
Keesokan harinya tepat jam 4 pagi. Kai Rusdi seperti biasa pergi ke kebun karet yang ada dibelakang rumah untuk menurih (menyadap).
Dengan bermudal sinter dikepala, dan obat nyamuk di dalam kaleng cat yang sengaja dilobangi, dia sandangkan talinya berselimpang kepinggang.
Beberapa pohon karet miliknya pun sudah dia sadap dan terus berjalan masuk ke kebun karet. Saat sampai diujung kebun miliknya. Tiba-tiba terdengar suara dedaunan kering terinjak di belakangnya. Tentu saja hal itu membuat kaget dan takut, namun dia hiraukan.
Sesosok bayangan melintas dari cahaya sorot sinter. Suara ranting patah terinjak terdengar pelan. Akan tetapi mempu memekakkan telinga kerna ketakutan menyelimutinya.
Kai Rusdi mencoba mencari asal suara dan malah tak sengaja melihat pohon kecil bergoyang tanpa angin berhembus.
Suara daun kering terinjak terdengar lagi. Kali ini, kai Rusdi berani mengahampiri menuju batas pohon karet miliknya. “Oo Kai.”
Seketika itu juga Kai Rusdi tersentak kaget, sekejap mengerahkan sinter ke arah orang yang memanggilnya. “Astagfirullah, Haji Sabrankah?” tanya kai Rusdi mengelus dada.
“Inggih.”
“Maka malam tadi ikam umpat bajaga (Bukannya malam tadi kau ikut berjaga)?” tanya kai Rusdi lagi.
“Inggih. Tapi kami mulai bubar saat jam tiga pagi, jadi ulun menurih,” jawab haji Sabran berjalan mendekati.
“Kata pak RT, besok ba’da Dzuhur kumpul di rumahnya untuk membicarakan giliran berjaga,” sambungnya.
“Oh iya, nanti aku ikut datang juga,” jawab kai Rusdi.
Setelah berbincang singkat kai Rusdi dan haji Sabran pun melanjutkan menurih.
••••••••••
Waktu yang ditentukan pun telah tiba. Para warga pun mulai berdatangan menuju rumah pak RT. Ada yang bersepeda ada juga yang berjalan kaki saja termasuk kai Rusdi bersama Roni.
Saat sampai, ternyata sudah banyak yang berkumpul. Atas perintah Pak RT rapat mereka pun dimulai hingga anggota jaga malam pun terbentuk.
“Bagi malam ini, yang bergiliran berjaga dan juga warga lainnya di harapkan bisa mengamankan rumah salah satu warga kita. Yang mana, istrinya hendak melahirkan antara ba’da Magrib sampai selesai melahirkan. Jika sampai larut malam belum melahirkan maka yang tidak kena giliran berjaga bisa pulang beristirahat,” ucap pak RT lantang.
“Lalu, sepertinya kampung kita sudah terlalu rimbun ya pohon-pohonnya. Bahkan banyak rumput yang sudah tinggi-tinggi dibelakang rumah kita. Nah demi keamanan, mari kita bersihkan bersama-sama,” sambung pak RT dan di setujui warga.
Para warga pun segera melakasanakan permintaan pak RT. Mereka bergontong royong membersihkan belakang rumah mereka secara bersama-sama dan bergantian.
Bahkan para anak-anak mereka juga ikut membantu mengangkut rumput-rumput yang telah di tebas kepembuangan yang disepakati, agar nantinya bisa dibakar.
Pekerjaan itu pun berlangsung hingga menjelang senja. Meskipun begitu, dari raut wajah mereka tidak ada sedikit pun terlihat raut wajah malas dan kelelahan.
Setelah Magrib tiba kai Rusdi langsung pergi menuju langgar untuk shalat berjamaah, lalu dilanjutkan pergi menuju rumah warga yang akan melahirkan. Roni dan Salim yang baru datang mulai membuat api unggun di bantu warga lainnya.
“Mari semuanya minum dulu,” ucap seorang remaja, keluarga dari pemilik rumah dan di angguki para warga.
Beberapa anak-anak yang ikut lebih dulu meminum dan memakan kue yang disajikan. Tidak ada yang melarang mereka bahkan salah satu diantara mereka membantu menuangkan. Para anak-anak dibiarkan ikut kerna belum terlalu malam.
Saat itu kai Rusdi dan suami dari istrinya yang ingin melahirkan tengah berbincang bersama di teras.
