
Sore itu pukul 17:30 mendekati senja. Aku, Amin dan Ahmad kembali pergi menuju Handil Mantat luar. Tepatnya di Handil Mantat hulu menuju langgar setempat untuk singgah Shalat magrib, sebelum kembali berangkat ke Mejlis Km. 16.
Saat bersepeda bersama. Tiba-tiba sepedaku tidak berfungsi dengan baik, hingga lajuku pun melambat.
“Woi tungguin!”
Mereka pun berhenti. “Ada apa Mud?” tanya Amin.
“Bah sesuai, rantainya copot!” aku pun segera memperbaikinya.
“Coba kalian lihat ke sebrang. Itu tempat Amin lihat pocong yang bergelantung,” tunjuk Ahmad.
“Aduhai di ungkit-ungkit lagi,” balas Amin.
“Tidak ada yang perlu ditakutkan lagi, pohon itu sudah ada yang nebang.”
“Benar sih, tapi apa kalian yakin tuh hantu udah hilang. Sapa tau dia malah pindah ke pohon salak itu,” tunjuk Ahmad lagi.
“Ha ha … malah bagus kalau dia pindah ke pohon salak itu, biar tuh duri pada nancapin dia.” Amin mentertawakan.
“Ai waninya, mau ni pas kita bulik dihadangnya (ai beraninya, emang mau pas kita balik nanti dijaganya),” balas Ahmad.
“Asal bersama kalian, yang kena gak papa,” balas Amin lagi.
“Haduh … yang salah siapa yang kena siapa.” Aku segera mengahampiri mereka.
“Sudah beres Mud?” tanya Ahmad.
“Sudah, yo berangkat.”
Kami pun akhirnya sampai ke langgar hulu untuk menunaikan shalat Magrib. Saat selesai kami bersantai sebentar duduk di teras langgar bersama Khairul dan Lana.
“Emang mau ke mana nih?” tanya Khairul.
“Ke mejlis km. 16,” jawab Amin.
“Loh emang berani lewat Taluk situ?” tanya Lana.
“Kami juga bertiga, jadi gak ada yang perlu dikhawatirin,” balasku.
“Bakaluaran taruskah garang hantunya (emang tuh hantu muncul terus)?” tanya Amin.
Lana dan Khairul saling menatap seperti ingin memberitahu sesuatu. “Kalian udah tahu belum, bagaimana awal mula hantu tanpa kepala itu?” tanya Lana.
"Sudah lama tahu, yang penemuan tulang berulang itukan?" jawab Ahmad.
Lana menggeleng. "Ini jauh sebelum itu terjadi."
"Loh emang ada lagi?" Aku sangat ingin tahu.
“Dulu pernah terjadi perkelahian antara tukang ojek, mereka mengantar penumpang dari Kapuas hingga ke Banjar. Keduanya ini katanya bukan orang kampung kita. Nah salah satunya ini mendapat lebih banyak bayaran, dan temannya ini iri mau minta bagian. Tentu saja orang ini tidak mau hingga akhirnya terjadi pemaksaan, sampai yang diminta tadi terjatuh dan uang miliknya di rebut paksa semuanya.” Khairul bercerita.
“Kerna kesal uangnya diambil. Dia pun langsung menancapkan kunci motornya keleher orang itu yang lengah keasikan menghitung duit. Kunci itu menembus daging lehernya hingga mengeluarkan banyak darah. Ternyata dia juga membawa pisau lipat kecil di sakunya, hingga menggorok perlahan sampai kepalanya putus,” sambung Lana membuatku merinding.
Amin dan Ahmad pun nampak tercengang mendengarnya. “Lalu, dia menguburnya di Taluk itu?’ tanyaku.
Lana dan Khairul mengangguk. “Tapi, kata Julak Roni, kepalanya itu dia bawa pulang dan di buang entah ke mana,” jawab Khairul.
“Waninya pang maangkut kepala kitu, kayapa garang inya maandak sakira kada katahuan (berani sekali membawa kepala begitu, emang gimana melatakkan supaya tidak ketahuan)?” tanya Amin.
“Tidak tahu juga mungkin dalam kresek,” jawab Lana membuatku bergidik ngeri membayangkannya.
“Itulah awalnya hingga akhirnya ditemukan saat pengerokan tanah. Lalu kembali dikuburkan dengan lebih layak meski seadanya,” ucap Khairul.
“Sudahi saja ceritanya, lebih baik kita segera berangkat sebelum kemalaman lagi,” sahut Ahmad.
