Kumpulan Cerita Horor Desa

Kumpulan Cerita Horor Desa
Teror Kuburan Baru Part 2


__ADS_3

Suara ambulan pun terdengar datang, kami yang saat itu tengah istirahat segera beranjak menuju rumah Zainal. Terlihat juga sudah banyak orang yang berkumpul menunggu hendak mensholatkan.


Saat kami berjalan dijembatan handil itu, teman kami yang bernama Fardi datang menghampiri. “Gimana lancar?” tanyanya.


Kami semua saling menatap. “Nanti kami ceritakan,” jawab kami serentak.


“Ha ha ha ... kompak banget.” Dia tertawa.


“Ahmad, Fardi! tolong bantu sini,” panggil guru Subhan.


Saat itu aku juga hendak ikut membantu. “Handak kamana kam, hibak calimut tanah ni kana orang kina, buhannya handak menyembahyangakan (Mau kamana kau, banyak tanah menyelimuti tubuhmu, nanti kena orang, mereka 'kan mau mensholatkan),”  tahan Ogi seraya menarik bahuku.


“Oh iya lupa.”


Ahmad, Fardi, Jolak Olim dan Zainal saat itu membantu mengangkat peti jenazah. “Mari yang lain juga ikut bantu membawanya ke Langgar (Moshola), kita sama-sama segera mensholatkan,” pinta guru Subhan.


“Jangan di Langgar, kita sholatkan di rumahku saja,” tahan Zainal tiba-tiba membuat mereka terhenti.


“Ai kanapa? baik di langgar ai nyata luas (Loh, kenapa? lebih baik di langgar, lebih luas),” sahut Fardi.


“Benar kata Fardi, supaya semua bisa mensholatkan, kalau dirumahmu nanti gak muat,” balas guru Subhan.


“Gak papa Guru, biar dirumah saja,” ucap Zainal membuat yang lain heran dan bertanya-tanya satu sama lain.


Kulihat Julak Olim menghampiri keluarga jenazah, yang terdiri dari sang istri dan anaknya. “Bagaimana Bu, mau dirumah atau di Moshola saja?”


Mereka berdua sempat terdiam memikirkan. “Dirumah aja ya? supaya tidak mengotori Moshola,” sahut Zainal.


“Loh mengotori gimana, bukannya jenazah sudah dimandikan, apalagi sudah siap untuk dikuburkan. Saharusnya sudah bisa-” ucap guru Subhan terlihat sedikit marah.


“Tidak apa-apa Guru, kalau bisa langsung dimakamkan saja jenazah ayah saya, kerna di sana juga sudah kami sholatkan,” potong anak dari keluarga jenazah itu.


“Tapikan orang yang mensholatkan hanya sedu-” sahut sang ibu.


“Tidak apa-apakan Bu, kalau kita langsung makamkan saja?” potongnya lagi dan sang ibu pun hanya mengangguk.


Kupikir sang anak ada benarnya. kerna mungkin sang ayah sudah sangat ingin selesai dari sagala urusan dengan dunia ini, termasuk menyangkut masalah jasadnya itu.


“Baiklah jika itu kemauan keluarga. Kalau gitu langsung kita bawa saja ke pemakaman,” ucap guru Subhan.


Saat sampai di dekat galian, kulihat keduanya nampak tak senang dengan kuburan yang kami gali itu. “Kenapa menggali di sini, bukannya di sana bisa lebih dekat dari kuburan lain. Inikan berada di ujung,” ucap mendiang istri seraya memandangi aku dan Ogi.


“Maaf Cil, sudah kami cobai handak manabuk di situ, tapi banyak makam lama sakalinya. Tuhuk kami mancari pas dapatnya entang sini ja (Maaf Bu, kami suda coba menggali di sekitar situ, tapi ternyata banyak makam lama. Sangat sulit kami mencari, dan dapatnya cuma sekitar sini),” jawab Ogi.


“Iya Bu kami benar-benar minta maaf, kami sudah berusaha,” sahutku.


“Ini juga liat! kenapa kuburannya berair?!” sambungnya marah.