“Nih tali kamu kelilingkan serumahan," ucap kai Rusdi menyodorkan gulungan tali hitam berserabut kasar.
“Inggeh Kai, nanti biar ulun yang mengelilingkannya,” jawabnya.
“Tali seperti ini katanya dipercaya mengusir kuyang, kerna ketika dia melewati dan menyantuhnya akan tertusuk oleh duri-duri dari serabut kasar tali ini,” sambung kai Rusdi menjelaskan
“Inggeh Kai. Kalau gitu ulun handak masuk ke rumah dulu,” jawabnya dan di angguki kai Rusdi.
••••••
Setelah itu sampai menjelang Isya. Istri dari pemilik rumah akhirnya mengalami Kontraksi. Para warga yang berjaga mulai berkeliling. Ada yang berjaga di depan, ada juga yang berjaga di belakang.
Rumah sang pemilik nampak terang kerna api unggun yang mereka buat. Dengan cahaya yang begitu terang, tentu saja membuat mereka merasa tenang, sehingga akhirnya sang pemilik rumah pun melahirkan dengan selamat.
“Alhamdulillah!” ucap semua warga yang berjaga ketika mendengar kabar itu.
Merasa sudah aman beberapa warga meminta izin untuk pulang hendak menunaikan shalat Isya. Mereka sepakat untuk bergantian berjaga.
Namun ketika Isya telah lama berlalu, para warga yang kembali hanya sedikit, kerna mereka hanya sebagai suka relawan dan tidak mendapat giliran jaga.
Beruntung beberapa warga lain masih bisa ikut berjaga kerna merasa asik bisa kumpul bersama. Ditambah lagi, belum terlalu larut malam atau baru sekitar jam 10 malam.
Kai Rusdi yang melihat hal itu membuatnya sedikit cemas, sehingga dia berinisiatif untuk berkeliling sendiri sekaligus menyapa warga lain yang ada di belakang rumah.
Langkah kakinya terhenti ketika sampai di tepi rumah. Dia mendengar suara aneh dari barumahan (kolong rumah) setinggi lutut itu.
Suara itu bertambah semakin nyaring. Dia sempat mengira itu adalah suara desis ular. Kai Rusdi pun mencoba menengoknya dengan berjongkok.
Seonggok bayangan tak terlihat jelas seperti menyentuh papan lantai di atasnya. “Karung padi hampakah atau apa nih,” ucap kai Rusdi sambil berusaha mencari tombol sinter ditangannya.
Cahaya sinter seketika hidup setelah kai Rusdi berhasil menekan tombolnya. Cahaya sinter itu juga seketika tepat mengarah kesasaran, lalu memperlihatkan dengan jelas, sebuah kepala melayang berambut lurus menutup setengah dari isi perut yang bercurai itu.
Wajah kuyang itu tak terlihat jelas, kerna tengah menempel dilangit-langit kolong rumah seolah tengah menghisap sesuatu. Kai Rusdi terkejut dan menimbulkan suara.
Sorot sebelah matanya yang tajam seketika menatap kai Rusdi. Kuyang tersebut melepas hisapan dan malah memperlihat cairan merah di seluruh mulutnya.
__ADS_1
“Kuyang-Kuyang!” teriak kai Rusdi menimbulkan kegaduhan para warga yang tengah bersantai tenang.
“Kuyang-kuyang di sini. Kalian jaga sebelah sana!” teriak kai Rusdi lagi, setelah melihat kuyang itu berusaha pergi lewat ujung sebelah rumah.
Para warga lain yang mendengar perintah kai Rusdi seketika berlari menuju tempat kuyang ingin melarikan diri. “Dimana Kuyangnya Kai!” ucap Salim bersama Roni yang datang berlari menghampiri.
“Semuanya cepat kesini. Dia sudah mau berusaha terbang meninggi!” teriak haji Sabran berlari di tepi sebelah rumah.
Kai Rusdi yang terduduk itu pun melihat langkah kaki haji Sabran disebrangnya lewat bawah kolong rumah.
“Ikuti Haji sabran. Kejar kuyangnya, jangan sampai lepas!” tegas Kai rusdi. Roni dan salim pun segera berlari
Kuyang itu berusaha kabur ke arah rimbunnya pohon karet, namun beruntung para warga yang berjaga dibelakang rumah berusaha melemparinya dengan kayu dan batu. Bahkan dengan bigi para (biji getah). Mendapati hal itu kuyang tersebut beralih arah lurus meliwati atap rumah warga.
