
Keesokan harinya. Aku sibuk melakukan pendusuran agar bisa memperluas jalan. Aku mendusur rumput-rumput yang ada di sisi jalan supaya bisa terlihat bersih dan luas. Pekerjaan ini kulakukan sampai sore hari tiba.
Kulihat sungainya sedang pasang dan terlihat jernih. Aku sampai bisa membayangkan bagaimana sejuknya air sungai itu. Aku tidak peduli lagi soal banyu mengidam. Yang kupikirkan hanya rasa segar mandi di sungai itu.
Saat selesai bekerja. Kulihat ada seorang ibu yang melarang anaknya untuk mandi ke sungai. Melihat itu, tentu saja aku datang menghampiri.
“Biarkan saja Bu dia mandi. Lagi pula dia cuma bisa mandi dipinggir-pinggir batu iti,” ucapku seraya menunjuk tempatnya.
“Maaf Mas gak bisa dibiarkan. Walaupun dipinggir tetap saja berbahaya,” jawabnya seraya menggendung anaknya dan menjauh dariku.
“Ha ha ... aduh Fadli ... ada-ada saja kau ini. Masa anak orang dibiarkan mandi disungai, 'kan bahaya,” ucap Yasin tiba-tiba datang mentertawakan.
“Kan bisa diliatin. Lagi pula beranangnya cuma di pinggir,” balasku beralasan.
“Tetap saja bahaya. Lengah sedikit bisa hilang tuh anak.”
“Halah ... paling orang sini takut sama banyu beranak, Ehh, mengidam ha ha ....”
“Gini nih kalau orang sudah kehabisan kata-kata, yang keluar malah ejekan.”
“Gini aja dah. Gimana kalau kita buat tantangangan untuk teman kita. Berani gak mandi di sungai. Kan pas banget tuh airnya dalam banget,” ucapku
“Oke! siapa takut,” jawabnya.
•••••••
Setelah itu. Aku dan Yasin pun segera pergi pulang ke rumah dan mempersiapkan peralatan mandi. Lalu memberitahukan soal tentangan itu pada yang lain.
Kenyataan yang terjadi, reaksi mereka diluar dugaanku. Mereka semua ternyata takut untuk mandi saat seperti ini. Mereka juga ada yang bilang untuk tidak main-main dan jangan asal bicara. Ditakutkan nanti ada yang marah, kata mereka. Saat itu aku hanya bisa mentertawakan mereka bersama Yasin.
“Yasin! Ayo cepat nanti keburu senja,” panggilku bersemangat.
“Dahulu ja! Aku badudi nah. Handak nukar sabun dulu (duluan aja! Aku nanti nyusul. Aku mau beli sabun dulu),” jawabnya.
"Hah ... kau ini. Baiklah aku duluan." Aku pun pergi lebih dulu.
Sebelum pergi ke sungai. Aku mampir dulu kewarung untuk membeli sabun. “Mang beli sabun yang paling murah!” ucapku sedikit nyaring.
“Nih yang paling murah,” jawabnya menyodorkan sabun yang kuminta.
“Hati-hati jika mau mandi di sungai. Kalau bisa dipinggir-pinggir saja. Jangan berenang ke tengah,” sambungnya menasihati.
“Ha ha ha ... astaga Amang ini! Aku sudah dewasa Mang. Masa gak bisa berenang,” jawabku mentertawakan dan dia hanya tersenyum.
Sesampainya di batang aku pun dibuat heran kerna air bahkan sampai naik kepermukaannya. Dengan terpaksa aku melatakkan anduk dan sabun ke atas tangga yang ada.
Batang adalah sebuah lantai yang terbuat dari kayu ulin. Tempat ini sengaja dibuat oleh pemerintah untuk mempermudah akses kesungai. Biasanya ini terdapat di beberapa tempat. Masyarakat di desa ini biasanya menyebutnya batang.
Kerna tak sabar lagi aku langsung berlari dan menceburkan diri. Aku beranang dan menyelam kesana kemari.
“Wahh ... segarnya. Rasanya tubuhku yang lelah dibabat habis oleh rasa sejuk ini,” ucapku sambil mendongak ke atas.
Saat itu aku bahkan berenang ke tangah dan melihat pamandangan jauh ke depan, namun yang kulihat justru kesunyian. Tidak ada kapal yang lewat. Bahkan orang-orang yang beraktifitas di sepinggir sungai pun tak ada.
