Kumpulan Cerita Horor Desa

Kumpulan Cerita Horor Desa
Banyu Mengidam Part 1


__ADS_3

...Chapter III...


...Banyu Mengidam...


Saat itu mataku hanya tertuju pada seorang mandor yang terus berbicara mengenai proyek jalan selanjutnya. Sesekali aku melihat ke arah jam  yang ada dimejanya. Waktu itu sudah menunjukkan pukul 8:20.


“Proyek jalan selanjutnya akan kita kerjakan di desa Anjir Serapat Tengah. Maka dari itu persiapkan diri kalian untuk bekerja besok. Untuk masalah alat berat dan material jalan sudah ada beberapa di sana. Selanjutnya akan dikirim bertahap,” ucap mandor itu padaku dan temanku sebegai perwakilan yang lain.


“Untuk besok kami harus ngerjakan apa Pak?” tanya Yasin.


“Besok kalian harus membereskan rumput-rumput liar yang ada dipinggir. Supaya bersih dan bisa diperluas, kalian bisa menggunakan alat berat yang sudah dipersiapkan disana."


"Nah. Untuk masalah penginapan. Hari ini, kalain bisa langsung mencarinya di desa itu. Kalian bisa sewa rumah untuk beberapa hari ke depan,”sambungnya.


“Baik Pak!” Kami serentak.


“Terima kasih Pak. Kalau begitu kami pergi dulu.” Aku minta izin. Kami pun berpaling berjalan menuju pintu keluar.


“Satu hal Lagi,” ucapnya mengagetkan kami.


“Kita ini adalah orang luar. Maka dari itu selalu berhati-hati jangan buat masalah. Hargai semua yang ada di sana. Di sana juga banyak anak-anak, jadi saat bekerja selalu memperhatikan sekitar,” pintanya menatap serius. Kami pun mengangguk dan keluar.


“Ha ha ... aku pikir dia mau bicara apa, ternyata cuma berhati-hati terhadap anak-anak,” ucapku setelah keluar dari ruangannya.


“Ha ha ... sama,” jawab Yasin.


••••••••


Perkenalkan namaku Fadli. Aku seorang operator alat berat pembuat jalan. Saat ini aku sudah berusia 23 tahun. Kali ini aku bekerja memperluas jalan di Desa Anjir Serapat Tengah bersama temanku Yasin. Dia lebih muda satu tahun dariku, walaupun begitu kami sudah lama seling kanal dan sudah jadi teman baik.


Tidak hanya Yasin beberapa pekerja lainnya pun akan bekerja di sana. Beberapa dari kami berasal dari Kabupaten Kapuas dan itu termasuk aku dan Yasin. Hari ini kami harus mencari penginapan terlebih dahulu di desa itu. Sebegai perwakilan aku dan Yasin pun berangkat lebih dulu dari yang lain.


•••••••••


Setelah itu kami pun sampai di Desa Anjir Km. 12,5 saat siang hari. Kerna proyek jalannya dimulai dari tempat itu, kami segera pergi menemui kepala RT setempat untuk meminta izin menginap di desanya.


“Kedatangan kami ke sini ingin melakukan pekerjaan jalan, juga meminta izin untuk menginap disalah satu rumah warga yang akan kami sewa sampai selesai pengerjaan,” ucap Yasin.


“Oh iya, kebetulan sekali di dekat sini ada tempat yang bisa disewakan. Kalian bisa pergi menemui yang punya rumah,” jawab pak RT.


“Anu … disebalah mana ya Pak?” tanyaku.


Kerna saat itu kami berdiri di pinggir jalan, pak RT pun menunjuk kesebuah Pos yang ada jauh di depan.


“Kalian pergi aja menuju gardu (pos) itu. Nah di balakang gardu itu ada rumah yang akan disewakan. Tanyakan saja pada orang dekat situ, nanti mereka pasti akan memberi tahu.” jawabnya.


“Oh iya Pak terima kasih sudah memberi tahu,” ucap Yasin.


“Kalian datang dari Kapuas ya?” tanya pak RT.


“Iya, kami dari sana,” jawabku seraya tersenyum.


Dia mengangguk. “Kalau begitu jangan sungkan untuk ikut ngumpul-ngumpul bareng warga desa sini biar bisa berbaur. Biasanya banyak yang ngumpul untuk santai-santai di gardu itu.”


“Iya Pak, memang seharusnya begitu. Kalau ada sesuatu nanti juga jangan sungkan Pak untuk meminta bantuan kami,” jawab Yasin dengan mudahnya.


Saat mendengar itu, aku sedikit kesal. Kerna kita juga sedang sibuk dan pasti akan lelah, tapi aku memilih diam saja.