__ADS_1


Kami berdua cuma bisa diam takut dan bingung mau jawab apa. “Bukannya saya mau ngebela mereka, tapi tanah di daerah kami adalah daerah redah atau tanah rawa, jadi sudah sewajarnya berair. Ibu juga bisa liat sendiri kuburan di sini bersebelahan dengan Handil (sungai kecil),” jawab guru Subhan seraya menunjuk handil tersebut.


“Seluruh warga di desa kami, tidak pernah mempermasalahkan hal itu, kerna memang keadaan tanah kami memang begini. Ini tidak akan mempersulit atau memperlambat penguburan jenazah. Yang meminta untuk membuat tabala juga saya, agar posisi jenajah tidak berubah ketika proses penguburan,” sambung guru Subhan.


Keduanya sangat perhatian mendengarkan. “Lagi pula kering atau berair tidak akan ada bedanya, kerna itu hanyalah sebuah jasad kosong, jadi yang kita lakukan adalah mendoakan ruh beliau agar semua amalnya diterima.”


“Benar kata Guru Bu, yang terpenting adalah mendoakan ayah,” ucap sang anak juga ikut menenangkan.


Walaupun keduanya menerima, namun saat kulihat lagi mereka masih terlihat sedih. “Kami serahkan bagaimana bagusnya saja Guru,” pintanya.


“Ahmad. Ayo, bisa segara Azan,” pinta guru Subhan.


Ahmad pun segara melantunkan azan di iringi dengan kami yang perlahan menenggelamkan tabala itu. Aku, Ogi, Fardi, Zainal, dan Julak olim menekan tabala itu dengan sebelah kaki kami agar bisa tenggelam ke dalam kubur.


Sedangkan beberapa yang lain, ikut menimbunkan bongkahan tanah hasil galian itu untuk dijadikan sebagai pemberat, agar tabala itu segera tenggelam ke dasar.


Suara air yang masuk ke dalam tabala membuatku sedikit merasakan ngeri. Kalian pasti bisa membayangkannya sendiri, bagaimana suara dari setiap rongga-rongga peti jenazah itu kemasukan air, hingga membuat gelembung-gelumbung timbul kepermukaan dengan sangat cepat.


Aku yakin kalian yang melihatnya pasti ikut merasakan takut. Apalagi aku yang terus menekan peti itu dengan sebelah kaki, yang mana terus terbayangkan bagaimana jadinya jika sebuah tangan menangkap kakiku dan menarikku ke dalamnya. Kalian pun pasti tahu bagamana jadinya diriku.


Kini Air yang menggenang di kuburan itu telah melimpah ruah ke sekitar. Beberapa orang yang berdiri di sekitar segara mencari pijakan lain agar tidak ikut kebasahan. Setelah azan, Ahmad segera memimpinkan untuk membaca Yasin dan dilanjutkan Tahlil sampai penguburan itu selesai.


Semua tanah hasil galian talah habis untuk menutup rapat kuburan itu, hingga membentuk gondokan tanah memanjang. Semua orang berjongkok sambil mendengarkan guru Subhan membacakan Talqin. Semua Orang nampak sangat khusuk mendengarkan.


•••••••


Orang-orang yang ikut proses pemakaman kini telah pulang, yang tersisa hanya aku, Ogi, Fardi yang sedang membersihkan diri di handil.


“Jaka bulik ha, nyata nyaman mambasuh awak di rumah kawa pakai sabun (mending pulang, jelas mudah membersihkan diri di rumah bisa pakai sabun),” ucap Julak Olim pada kami terlihat masih berlumuran tanah.


“Inikan cuma sementara supaya agak lebih bersih, ketimbang situ penuh tanah,” jawab Fardi yang sedang berendam di handil itu dengan tanah yang juga masih menempel di hidungnya.


Kami berdua dibuat tertawa melihat kelakuan keduanya. “Iya-iya, kalau gitu duluan,” balasnya tersenyum kemudian pergi.


“Umaaa raminya balumba (waduh asiknya berenang),” ucap Ahmad di motornya juga hendak pulang.


“Ayo ikut sini, sambil mengenang masa kecil yang suka mandi di sungai, sampai bau bulanak (Tanah liat),” ajak Ogi.


