
...Chapter V...
...Teror Kuyang Tahun 90 an...
“Uma ... kam nih Pihanlah. Maulah itu ja pina bapirutan (Waduh ... kau ini Pihan. Masa membikin itu saja gak rata),” ucap Isar pada Pihan yang sedang membuat lingkaran ditanah dengan sebilah ranting kecil.
“Tidak perlu bagus-bagus, yang penting kita bisa main kelereng disini,” jawab Pihan terus memperbaiki garis lingkaran yang dia buat.
“Sudah-sudah. Itu sudah cukup, jangan terlalu besar, nanti gak kena-kena aku membidiknya,” tegur Fazri seraya mengambil kelereng disaku celana panjang sebelah kiri. Sedang seseorang disebalahnya nampak asik menghitung kelereng yang dia punya.
“Jangan terlalu di hitung Pul, pasti akan habis juga punya kau itu,” ledek Isar.
“Diam saja! Kau itu jangan terlalu banyak bicara. kalau kalah nanti jangan nangis,” balas Ipul tanpa melihat kerna asik menghitung miliknya. Sedangkan Isar nampak tertawa.
Pihan berdiri dan mengambil kelereng di kedua saku celana pendeknya. “Kita Pasang lima kelereng masing-masing!”
“Kebanyakan! Cukup masing-masing satu!” teriak Ipul tak terima.
“Uma ... satu, mayu kamana (Waduh ... satu, mana cukup)!” balas Pihan meremehkan.
Saat itu Isar hanya diam mendengarkan. “Kalau dua kelereng, aku akan ikut!” sahut Fazri dan Pihan malas.
“Nah gini saja. Kita pasang tiga kelereng!” Isar berjongkok sambil meletakkan tiga kelereng di tengah.
“Baiklah kalau begitu. Kita pasang tiga,” jawab Pihan ikut berjongkok sambil menyusun kelereng. Setelah itu Fazri dan ipul yang awalnya ragu pun akhirnya setuju.
••••••
Desa ini, bernama desa Anjir serapat tengah Km 12,5 yang terletak di kabupaten Kuala Kapuas. Ini adalah tempat yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Desa yang sejuk dan udara yang bersih membuat daerah ini selalu nyaman di diami.
Apalagi setiap rumah selalu mempunyai halaman depan yang luas. hal itu menjadikan para anak-anak seperti Pihan dan lainya dengan mudahnya mencari tempat bermain.
Permainan kelikir (kelereng) di sore itu berjalan dengan persaingan satu sama lain. Mereka saling memperebutkan dua belas kelereng yang terpasang di dalam lingkaran sedang.
Pihan memulai aksinya dengan berjongkok dari garis yang telah mereka sepakati untuk melempar kelereng. Dari jarak tiga meter itu, Pihan membidik dengan serius dan berhasil mengenai satu.
Isar terpancing dan mengikutinya, namun sayang kelereng yang menggelinding cepat itu malah mengenai sandal Pihan yang terlepas kerna berlari.
"Hah dasar! Kau ngalangin saja," ucap Isar kesal.
Permainan mereka pun berlanjut dan semakin kolot, kerna yang tersisa hanya tiga untuk diperebutkan. Masing-masing dari mereka sudah mengantungi tiga kelereng.
Sayang bagi Ipul. Dia tidak mendapat satu pun, kerna bidikannya selalu lepas. Merasa akan kalah Ipul mulai bertindak curang. Dia memulai aksinya dengan membidik bukan pada letak terakhir kelerengnya berada agar jadi lebih dekat dari sasaran.
Ketekunannya berhasil dan akhirnya mengenai satu. Dengan begitu, dia punya peluang untuk mengambil kelereng milik salah satu dari mereka, yang telah berhasil mengantungi masing-masing tiga.
Kelereng milik Ipul terus menggelinding dan mendakati milik Fazri. “Sik!” teriak Ipul sambil menyingkirkan dedaunan yang mengahalangi dengan kakinya.
Sik adalah istilah yang di gunakan untuk menyingkirkan semua halangan, seperti sampah-sampah kecil agar bisa membidik sasaran dengan mudah.
Mereka yang lebih dulu mengatakan Sik, maka akan mempunyai hak penuh untuk menyingkirkan semua sampah yang akan membuat kelereng melenceng dari arah yang diinginkan, kerna terbentur dedaunan atau ranting kecil yang menghalangi.