Aku dan Amin pun setuju. “Loh 'kan ujung-ujung kalian juga akan pulang malam setelah selesai acara itu,” ucap Lana membuatku seketika sadar, namun Amin dan Ahmad tak mendengar kerna lebih dulu pergi.
“Mereka jugakan pergi untuk ke mejlis menuntut ilmu, bukan untuk main-main,” balas Khairul menjawab Lana.
Mendengar itu, aku merasa tenang dan segera menyusul Ahmad dan Amin.
•••••••
Setelah itu, akhirnya kami melalui Taluk Km 13. “Woi woi,” panggil Amin pelan.
“Coba lihat di atas yang ada ranting kering,” sambungnya malah singgah.
__ADS_1
“Maapa ikam malah basinggah-singgah di sini, nih pas pohon gatah balilit kain kuning tu (Ngapain malah singgah di sini, inikan tepat di pohon karet berlilit kain kuning itu),” tegur Ahmad.
Saat itu aku melihat ke ranting kering yang ditunjuk Amin. Di sana terlihat seperti bentuk bulat hitam tak karuan. “Anu mungkin layangan Min,” jawabku.
“Emang ada layangan bentuknya bulat gak karuang gitu,” bantahnya.
“Itu kalayangan pagat Min ai sangkut di situ, (itu layangan putus Min nyangkut di situ),” sahut Ahmad.
Saat mata kami semua tertuju pada benda itu. Tiba-tiba yang kami sebut layangan tadi jatuh dengan cepat, dan malah mengeluarkan bunyi keras ketika menganai tanah.
“Sudah kubilang bukan layangan!” teriak Amin melaju lebih dulu hingga kami pun segera menyusulnya dengan cepat kerna ketakutan.
Saat itu kami sampai disalah satu warung yang menjauh dari rumah warga, orang-orang menyebut warung itu adalah warung Jablay.
“Bawa batanang dulu buhannya (kita bawa santai dulu),” panggil Ahmad.
“Kita menjablay dulu sambil ngopi biar segar,” sambungnya.
“Min kina bila tatamu gurunya, kita minta akan banyu ja hagan nang saikung ini (Min nanti kalau jumpa gurunya, kita mintakan air saja untuk yang satu ini),” sindirku.
“Kita tinggalkan saja Mud, ajaran sesat,” balas Amin hingga benar-benar kami tinggalkan. Kudengar dia hanya mentertawakan dan segera menyusul kami.
Syukurlah setalah melewati Taluk itu, kami pun tidak mendepati hal aneh yang menganggu pikiran maupun sesuatu yang menakutkan hingga tiba di tujuan.
•••••••
Setelah selasai acara, kami segera pulang dan kini telah sampai di jembatan ulin Km.14. Aku merasa yakin tidak terjadi sesuatu lagi.
Saat berada di atas jembatan itu. Aku melihat ke bawah untuk sekedar melihat pemandangan bulan yang tercemin di air sungai. Sungguh sangat terlihat jelas, kerna air saat itu terlihat begitu tenang.
Dua kali aku mengalihkan pandangan dan dua kali pula aku kembali dibuat penasaran ingin terus melihat pemandangan bulan itu. Hingga saat di ujung atas jembatan, aku ingin memberi tahu Ahmad dan Amin, namun tidak jadi kerna mereka sudah mulai menuruni tanjakan.
Sekali lagi aku melihat ke bawah. Kini ... aku terbelalak. Seluruh tubuhku seketika merinding ketakutan. Kakiku pun bergetar, rasanya tak karuan.
Sesosok makhluk hitam berbulu lebat juga ikut menengok dari bawah, berpijak menggelantung berpepasan denganku. Matanya memerah bertaring tajam mencungik keluar.
Aku ketakutan dan mengalihkan pandangan perlahan. Berjalan perlahan menuruni tanjakan itu sambil menggiring sepedaku, hingga mulai mengendarainya melaju mendahului Ahmad dan Amin yang sudah hampir turun ke jalan.
“Mud santai saja, nanti malah jatuh,” tegur Amin.
Aku tidak menyahutnya. Mereka berdua malah ketakutan dan berlari menggiring sepeda mereka menuruni tanjakan. Ahmad bahkan ikut mengendarainya juga agar lebih cepat, sedangkan Amin ragu.
“Ikam nih menakutani kami ja (kau ini menakuti kami saja),” ucap Ahmad ngos-ngosan.
“Ada hantu di bawah jembatan itu.” Aku menunjuk tepat di mana aku melihatnya, dan tempat itu sangat jelas terlihat ketika kami sudah berada dibawah.
