
Sore harinya aku pergi ke pos ronda. Di sana ada Julak Olim, Hj. Agus yang sedang bermain catur. Sedangkan Ogi dan yang lain tengah menonton TV.
“Nah ada Nasir baru datang. Gimana tadi rasanya gali kubur, kata Ogi biasa aja, kalau kamu gimana?” tanya Julak Olim seketika aku sampai.
“Haha agak takut aja, kalo kami malah salah gali kuburan yang ternyata ada orangnya.”
“Mun sawat kitu Sir ai, bisa bukahan buhan kam (Kalau sampai kaya gitu Sir, bisa pada lari kalian),” sahut Hj. Agus sambil mentertawakan.
“Pasti dah,” sahut yang lain, sedangkan aku dan Ogi hanya ikut tertawa kerna mungkin ada benarnya.
“Aku ingin tanya, apa kalian merasakan atau melihat hal aneh saat pemakaman tadi?” tanya Julak Olim seketika serius.
“Kami hanya merasa terkejut soal pemakaman itu, ternyata banyak makam lama yang sudah kehilangan nisannya, makanya kami menggali di tempat itu,” jawab Ogi.
“Maksudku saat kita menenggelamkan tebala itu bersama-sama?” tanya Julak Olim lagi dan kami menggeleng heran.
“Apa terjadi sesuatu?” tanya Ogi.
“Saat kita menenggelamkan peti itu untuk dikuburkan, aku merasa seperti ada tangan yang memegang kakiku,” ucapnya membuat kami semua terkejut, sesuatu yang kutakutkan justru terjadi pada Julak Olim.
“Yang benar kau Lim, ditengah orang berdoa bisa-bisanya hal seperti itu muncul!” ucap Hj. Agus.
“Aku juga tidak menyangka. Saat itu terjadi aku hampir mau lari, tapi aku sadar, jika kulakukan semua orang mungkin akan terkejut dan juga spontan lari sepertiku,” sambungnya bercerita sedangkan kami hanya bisa terkejut dan diam.
“Manurut kalian, apa jengan-jangan ada yang disembunyikan mereka. Coba kalian pikir, untuk apa mereka jauh-jauh menguburkan di tempat kita, kalau bukan kerna jenazah ditolak orang kampung dan terjadi sesuatu pada kematiannya. Aku yakin kalian juga berpikiran seperti itu.”
“Tapi kata Zainal, alasannya kerna agar mereka bisa sering berkunjung ke rumahnya,” jawabku.
“Ada kalo kitu, pandirnya mengada-ngada ja (emang bisa kek gitu, bicaranya cuma mengada-ngada saja),” balasnya tiba-tiba kesal.
“Apa yang dikatakan situ memang masuk akal, tapi emang apa yang bisa kita lakukan soal itu, pemakaman sudah selesai, masa iya kita bungkar lagi,” sahut Ogi.
“Yah kalau memang benar gitu, terpakasa harus kita lakukan, agar tidak ada yang mencemari kampung kita,” balasnya membuat kami tak menyangka dengan ucapannya.
“Tidak baik kita berburuk sangka soal mayyit yang telah mati, apa lagi melakukan hal seperti yang kau katakan, itu terlalu berlebihan,” sahut Hj. Agus dan dibenarkan oleh yang lainnya, yang saat itu juga mendengarkan percakapan kami.
“Yah terserah saja, semoga apa yang kukatakan salah. Tapi jika yang kukatakan benar, siap-siap saja akan ada teror di kampung kita!” ucap Julak Olim kemudian pergi. Sedangkan kami semua lagi-lagi hanya bisa terdiam mendengarkan.
••••••~~
Keesokan harinya aku dibangunkan oleh suara telepon. Saat kulihat ternyata Zainal sudah beberapa kali memanggil. Saat penggilan itu kembali masuk aku pun segera mengangkatnya.
“Halo Sir! hari ini kau bisa gak pergi ke rumahku, ajak juga Ogi sekalian, kalau bisa sekarang!” pintanya.
“Kalau sekarang gak bisa, mungkin nanti agak siangan.”