Beda jika pihak musuh lebih dulu berucap “Kada Sik (tidak Sik).” Maka kita tidak punya hak untuk menyingkirkan semua halangan. Bahkan tidak jarang juga ada yang sengaja melatakkan sesuatu untuk mengahalangi kelereng miliknya agar tidak menjadi sasaran.
Ipul terus menyingkirkan semua halangan hingga membuat debu beterbangan. “Debu Pul!” tegur Pihan berteriak sambil mengibas semua debu yang mengarah kewajahnya. Sedangkan Isar segera berdiri menghindar.
Fazri yang berdiri tak jauh dari Ipul sontak saja membuatnya memejamkan mata sambil mengibas debu-debu itu. Melihat peluang Ipul segera membidik dan menganai kelereng Fazri. “Kena!" teriaknya begitu senang.
"Ha ha ... sini mana tiga kelereng punyamu!” Ipul menengadahkan tangan meminta. Pihan dan Isar mereka terkejut tak sadar apa yang terjadi.
“Curang! Tadi aku melihatmu melakukannya!” tegas Fazri.
“Curang apanya. Sudah jelas aku mengenai punyamu!”
“Kada! Tadi aku melihat sedikit. Ikam mauntingnya kada ditempatnya (Tidak! Tadi aku sedikit melihatnya. Kau membidik tidak di tempatnya)!.”
“Emang gimana Zi?” tanya Isar.
“Tadi Ipul melakukannya seperti Ini!” Fazri memperagakannya sesuai dengan yang ipul lakukan. Yaitu satu langkah lebih dekat dari kelereng Fazri.
Melihat mereka yang mulai mempercayai Fazri, dengan cepat Ipul merebut paksa tiga kelereng yang Fazri letakkan ditanah tak jauh darinya. Sontak saja, Fazri segera merebut paksa di genggaman Ipul yang semakin erat. Sambil menggigit bibirnya sendiri, Fazri terus merebut paksa dan sesekali berteriak marah.
Melihat mereka berdua yang semakin menjadi-jadi. Isar dan Pihan segera melerai. “Ampihan ja sudah kita main mun kini (Kita sudahi saja main kalau seperti ini)!” ucap Isar seraya berdiri di hadapan mereka berdua. Sedangkan pihan menahan Fazri di belakang.
“Oo ... Pihan! kanapa kalian sangat berisik,” panggil seorang kakek yang baru keluar dari rumah.
“Anu Kai (Kakek). Fazri sama Ipul bertengkar,” jawab Pihan sambil menunjuk.
“Ini si Ipul main kelereng curang!” sahut Fazri menunjuk Ipul.
“Kadada Kai ai. Inya kalah dapat ulun maka sarik (Tidak Kakek. Dia kalah kerna saya malah marah),” jawab Ipul.
“Bohong! Tadi ulun melihatnya.”
“Kalau main itu jangan bertengkar. Apa lagi berbuat curang. Kalian ini 'kan masih anak-anak, jadi nikmati saja asiknya bermain dengan teman sebaya. Saling menghargai dan tolong menolong sesama teman, jangan saling mengejek. Misal pun bertengkar, jangan lama-lama, segeralah bermaafan. Nanti kalau tidak, malah gak punya teman,” tegur kakek Rusdi memandangi mereka semua.
__ADS_1
“Han dangarakan jar kai tuh (Tuh dengarkan apa kata kakek),” Isar ikut menasehati.
“Nih ambil kelerengmu,” sorong Ipul pada Fazri.
Fazri pun mengambilnya. Lalu Ipul berjalan mengambil dua kelereng yang tersisa. “Loh kenapa di ambil Pul, 'kan belum selesai,” tegur Pihan.
“Kan kata Isar kita sudahi saja. Artinya permainan kita batalkan,” jawab Ipul dengan mudahnya.
“Lah!” Isar dan Pihan menatap heran.
“Kalau gitu mari duduk bersama, kakek mau cerita hantu pada kalian,” panggil kai Rusdi.
“Mantap Kai!” teriak Pihan bersemangat, berlari menuju kai Rusdi yang telah duduk santai di teras rumahnya.
Isar pun mengikuti Pihan, lalu disusul oleh Fazri dan Ipul yang masih sedikit canggung. Meski begitu, mereka pun duduk menghadap kai Rusdi dengan perasaan senang. Tentu saja mereka senang kerna kai Rusdi selalu punya cerita yang seru untuk mereka semua.