Para warga yang mengejar terus berteriak kuyang membuat warga lain yang semula diam dirumah, keluar dan ikut mengejar.
Para anak-anak yang semula tidur pulas terbangun ketakutan mencari pelukan ibunya. Para remaja wanita dan ibu-ibu yang semula belum tidur segera masuk kekelambu mereka menutup diri berselimut.
Sungguh mencekam malam itu bagi rumah mereka yang beratap sing. Suara lemparan batu kerikil terdengar menusuk nyaring memekakkan telinga.
Belum lagi teriakan para warga serta langkah mereka berlari, lewat di dekat dinding luar kamar tempat berbaring mengistirahat diri yang lelah bekerja.
Saat itu, kai Rusdi dan dua orang yang sepantaran dirinya saja tidak ikut mengejar. Sang pemilik rumah pun sebenarnya hendak mengejar, namun ditahan oleh kai Rusdi dan lainnya untuk menjaga istrinya saja.
“Kalian berdua sebaiknya memeriksa belakang rumah lagi. Aku akan mengelilingi rumah ini dengan tali yang kubawa tadi. Sepertinya dia lupa untuk melakukan yang kusuruh, makanya kuyang itu bisa masuk ke bawah rumahan,” pinta kai Rusdi dan mereka segera menuju belakang rumah.
Kai Rusdi pun dengan segera mengengelilingkan tali berserabut kasar itu ke sekeliling rumah, tepat ditengah-tengah kolong Rumah.
“Kuyang-kuyang!” teriak dua orang di belakang rumah.
Belum sempat selesai kai Rusdi pun segera berlari menyusul dua orang tadi. “Sinih Kai!” Tunjuk salah satu mereka ke atas.
Kai rusdi melihat ke atas namun tidak terlihat jelas kerna kuyang itu bersembunyi dibalik rindangnya pohon.
“Kancing berataan lawang! Jangan kada di kunci! (tutup semua pintu! Jangan tidak dikunci!)” teriak salah satunya lagi sambil berlari menuju pintu dapur pemilik rumah. Lalu dari dalam rumah terdengar semua pintu di tutup rapat.
“Bagaimana ini Kai? Kita kekurangan orang, yang lain sudah pergi mengejar!” ucap yang memanggil kai Rusdi tadi.
“Kita hanya perlu berjaga agar dia tidak terbang menuju rumah mereka,” jawab kai Rusdi.
Orang itu terdiam cemas. “Dari mana dia datang?” tanya kai Rusdi.
“Dia tiba-tiba keluar dari semak-semak di sana.” Tunjuknya ke arah kebun karet.
Dalam keadaan cemas tiba-tiba kuyang itu terbang menjauh melewati kebun karet. Awalnya mereka kaget dan bersiap siaga takut kuyang itu akan menuju rumah orang yang melahirkan. Tetapi ternyata kuyang itu menjauh kerna beberapa warga yang berlari mengejar kuyang satunya mulai kembali perlahan.
“Kalian jaga disini. Aku ingin menemui mereka,” ucap kai Rusdi.
“Inggeh Kai. Mudah-mudahan kuyang tadi itu sudah tak berani kembali,” jawab keduanya dan kai Rusdi mengaminkan.
Saat sampai di halaman depan, kai Rusdi segera menemui haji Sabran, Roni dan juga Salim. “Kacau Kai. Kuyangnya berhasil lolos. Kami semua sudah berusaha mengejar, akan tetapi, dia berhasil terbang ke sebrang,” ucap Salim tersengal.
“Tidak apa-apa, syukurlah kalian cepat kembali, kerna ternyata masih ada satu kuyang yang bersembunyi.” Kai Rusdi menatap mereka penuh syukur.
“Bujuran Kai (Beneran Kek!?)” tanya Roni tak percaya.
“Tidak lama setelah kalian semua mengejar yang satunya, dia memunculkan diri di belakang rumah. Aku mencemaskan hal ini, makanya aku tidak ikut mengejar. Ditambah lagi usiaku yang sudah segini,” jawab kai Rusdi.
“Imbah tu kayapa ampun rumah (Terus bagaimana pemilik rumah?)” Haji Sabran seketika duduk diteras pemilik rumah ingin mendengarkan kai Rusdi.
“Kami menyuruhnya mengunci semua pintu, dan sekarang dia berada di dalam rumah bersama keluarganya yang lain,” jawab kai Rusdi. Tidak lama setelah itu, sang suami pemilik Rumah keluar menyapa.
