
...Chapter VI...
...Misteri Ular Berkumis...
...Pembawa Harta Karun...
Sore hari itu di desa anjir serapat tengah Km.12,5 Kuala Kapuas, Kalimantan tengah.
Kami tengah duduk santai bersama di teras rumah kakek Rusdi. Yang mana beliau tengah menceritakan tentang ular berkumis pembawa harta karun di sepanjang tubuhnya.
“Banyak para warga yang sangat menginginkan bertemu dengan ular itu. Bahkan setiap kali menurih (menyadap karet), mereka berharap bisa tak sengaja bertemu dengannya,” ucap kai Rusdi.
Kami semua mendengarkan dengan seksama. “Ada yang bilang, kalau kita tak sengaja bertemu dengan ular itu, maka kita harus melemparkan tapih (sarung) kearahnya. Dengan begitu semua emas yang ada di tubuhnya akan terlepas,” sambungnya.
“Kayapa garang bentuk ularnya Kai (emang gimana bentuk ularnya Kek)?” tanya Pihan.
“Orang bilang ular itu bertubuh besar dan mempunyai kumis. Ada juga yang bilang tubuhnya berbentuk bulat besar. Setiap kali dia berjalan akan menimbulkan suara gerincing-gerincing, seperti suara koin yang saling bertubrukan secara bersamaan,” jawab kai Rusdi.
“Apa emas-emas itu adalah sisiknya? Jadi, ketika dilempar tapih, maka semua sisik emasnya terlepas,” sahut Dayat.
“Ada yang bilang ketika dilempar tapih, maka ular itu langsung hilang dan semua emas ditubuhnya akan berhamburan,” sahut As’ad pada Dayat.
“Ada kah nang suah batamu dan menimbai tapih orang wadah kita Kai (apa ada orang yang pernah bertemu dan melempar sarung dari tempat kita Kek)?” tanya Isar.
“Nenek pernah melihatnya secara langsung. Namun sayang, dia tidak punya tapih untuk dilempar,” jawab kai Rusdi.
Mendengar itu aku dan mereka langsung kaget tak percaya. “Apa Bener Kek?" tanya Pihan nampak tak percaya.
"Ya beneran, kakek gak bohong," tegas kai Rusdi.
"Haduh ... sayang banget, jika tidak Kakek bisa kaya mendadak,” balas Pihan.
“Ha ha ... dapat zakatnya juga dong nantinya kita. Kalau Dayat sama As'ad sudah gede, jadi tidak perlu dapat lagi,” sahut Isar.
“Kalau gitu Fardi dong yang tidak dapat, kerna dia jelas labih tua dari pada kami,” balas As’ad padaku.
“Pina musti ha buhan kam nih bapandir zakat, duitnya ja kadada (Yakin sekali kalian ini bicara tentang zakat, duitnya saja tidak ada),” jawabku dan mereka semua tertawa.
“Oh Ya kek, emang gimana ceritanya. Kok bisa nenek bertemu dengan ular itu?” sambungku bertanya.
“Saat itu, dia sedang pergi untuk mengumpulkan getah yang sudah di turih. Ketika sampai di ujung, tiba-tiba terdengar suara gerincing-gerincing tak jauh darinya."
"Saat menoleh ke belakang, ternyata ular itu tengah lewat di belakangnya. Yang dia lihat. Ular itu panjang dan berkumis, ditubuhnya pun terlihat kuning mengkilat saat terkena cahaya matahari,” jawab kai Rusdi.
“Tapi sayang, meskipun ada sarung, dia tetap tak akan bisa melempar, kerna seluruh tubuhnya kaku ketakutan,” sambungnya membuat kami semakin penasaran.
“Hiss ... jika aku yang bertemu dengan ular itu, meskipun tak punya sarung, baju pun pasti aku lempar,” ucap Dayat.
Pihan menatap Dayat tak yakin. “Kawakah lawan baju Yat (emang bisa pakai baju Yat)?” sahutnya.
“Yang penting ada!" balas Dayat.
“Asal saja kau ini!” jawab Isar mentertawakan.
Melihat mereka tertawa kai Rusdi ikut tersenyum. “Siapa tau berfungsi, meskipun yang terlepas cuma beberapa saja, itu pun sudah untung,” ucap As,ad.
“Aku juga nantinya yang dapatkan lebih dulu,” ucapku ikut-ikutan.
Mereka terlihat sangat berharap bertemu dengan ular itu.
Perkenalakan Namaku Fardi. Usiaku sudah beranjak 17 tahun. Sedangkan Dayat dan As’ad baru berusia 14-15 tahun.Berbeda bagi Isar dan Pihan, mereka masih anak-anak berusia 10 tahunan.
__ADS_1
Rumah kami dan kai Rusdi sangatlah berdekatan, kami juga masih terkait keluarga. Kalau As’ad, dia punya rumah sedikit lebih jauh dari kami, mungkin sekitar 50-60 meter.