“Handak duit kada, mun kada handak kujulung kalian ai (Mau uang gak, kalau gak mau akan kuberikan ke orang lain saja)!” Itu membuatku terkejut tidak biasanya dia berbicara begitu.
“Iya-iya kami segera ke sana.”
Aku segera pergi ke rumah Ogi untuk memberitahukan hal itu, dan ternyata dia juga ditelepon oleh Zainal. “Kira-kira ada apa ya? apa kita diminta untuk menggali kubur lagi?” tanyaku.
“Entahlah, sebaiknya kita segera menemuinya. Apa pun itu yang penting ada rezeki lagi untuk kita,” balas Ogi kemudian memintaku untuk segara naik kemotornya.
Saat kami sampai, ternyata dia sudah siap menunggu kami di teras rumahnya. “Nih untuk kalian,” ucapnya sambil menyerahkan amplop.
“Loh ini untuk apa?” tanyaku sedikit terkejut kerna dia menyerahkan secara tiba-tiba.
“Apa ada pekerjaan lagi untuk kami?” sahut Ogi.
“Sudah ambil saja, ini tambahan dari keluarga mayit kemarin,” jawab Zainal terus menyodorkan amplop putih itu.
“Bukannya kamarin kami sudah diberi, apa kau yakin tidak salah, sapa tau ini untuk julak Olim dan guru Subhan selaku penitia kepengurusan jenazah di desa kita,” ucapku yang tidak langsung percaya saat itu.
“Sudah kubilang ambil saja! Kalau kalian tidak mau biar aku buang!” balasnya seketika marah.
Kami dibuat terkejut dengan tingkahnya dan terdiam. “Mau Tidak!” sambungnya.
Ogi pun mengambil amplop itu. “Baiklah kami terima, tolong sampaikan terima kasih pada mereka.”
__ADS_1
“Iya maaf, kami hanya takut kalau ini bukan untuk kami,” sahutku.
Zainal hanya diam, sedangkan matanya tertuju ke pemakaman. Aku pun penasaran apa yang dia lihat hingga tatapannya seserius itu, saat kulihat justru tidak ada apa-apa.
“Oh ya ada yang ingin kutanyakan soal-” Belum lagi Ogi selesai bicara, Zainal tiba-tiba berpaling berjalan cepat masuk ke rumah. Dia juga membanting pintu sangat keras membuat kami kembali terkejut.
“Loh Mang! Amang Zainal ada apa!” tariak Ogi memanggil.
“Mang Zainal!” teriaku juga.
“Ai kanapa lah? salah bapandirkah aku yo (Loh kenapa ya? emangnya aku salah bicara ya)?” tanya Ogi heran padaku.
“Aku juga tidak tahu, tidak ada yang salah juga dengan ucapan kita.”
Kami terus memanggil beberapa kali, namun tak kunjung ada jawaban. “Sudahlah kita pergi saja,” ucap Ogi.
Aku mengangguk. “Tapi apa kau melihatnya, sebelum dia berpaling dan masuk ke rumah, matanya terus memandang ke pemakaman itu?”
“Yah aku juga melihatnya, dia terlihat ketakutan, tapi apa yang dia takutkan?” jawab Ogi.
“Apa ada hubungannya ya dengan uang ini, maksudku dia sampai mau membuangnya ketimbang menyerahkannya ke orang lain jika kita tidak menerimanya.”
“Alasanku ragu menerimanya, kerna ini tidak seperti biasanya, dia tidak pernah memberikan uang dengan mudah seperti ini. Tapi lupakan saja, kita hanya perlu mensyukuri apa yang kita dapat hari ini,” balas Ogi dan aku menyetujuinya.
••••••••
Setelah dari rumah Zainal, kami pulang dan kebetulan kami sama-sama ingin pergi ke warung yang bersebelahan dengan tempat cukurku. Rumah amang warung itu pun juga bersebalahan dengan rumahku, cuma rumahnya ada di depan dipinggir jalan.
“Kayapa, malaran lo upah menabuk kuburan (gimana, lumayan kan, upah menggali kubur)?” tanya amang warung.