Pak RT kemudian tersenyum. “Jangan lupa untuk selalu berhati-hati dalam bekerja, dan juga jangan asal bicara kalau berinteraksi dengan warga sini menganai pembicaraan yang tidak biasa. Takutnya yang mendengar salah paham.”


Mendengar itu tentu saja aku tidak begitu paham apa maksudnya. “Emangnya kami orang jahat apa, sampai di peringatkan begitu. Kami pun pasti tau untuk tidak berbuat masalah dengan orang-orang desa sini,” pikirku.


“Iya Pak, itu sudah pasti. Kalau begitu kami pergi dulu,” jawab Yasin.

__ADS_1


Kami berdua pun segera pergi ke tempat yang disebutkan pak RT tadi. Saat sampai di pos kami pun bertanya pada orang yang sedang duduk di sana.


“Assalamu’alaikum Pak. Perkenalkan nama ulun Yasin dan ini kawan ulun Fadli (nama saya Yasin dan ini teman saya Fadli),” ucap yasin pada seorang laki-laki yang mungkin berusia 30 tahunan. Dia memakai kaos putih dan batapih (memakai sarung) serta kupiah haji (Peci putih).


“Wa’alaikumsalam. Ulun Agus,” jawabnya seraya bersalaman pada kami berdua.


“Kami mau bertanya. Untuk rumah yang disewakan yang mana ya?” tanya Yasin.


“Oh itu rumah saya,” balasnya.


“Pas sekali! Kalau begitu kami mau nyewa selama setengah bulan,” sahutku.


“Iya Pak. Kalau boleh tahu berapa ya?” Tanya Yasin.


“Kita ke rumah dulu untuk melihat tempatnya, sapa tau kalian malah tidak suka,” jawabnya.


Setelah itu kami pun mengikutinya dan melihat tempat yang akan disewakan itu. Kerna rumahnya bagus luas dan bersih kami pun menyetujuinya. Beruntung sang pemilik sangat baik hingga kami pun mendapatkannya dengan harga murah. Tak perlu berlarut-larut kami segera memanggil yang lain untuk segera membawa barang yang diperlukan untuk ke rumah itu.


•••••••••••


Rasa panas siang hari kini berganti jadi suasana hangat sore hari.


Beberapa teman pekerja yang lain pun sudah datang semua. Aku dan Yasin sengaja tidur untuk beristirahat dan terbangun pada waktu itu.


Dari luar terdengar para bapak-bapak asik bercengkarama dan tertawa di gardu depan rumah yang kami sewa. Gardu itu menghadap ke jalan dan saat itu pas sekali ada penjual gorengan yang mangkal di depannya. Kerna rasa lapar menggerogoti perut, aku pun segera mengajak Yasin untuk pergi bersama sekaligus berinteraksi dengan para warga desa ini.


“Mari Pak silahkan di ambil,” ucap Yasin seraya memberikan banyak guringan untuk dibagi.


“Ambil aja Pak semuanya untuk dibagi bersama,” sahutku.


Saat itu mereka terlihat gembira dan menerima dengan senang hati. Beberapa dari mereka juga menanyakan kami datang dari mana. Kami pun menjawab seadanya sesuai kenyataan.


“Ujar dipal 14 ada orang mati lamas (katanya di Km 14 ada orang yang mati tenggelam),” kata salah satu bapak hendak bercerita.


“Katanya remaja berumur 16 tahun. Sudah seharian tidak pulang-pulang. Terakhir diliat mau mandi kesungai saat pagi hari. Eh ... ternyata gak balik-balik ke rumah."


"Para keluarganya juga mengira mungkin setelah mandi langsung pergi berangkat sekolah tanpa memberi tahu, tapi ketika di tunggu sampai pulang sekolah masih gak pulang-pulang hingga petang,” sambungnya bercerita membuat kami yang mendengar penasaran.


“Kerna curiga, salah satu keluarga pun mencoba melihat-lihat pesisir sungai. Lalu malah menemukan anduk dan sabun masih terletak di atas batang. Melihat itu tentu saja mereka sadar bahwa ada kemungkinan anak mereka mati tenggelam.”


“Imbah tu pang kayapa, tatamu lah Julak Roni (lalu bagaimana, ketemu tidak Kaka Roni)?” tanya pak Agus.


“Besoknya, para warga pun membantu melakukan pencarian atas perintah RT setempat. Alhamdulillah hanya berlangsung beberapa jam, akhirnya ditemukan tergelitak di pinggir sungai di babatuan tidak jauh dari tempatnya,” jawab julak Roni.