“Saat itu sekitar tahun 90 an. Pernah terjadi suatu kejadian, di mana kuyang dengan mudahnya menampakkan diri, membuat takut para warga yang melihatnya,” ucap kai Rusdi mulai bercerita.
•••••••••
Flashback on
Saat itu Pagi hari di persawahan handil mantat. Suara langkah kaki di air setinggi lutut terdengar nyaring. Banyak orang yang berjalan memakai pakain bernoda bekas lumpur, pakain yang serba panjang tertutup.
Dikepala mereka terdapat tupi purun juga tanggui dari daun rumbia bagi wanitanya. Dari wajah mereka terlihat jelas, bedak tebal yang menyelimuti agar wajah tak terkana sinar matahari langsung.
Tanggui merupakan topi khas Banjarmasin yang berukuran besar, terbuat dari daun nipah atau rumbia. Biasanya, tanggui dipakai oleh petani maupun orang-orang yang sedang menggunakan alat transportasi air tradisional yakni jukung atau kelotok.
Selain itu, tanggui juga acap kali dipakai sebagai penutup kepala para pedagang di pasar tradisional, contohnya di pasar terapung.
Kai Rusdi saat itu berada di sebelah persawahan mereka. “Kai!” sapa salah satu dari mereka yang baru saja datang.
“Oh Roni. Mau Baariankah?” tanya kai Rusdi.
“Inggih, cuma setengah hari saja,” jawab Roni yang saat itu berumur 21 tahun.
Kai Rusdi mengangguk lalu melanjutkan menanam padi bersama Istrinya. Sedangkan orang-orang tadi terus berjalan menuju batas tanah di depan.
Baarian adalah istilah yang digunakan untuk menanam padi atau pun saat panen secara beramai-ramai. Sang pemilik sawah akan mematok upah sesuai yang sering disepakati.
Setelah itu, mereka yang dipekerjakan akan mengerjakannya bersama-sama. Dengan sifat gontong royong itu lah, tidak perlu menunggu lama, persawahan pun akan selesai di tanami padi.
Para rombongan baarian itu pun telah sampai sejajar dengan tanaman padi milik kai Rusdi. Mereka semua pun beristirahat di atas gundukan tanah yang dibuat sebagai pembatas yang disebut bantangan. Sang pemilik sawah, yaitu haji Sabran mulai membagikan nasi bungkus pada mereka.
Saat itu kai Rusdi juga ikut beristirahat, lalu dihampiri oleh haji Sabran. “Nih kai nasi bungkus untuk pian (kamu),” sorongnya dua bungkus.
Roni dan satu orang lainnya juga ikut mengahampiri mereka dan makan bersama. “Katanya, di kampung kita mulai banyak kuyang berkeliaran,” ucap Salim teman Roni.
“Tuh si Zainal, saat pergi kerja, malah lihat kuyang terbang di atas atap rumah Agus dan Ogi,” jawab Roni.
“Emang Zainal kerja apa hingga pergi malam?” tanya kai Rusdi.
“Dia kerja di pabrik gilingan padi yang kerjanya ketika malam hari. Nah dia lihat itu malam kemarin. Katanya, bentuknya benar-benar gak karuan,” jawab Roni.
“Dikampung sebelah juga ada yang lihat. Mana sampai masuk rumah lagi katanya,” sahut salim membuat mereka kaget bukan main.
“Kayapa sawat masuk rumah. Nampak banar saku malihat (gimana bisa masuk rumah. Jangan-jangan sangat jelas melihatnya)?” Haji Sabran menatap penuh ingin tahu.
“kejadiannya beberapa hari yang lalu. Jadi si pemilik rumah ini telah selesai melahirkan. Kerna saat itu mati lampu, jadi malah terasa pengap dan panas. Sang suami pun membuka pintu jendela supaya sang istri bisa terkena angin dan merasa sejuk."
"Ehh ... bukannya angin yang yang masuk, malah seonggok kepala berambut kusut yang menenguk dari jendela terbuka,” ucap Salim bercerita.
“Lalu, apa yang terjadi?” Kai Rusdi ikut penasaran.
