
Saat itu sudah selesai sholat Magrib yang di imami oleh kaum langgar bernama Haji Sabran, aku baru ingat bahwa malam ini adalah malam jum’at dan sesudah Magrib kami membaca Burdah bersama-sama.
Kulihat anak-anak dan remajanya sangat bersemangat dan bersuara nyaring ketika irama bacaan diubah, sampai mendekati akhir pun mereka masih bersemangat. Setelah selesai Burdah kami pun melaksanakan shalat Isya berjamaah sampai selesai dan dilanjutkan pergi bersama keacara Tasmiah.
“Mang! Apa tu Mang terbang di atas rumah Amang Anang!” teriak Pihan ketika hampir sampai ke rumah Majid, dia terus menunjuk ke gudang gilingan padi.
“Jangan-jangan kuyang Mang!” ucap Isar ikut teriak membuat anak-anak ketakutan
Kami semua terkejut dan memandang ke arah yang ditunjuk, saat itu kami lihat seperti ada yang melayang-layang di antara pohon pisang, namun samar-samar membuatku tak begitu yakin bahwa itu kuyang.
“Mungkin itu cuma daun pisang yang terkena angin,” ucap Haji Sabran agar anak-anak tidak takut.
Mendengar itu aku pun teringat cara menjatuhkan kuyang yang sedang terbang sekaligus berniat mencoba menghibur yang lain.
“Coba kalian kawai pakai kupiah (lambai dengan peci),” ucapku menyuruh mereka, namun tak ada yang berani.
Aku pun melepas kupiah yang aku kenakan dan melambaikannya ke arah sesuatu yang melayang itu, betapa mengejutkan setelahnya sebuah gumpalan hitam melayang berusaha naik ke atas membuat kami melihat dengan jelas sosok kuyang yang sesuai dengan diceritakan Majid dan ibu Lala.
Saat itu kuyang itu tiba-tiba jatuh ke bawah rindangnya pohon pisang yang ada di belakang gudang gilingan padi, remaja dan anak-anak langsung lari ke arah rumah Majid sambil berteriak kuyang.
Aku ingin sekali ikut lari, akan tetapi malu dengan Haji Sabran yang terlihat tenang, Saat itu Majid berlari ke arah kami sedangkan warga lain diam heran menatap kami dari jauh.
“Ada apa?! Kenapa anak-anak teriak kuyang?” tanya Majid terlihat cemas.
“Oh enggak apa-apa, tadi sepertinya cuma plastik hitam melayang kerna angin,” jawab Haji Sabran berbaik sangka, aku pun hanya mangangguk setuju.
"Syukurlah, kirain benaran ada kuyang," jawabnya terlihat senang.
"Ayo mari langsung ke rumah saja, acaranya udah mau mulai," sambungnya mengangajak.
Saat sampai, dia menyuruh masuk ke rumah, saat itu Haji Sabran menerima, sedangkan aku ikut yang lain duduk di ambin (teras).
••••••••
Setelah itu acara berjalan dengan lancar hingga selesai, beberapa warga sudah kembali pulang, namun aku masih berdiam diteras bersama Majid dan Julak Roni. Julak adalah panggilan kakak dari orang yang lebih tua.
“Kalian sudah dengar gak kisah kuyang di sebrang?” tanya Julak Roni tiba-tiba, padahal saat itu bercerita tentang persawahan.
“Belum dengar gimana tuh ceritanya,” jawab Majid.
“Katanya saat itu ada satu orang laki-laki dari jauh meminta bermalam di rumah dekat kuburan, tuan rumah itu wanita 30 tahunan sedang sendiri kerna tidak ada suaminya, namun dia tetap menerima laki-laki dari jauh tadi."
"Saat malam pukul 11, tiba-tiba, di saat tidur lelaki itu merasakan rumah itu bergetar kaya gempa dan hanya berlangsung sebentar. Dia mencoba bertanya kewanita itu yang ada di sebelah kamar yang dia tempati, kamar itu terbuka setengah dan terlihat diranjang tidak orang, dipanggil-panggil pun tak ada jawaban."
"Nah pas dia masuk ke kamar ternyata pintu itu seperti terhalang oleh sesuatu, saat dia lihat justru sebuah badan tanpa kepala tersandar dibalik pintu, dia sangat kaget, dan sempat mengira itu malah pembunuhan. Dia pun mencoba melihat-lihat dan malah menemukan organ dalam perut sudah tidak ada.”
“Loh kok bisa gitu?” tanyaku penasaran.
“Lelaki itu baru sadar bahwa sepertinya wanita itu penganut ilmu hitam kuyang.” Jawab Julak Roni tegas.
“Terus gimana perasaan lelaki itu,” sahut Majid.
__ADS_1
“Yah takut lah, tapi kerna sudah terlalu malam dia memutuskan untuk tetap tinggal dan berpura-pura tidak tahu, walaupun dengan rasa gelisah dan akhirnya tertidur sampai pagi. Nah anehnya pas bangun, dia malah tidur dikuburan.”