“Itu lah sebabnya kita harus berhati-hati kalau mandi disungai, apa lagi saat banyu mengidam(air mengidam),” ucap Pak Agus membuatku dan Yasin heran.


“Apa yang dimaksud banyu mengidam? bukannya ... biasanya manusia yang bisa mengidam?” tanyaku heran.


“Itu istilah yang kami sebut saat air pasang tidak seperti biasanya. Yaitu pada saat air pasang lebih dalam dan air tinggi naik kedaratan. Keadaan itu sangat jarang terjadi. Maka dari itu jangan sampai mandi ke sungai saat waktu banyu mengidam. Takutnya malah mati tenggelam,” jawab pak Agus menjelaskan.


"Ada yang bilang juga banyu mengidam iyalah saat di mana air sangat tenang, tidak pasang dan juga tidak surut, aliran air terhenti begitu saja. Katanya ini jarang terjadi. Beberapa orang menyebut bisa terjadi sekitar setahun sekali," sahut julak Roni.


"Benar. Ada satu kejadian di mana  seorang laki-laki dewasa mandi di saat air tenang seperti itu. Ketika dia mencaburkan diri. Tiba-tiba dia lenyap begitu saja," sahut yang lain menambah ketegangan kala itu.


“Emangnya ... saat itu ada hantu penunggunya atau gimana, kok bisa sampai sangat ditakuti?” tanya Yasin.


“Beberapa orang mempercayainya. Bahwa saat itu ada makhluk yang bisa menyeret kita kedalam air dan membuat korbannya bisa mati tenggelam. Sudah banyak yang meninggal disungai ini. Kami sering menyebutnya hantu banyu (Hantu Air),” jawab pak Agus menjelaskan, sedangkan para warga lain juga ikut mendengarkan.


“Itu sekedar parcaya tanpa bukti yang jelas atau gimana?” tanyaku membuatnya bingung.


“Maksudnya?” jawabnya tak mengerti.


“Anu ... apa ada yang pernah melihat makhluknya dengan jelas?” tanya Yasin.

__ADS_1


“Untuk masalah itu belum ada yang melihat. Para warga juga kadang menerka-nerka bahwa hantu banyu ini memiliki kuku panjang, kerna dibeberapa kejadian tubuh korbannya seperti dicakar. Tapi ini cuma kabar yang tidak pasti, jika pun bisa melihat kemungkinannya dia berada di air, dan pastinya akan mati tenggelam,” jawabnya serius membuat kami berdua sedikit takut.


Beberapa dari mereka saat itu menasihati kami untuk berhati-hati ketika mandi. Bahkan ada juga yang sengaja menakut-nakuti. Mendengar itu kami cuma tertawa saja.


“Ada-ada saja ya di desa ini, banyu mengidamlah, hantu banyulah, yang kaya gitu dipercaya. Padahal kebenarannya saja tidak pasti.” bisikku pada Yasin.


“Benar sekali apa yang kau bilang. Kenyataannya mungkin tidak bisa berenang atau kakinya keram, akibatnya dia mati tenggelam,” balas Yasin juga berbisik.


“Apa lagi cuma remaja 'kan katanya tadi. Menurutku. Kerna dia remaja jadinya terlalu semangat berenang dan kakinya malah keram. Tadi juga bilang beberapa korban ada luka-luka. Ya paling cuma tergoris ranting dan kayu-kayu. Secara 'kan banyak sampah di sungai,” sambungku lagi meremehkan. Yasin hanya tertawa pelan agar tidak didengar yang lain.


••••••••••


Tak terasa kini senja telah tiba. Kami begitu asik ngumpul di gardu sampai lupa kalau hari sudah mau magrib. Aku dan Yasin segera pulang ke rumah dan bersiap pergi ke Langgar yang dekat dengan rumah kami. Namun saat kuajak ternyata Yasin tidak mau kerna malas, dia beralasan untuk sholat di rumah saja.


Langgar yang ada didesa ini ternyata sangat bagus bahkan sangat bersih. Anak-anak pun semangat sekali untuk sholat berjamaah dan itu membuatku salut dengan mereka. Saat selesai Sholat pun mereka tidak langsung pulang dan menunggu Sholat Isya tiba sambil mengaji. Mereka diajarkan oleh para remaja di sini.


Remaja yang mereka panggil guru itu ternyata adalah Dayat dan As’ad. Kulihat sepertinya mereka hanya berusia sekitar 18-19 tahun. Aku sangaja ikut diam di langgar untuk shalat sunah dan mendengar mereka mengaji, mendengarnya saja hatiku sudah merasa sejuk hingga tak terasa waktu Isya sudah tiba.