Kakiku terus mengayuh agar kepalaku tetap muncul dipermukaan. Kerna saat di tengah aku bahkan tidak merasakan adanya tanah yang ada di bawah. t
Tidak seperti saat sedikit ke pinggir, aku masih bisa menyentuh dasarnya walau wajahku harus aku dongakkan ke atas.
Entah kenapa ... rasanya aku tiba-tiba takut dan merasa ngeri. Bulu kudukku tiba-tiba merinding, padahal tubuhku masih basah. Saat itu sepintas kulihat di sisi kiri ada warna hitam seperti kepala yang hanyut terbawa arus. Aku sontak saja kaget dan segera berenang ke pinggir. Tapi, di saat terus berenang, tidak sengaja aku melihatnya dengan jelas. Ternyata itu cuma batang kayu yang hanyut.
“Astagfirullah! Aku kira kepala. Ternyata cuma kayu! Dasar ada-ada saja,” grutuku kesal. Lalu segera berenang ke pinggir.
*Brururukkkk ...!
“Loh kok mataku terpejam. Dan kenapa seluruh tubuhku menyelam,” batinku.
Aku merasa bingung. Terdiam beberapa saat merasakan seluruh tubuhku tenggelam. Aku merasa tanganku terus mencoba berenang, melepaskan diri dari sesuatu hal. Tubuh dan kaki pun seirama. Aku juga terdiam hanya untuk mengingat kejadian sebelumnya.
“Bukankah aku tadi sedang berenang ke pinggir. Lalu kenapa seluruh tubuhku tenggelam. dan kenapa ...”
Aku tersentak menyadari semuanya. Aku merasakannya. Merasakan bagaimana sepasang tangan sedang memeluk badanku. Terus menarik ke tanah lumpur.
Aku juga merasakannya. Merasakan bagaimana kuku-kuku panjangnya mengores-gores badanku.
Aku juga merasakannya. Merasakan di punggungku sebuah lobang menganga. Seolah menarikku harus masuk dengan paksa ke dalam.
Aku juga merasakannya. Merasakan bagaimana seluruh tubuhku memberontak dari pelukan makhluk itu. Dia terus menarikku ke lobang tanah lumpur.
Aku menyadarinya. manyadari bagaimana tubuhku bergerak tanpa perintah otak sama sekali. Tubuhku lebih cepat bereaksi dari bahaya ketimbang otakku yang hanya memperoses ingatan sebelumnya.
__ADS_1
Aku juga menyadarinya. Menyadari seharusnya aku berusaha menyelamatkan diriku dari makhluk ini.
Kini otak dan tubuhku sudah seleras dalam waktu yang sama. Satu-satunya yang dipikirkan adalah cara untuk menyelamatkan diri. Satu-satunya cara untuk selemat adalah memberontak.
“Akhhhhh ...!”
Aku berteriak senyaring-nyaringnya, namun yang kudengar ditelinga hanya suara air yang berisik. Aku bertariak lagi, namun terlambat.
Kali ini yang kurasakan adalah nafasku yang tak bisa lagi menahan lebih lama. Tanpa kusadari juga. Seluruh tubuhku sudah tak lagi berontak, yang ada hanya terkulai lemas.
Kali ini tubuhku lebih dulu menyerah. Akan tetapi pikiranku masih terus berusaha memikirkan cara untuk menyelamatkan diri.
Saat itu aku sudah hampir tidak tahan lagi. Ketahanan nafasku pun sudah hampir mencapai batasnya. Satu-satunya yang terpikir adalah menyesal.
“Kutarik ucapanku!” batinku.
“Kutarik ucapanku! Aku menyesal, aku tak bermaksud menantang. Aku telah sadar bahwa Allah menciptakan makhluk tidak hanya manusia saja,” ucapku dalam hati seraya menyesali perbuatanku.
Terlepas! Hanya itu yang kurasakan selanjutnya. Tidak ada lagi tangan yang memeluk badanku erat. Tidak ada lagi kuku tajam yang serasa ingin menusukku. Tidak ada lagi lobang yang menganga dibelakang punggungku.
Dengan sisa tenaga, kukerahkan semuanya untuk naik kepermukaan dan kembali naik ke batang dengan cepat. Nafasku tersengal rasanya tidak ada udara yang masuk keparu-paru. Aku terus menarik nafas hanya itu yang harus kulakukan hingga aku kini merasa sedikit tenang.