Sontak saja aku merinding dan kulihat Majid bergedek ngeri.
“Mendengar cerita seram ini aku jadi takut, kalau gitu aku mau pulang dulu,” ucapku membuat Julak Roni melihat jam tangannya.
“Oh iya udah jam sepuluh aku mau pulang juga Jid, mau di antar gak, sapa tau kamu malah ditunggu kuyang,” kata julak Roni manatap mencandaiku.
“Tidak perlu, lagi pula rumah kita berlawanan,” balasku.
Aku pun berjalan pulang dan saat itu julak Roni memakai sepeda motor lebih dulu, agak sedikit menyesal aku menolaknya, walaupun itu seperti bercanda, tapi jika kupinta dia pasti mau mengantar.
Saat aku melalui rumah Anang aku teringat soal kuyang tadi, namun bau tiwadak tercium harum menggoyahkan pikiranku. Pohonnya berada dipinggir jalan tidak jauh dari rumah Anang yaitu tepat searah dengan rumah sesepuh desa yang ada di sebelah rumahnya.
*Debugh …
Sebuah benda jatuh di pohon tiwadak itu, dipikiranku tentu itu pasti buahnya yang sudah matang. Aku penasaran dan berlari mendakatinya kerna yang kulihat dari jauh cukup besar tidak seperti biasa.
Saat aku berada sangat dekat, alangkah terkejutnya aku ketika yang kulihat justru sebuah kepala dengan rambut panjang, bahkan ada gompalan organ yang bergerak serta usus yang melilit panjang.
“Hiks … hiks … mas antarin aku pulang,” ucapnya menangis tersedu-sedu.
Aroma darah segar menusuk hidungku, suara tengisan lirihnya menghujam telingaku, kaki pun bergetar ketakutan. Aku berjalan mundur perlahan bersiap hendak lari.
"Tolong ... aku tidak bisa lagi pulang sendiri hikss ..."
Aku hanya diam terus mundur, langkah demi langkah pelan. Tabir awan yang menutup bulan bergeser, cayahanya pun tembus melalui dedaunan, bayanganku pun terbentuk melindungi kuyang itu.
Mata tajam itu tiba-tiba menatapku. "Kau harus tanggung jawab!" teriaknya begitu marah menjadikanku seketika ketakutan dan berlari secepatnya.
"Ha ha ha ... ha ha ha ... ha ha ha ..." tawa menyaramkan itu begitu menakutkan.
Rasanya sulit untuk bernafas ketika aku lari sambil merasakan kengerian merayapi tubuhku, tenganku tak hentinya bergetar, telingaku terasa panas hingga kapala dan ubun-ubun. Meski demikian aku akhirnya sampai dirumah, beruntung rumahku hanya sekitar 200 meter dari rumah Majid dan Anang. Aku sempat beristirahat menenangkan diriku yang kelehan di teras rumah.
“Aaaaa …!” teriak istriku dari dalam rumah.
Mendengar itu aku langsung masuk ke rumah dengan pintu yang tak terkunci, kulihat istriku berlari ketakutan keluar dari kamar langsung menuju arahku dan memelukku.
“Ada kepala Kak! ada kepala!” teriaknya menunjuk kamar.
Tiba-tiba terdengar tangisan membuatku seketika terperangah, pikiranku tertuju pada kuyang itu. Tenganku kembali bergetar, aku pun seketika meremas bajuku untuk menahan getaran ketakutan itu.
Apa boleh buat aku memberanikan diri untuk masuk ke kamar kami berjalan perlahan dan suara tangisan itu terus bertambah nyaring memekakkan telinga ketika semakin ku mendekat. Benar saja, itu adalah sebuah kepala yang kulihat tadi, kali ini, justru semakin jelas memperlihatkan onggukan organ-organ dalam perut yang berdetak dan bergerak seperti menggeliat.
Paru-parunya dan ususnya terlihat sangat jelas sedangkan jantung dan organ lain tertutup rambut panjangnya, wajahnya pun sangat menakutkan. Bagaimana tidak, wajah pucat pasi seperti orang tak memiliki darah terpampang jelas menatap tajam meski menangis berlerai air mata, gertakan giginya terdengar, dia terlihat manahan amarah yang begitu manakutkan.
“Tanggung jawab! hiks … kamu sudah membuatku tak bisa terbang lagi!" teriaknya menatap tajam.
“Aku tidak mau, kamu yang salah, kenapa kamu meneror warga sinih!” jawabku bergetar ketakutan.
“Kalau kamu gak mau, aku akan diam di sini semalaman, terus menangis agar kamu tak bisa tidur.”
__ADS_1
“Biar saja kalau perlu aku panggil orang-orang agar menangkapmu.”
“Ha ha ha ... ha ha ha ... ha ha ha ..." Lengkingan tawa itu menusuk telingaku.
"Kalau aku mati gara-gara itu kalian akan aku hantui terus menerus!” teriaknya mengancam.