••••••••
Ke esokan harinya setelah melaksanakan Shalat Jum’at. Aku pergi kewarung di sebelah rumah untuk membeli mie instan.
“Tu katanya Ogi mau membeli bigi para (biji getah) untuk di jual kembali. Lumayan sepuluh ribu perember,” ucap amang warung.
“Nah pas banar tu, maka banyak bigi para di palang gatah belakang rumah. Mun kada dicari 'i kakanakan ah hagan bamainan (Wah pas sekali tuh, 'kan sangat banyak bigi getah di kebun karet belakang rumah. Itu pun kalau tidak di cari anak-anak untuk dimainkan),” jawabku.
“Ajak yang lainnya juga, supaya bisa cari bersama-sama!” balas amang warung dan aku pun mengangguk.
Saat tau itu aku terpikir semoga saja aku bisa bertemu ular berkumis yang di ceritakan kai Rusdi. Bahkan aku berniat untuk tidak memberitahukan yang lainnya supaya akan lebih banyak bigi para yang aku dapat.
Kerna hal itu, aku pun segera pulang dan bersiap-siap. Aku juga sengaja membawa sarung dengan menoopengkan kewajah. Selain untuk persiapan kalau tak sengaja bertemu ular itu, mungkin itu juga akan berpungsi agar wajahku tidak di gigit nyamuk.
“Sar! Cepat!” panggilku.
“Iya Kak,” jawabnya sambil berlari membawa ember.
Kami pun segera berangkat tanpa memberi tahu yang lain hingga sampai di depan kebun karet.
"Akkhh ...!"
Tiba-tiba Dayat, As’ad dan Pihan tengah berlari keluar sambil berteriak ketakutan. Aku sampai dibuat kaget dengan kemunculan mereka.
“Kenapa bukahan nih (Kenapa kalian berlarian)?” tanyaku sedikit takut.
“Ada suara menakutkan yang memanggil-manggil nama Dayat. Kami semua ketakutan dan berlari menjauh,” jawab pihan tersengal.
“Dia memanggilnya sambil memukul botol kaca. 'Ting! Ting! Da-yat ... Ting! Ring! Da-yat ... Sampai tiga kali!” ucap As’ad memperagakannya dengan suara seram.
“Suara yang memanggil itu suara laki-laki,” sambungnya juga tersengal-sengal dengan memegang ember yang berisi bigi para.
“Jangan-jangan Fardi nih yang menakut-nakuti kami,” tuduh pihan padaku.
“Aku saja baru datang. Mana ku tahu!” bantahku.
“Gimana nih kak,” tanya Isar padaku ketakutan.
“Gini saja, kita pergi bersama-sama supaya bisa saling menjaga kalau terjadi sesuatu,” ucapku pada mereka.
Mau gak mau aku harus bisa meyakinkan mereka semua supaya kembali mencari bigi para. Gara-gara mendengar kisah mereka, aku juga ikutan takut. Adikku Isar bahkan terlihat ingin tidak jadi pergi.
“Lagi pula apa yang dikatakan Dayat ada benarnya. Mungkin itu cuma orang iseng,” sambungku.
“Bujur! awas ja mun tatamu kita bantas ja sudah (benar! awas saja kalau bertemu langsung kita hajar saja)!” jawab Pihan terlihat kesal.
“Bah lah kam nih Han ai. tatamu warik tangan kutung ja sudah bukah (yaelah kau ini Pihan. Bertemu monyet tangan buntung saja sudah lari),” ejek As’ad.
“Kau pun pasti lari,” balas pihan.
Mendengar itu, aku pun terpikir pasti lari, kerna warik itu terkenal sangar meskipun tangannya buntung.
••••••
Setelah itu, kami pun mencari bigi para secara bersama-sama. Hingga, akhirnya cukup banyak yang kami dapatkan. Padahal belum lagi sampai di tengah-tengah, kami baru hanya mencarinya berjalan lurus ke samping.
Lalu kami pun mulai lurus ke dapan, hingga sampai ke tengah-tengah yang mana di situ ada dua gundukan tanah memanjang, sepanjang kebun karet. Saat mencari di tempat itu, kami malah dikejutkan oleh seseorang yang berjalan ke arah kami.
Aku mengira sepertinya ada yang mencari bigi para seperti kami, dan benar saja ternyata itu adalah Ahmad Rifa’i.
“Waninya kam Mad manyurangan (Beraninya kau Mad sendirian),” ucap Dayat ketika dia menghampiri kami.
__ADS_1
“Lah emang apa yang ditakutkan,” jawab Ahmad.
“Sudah lama carinya?” tanya As’ad.
“Lumayan lama.”
“Kalau gitu ... ada gak kau dengar suara orang manggil Dayat sambil ngetuk botol?” tanya As’ad lagi.
“Aku tidak mendengar apa-ap-” Dia seketika terbelalak.
