
...Chapter IX...
...Taluk Km. 13...
Perkenalkan namaku Mahmud. Aku seorang remaja di Desa Anjir Serapat Tengah Km 12,5 Handil Mantat. Lebih rincinya aku tinggal di Handil Mantat dalam, yaitu tempat yang menjadi kawasan pertanian.
Pagi itu hari Jum’at sekitar jam setengah sembilan. Aku ingin menghadiri acara maulid Nabi di langgar Al-Fajar Handil Mantat hilir.
“Ooo Mahmud, itu nasi bungkus sudah dibawa gak?” tanya ibuku menghampiri saat aku menurunkan sepeda.
“Kina maabilnya, balum jua lagi tulak (nanti ngambilnya, balum mau pergi juga).”
“Ingat jangan sampai lupa. Kalau baju sekolah sudah dicuci gak?” tanya ibuku lagi.
“Sudah Maa.”
Sudah jadi hal biasa kalau hari Jum’at tiba maka semua pakaian kotor akan dicuci sendiri. Berhubung hari Jum’at adalah hari libur sekolah kami, maka akan ada banyak waktu luang untuk melakukannya.
Kadang kami suka menyebut hari Jum’at sebagai hari mencuci Nasional. Bukan tanpa alasan, kerna bukan hanya aku yang melakukannya, hampir setiap orang di sekolah kami yang “Rajin” pasti akan mencuci pakaiannya sendiri waktu itu.
“Belum berangkat juga?” tanya ayahku ikut keluar rumah dengan pakain bernoda bekas lumpur.
“Nggak ikut ke acara maulid Bah?”
“Kau saja, abah mau ke sawah,” jawabnya seraya turun dari teras ke persawahan yang berada di sebelah rumah kami.
Di Handil Mantat dalam, semua rumah dibelakangnya pasti ada sawah. Banyaknya lahan membuat orang-orang di desa kami menjadi seorang petani. Kualitas tanahnya pun sangat cocok untuk menanam padi.
Setelah siap aku pun berangkat. “Mud tunggu!” teriak Amin di terasnya.
“Baimbayan (Barengan)!”
“Oke cepatlah berpakain.”
Amin pun segera masuk ke rumah, sedangkan aku menunggu di pinggir jalan depan rumahnya. “Mana Aminnya belum siap lagi ya?” tanya Ahmad ikut singgah dengan sepedanya.
“Baru mau bersiap.”
“Kita hadangi ja sudah, kalo diculik orang narai kina inya (Kita tunggu saja, nanti malah diculik orang dia),” balas Ahmad.
“Ada-ada saja kau ini ha ha …”
Tidak lama kemudian Amin pun keluar dan segera meenghampiri kami. “Ayo duluan.”
“Nah … kalau tau begini ngapain kita tungguin, kalau ujung-ujungnya nyuruh kita duluan,” balas Ahmad.
“Tu tapih bapairan ti, mun takait di rantai habisam tapuntal (itu sarung melorot, kalau sangkut di rantai nanti terlilit,” tegurku.
Dia pun segera memperbaikinya. “Mana nasi bungkusmu?” tanya Ahmad.
“Gak perlu, lagian banyak juga yang lain membawa untuk ngumpul,” balasnya.
__ADS_1
“Bukannya gitu. Kita ikut ngumpul menandakan bahwa kita juga ikut menyumbang untuk kelancaran acara maulid Nabi ini. Lagi pula, jika kita mengadakan acara ini di langgar kita, mereka juga pasti akan membawa nasi bungkus untuk dikumpul, lalu di bagikan kembali.”
“Ya nantilah, mending kita segera berangkat, sebelum acara dimulai” balas Amin lebih dulu.
Kami berdua pun segera menyusulnya meski merasa heran. Hingga kami pun sampai di langgar Al-Fajar, dan ternyata acaranya sudah mulai.
Aku melihat Dayat dan Syukri sedang membantu membagikan nasi bungkus, sekaligus tempat mengumpulkannya. “Mahmud, Amin, tolong bantu kami,” pinta Dayat.
“Tenang saja, kami siap membantu,” jawabku.
“Bisa menyimpani buhannya ni sabungkus surang (jangan-jangan kalian ini menyembunyikan masing-masing satu bungkus),” tuduh Amin sambil tertawa.