“Sang Istri terkejut dan mengira itu tetangga sebelah rumah, begitu juga suaminya. Lalu suaminya ini berjalan kembali menuju jendela untuk menyapa dan memberi tahu kabar bahagia," jawab Salim.
"Tiba-tiba, sang suami ini seketika terduduk ketakutan, ketika seonggok kepala berambut kusut itu malah terbang meninggi dan memperlihatkan isi perut yang tercurai. Tidak sampai di situ. Kuyang ini malah terbang masuk lewat jendela," sambungnya.
"Saat itu, bidan berlari keluar memanggil orang-orang bersama bayi yang dia gendong, bahkan sang suaminya tadi malah ikut juga meminta tolong.” Salim terus melanjutkan.
“Berarti di tinggalkan sendirian dong istrinya.” Roni mencemaskan.
“Iya! Maka dari itu si bidan tadi menegurnya dan menyuruhnya kembali. Beruntung saat suaminya kembali, kuyang itu sudah tidak ada. Sedangkan sang istri yang tak bisa berbuat apa-apa cuma merengkuk ketekutan," balas Salim
"Jadi gimana, apa istrinya baik-baik saja?" tanya haji Sabran.
"Syukurlah tidak terjadi apa-apa. Tapi katanya, dia mendengar suara seperti orang minum,” jawab Salim membuat mereka semua bergidik ngeri.
“Jadi kuyang tadi sudah pergi dan tidak ada yang tahu kemana?” tanya haji Sabran lagi.
“Kerna para warga sudah berdatangan, jadinya kuyang itu pun melarikan diri. Menurut pengakuan salah satu warga sana, dia sempat melihat kuyang itu menghilang di rindangnya kebun karet,” jawab salim.
“Syukurlah tidak terjadi apa-apa. Mudah-mudahan di kampung kita tidak terjadi seperti itu,” ucap kai Rusdi dan diangguki mereka.
Mereka yang telah selesai makan pun mulai melanjutkan bekerja, termasuk kai Rusdi dan yang lainnya hingga menjelang dzuhur.
__ADS_1
Sawah milik haji Sabran pun telah selesai ditanami padi, yang tersisa hanya tempat anak padi yang di gunakan sebagai bibit. Para rombongan itu pun mulai pulang bersama-sama.
Saat itu kai Rusdi juga beranjak pulang menyusul istrinya yang lebih dulu pergi ke depan, menuju jalan utama Handil Mantat. Kai Rusdi melihat istrinya nampak berbincang, namun malah berwajah cemas dan takut.
•••••••
Setelah sore tiba, kai Rusdi dan kedua anak perempuannya pun duduk diteras rumah, sekedar bersantai dari penatnya bekerja dan bersosialisasi antar tetangga.
Ulfah anak kai Rusdi yang paling tua tengah asik mencabutkan uban milik ibunya. Sedangkan adiknya Rabiatul adawiyah masih asik mencuci piring di dapur.
“Kalau ada darah haid di pembalut yang balum dibuang, segeralah buang nanti keburu senja,” suruh sang ibu pada Ulfah.
“Napa garang ma bila kesanjaan (emang kenapa mah kalau senja)?”
“Tadi siang di sawah. Ibu temanmu cerita, kalau anaknya di ikuti kuyang."
"Kok bisa?" Ulfah sangat heran.
"Katanya, anaknya membuang darah haid di waktu senja. Saat membuang itu dia sendirian menuju sungai. Orang-orang dijalan pun sudah sepi, hanya ada beberapa anak-anak pergi kelanggar."
"Ketika sampai di batang. Tiba-tiba suara aneh muncul dari rumput di bebatuan pinggir sungai itu. Saat dia lihat, ternyata malah wajah pucat berambut lurus sedang mengintipnya dibalik dedaunan rumput,” jawab sang ibu sedikit takut.
Secara cepat ulfah berdiri dan beranjak pergi. “Handak kemana (Mau kemana)?”
“Membuang itu!”
“Nanti saja.”
“Tadi disuruh cepat,” jawab Ulfah heran.
“Selesaikan yang ini dulu,” pinta sang ibu menyuruhnya kembali.
•••••••
Malam itu kai Rusdi telah selesai melaksanakan Shalat Isya dirumahnya. Berjamaah bersama keluarganya. Disaat hendak bersalaman. Tiba-tiba dari dapur terdengar suara piring pecah, membuat mereka semua terkejut.