Tenang. Yah hanya pikiranku yang tenang seluruh tubuhku masih terasa menyakitkan. Saat kulihat air sungai di depan. Ketakutan itu kembali menyerangku.
Lari, lari, lari. Hanya itu yang kupikirkan. Aku segara pergi dari tempat itu. Pikiranku terus menyuruh lari tapi tubuhku sudah tak punya tenaga. Yang bisa kulakukan hanya berjalan pelan menjauh.
“Woy bro! Kok sebentar aja mandinya,” sapa yasin seraya menepuk pundakku.
Saat itu aku hanya menatapnya dengan perasaan masih takut dan tidak membalas apa-apa. Yang kupikirkan hanya ingin pulang dan bersembunyi di rumah. Sekilas, kulihat wajahnya menatapku heran.
Setelah sampai dirumah aku segera beristirahat, namun salah satu temanku melarang. “Fadli! Jangan tidur, ini sudah Ashar. Lebih baik Shalat dulu dan menunggu Magrib tiba,” panggilnya membangunkanku yang sedikit terlelap.
“A’ahh ... terima kasih,” jawabku pelan.
Dia menatap heran. “Ada apa? Apa terjadi sesuatu?”
“A’ahh ... tidak apa-apa aku baik-baik saja.” Aku berbohong kerna tidak mungkin rasanya aku menceritakan kejadian itu padanya.
Dia terlihat tak percaya. "Emm ... baiklah. Sebaiknya kau segara berwudhu." Pintanya lgi.
"Iya tentu. Terima kasih,"jawabku tersenyum. Dia pun blas tersenyum dan mengangguk.
••••••••••
“Kenapa kalian pada ribut semua? Emangnya kenapa dengan Yasin?” tanyaku.
“Yasin! Dia mulai kemarin sore tidak pulang-pulang. Apa kau melihatnya, atau tahu dia kemana?” balasnya balik bertanya.
Aku tersentak sedar dan mengingatnya. “Dia 'kan kemarin mandi ke sungai. Kalian ingatkan? Saat itu kami mengajak kalian juga?” tanyaku lagi pada mereka. Tiba-tiba mereka terperangah melihatku.
Melihat mereka begitu membuatku tertunduk. “Tapi ... mungkin dia sedang Shalat subuh berajmaah di langgar. Jadi dia tidak ada di rumah,” sambungku menatap mereka penuh harap.
Temanku yang melarang tidur sore menghampiriku. “Dia sudah dari kemarin tidak pulang-pulang ke rumah, tepat setelah kau kembali. Tapi aku diam saja ingin memastikannya sapa tau dia pulang dan mengambil barang yang tertinggal. Lalu tadi malam aku juga menanyakan kekeluarganya tapi dia memang tidak pulang. Sampai sekarang dia tidak kembali. Barang-barangnya pun masih ada. Itu artinya hanya ada kemungkinan lain. Dia, mungkin saja mati tenggelam,” jawabnya suram.
“Itu tidak mungkin! kenyataannya masih samar. Bisa saja dia pergi ketempat lain!” bantahku, namun mereka semuanya hanya bisa terdiam lesu.
"Kita akan pergi menanyakan ini pada warga nanti. Siapa tau ada yang melihatnya," balas temanku. Aku hanya diam tertunduk.
••••••
Saat pagi mulai terang. Aku pun memastikan pergi bersama mereka menuju sungai. Saat itu amang warung sedang membuka warungnya, kami pun mananyakan prihal itu. jawabannya pun sama sepertiku, yaitu mandi ke sungai.
Kami pun segera pergi menuju sungai. kami semua tercengang. Benar saja, anduk dan sabun mandinya masih tergelitak di sana. Seketika itu juga kami menyerah berharap.
“Mari kita laporkan menganai ini pada pak RT dan pada warga lainnya,” ucap temanku tadi seraya pergi dengan yang lain.
Aku hanya bisa terdiam dan menyesali perbuatanku. Kenapa saat terakhir kali kami bertemu aku tidak memberitahunya apa yang ku alami. Aku saharusnya bisa melarangnya untuk mandi di sungai setalah apa yang ku alami. Tapi kenapa aku hanya diam waktu itu.
Para warga pun mulai berkumpul menuju sungai. Beberapa dari mereka sudah menceburkan diri ke sana.
Teman-temanku pun sudah meminta izin tidak bekerja hari ini untuk membantu melakukan pencarian. Para ibu-ibu di sana juga ikut berkumpul di pinggir jalan membicarakan tentang kejadian itu.