Setelah sholat Isya selesai. Kulihat di luar mereka seperti asik bercerita tentang satu hal yang menarik. Kerna penasaran, aku pun datang menyapa mereka yang sedang duduk ngobrol di teras rumah kaum. Kudengar mereka memanggil Haji Sabran.


“Assalamu ‘alaikum Guru,” sapaku mencandai mereka.


Mereka tertawa. “Wa’alaikumsalam Guru,” balas mereka serentak membuatku tertawa juga.


“Ini siapa namannya?” tanyaku menunjuk dua orang remaja didekatnya yang lebih muda. Mungkin usianya sekitar 15 tahun.


“Ini Pihan, ini Isar,” jawab Dayat seraya menunjuk.


“Amun buhan pian badua nih tahu dah ulun. Nih Dayat, nih As’ad iyalah? (kalau kalian berdua ini aku sudah tahu. Ini Dayat dan ini As’ad iya gak)?” tanyaku dan mereka membenarkan. Kemudian aku pun memperkenalkan diriku juga.


“Kudengar, tadi kalian sedang asik bercerita. Emang cerita apa?” tanyaku.


“Kami sedang bercerita orang mati lamas (mati tenggelam),” jawab As’ad.


“Tadi sore aku juga dengar dari Bapak-Bapak di gardu bicara orang mati tenggelam. Menurutku, paling itu cuma nggak bisa berenang, atau kakinya keram. Mana adakan hantu banyu di saat yang kalian sebut banyu mengidam ha ha ...” Aku tertawa. Sedangkan mereka hanya terdiam heran.


“Seperti kalian ini juga bisa tenggelam, walaupun bisa berenang. Apa lagi seperti Pihan dan Isar. Sudah pasti hilang terbawa arus. Dari manapun tidak mungkin penyababnya oleh hal mistis yang sudah jelas tidak ada buktinya. Apa lagi yang dibilang orang-orang tadi tubuhnya seperti dicakar ha ha ..." sambungku.


"Paling cuma tergoris ranting atau kayu. Semuanya bisa dijelaskan oleh ilmiah, seperti kaki keram atau paling parah memang tidak bisa berenang. Jadi kalian ini tidak perlu mempercayai yang begituan."


"Aku bahkan berani bertaruh. Nanti saat aku mandi di sungai dan itu adalah waktu banyu mengidam atau apalah. Aku yakin tidak akan ada yang terjadi. Aduh ... dasar kalian ini yang seperti itu dipercaya.” Aku terus mengoceh dan metertawakan mereka.


Melihat aku yg terus mengoceh, mereka hanya saling menatap heran.


“Kami tidak bicara soal remaja atau anak-anak. Kami bicara soal orang dewasa yang hilang selama satu hari. Lalu ditemukan saat air surut sampai memperlihatkan permukaan tanahnya. Saat itulah, orang itu bisa ditemukan kerna sebagian badannya terpasak di tanah liat dalam keadaan berdiri, serta kepalanya mendongak ke atas,” jawab Dayat menatap serius


membuatku tercengang.


“Bagaimana mungkin orang dewasa bisa menenggalamkan tubuhnya sendiri ke dalam tanah dalam keadaan hampir sebagian tubuhnya terpasak, dan itu hanya menyisakan bagian kepala sampai dadanya,” sambungnya lagi menegaskan.


“Saat ditemukan pun harus tiga orang yang menariknya keluar dari lumpur. Hiii ... membayangkan saja aku sudah merinding. Katanya, tubuhnya udah kaya paku yang menancap pada papan. Seluruh tubuhnya sudah kaku,” sahut As’ad juga menegaskan. Pihan dan Isar pun bergidik ngeri mendengarnya.


Mendengar semua itu, aku benar-benar merasa takut dan tak percaya. Rasanya tubuhku merinding jika terus membayangkan. Tapi kerna mereka itu lebih muda dariku. Aku merasa gengsi.


“Ha ha ... itu kalian lihat atau kata orang. Jika pun benar paling juga ada yang sengaja membunuh. Aduh kalian ini jangan terlalu percaya,” ucapku terus mentertawakan, namun mereka hanya diam.


“Yah apa pun itu kita tetap harus berhati-hati. Kerna kita hidup tidak sendiri ya 'kan,” jawab As’ad.


“Benar apa kata As’ad. Sebaiknya kita juga jangan menantang makhluk seperti itu. Kerna sebagian dari mereka memang punya kemampuan untuk membunuh manusia,” ucap Dayat seolah mengatakannya padaku.


“Haha ... iya-iya aku juga tau. Dahlah aku mau pulang dulu lapar mau makan.” Aku pergi meninggalkan mereka. Aku kesal kerna merasa dinasihati.


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2