“Coba lihat Ulfah,” pinta kai Rusdi.
“Kau aja Yah,” pinta Ulfah pada adiknya.
“Kenapa aku, kan kamu yang disuruh,” tegas Iyah.
“Kalian berdua coba lihat,” pinta kai Rusdi sedikit nyaring.
Kerna disuruh mereka pun memberanikan diri. Saat sampai di dapur tidak ada satupun piring yang pecah. “Tidak ada mah!” ucap Iyah.
“Coba lihat piring kotor di luar!” jawab si ibu.
Ulfah membuka pintu tempat wadah air sekaligus mereka mandi dan mencuci piring. Mereka takut kerna tempat itu beratap terbuka. Dengan perlahan tapi pasti, Ulfah pun akhirnya bisa melihat dengan jelas satu piring pecah terpisah dari letak lainnya.
“Kuyang-kuyang!” teriak salah satu warga lantang di luar rumah.
Ulfah yang berada diluar seketika melihat ke atas menghadap langit. Seketika itu juga berlari sambil membanting pintu. “Di atas rumah kita!?” tanya Iyah ketakutan.
Ulfah berusaha menenangkan diri. "Tidak ada. Aku hanya ketakutan mendengar mereka berteriak kuyang.” Ulfah mengelus dadanya.
“Kuyang-kuyang!” teriak warga lain lagi.
Kai Rusdi pun seketika berlari menuju pintu keluar. "Tutup semua pintu dan kunci. Aku ingin menyusul yang lain.” Kai Rusdi pun keluar dari rumah, masih dengan sarung dan peci hitamnya menuju warga yang berhamburan di tanah.
“Pergi ke mana kuyangnya?” tanya kai Rusdi pada Roni.
“Para warga lain sudah mengejarnya kearah hulu, tapi beberapa dari mereka sudah kembali kerna kehilangan jejak,” jawab Roni sedikit kewalahan.
“Siapa yang lihat dan di mana?”
“Salim, dia melihatnya terbang dari seberang menuju kampung kita. Dia berteriak memanggil warga lain yang sedang santai di pos. Mereka pun mengejarnya sampai ke sini,” jawab Roni masih kewalahan.
“Sepertinya kita harus mengambil tindakan atas masalah ini. Para warga handil sebelah sudah melakukan jaga malam, setelah kejadian di mana kuyang berani masuk rumah,” ucap salah satu warga tak jauh dari keduanya.
“Kuyang ini sudah sangat meresahkan dan hanya menimbulkan huru hara. Tidak hanya satu, mereka bahkan tidak jarang berlalu lalang dengan mudahnya di atas atap rumah warga,” jawab Roni.
“Mun kitu kita datangi RT untuk memandirakan ngini (kalau gitu kita temui RT untuk membicarakan ini),” saran Kai Rusdi dan mereka pun mengangguk setuju.
Malam itu para warga yang lain ternyata sudah berada di rumah pak RT. Mereka sedang beristirahat dan berbincang. Terlihat juga Salim sedang berbicara dengan RT, melihat itu kai Rusdi dan Roni segera menghampiri.
“Syukurlah Kai datang, kami mau membicarakan masalah ini dengan Kai,” ucap pak RT menyapa lebih dulu.
“Ai napa mahadang aku, buhan kam ja, aku umpat mandangarakan (loh kenapa nunggu aku, kalian saja, aku ikut mendengarkan),” jawab kai Rusdi sedikit kaget.
“Kasih saran saja Kai,” sahut salim.
“Gini saja. Kamu umumkan pada yang lain, siapa yang mau berjaga malam ini denganmu secara suka rela. Nanti, besok baru kita bicarakan bersama masalah giliran berjaga ini.” Kai Rusdi berucap pelan pada pak RT.
Setelah mendengar saran kai Rusdi, pak RT pun langsung mengumumkan pada mereka. Saat itu kai Rusdi ikut mengajukan dirinya untuk ikut berjaga, namun Roni meminta dirinya saja yang menggantikannya, lalu disepakati pak RT dan warga lain.
__ADS_1
Kai Rusdi pun pulang kembali ke rumah bersama warga lainnya. Saat sampai di rumah, ternyata kedua anaknya tidur bersama ibunya kerna ketakutan, alhasil dia pun tidur di renjang anaknya yang mengarah ke dapur.
-Bersambung-