Aku benar-benar paling merasa terpukul di antara yang lainnya atas kejadian itu. Tiba-tiba seorang kaum langgar yang bernama Haji Sabran menghampiriku.
“Apa kau tau sesuatu mengenai kejadian ini? Jika kau memang tahu maka katakan saja yang sebenarnya. Kami pasti akan membantu,” ucapnya padaku.
Pak RT yang bersamanya pun mengatakan yang sama, tapi saat itu aku hanya diam dan mengangguk tak memberitahu semuanya. Kerna yang kutakutkan, jika aku beri tahu mereka mungkin tidak akan ada yang berani menceburkan diri ke sungai.
Sudah hampir satu jam penyisiran dan tidak menemukan apa-apa. Haji sabran dan Pak RT pun juga ikut turun. Aku ingin sekali ikut turun membantu, tapi ketakutan itu masih menghantui.
__ADS_1
Dua jam telah berlalu dan masih tidak dapat apa-apa. Aku kesal dan kemudian mengingatnya. Ingat saat di mana tempat aku ditarik oleh hantu banyu itu. Tanpa pikir panjang aku langsung ikut menceburkan diri.
“Di mana, di mana, di mana ...” itulah yang terus kuucapkan, terus berjalan mencari lobang yang mana aku ingin di masukkan ke dalam olehnya.
Tiba-tiba aku menginjak sesuatu yang keras. Aku berusaha merabanya dengan kaki secara perlahan. Seketika itu juga aku terbelalak. Menyadari bahwa yang kuinjak adalah wajah manusia. Wajah yang mungkin tidak lain adalah wajah temanku sendiri Yasin. Saat itu yang kurasakan hidung, mata, mulut, dan juga dahinya.
“Tolong-tolong! Semuanya tolong cepat kesini aku menginjak wajahnya!” teriakku nyaring.
Mereka segera menghampiriku dengan berenang dan berjalan di tanah. Kerna saat itu airnya sedang surut sedada. Saat itu aku ketakutan, tapi lebih takut jika seandainya kakiku kulepaskan mungkin saja kami tidak akan menemukannya lagi.
Saat itu juga aku sudah berusaha nyari tubuhnya dengan kaki satunya, tapi aku tidak menemukan apa-apa. Ditambah lagi tanah lumpur disekitar pijakanku seolah ingin menutupnya.
“Ogi! Cepat ke sini, yang lainnya juga,” panggil pak RT.
Saat itu tidak ada satupun yang menyuruhku melepaskan kakiku dari mayatnya. Aku yakin mereka juga berpikiran sama.
“Cepat Gi menyelam dan raba kaki Fadli. Apa benar di sana,” ucap Haji Sabran.
“Jangan dilepas. Biar aku yang menyelam dan memastikannya,” pinta Ogi menatapku tegas. Mendengar itu, aku merasakan tidak ada ketakutan darinya sedikitpun. Dari matanya aku melihat, sepertinya dia sudah terbiasa dengan kengerian ini.
Aku merasakan bagaimana dia meraba bagian bawah kakiku, sambil menyengkirkan lumpur-lumpur disekitar. Tak berselang lama dia kembali ke permukaan.
“Benar! Jasadnya ada di sini. Hanya saja yang kurasakan cuma kepalanya. Untuk tubuhnya sendiri tidak ada,” ucapnya.
“Apa maksudmu dengan hanya kepalanya saja?” tanyaku.
“Kemungkinan besar ini seperti kejadian itu. Kejadian di mana sebagian tubuhnya tenggelam di tanah, akan tetapi ini lebih parah. Yang tersisa hanya wajahnya yang mendongak ke atas,” jawab Ogi menatap serius.
“Jadi apa yang harus kita lakukan Pak RT?” tanyaku merasa hendak menangis.
Dia terdiam sejenak. “Saat ini airnya masih dalam. Pasti akan sulit untuk mengangkatnya keluar dari situ, tapi kita tetap harus berusaha,” ucap pak RT bersimpati.
“Ayo semuanya mari mendekat. Bantu aku menggali tanahnya agar bisa mudah mengangkat tubuhnya!” panggilnya meminta.
Seketika itu juga orang-orang bergantian membantu secara bersama-sama untuk bisa menyelamatkan jasad Yasin yang terpasak ditanah lumpur itu. Mereka juga bilang seumur-umur belum pernah menemui ini. Biasanya jika ada yang mati tenggalam paling tidak hanya larut terbawa arus. Begitulah sebegian mereka berucap.
