Dia sempat manatapku diam. “Dia termasuk keluarga jauh kami, jadi kalian tidak perlu cemas. Alasan mereka, cuma agar ketika ziarah bisa sekaligus berkunjung ke rumahku, kerna biasanya hampir tidak bisa ke sini. Jadi dengan begitu kematian keluaga kami ini justru menjadi semakin memperat hubungan keluarga.”


Aku dan Ogi sempat saling manatap heran. “Oh baiklah kalau begitu, kami langsung mulai menggali saja,” jawab Ogi seraya menggilingkan kepalanya padaku mengasih tanda untuk segera pergi.


“Iya silahkan. Aku akan menyiapkan cemilan dan minuman untuk kalian beristirahat nanti,” balasnya.


••••••••


Tempat pemakaman di desa kami bisa dibilang baru digunakan kembali, atau bisa dibilang tidak terlalu di pakai, hanya terdapat makam-makam lama.


Kebanyakan keluarga yang ditinggalkan, memilih untuk menguburkan keluarganya di tempat pemekaman umum belakang masjid Km.11, meski itu cukup jauh.


Namun sekarang tempat pemakaman itu sudah sangat penuh, sehingga mau tidak mau memilih untuk dikuburkan di pemakaman terdekat saja, terlebih lagi tempat tersebut kini semakin diurus dengan baik dan dibuat semakin luas.


“Kita menggalinya intang sini ja nah kayapa (Bagaimana kalau kita menggalinya di sini)?” tanyaku seraya menunjuk tempat yang sedikit berdekatan dengan kuburan di sebelahnya.


“Bisa saja, tapi sebelum menggali coba kau tusuk dulu tanahnya dengan tongkat besi ini, hanya untuk mengetahui ada tidaknya peti jenajah lama di dalamnya,” jawab Ogi seraya menyodorkan sebilah besi berukuran sedang.


“Tidak mungkin ada, diliat dari manapun tempat ini kosong, kalau ada orang di dalamnya sudah pasti ada nisannya,” bantahku.


Ogi hanya menggiling seraya mengambil bilah besi itu dari tanganku. “Aturan pertama saat menggali kubur, harus memastikan ada tidaknya tabala lama di dalamnya, meskipun terlihat jelas tidak ada nisan yang nampak atau tidak nampak di atasnya,” jawabnya seraya menusukkan bilah besi itu ke tanah.


Belum lagi tusukan itu dia tekan semakin dalam, suara benturan terdengar *Tuk! kami berdua cukup terkejut mendengarnya. “Nah kan! Ayo kita coba sedikit menjauh,” pinta Ogi.


Dia kembali menusuk pada tanah yang lain, namun suara benturan itu terdengar kembali. Suara itu berasal dari besi dan tabala atau peti jenazah yang berbenturan.


“Sini biar aku yang mencobanya,” ucapku sambil mengambil besi itu yang masih menancap.


Aku berjalan menjauh dari kuburan-kuburan yang ada. Setelah merasa yakin tempat itu kosong, aku pun segera menancapkan tongkat itu.


“Bismillah,” ucapku seraya menekan tongkat besi itu sekencang-kencangnya hingga sangat dalam.

__ADS_1


“Nah, kayanya di situ bisa. Coba kau tusuk lagi sekitar sehasta di sebelahnya,” ucap Ogi cukup nyaring terlihat senang.


“Oke Siap!”


Sesuai yang dia perintahkan, satu tusukan itu kembali lolos. “Sekarang ke bawah,” pintanya lagi.


Dengan bersemangat, aku kembali menusuk tanah itu sesuai arahannya. Akan tetapi ditusukan ketiga ini ... *Tuk! suara itu terdengar lagi.


“Coba ke atas.” Kulihat wajahnya sangat serius saat itu.


Benturan kembali terdengar. “Hah ... kita coba tempat lain.” Dia terlihat putus asa.


“Santai saja, ini baru beberapa tusukan. Kita pasti akan menemukan tempat yang tepat,” jawabku memberikan semangat.