“Maaf semuanya, ulun berdiam didalam rumah saja untuk berjaga, sedangkan kalian lari-lari kesana kemari,” ucap suami tuan rumah.
“Inggeh tidak apa-apa, sudah tugas pian menjaga dari dalam, tugas kami menjaga diluar,” ucap salah satu warga.
Setelah itu para warga pun melanjutkan berjaga hingga menjelang subuh. Mereka semua pun bersyukur, kerna sudah tidak ada lagi kuyang yang terlihat setelah kejadian tersebut.
Kai Rusdi dan yang lainya pun minta berpamitan pulang. Rasa syukur tak hentinya terucap oleh sipemilik rumah kerna mereka semua telah menjaga keamanan sesama warga.
“Sudah parak jam 4 nah, kitakah manurihan Ji (sudah mau jam 4 nih, bagaimana kalau kita menurih Ji).” Kai Rusdi mengajak haji Sabran.
“Sepertinya hari ini ulun libur dulu Kai, rasanya sangat lelah. Kalau pian mau pulang, duluan saja, ulun nunggu azan subuh,” jawabnya.
“Oh baiklah kalau gitu, aku duluan pulang. yo yang lainnya!” sapa kai Rusdi pada yang lain dan mereka balas menyapa.
“hati-hati Kai!” teriak Salim.
Kai Rusdi pun pulang dengan perasaan tenang, kerna kecemasan telah hilang. Dia segera bersiap untuk pergi menurih dengan peralatan seperti biasa.
•••••••
Saat sampai di tengah kebun. Suara imsak terdengar samar dikejauhan, lalu tak lama kemudian terdengar nyaring di mesjid terdekat.
Kai Rusdi terus melanjutkan menurih hingga akhirnya sampai di ujung kebun karet miliknya.
__ADS_1
Prakk! terdengar suara ranting patah terinjak. “Loh, katanya tadi tidak menurih?” ucap kai Rusdi heran sambil mencari asal suara di kebun karet haji Sabran.
“Oo ... Ji!” panggil kai Rusdi berjalan menuju suara langkah kaki di daun kering.
Prakk! suara dari arah berlawanan terdengar, membuat kai Rusdi mengalihkan pandangan. Dia menemukan seorang pria terdiam berdiri membelakangi kai Rusdi.
“Nah Haji nih, bapadah kada menurih tadi. Maulah aku takutan ja (Nah Haji ini, katanya tadi tidak menurih. Membuatku takut saja),” ucap kai Rusdi berjalan mendakati, namun tidak dijawab.
“Oo … Haji Sabran!” panggil kai Rusdi menepuk pundaknya.
Suara azan terdengar nyaring di langgar. Hal itu malah mengejutkan kai Rusdi. Sebab, dia mengenali suara orang yang azan itu yang tidak lain adalah haji Sabran sendiri.
Seketika itu juga, orang yang berada di depannya memalingkan wajah ke samping, menatap tajam kai Rusdi yang terpaku.
Wajah orang itu sangat pucat dan di mulutnya nampak darah kental melumuri setengah wajah dan kerah bajunya. Aroma anyer pun seketika menusuk hidungnya. Kai Rusdi seketika berpaling dan berjalan menjauh.
“Ma-maaf, salah orang,” ucap kai Rusdi dengan suara bergetar.
Kai Rusdi terus berjalan menjauh berniat segera pulang ke rumah. Meskipun dengan kaki dan tangannya menggigil ketakutan.
Suara daun kering yang terinjak pun terdengar dari belakangnya. Kai Rusdi merasa takut kalau orang itu malah mengikutinya. Dia mencoba memalingkan wajah kesamping untuk melihat ke belakang.
Ternyata orang itu juga terus berjalan menjauh berlawanan dengan kai Rusdi. Digelapnya pagi buta itu, sempat terpintas aneh oleh kai Rusdi ketika melihat dia berjalan. Yang mana orang itu berjalan dengan kaki bersulait (kakinya saling mengait bersilang).
Flasback Of
“Nah imbah malihat hantu ngintu. langsungai lagi kai bulik ka rumah (nah setelah melihat hantu itu. Kakek langsung pulang ke rumah),” ucap kai Rusdi selesai bercerita.
“Hiii … itu hantu atau apa Kai. Masa orang azan subuh dia masih ada?” tanya pihan merasa ngeri.
“Inggeh Kai. Makhluk apa itu?” Isar ikut bertanya.