“Benaran Mud di situ?!” Amin terus memandangi begitu juga Ahmad.
“Yang pasti sudah hilang. Makhluk itu berbulu lebat!”
“Sudah kada usah kita bahas, isuk ja, yang panting sampai rumah dulu (sudah jangan dibahas, besok saja, yang penting kita sampai rumah dulu),” ucap Ahmad segera melajukan sepedanya.
“Ayo Mud.” Susul Amin dan aku pun mengikutinya di belakang.
Aku yakin mereka juga ketakutan, meski tidak melihatnya langsung. Namun mereka berusaha melupakan agar merasa tenang.
Sepertinya ketenangan itu tidak berlangsung lama. Kami semua malah terhenti saat mulai memasuki jalan yang mulai banyak rumput dan ilalang, yang mana itu adalah Taluk Km. 13.
Aku merasa sangat ketakutan dan menggoes sepedaku lebih dulu dengan cepat, sehingga aku kembali mendehului Ahmad dan Amin sehingga mereka pun tertinggal.
Namun itu tak berlangsung lama, mereka terpancing hingga kami bertiga terus melaju dengan cepat, kini malah aku yang sedikit tertinggal.
“Woi tugguin!” Mereka tidak mendengar.
Aku berusaha menggoes dengan cepat. Tiba-tiba sepedaku berhenti mendadak membuatku hampir terjatuh. Dadaku pun hampir menghantam kemudi sepeda.
Kupikir rantainya copot lagi atau ada kerusakan lain hingga membuat sepedaku ngerim mendadak.
“Tunggu Min! Mad! Sepedaku rusak!” teriakku lagi dan syukurlah mereka mendengar hingga berhenti meski sedikit jauh.
“Rusak kenapa Mud?” tanya Amin.
“Kurang tau juga tiba-tiba ngerim mendadak.”
“Cepat periksa dulu! masalahnya kita berada tepat di pohon karet berlilit kain kuning!” sahut Ahmad membuatku terbelalak dan panik
.
__ADS_1
“Lakasi baiki Mud! (cepat perbaiki Mud).” Amin terlihat sengat takut.
Aku sangat terkejut saat melihat sepedaku dalam keadaan baik-baik saja, tidak ada kerusakan sedikit pun.
“Gimana Mud?” tanya Ahmad.
“Tidak ada yang rusak sama sekali, tapi sepedaku malah tidak mau dijalankan!”
Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan selain mendorong keras sepeda yang sama sekali tak kunjung bergerak.
“Mud cepat Mud! Ada sesorang di semak-semak!” tunjuk Amin membuatku semakin cemas.
Saat kulihat ternyata memang benar. Ada seseorang yang sedang mengais-ngais rumput, berjalan pelan mendekat. “Tinggalakan ja sepeda kam Mud, kina isuk siang maambil (tinggalkan saja sepeda kau Mud, biar besok siang saja kita ambil),” suruh Ahmad.
“Iya Mud tinggalkan saja!” sahut Amin semakin takut.
“Tidak mungkin, kalau ada yang ngambil bagaimana!”
“Cepat lakukan sesuatu atau tinggalkan saja sepedamu di sini! orang itu semakin mendekat!” jawab Amin.
Aku kembali berusaha menarik dan mendorong kembali sepedaku, melihat-lihat ke setiap sudut berpikir menemukan suatu penyebab.
Akan tetapi, berapa kali pun aku menelisiknya, tetap saja tidak ada apa-apa, kami semua benar-benar terdesak. Bahkan aku mencoba mengangkatnya untuk membawa lari, namun sepedaku malah sangat berat.
“Tetap tidak bisa!” teriakku pada mereka.
Aku terkejut saat melihat wajah kedua temanku sangat ketakutan, memandang tepat arah belakangku, mereka terdiam membeku. Saat kulihat ke semak-semak, orang tadi pun sudah hilang entah ke mana.
“Apa yang uwaaaaa ...!”
Aku berteriak sekencang-kencangnya, saat melihat hantu tanpa kepala itu berada tepat di belakangku. Tangannya yang kotor berlumur darah, bahkan beberapa jarinya terbalik mengenggam keras jok belakang sepedaku.
Tanganku bahkan seketika refliks menutup hidung ketika bau amis darah menyengat tercium. Darah itu mencuat keluar dari setiap pangkal lehernya yang terpotong, tersayat-sayat berantakan membanjiri tubuhnya yang kotor.
Hingga tangan kanannya yang nampak terbalik meraba-raba hendak menangkapku. “Lari Mud!” teriak amin dan Ahmad membuatku seketika menarik kembali sepedaku dengan keras.