“Ayo ngaku,” sambungnya.
“Bukannya satu lagi, ada puluhan kami simpan dalam kotak,” balas Dayat.
“Bercanda mulu dari tadi, mending kalian bagikan ke sebalah sana,” tegur Syukri.
“Inggeh Mang,” ejek Ahmad membuat Syukri melepas pecinya hendak memukul.
•••••
Setelah itu acara pun selesai. Banyak orang-orang mulai pulang jalan beriringan sambil membawa nasi bungkus bertintingan. Baik yang dewasa apa lagi anak-anak yang bahkan memabawa dua hingga tiga bungkus.
kami juga sudah selesai makan, namun ternyata masih ada lima nasi bungkus yang tersisa. “Wah pas banget, mending kita makan lagi di batang sambil lihat sungai,” ucap Amin.
“Umai kada tulai kah melihat sungai, hari-hari dah melihat (waduh emang gak bosan apa lihat sungai, setiap hari lihat sungai mulu),” balas Dayat.
“Boleh juga sambil nunggu Jum’atan,” sahut Ahmad.
Kerna tidak lama lagi tengah hari, aku pun menyetujuinya. Lagi pula jika kami langsung pulang ke rumah, itu hanya akan membuat kami bulak balik.
Saat di batang atau tempat yang sengaja dibangun pemerintah untuk memudahkan aktivitas ke sungai. Yang mana seluruh bangunannya terbuat dari kayu ulin. Kami makan nasi bungkus bersama di sana sambil duduk bercengkrama.
“Kalian sudah dengar gak, tentang hantu yang bergentayangan di Taluk Km. 13?” tanya Ahmad.
“Hantu tanpa kepala itukan?” jawab Amin.
Ahmad mengangguk. “Katanya sudah banyak orang yang melihat penampakannya, hampir setiap kali muncul pasti dekat dengan pohon keret besar berlilit kain kuning itu.”
“Oh tempat itukan penguburan tulang berulang manusia dulu,” ucapku penasaran.
“Banyak orang yang sudah melihat hantu tanpa kepala itu seperti sedang mencari kepalanya yang hilang,” jawab Ahmad.
“Hadang dulu. Maksudnya tulang manusia tadi apa (Tunggu dulu. Maksud dari tulang manusia itu gimana)?” tanya Dayat nampak bingung.
“Loh emang kau belum pernah dengar?” tanya Amin dan Dayat menggeleng.
“Dulu, saat pengerokan sungai ini pas sampai di Taluk Km 13, mereka malah menemukan kerangka manusia di hasil galiannya. Nah dari situ tengkorak kepalanya tidak ditemukan. Mereka sudah mencari kemana-mana, namun hasilnya nihil. Lalu mereka pun menguburnya saadanya. ya, itu tadi tanpa kepala,” sambung Amin menceritakan.
“Jadi kawa disambat, hantu kada bakapala tadi, iya nang di kuburakan tadi kah (jadi bisa dikatakan, hantu tanpa kepala itu, adalah orang yang dikuburkan tadi),” balas Dayat.
__ADS_1
Ahmad mengangguk. “Katanya, hantu itu jalan berjongkok sambil mengais-ngais rumput ilalang yang ada di Taluk itu. Ada yang pernah singgah hendak menyapa. Saat itu malam habis Isya, dipanggil-panggil gak jawab, ‘Mau cari apa Mang’ kata orang itu, tidak ada jawaban juga. Orang tadi pun turun dari motornya lalu mendekati sambil menepuk belakangnya,” ucap Ahmad bercerita.
“Lalu apa yang terjadi?” tanyaku.
“Pas dia tepuk tuh belakangnya. Ternyata belakangnya malah lengket, basah-basah gitu. Kerna gelap, orang tadi hanya melihat tangannya basah berwarna hitam, dan kerna penasaran dia juga coba cium tangannya. Eh malah bau amis darah. Sontak saja dia kaget, dan malah bertambah kaget lagi saat melihat orang di depannya adalah hantu tanpa kepala, berdiri tegak menghadapnya.”
“Umai membari takutannya pang (waduh seram banget dong),” ujar Dayat.