“Iya Alhamdulillah, nih kami baru dapat lagi tambahan uang kamarin,” jawabku.
“Nahkan, nanti kalau ada lagi biar kalian saja yang jadi tukang galinya,” balasnya menyarankan.
“Bisa aja, tapi kalau tukang gali yang biasa lagi pergi, baru deh kami,” balas Ogi dan amang warung pun mengangguk-ngangguk setuju.
“Oh ya sudah dengar belum soal kuburan baru kemarin itu, katanya malam tadi ada penampakan,” ucap amang warung tiba-tiba bicara serius.
“Katanya setelah Isya, tapi tidak tahu jam berapa tepatnya,” jawab amang warung.
“Emang kata siapa Mang?” tanya Ogi.
“Kata orangnya langsung, si Sain, dia kan biasa cari kodok buat mancing. Nah katanya malam tadi kan abis hujan, jadi dia nyari dipinggir jalan aja, tapi pas sekali besebrangan dengan pamakaman itu, dia liat orang berdiri tepat di depan kuburan baru itu,” ucap amang warung bercerita.
“Dia tegurkan, ‘oy ngapain nyari kodok di sana, berani banget’ katanya. Dia bilang kaya gitu sambil arahin sinter ke orang yang dia kira juga nyari kodok,” sambungnya.
“Terus apa yang dia lihat Mang?” tanyaku.
“Pas dia lihat ternyata sosok orang yang dia panggil itu justru tanpa kepala, tubuhnya cuma seperti bayangan hitam, dan pangkal lehernya penuh darah. Sontak ja pas lihat hal menyeramkan kaya gitu dia langsung segera kabur,” jawab amang warung mebuatku bergidik ngeri.
“Bujur jua kah Amang nih (Apa benar gitu Mang)?” tanya Ogi nampak tak percaya.
“Serius! orang-orang di sekitar situ pun sudah dibuat heboh, beberapa dari mereka mengatakan kalau itu ada hubungannya denga kuburan baru itu!” balas amang warung meyakinkan.
“Jujur Gi, kemarin saat aku cuci kaki juga melihat sosok itu di atas kuburan baru, tapi aku tidak begitu yakin, makanya aku tidak menceritakannya padamu, sapa tau yang kulihat itu salah,” sahutku.
“Jadi yang kamarin kupanggil-panggil gak nyahut itu, kerna kau lihat itu?!” tanya Ogi dan aku mengangguk.
“Berarrti jelas dah nih, pasti ada apa-apa dengan kuburan baru itu, apa yang dibilang julak Olim kayanya benar!” sahut amang warung.
“Belum tentu juga Mang, sapa tau kerna hal lain, di sana kan banyak kuburan,” tepis Ogi.
“Bisa saja sih, mungkin yang kamarin juga aku salah lihat,” jawabku merasa tak begitu yakin.
“Sir bagunting (cukuran),” ucap julak Roni tiba-tiba datang menghampiri kami.
“Inggih Julak,” jawabku.
“Gi nanti lagi ya,” sambungku kemudian pergi.
__ADS_1
••••••••
Saat aku mencukur rambut Julak Roni, kami membicarakan banyak hal hingga tiba-tiba dia menyingung soal Zainal. “Kenapa ya, tadi kulihat Zainal mundar mandir keliling di sekitaran kuburan, padahal wajahnya pucat kaya orang sakit?” tanyanya.
“Kada ziarahlah Julak (Mungkin ziarah Julak).”
“Gak tahu juga. Oh ya kulihat juga ada kuburan baru, siapa yang meninggal?”
“Kalau kuburan baru itu, bukan orang kita, itu orang luar yang minta dimakamkan di sini,” jawabku.
“Kenapa dibolehkan? kita kan gak tahu gimana orang itu semasa hidupnya?!” balasnya terkejut.
“Dia keluarga jauh Zainal, jadinya dibolehkan saja, apa lagi katanya orang baik-baik juga.”
Julak Roni hanya diam terlihat heran memikirkan. “Sir! Sir!” teriak Julak Olim yang kulihat datang bersama Ogi.