“Eh nggak ah, nanti bau bulanak!” balasnya membuat kami mentertawakan tingkahnya yang terlihat geli.


“Ahmad!” Tiba-tiba Zainal memanggil.


“Suruh yag lain juga segera ke sini, ada yang mau mereka bicarakan,” sambungnya.


“Tuh dengar, Ayo cepetan,” pinta Ahmad pada kami.


Kami pun segera menyusulnya. “Ini ada sedikit hadiah untuk kalian, kami sangat berterima kasih kerna telah membantu mengubur, hingga rela kotor dan juga mendoakan almarhum. Mohon diterima ya,” ucap sang anak memberikan amplop pada Ahmad dan Fardi.

__ADS_1


Mendiang Istri pun juga ikut memberikannya kepada kami. “Maaf ucapanku tadi sedikit kasar pada kalian, aku sangat berterima kasih pada kalian berdua.”


“Nggak papa Bu, kami juga sangat berterima kasih,” jawabku.


“Semoga almarhum tenang di alam sana,” sahut Ogi. Sang mendiang pun hanya mengangguk dan tersenyum.


Saat itu aku tidak sengaja menoleh pada Zainal yang juga sedang di kasih tiga buah amplop. “Yah nanti aku akan kasih kepada mereka berdua,” ucapnya.


Pikirku mungkin itu akan diberikan kepada guru Subhan dan Jolak Olim, tapi satunya aku bingung untuk siapa. “Yo Sir kita juga pamit pulang. Tuh liat Ahmad dan Fardi sudah mau pulang,” panggil Ogi membuatku terkejut.


“Oh Iya tentu,” jawabku seraya berjalan mengirinya.


Namun aku tidak sengaja melihat kakiku yang ternyata masih ada tanah menempel. “Gi duluan saja! Aku mau ke handil dulu sebentar!” ucapku segera berpaling.


Saat aku mencuci kaki, aku iseng melihat kearah kuburan baru itu, sekedar melihat sekitar sapa tau ada yang ketinggalan, namun tidak ada apa-apa.


*Tik! Tiba-tiba suara air menetes terdengar begitu nyaring ditelingaku, entah kenapa aku malah sepontan memandang ke arah kuburan baru itu.


Sesuatu yang samar terlihat hitam berdiri tepat di atas kuburan itu. Sesuatu yang terlihat hanya seperti bayangan.


*Tik! suara itu kembali terdengar nyaring, namun kali ini aku melihat ada sesuatu yang menetes dari bayangan hitam itu. Aku mencoba menyipitkan mataku untuk mempertajam penglihatan.


*Tik! suara itu semakin nyaring saja.


*Tik! Aku melihatnya, sesuatu berwana merah terus menetes dari bayangan itu.


*Tik Tik Tik!


*Krakss! Tiba-tiba sepotong tangan jatuh ke atas nisannya di iringi semburan darah.


“Akhh!” Aku berteriak seketika.


“Sir! Sir!” teriak Ogi memanggilku.


“Eh apa!” Aku kembali dibuat kaget.


“Kenapa dipanggi-panggil gak jawab, udah dari tadi di panggil malah bengong liat tuh kuburan. Nih sekarang kenapa coba malah ngos-ngosan.”


Aku terentak sadar, nafasku tidak teratur, mulutku terasa kering berusaha menelan ludah yang hampir tidak ada airnya. Aku bahkan tidak ingat kemana pikiranku beberapa detik yang lalu, sampai tidak menyadari kondisi tubuhku sendiri.


“Sir, ada apa?” tanyanya lagi terlihat cemas.


“Huhh hahh ... Cepat ambil motor dan kita segera pulang,” pintaku bergegas menghampirinya.


“Ini aku sedang duduk dimotor, kau kanapa sih?” jawabnya heran sekaligus penasaran.


Aku bahkan tidak sadar kalau dia sudah siap untuk pulang. “Nanti kuceritakan!” ucapku segera ngebonceng.

__ADS_1


“Yaudah terserah kau saja,” balasnya segera tancap gas.


-Bersambung-


__ADS_2