Setelah berusaha sekitar setengah jam kami semua berhasil menyelamatkan jasad Yasin agar bisa disemayamkan. Cukup lama kakiku tidak pernah kulapaskan dari wajahnya. Akhirnya Hj. Sabran pun memintaku untuk melepaskannya.
Dia bilang tidak usah khawatir, mereka akan menjaganya. Walaupun begitu aku sempat takut untuk melepasnya. Takut jika tiba-tiba kami kehilangannya. Akan tetapi rasanya juga sangat menakutkan bagiku harus terus menginjak wajah temanku sendiri dalam keadaan sudah jadi mayat.
•••••••
Setelah itu jasadnya dibawa dengan ambulan untuk menuju rumah keluarganya. Aku dan temanku juga ikut serta untuk membantu menguburkan.
Setelah kejadian itu. Setiap harinya aku merasa ketakutan dengan apa yang kualami. Bahkan selalu terbayang dipikiranku atas kejadian yang hampir merenggut nyawaku. Aku juga libur bekerja selama seminggu kerna parasaan trauma yang medalam.
Yang kutahu hanya satu alasan kenapa aku selamat. Yaitu adalah meminta perlindungan kepada Allah dan meminta maaf atas segala perbuatanku.
Setelah memperbaiki diri. Aku pun kembali bekerja melanjutkan pembangunan jalan di Desa Anjir Serapat. Malamnya, aku juga kembali bermalam di rumah yang kami sewa bersama.
Saat ingin pergi ke langgar untuk melaksanakan Shalat Isya. Aku mendengar orang baru yang menggantikan Yasin sedang asik berbicara soal banyu mengidam yang baru dia dengar.
“Aneh-aneh juga ya mitos yang ada di desa ini. Banyu mengidam lah, hantu banyu lah ha ha … yang benar saja. Mana ada yang kaya gituan. Teman kalian yang mati tenggelam itu paling juga cuma keram, lalu tanpa sengaja malah masuk kelobang tanah bakas galian anak-anak saat air surut,” ucapnya nyaring meremehkan.
Aku sangat merasa mesal mendengarnya. “Jangan pernah meremehkan sesuatu hal jika kau sendiri tidak tau cara mengatasinya!” sahutku membuatnya terdiam sejenak heran.
“Ha ha … mengatasi apanya. Orang itu cuma mitos, lagi pula itu tidak akan-”
“Aku tanya satu hal! Bagaimana cara kau menyelamatkan diri dari pelukan sepasang tangan berkuku panjang sangat tajam, tentu dengan mudahnya menusuk perut untuk membunuhmu. Akan tapi dia memilih menarikmu kedalam lobang yang menganga lebar.
Bagaimana cara mengatasinya agar bisa selamat?” tanyaku membuatnya dan yang lain tercengang.
“Lupakan saja. Kenyataannya kita semua pasti akan mati terpasak ditanah lumpur seperti yang dialami Yasin,” sambungku kemudian pergi meninggalkan mereka yang masih terdiam.
•••••••••••••
Keesokan harinya saat aku bekerja kulihat anak-anak sedang berlarian menuju sungai untuk mandi bersama. Seketika itu aku berteriak menyuruh mereka untuk berhanti.
“Jangan mandi di sungai. Wahinih banyunya dalam masih (jangan mandi kesungai. Sekarang airnya masih dalam)!” teriakku membuat mereka berhanti.
Aku menghampiri mereka. “Kalau mau mandi di rumah saja,” pintaku.
“Kami cuma mandi di pinggir daerah yang surut,” jawab salah satu dari mereka.
“Begini saja. Aku kasih kalian masing-masing 2000 untuk belanja, asal jangan mandi di sungai saat ini,” pintaku lagi.
“Baik Mang!” teriak mereka serentak.
Hari ini aku merasa bersyukur kerna bisa selamat dari kejadian itu. Aku merasa tidak ingin ada lagi korban seperti Yasin. Maka dari itu, siapa saja yang mencoba meremehkan, akan aku ceritakan bagaimana yang kualami agar bisa membuat mereka sadar.
__ADS_1
Bukan berarti aku ingin menakut-nakuti, tapi ingin mengatakan bahwa kita hidup selalu berdampingan dengan mereka yang kita sebut makhluk halus.
-Selesai-