“Belum ada apa-apanya itu,” sahut Syukri meremehkan.
“Loh emang ada lagi?” tanya Amin.
“Aku kan punya keluarga dari Handil Cempaka. Nah dia sering datang menghadiri acara haul di rumahku. Malam itu amangku ini dia pulang larut malam sekitar jam sepuluhan kerna keasikan ngobrol. Ujar mamaku berhati-hati di Taluk Km. 13 itu kerna sangat sunyi,” ucap Syukri bercerita.
“Ai di mana seramnya?” potong Ahmad.
“Beluman lagi, hadang dulu sabar. Ngarannya ja bakisah, harus ada pembukaan dulu nang kaya bakuda-kudaan malam-malam tu hen (belum lagi, tunggu dulu sabar. Namanya juga bercerita harus ada pembukaan, seperti main kuda-kudaan malam-malam itu),” balas Syukri.
“Malalain ja seikung ini, handak bekisah apa ikam maka taka situ tasambungnya (ada-ada saja yang satu ini, mau cerita apa kau jadi nyambung ke sana),” sahut Amin mentertawakan.
“Lenjutkan lagi,” pinta Dayat terlihat sangat penasaran.
“Mau cerita seram, malah ngelawak dia,” ucapku membuat mereka kembali tertawa.
“Nah setelah itu. Ketika amangku pulang, dia malah mogok tepat di pohon besar itu. Pas kembali dinyalain tuh motor, lampu depan langsung nyala dan meyorot hantu tanpa kepala yang sedang berdiri, ditengah jalan dari jauh. Amangku langsung kaget seketika tancap gas, namun anehnya motornya gak mau jalan-jalan,” sambung Syukri kembali bercerita.
“Jangan-jangan amang kau itu malah ngerim tanpa sadar, makanya gak mau jalan-jalan kerna saking kagetnya,” sahut Ahmad lagi
“Hantu itu yang menarik dari belakang!" jawab Syukri seketika.
"Jadi saat amangku tadi ketakutan. Dia memalingkan wajah ke samping, lalu tidak sengaja melihat tangan hantu berlumur darah itu menahannya. Sontak lagi amangku memandang ke depan sambil terus menarik gas motornya. Ternyata hantu itu kini justru berada dekat di hadapannya. Sangat jelas terlihat bagaimana cucuran darah keluar dari pangkal lehernya hingga tercium bau amis menyengat,” ujar Syukri.
“Gimana mau lari kalau segitunya,” ucap Amin.
“Alhamdulillahnya. Saat itu ada juga orang yang lewat, sehingga hantu itu tiba-tiba menghilang. Amangku tadi pun sempat terheran dan melihat ke sekitar untuk memestikan. Ternyata ada lagi seseorang berjalan berjongkok sambil mengais-ngais rumput di pinggir jalan. Nah ini seperti kata kau tadi Mad,” jawab Syukri.
“Tuh kan, kebanyakan orang yang lihat pasti sedang mengais-ngais rumput sekitar situ,” balas Ahmad.
“Nggak salah lagi nih, pasti dia sedang mencari kepalanya yang hilang!” jawab Amin sangat yakin sampai tak sengaja menyenggolku yang sedang makan.
“Uma Min santai ja pang, tahambur nasiku nah. Pina bagagah banar kam nih (waduh Min santai aja kali, nasiku berhamburan nih. Kaya meronta-ronta aja kau ini),” ucapku asal saja.
“Iwak kalo bagagah (emang ikan meronta-ronta),” sahut Ahmad.
“Aku kira kau sudah selesai makannya,” jawab Amin sambil tertawa.
“Masih belum selesai juga Mud?” tanya Dayat.
“Mendengar cerita kalian jadinya sampai lu-” belum selesai aku bicara, rekaman orang baca Qur’an pun di putar sebagai tanda kalau waktu Shalat Jum’at tidak lama lagi sampai.
Dayat dan Syukri pun pamit pulang lebih dulu. Aku segera menyelesaikan makanku, lalu segera berangkat ke Masjid Km. 11 bersama Ahmad dan Amin hingga Jum’atan pun selesai. Kami pun kembali pulang ke rumah masing-masing.
__ADS_1
-Bersambung-