Apa yang kulakukan itu jelas sama sekali tidak berguna, yang ada hanya membuatku semakin panik dan melakukan hal-hal tidak berguna lainnya. Amin dan Ahmad terus meneriakiku untuk lari meninggalkan sepedaku saja, tapi aku terus saja mempertahankannya.
Namun syukurlah aku mengingat tuhanku. Di saat seperti itulah aku langsung membaca ayat kursi sambil memejamkan mata tak berani melihat. Hingga di ujung ayat aku melepas kupiahku dan memukulkan ke arahnya. Namun yang kupukul hanyalah udara, hantu itu sudah menghilang lebih dulu.
Aku segara mendorong sepedaku dan menaikinya yang kini telah bisa dijalankan. Kembali mengayuh dengan cepat menyusul Amin dan Ahmad yang sudah menunggu terus meneriakiku untuk lebih cepat.
Sepanjang jalan kami semua tidak ada yang berbicara atau sekadar menyapa, selain menatap tajam ke jalan terus mengayuh sepeda sangat cepat. sehingga, kini aku telah sampai di rumah dalam keadaan selamat meski ketakutan masih terasa mengguncang diri.
Aku segera mengunci pintu lalu ke kamar mandi untuk mengambil wudu. Aku pun segera tidur berusaha melupakan semuanya. Tapi aku yakin, itu akan terus terbayang beberapa hari ke depan.
•••••••
Keesokan harinya aku disuruh ibuku untuk membeli kue di sebarang rumah. Kulihat di bangku pinggir jalan biasa tempat kami nongkrong, banyak yang berkumpul sangat ramai.
“Napa tu Bah pina abut-abut, rami banar (ada apa itu Bah nampak berisik, ramai sakali)?” tanyaku padanya yang sedang bersiap ke sawah.
“Kurang tahu juga, mending kamu ke sana ikut kumpul-kumpul masih libur jugakan,” jawabnya dan aku mengangguk.
Aku penasaran dan segera menghampiri sekaligus membeli kue. “Nah tu Mahmudnya. Mun babuhan pian kada percaya, takuni ja inya (nah itu Mahmudnya. Kalau kalian tidak percaya, tanyakan saja pada dia),” ucap Amin tiba-tiba menunjukku.
“Benaran Mud malam tadi kalian digangguin hantu tanpa kepala itu?” tanya Salihin.
Saat itu aku hanya mengangguk. “Di mana Amin, biasanya sudah ikut ngumpul jam segini?”
“Kata ibunya dia demam,” jawab Ahmad.
“Ampun dah, sampai sakit Amin gara-gara liat tuh hantu,” sahut Salihin.
“Oh ya Julak, apa cerita perkalahian tukang ojek itu benar. Kata Khairul dan Lana, mereka di ceritakan Julak?” tanya Ahmad.
“Sebenarnya itu hanya cerita yang tersebar di kampung kita, entah benar atau dusta semuanya jelas masih diragukan. Dulu pohon karet itu juga sama sekali tidak ada kain kuning seperti itu, apa lagi hantu tanpa kepala."
"Nah baru saat beberapa tahun belakangan, banyak orang-orang datang ke tempat itu untuk mencari pesugihan, atau suatu kepentingan perjudian. Tentu saja ini hanya akan mengundang jin-jin kafir yang ingin menampakkan dirinya agar di takuti.” jawabnya.
Mendengar itu kami semua mengangguk setuju. Aku pun sangat paham, kalau itu terjadi pasti kerena adanya kesalahan yang telah aku perbuat. lebih baik mencari kesalahan diri sendiri dan mencoba untuk memperbaiki.
“Tapi menurutku apa yang kalian temui itu belum seberapa sih. Sebenarnya, beberapa malam kemarin aku melihat dan bertemu dua makhluk tak biasa. Salah satunya adalah harimau berkepala manusia. Parahnya lagi aku melihatnya di sekitaran jalan tempat kita tinggal ini!” ucap Salihin membuat kami semua terkejut.
“Aku juga pernah dengar ada yang lihat berkeliaran di jalan tempat kita ini, tapi dia bilang sebagian dari belakang tubuhnya yang manusia!” balas julak Roni membuat kami semakin tercengang.
Entah seperti apa pun wujud sebenarnya dari makhluk tersebut, yang kusadari saat itu adalah, bahwa ancaman menakutkan justru berada sangat dekat di sekitaran kami semua.
__ADS_1
-Tamat-