Kumpulan Cerita Horor Desa

Kumpulan Cerita Horor Desa
Cuplikan Chapter Selanjutnya


__ADS_3

...****...



...****...


Dahulu sekali saat itu terjadi pengerokan tanah di Desa Anjir Serapat Tengah untuk membuat sungai. Para pekerja dan alat berat pun telah sampai pada pengerokan tanah di Km 12,5 hingga menuju tempat yang sekarang dikenal Taluk Km 13.


“Kalian semua! Kalau bisa segera mempercepat pengerjaan di sini. Seperti yang kita lihat tempat ini tidak ada rumah, hanya ada rerumputan dan tanah lapang. Apa lagi dengan warga dan anak-anak yang membuat kita lebih hati-hati,” ucap seorang mandor waktu itu.


“Tuh pohon-pohon nang di sana tu dusur ja sakira nyaman lalu lalang. Mengangalihi ja (Itu pohon-pohon yang di sana dusur saja agar memudahkan kita berlalu lalang. Merepotkan saja),” ujarnya.


Mendengar perintah itu, para pekerjanya pun seketika bekerja dengan tenang dan cekatan. Suara berbagai deru mesin di tempat itu terdengar nyaring ke arah pemukiman warga, banyak dari mereka berdatangan, itu pun sekedar untuk menonton dari jauh saja.


“Pak Pak Bapak!” teriak salah satu pekerja waktu itu ketakutan sambil menarik-narik lengan baju mandor.


“Napa ngini abut-abut surangan, habis melihat apa kam nih pina pucat kitu muha (Ada apa ini ribut-ribut sendiri, habis lihat apa kamu, sampai muka pucat gitu)?” tanya mandor.


“Di sana Pak! Di tanah hasil galian itu terdapat tulang berulang manusia!” teriaknya.


“Babujur ikam (beneran kamu)?!”

__ADS_1


“Gak salah lagi Pak, itu benaran tulang manusia.”


“Cepat tunjukan di mana tempatnya,” pintanya dan pekerja itu pun menggiringnya ke tempat di mana banyak tanah hasil galian bertumpuk.


Saat melihat dengan mata kepalanya sendiri, mandor itu pun terkejut hingga berjalan mundur dan terjatuh. “Astagfirullah Pak!” teriak para pekerja berusaha menahan.


“Tolong kalian kutip semua tulangnya ini dan letakkan di pinggir jalan sana. Kita susun dengan benar dan minta bantuan warga untuk menguburnya kembali,” pinta mandor itu sedikit kesulitan bernafas kerna merasa syok.


Para pekerja itu malah saling dorong dan mundur. “Napa pulang bakalakuan buhankam nih (apa lagi kelakuan kalian ini)!” teriaknya marah.


“Ini salah kita, kita harus tanggung jawab. Kita memang tidak menduga semua ini akan terjadi, tapi kita juga harus melakukan seuatu terhadap ini.”


Setelah dinasihati beberapa dari mereka pun memeberanikan diri mengambil tulang-tulang yang terkubur di tumpukan tanah itu. Dari tulang jari, tangan, kaki, dan lainnya.


Tidak lama setelah pekerja tadi pergi, para warga pun berdatang mendekati, dari laki-laki, perempuan dan anak-anak pun merasa penasaran dengan kabar itu. Mereka juga ikut membantu mengumpulkan dan menyusun.


“Kayanya masih banyak yang hilang dari tulang-tulang ini, emang tadi galinya di mana?’ tanya salah satu warga waktu itu.


“Di mana tadi kalian menggalinya?” tanya mandor.


“Itu di sebelah sana Pak!” tunjuk mereka.

__ADS_1


“Bubuhan ikam tabuk lagi di intang situ, cari bujur-bujur, kumpulakan bawa sini (kalian gali lagi di sekitar situ, cari yang benar, kumpulkan lalu bawa ke sini),” ujar mandor.


Mereka pun terus mencari hingga semuanya terkumpul kecuali kepala. “Tangkoraknya belum nemu juga?” tanya warga lain.


“Sudah kami gali sampai dalam, namun sama sekali tidak ada,” jawab salah satu pekerja.


“Kita kerok saja, biar cepat nemunya sekaligus melanjutkan pengerjaan,” pinta mandor itu.


Setalah melakukan pengerokan hingga sampai Km. 14 belum juga menemukan tengkorak kepala dari tulang berulang itu. Mereka semua sudah dibantu para warga, namun tetap saja tak kunjung dapat.


“Sudah berjam-jam kita mencarinya, saat ini juga mulai senja dan para pekerja pun sudah kelelahan,” ucap mandor itu di hadapan warga.


“Mun kaya ini kita pasrah ja sudah, entah takubur intang manakah tu, nang ada niai nang kita kuburakan (kalau begini, kita sudahi saja, entah terkubur di sekitar mana, biar ini saja yang kita kuburkan),” ucap salah satu warga.


“Tapi, kira-kira di sebelah mana kita menguburkannya?” tanya mandor.


“Kita kuburkan di sebalah sana saja, itu tanah ada sebagian milikku,” tunjuk seorang guru waktu itu ke arah pohon singkong dan ada sedikit tanah lapang.


“Yang lain cepat gali kuburan di sana?” pinta mandor.


Para pekerja yang masih bertenaga dan dibantu warga menggali lalu menguburkan tulang berulang itu seadanya. Setalah didoakan bersama, mandor itu pun mencabut pohon karet yang baru tumbuh lalu menanamnya di atas kuburan sebagai tanda.

__ADS_1


Kini tempat ini sekarang masih seperti dahulu, tidak ada yang membangun rumah, hanya ada padang rumput dan ilalang, serta, sebuah pohon karet besar barlilit kain kuning.


__ADS_2