Mendengar itu aku benar-benar ketakutan dan mau tidak mau aku menuruti perintahnya. Bayangkan saja seorang manusia tanpa tubuh dengan organ-organ perut terpampang jelas, berbicara dengan mudahnya di hadapanku, ditambah lagi dengan wajahnya yang sangat menakutkan.
Aku bingung harus seperti apa membawanya, rasanya tidak mungkin aku membawanya secara terang-terangan, bisa-bisa aku yang dihakimi warga kerna disangka telah bekerjasama dengan kuyang.
Aku sempat keluar dari kamar dan menanyakan kepada istriku prihal itu, dia menyuruhku membawanya dengan bakul yang terbuat dari anyaman tanaman, tanpa pikir panjang aku pun menyetujui hal itu.
Setelah mengambil bakul aku menyuruhnya untuk masuk sendiri ke dalam, tetapi dia malah menyuruhku untuk memasukannya sebagai tanggung jawabku.
Aku tak mau berlama-lama melihatnya yang mengerikan, dengan cepat aku memegang bagian kepala mengangkatnya sambil memajamkan mata, lalu kumasukkan kebakul. Rasanya kakiku mati rasa, bergetar tak karuan, aku berpikir harus segera mengantarnya agar aku tenang.
•••••
Setelah itu Saat berkendara dijalan aku meletakkan bakul itu di depan diantara pahaku agar dia bisa menunjukkan jalan rumahnya, selama perjalanan aku sama sekali tidak berani menatap ke bawah, mataku lurus ke depan, aku sempat membayangkan saandainya aku melihat ke bawah kutakutkan aku melihat dengan jelas bentuk yang mengerikan darinya yang mungkin akan membuatku teringat berminggu-minggu.
Kuyang itu menyuruhku untuk ke sebrang dan akhirnya sampai ditempat rumahnya. Kulihat rumahnya berada didekat kuburan dan sangat sepi, tidak ada rumah yang lain, disisinya cuma kuburan dan pohon karet.
Aku segera mengangkat bakul itu dengan kedua tangan sambil berlari masuk ke rumahnya dan langsung ku letakkan di tengah ruangan begitu saja.
Dengan sigap aku berpaling berlari cepat dan malah melihat sebuah badan tanpa kepala tersandar dibalik pintu. Aku berteriak menambah kecepatan lari dan segera menaiki kendaraan, namun kacau, kendaraanku malah mogok gak mau nyala.
“Mas … bantuin aku memasang kepalaku Mas ...” ucapnya dengan nada menggodaku.
Aku hanya diam terus berusaha menghidupkan kendaraanku yang tak kunjung menyala.
"Mas ... ayo sebentar bantu aku, Mas ... Mas ... Mas ...! MAS!" Dia berteriak sangat kencang.
"Akkhh ... Aakhhh ... Aakkhhh!" Aku berteriak sangat ketakutan.
"Ha ha ha ... ha ha ha ... ha ha ha ...!" Lengkingan tawa itu jelas mentertawakanku, dia terdengar sangat menikmatinya.
Aku terus berusaha menyalakan motor bahkan memukul-mukul kendaraanku saking paniknya, terus menghidupkan kendaraan, meski kakiku terluka dan mangeluarkan banyak darah kerna terkena benturan. Sampai akhirnya kendaraanku berhasil menyala, aku segera tancap gas meninggalkan rumah itu
••••••••
Sesampainya di rumah kulihat istriku masih terjaga dia begitu ketakutan, aku menyuruhnya untuk tidur saja dan mengambilkan bantal ke kamar, kulihat bakas tempatnya berada, masih basah dengan cairan merah dan gumpalan darah kecil. Saat aku memberikan bantal itu dia menolak dan menyuruhku meletakkannya kembali.
Hampir semelaman aku tidak bisa tidur kerna mengingat itu semua, istriku bahkan ketakutan kerna mencemaskan kalau-kalau kuyang itu kembali lagi, saat itu aku menyuruhnya untuk tidur saja dan jangan menghiraukan itu.
Aku juga bilang aku tidak akan tidur dan dia pun terlihat tenang hingga bisa tertidur, namun ternyata rasa ngantuk yang berat tak bisa lagi kutahan hingga akhirnya juga ikut tertidur.
Besoknya aku bertanya kepada amang warung yang sering berbelanja bahan melewati tempatku mengantar kuyang itu, aku lagi-lagi dibuat kaget kerna di sana hanyalah kuburan tak ada rumah.
Aku pun mengetahui sesuatu, kupikir itu hanyalah tempat dia melatakkan tubuhnya saja agar keluarganya tidak tahu kalau dia adalah jelmaan kuyang, sedangkan rumah yang kulihat itu mungkin adalah ilusi yang dia buat.
Sampai saat itu kuyang yang sering terlihat di desa sudah tak terdengar lagi selama beberapa hari, namun aku tidak tahu bagaimana selanjutnya, yang bisa kuharapkan aku tidak mau lagi bertemu dengan makhluk seperti itu.
__ADS_1
-Selesai-