“Eh ada apa? lagi cukur rambut nih.”
“Setelah ini ikut aku, kita mau labrak Zainal!” ucapnya membuatku terkejut.
Aku memberi isyarat mata pada Ogi dan dia pun hanya menggeleng tanda tak tahu. “Emang ada masalah apa?” tanya Julak Roni.
“Nah kebatulan, kau ikut juga!” ucapnya tambah serius.
“Iya bisa saja, tapi emang ada apa dulu sampai mau labrak Zainal?” tanya Julak Roni tambah penasaran.
“Memang ada yang tidak beres soal asal usul jenazah baru itu. Nih ya malam tadi aku didatangin hantu berwajah hancur!” ucapnya membuat kami tambah terkejut.
“Aku yakin ini pasti ada hubungannya dengan kuburan baru itu!” sambungnya.
“Tanang dulu, coba duduk dan ceritakan semuanya,” ucap julak Roni menenangkan. Dia pun berusaha untuk tenang dan mulai ceritakan semuanya.
•••••••
Saat itu malam pukul 12. Suara ketukan terdengar nyaring, suara itu berasal dari pintu depan.
Julak olim awalnya sama sekali tidak menghiraukan, namun suara itu terdengar beralih-alih dari luar, ke jendela kamar bahkan ke pintu dapur, dia pun melihat jam yang saat itu tertara sekitar jam 10 malam.
Merasa kesal dia pun menemui orang yang mengetuk itu. Dia cepat-cepat membuka semua kunci pintu depan rumahnya dan ketika pintu itu mulai sedikit renggang. Tiba-tiba aruma busuk langsung menusuk hidung.
Sontak dia sepontan menutup hidung, sehingga pegangannya pada ganggang pintu itu terlapas, mambuat pintu terbuka perlahan, sedang kedua tangan julak Olim menutup hidung dan mulutnya.
Di saat tak tahan dengan bau yang sangat menyangat itu. Dia seketika terbelalak melihat sesosok tubuh manusia berlumur darah berceceran di lantai terasnya. Wajahnya hancur dengan satu bola mata hilang dan satu bola mata keluar. Terdengar suara dari mulut yang sobek bersuara lirih
“To long.”
Julak olim langsung membanting pintu. Segera mengunci kembali dan langsung menahan dengan punggungnya.
Sedangkan sebalah tangan masih menutup mulut dan hidung. Matanya pun tertuju pada jam dinding di ruang tamu yang menunjukkan sekitar pukul 12 malam. Dia pun ingat bahwa jam di kamarnya sudah lama mati.
••••••••
“Ceritamu itu mungkin tidak ada hubungannya dengan kuburan baru itu, maksudku apa yang membuatmu bisa berpikir kalau itu berhubungan?” Ogi nampak berusaha tak percaya dan menepisnya.
“Aku yakin ini berhubungan, aku memang pernah melihat hantu, tapi tidak pernah sampai datang ke rumah seperti ini,” balasnya sangat meyakinkan.
“Dan kenapa kau dari kemarin terus membantah, apa jangan-jangan kau juga bersekongkol dengan Zainal untuk menutupi semua tentang jenazah itu?!” sambungnya menyudutkan Ogi.
“Bersekongkol apanya, aku juga tidak tahu apa-apa soal itu! Aku hanya ingin kita berpikir jernih!” balas Ogi terlihat kaget kerna tiba-tiba mendapat tuduhan.
“Sudah jangan main tuduh-tuduh, kita tanyakan saja langsung jelasnya ke Zainal,” sahut Julak Roni.
“Nasir, Ogi kalian juga ikut!” sambungnya membuat kami saling menatap.
Kulihat Ogi terlihat ragu, namun aku memberi isyarat dengan mengangguk sambil menatapnya serius.
“Ayo cepat kita pergi!” Pinta julak Olim.
“Hadang dulu nah nuntungakan bagunting dulu (nanti dulu, selesaikan aku cukuran dulu),” balas julak Roni.
__ADS_1
Dia pun meminta aku untuk segera menyelesaikan cukurannya dan aku pun mempercepat kerjaku.
-Bersambung-