Aku pun menatapnya heran. Tiba-tiba, Aku mendengar suara gerincing-gerincing tepat di belakang kami. Sedangkan Ahmad Rifa’i masih terdiam sedikit mendongak sambil menatap sesuatu. Suara itu kembali berbunyi semakin nyaring.
As’ad dan Dayat yang secara cepat menoleh ke belakang tiba-tiba ikut terdiam seperti Ahmad. Kepalaku langsung kutundukkan. Mataku hanya tertuju pada dedaunan kering di dekat kaki.
Sekilas, aku juga melihat Isar dan pihan sama seperti mereka. semuanya terdiam tak bersuara, terus menatap apa yang ada di belakangku.
Aku secara cepat berpaling ke belakang dan berakhir dengan terdiam seperti mereka. Satu-satunya yang bisa kurasakan saat itu, hanyalah sebuah ketakutan dan intimidasi dari ular berkumis yang telah di ceritakan kai Rusdi.
Aku yakin mereka semua sadar. Melihat dan mendengar jelas, bagaimana ular berkumis itu sedang berada di batang pohon melilitkan tubuhnya. Suara gerincing yang ditimbulkan dari emas-emas ditubuhnya selalu saja memekakkan telinga setiap kali dia bergerak.
Saat itu aku yakin. Yang terpikirkan kami semua, adalah sesuatu yang sangat tidak mungkin. Bagaimana bisa melimpar sarung pada ular yang menatap tajam, serta bertubuh panjang dan sebesar batang pinang.
Bagaimana mungkin kami bisa melimpar. Sedangkan kami semua terpaku, tak bisa bergerak di hadapkan dengan ketakutan dan intimidasinya.
Hal lainnya yang ku ingat saat itu. Da berada sangat dakat, menatap tajam pada sarung yang kutopengkan ke wajah. Sesekali, dia menjulurkan lidahnya mendesis.
Entah apa yang terjadi. Tiba-tiba, ular itu pun kemudian melewati sisi kami, berjalan terus menjauh meninggalkan suara gerincing yang semakin melemah. Saat suara itu benar-benar menghilang kami semua akhirnya bisa bernafas lega.
Aku langsung melepas sarung di wajahku untuk bernafas dengan nyaman, berusaha menenangkan diri.
saat itu Isar berada di dekatku. Aku mendengar suara tangisannya, begitu juga dengan Pihan. Dengan cepat aku memeluk mereka berdua agar mereka bisa tenang.
“Ayo kita segera pulang. Tidak lama lagi akan memasuki waktu Ashar,” ucap Ahmad Rifa’i yang sudah terlihat tenang, meskipun tangannya bergetar.
Aku dan lainya pun hanya bisa mengangguk setuju. Meskipun saat itu ember kami tidak penuh, aku yakin, satu-satunya yang kami pikirkan adalah bersyukur kerna masih di beri keselamatan.
••••••
Keesokan harinya. Aku melihat dari jendela rumahku. Dayat, As’ad, Pihan dan Isar sepertinya tengah menceritakan kejadian kemarin pada kai Rusdi. Aku pun mendengarkan sejenak pembicaraan mereka.
“Mungkin kalian bisa melakukannya, jika yang pertama kali melihat adalah kalian, bukan ular itu yang lebih dulu melihat kepada kalian," ucap Kai Rusdi.
"Entahlah Kek, mungkin akan terjadi hal yang sama," jawab Dayat
"Tapi yang paling penting tidak terjadi apa-apa pada kalian. Untung saja ular itu hanya sekedar memberi ancaman saja,” balas kai Rusdi.
“Itu pun sudah membuat Pihan dan Isar menangis ha ha ...” sahut As’ad mentertawakan, lalu di ikuti Dayat. Sedangkan Pihan dan Isar hanya berusaha membantah.
“Yo Di,” Sapa Ahmad Rifa’i yang lewat di sisi rumahku.
“Ehh, Beli apa Mad?” tanyaku padanya, kerna dia baru saja dari warung.
“Nukar mie nah duit hasil Bigi para sumalam (beli mie hasil bigi getah kemarin),” jawabnya.
“Loh kan gak sampai seember!” jawabku heran.
“Tenang masih bisa dapat setengah, jadi lima ribu rupiah.” Mendengar itu aku pun segera memeberitahukan mereka yang tengah bersama kai Rusdi.
Secara cepat mereka kembali ke rumah masing-masing untuk mengambil bigi para yang telah terkumpul kemarin. Lalu, kami pun bersama-sama pergi menjualnya menemui Ogi.
Satu-satunya yang masih tidak kami ketahui, adalah orang yang memanggil Dayat sambil memukul botol kaca itu. Entah ada orang yang iseng atau bisa saja orang ghoib yang ingin menakuti, atau justru tengah memperingatkan kami semua.
-Selesai-
__ADS_1