Manusuk tanah dengan besi atau tongkat lainnya saat hendak menggali kubur, itu sangat berguna untuk mengetahui ada tidaknya peti janazah lama yang talah dimakamkan.


Yaitu dengan menusuk pada bebarapa titik, sekiranya sepanjang dan selebar peti jenazah biasa. Tentu saja hal itu agar tidak ada keselahan saat melakukan penggalian nanti.


Kami terus mencoba dan mencari ke tempat yang lainnya, namun suara itu, Tuk! Tuk! Tuk! terus terdengar di setiap tusukan. Suara itu benar-benar membuat kami berdua terngiang-ngiang, kami pun sangat kebingungan.


“Kanapa maka kaya inilah, maka kita sudah bajauh dari kuburan lain (kenapa kok bisa kek gini, padahal kita sudah manjauh dari kuburan yang lain),” ucapku sambil menggaruk kepala.


“Aku tidak pernah mengira kalau makam lama sangat banyak di sini, ini akibat nisan yang sudah rusak dan hilang,” jawab Ogi yang tengah duduk kelelahan.


“Ai balum tatabuk-tabuk kah lagi (Loh kok belum ada yang digali)?” tanya Ahmad Rifa’i tiba-tiba datang membawakan teko dan beberapa kue kering.


“Loh kok kamu sudah datang Mad, apa janazahnya juga sudah datang!” Aku sangat kaget saat itu.


“Belum. Aku cuma mau bersegra saja, sapa tau ada yang bisa dibantu. Dan ternyata, semua persiapan sudah disiapkan oleh keluarga jenazah dari sana kata amang Zainal, jadi dia cuma minta bantu antarkan ini pada kalian,” jawab Ahmad Rifa’i seraya tersenyum.


“Syukurlah, aku juga sempat mengira kalau jenezahnya sudah datang,” sahut Ogi.


“Emang apa yang terjadi sampai belum menggali?” sambungnya sambil meletakkan itu di depan kami.


Saat itu kami berdua pun menjelaskan semua yang terjadi padanya. Mendengar itu dia pun juga dibuat heran.


“Oh iya aku ingat sesuatu soal ini,” ucapnya seraya memegang dagu membuatku seketika menatapnya serius hendak mendengarkan.


“Kata temanku, ini bisa terjadi kerna orang-orang yang sudah meninggal dan berkubur ditempat ini tidak ingin berdampingan dengan jenazah baru tersebut. Nah, ini seperti ketika kita punya tetangga yang kelakuannya buruk terhadap jiran yang lain, tentu kita pasti sangat malas untuk berdampingan dengannya bukan.”


“Oh gitu ya,” ucapku sambil melihat ke arah Ogi yang juga serius mendengarkan.


“Jadi ... apa jangan-jangan orang yang akan kita kuburkan ini orang yang tidak baik,” sambungku.


“Semoga saja enggak, mungkin memang kerna banyak makam lama disini, kita kan tahu kalau makam ini sudah ada sejak dulu,” tepis Ogi.


“Iya dia benar,” sahut Ahmad.


“Mun kitu, hakunlah Mad manggini’i kami mencari’i wadahnya (Kalau gitu, kamu mau gak Mad bantu kami mencari tempatnya)?” pintaku bertanya.


“Iya tentu, tidak ada hal lain juga yang kukerjakan saat ini,” jawabnya membuatku sengat senang. Berharap bertambahnya bantuan dari seseorang membuat pekerjaan ini segera selesai.


Benar saja, setelah kembali mencari-cari tempat yang bisa untuk digali, kami pun berhasil menemukannya. Namun juga sedikit disayangkan kerna tempat itu sangat jauh dari makam-makam lain, bahkan tempat itu banyak rumput yang belum sempat ditebas.


Kami tidak ada pilihan lain mengingat hari sudah semakin siang. Dan kami juga bersyukur penggalian itu berjalan lancar tanpa kendala sedikit pun.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2