“Jangan-jangan itu kuyang!” sahut Fazri.
“Gak mungkin kuyang. Kata kai tadi kuyang itu cuma kepala, sedangkan ini punya kaki,” bantah Ipul tegas.
“Yah sapa tau dia sudah kembali ke tubuhnya,” jawab Fazri.
“Lain! kuyang itu babinian! Ini tadi lakian! (bukan! kuyang itu perempuan! yang tadi itu laki-laki!)” bentah Ipul Lagi.
“Jangan talalu mangancang, bawa minuman dulu (Jangan terlalu tegang, di bawa minum dulu),” ucap seorang laki-laki datang membawakan nampan berisi cangkir dan minuman. Dia adalah cucu kai Rusdi.
“Ini es ya Nas?” tanya pihan mengambil lebih dulu.
“Iih lawan jawaw bajarang. Nih masih panas hati-hati (Iya sama singkong rebus. Masih panas hati-hati),” jawab Inas sambil menyodorkan piring berisi sengkong itu.
Kai Rusdi tersenyum melihat Isar, Pihan, Fazri dan Ipul mulai memakan dengan lahap sengkong rebus itu.
“Nah yang kalian perdabatkan tadi, tidak sepenuhnya salah. Menurut cerita yang beredar. Kuyang itu ada banyak. Yaitu, ada kuyang yang biasa kalian dengar, kuyang hutan, dan kuyang basulait," jawab Inas menjelaskan.
"Dua kuyang yang terakhir ini sangat jarang ditemui. Aku sendiri balum pernah dengar orang yang melihatnya secara langsung,” ucap Inas melanjutkan percakapan mereka.
“Kuyang hutan dan kuyang basulait. Maksudnya seperti apa Nas?” tanya Isar.
“Kuyang hutan itu konon yang membuat salah satu bagian tubuh kita menjadi biru memar.ini gara-gara dia menghisap darah kita tanpa kita sadari sebelumnya. kalian pasti pernah mengalami tiba-tiba saja, misalnya di bagian kaki atau tangan kalian memar, padahal sebelumnya kalian merasa tidak pernah terbantur oleh apapun,” jawab Inas menjelaskan.
“Coba liati batisku, napa jadi biru kini, jangan-jangan batisku di kucup kuyang (Coba liat, kok kakiku jadi biru begini, jangan-jangan kakiku di isap Kuyang).” Ipul memperlihatkan kakinya dan ada memar di tengah pergelangan kaki.
“Wah anak ini sudah lupa ternyata. Kemarin 'kan kita main bola. Ketika kau mau menendang bola malah kayu yang kau tendang. Sampai-sampai membuatmu nangis dan bernaung di semak-semak,” jawab Isar sambil tertawa.
“Lah apa Iya?” tanya Ipul heran sendri.
“Oh iya baru ingat aku,” sambungnya nampak berpikir sendiri.
“Mana mungkin kuyang mau manghisap kakimu itu, Pul-pul,” sahut kai Rusdi mentertawakan mereka semua, dan mereka pun ikut tertawa.
“Oh ya Nas, lalu kuyang basulait itu apa?” tanya Fazri membuat mereka seketika hening menatap penasaran.
*Ngingg … Suara sirene masjid terdengar samar memecahkah keheningan mereka.
“Nah sudah mau azan magrib. Ayo kita pulang kerumah masing-masing bersiap-siap pergi kelanggar,” pinta kai Rusdi.
Setelah mendengar ucapan kai Rusdi Pihan segera berlari dari teras rumah kai Rusdi dan melompat keteras rumahnya yang bersebalahan. Begitu juga Ipul ikut menyusul Pihan.
Fazri yang masih terdiam memikirkan hal yang tadi membuatnya sedikit goyah, kerna Isar pun ikut pergi mengenakan sandalnya dan berjalan pulang menuju rumahnya yang berada di samping depan rumah kai Rusdi. Kai Rusdi pun saat itu telah masuk ke dalam rumahnya.
“Nih Zi sedikit lagi habiskan airnya,” ucap Inas sambil menuangkan kegelasnya.
Fazri masih terdiam duduk bersila, lalu azan Magrib pun berkumandang. Seketika itu juga Fazri meminumnya. setelah itu, dia langsung memasang sendalnya.
“Makasih Nas,” ucap Fazri dan Inas mengangguk sambil mengangkat piring dan cangkir kotor itu, lalu masuk ke rumah.
Fazri pun segera berlari ke depan menuju rumahnya yang bersebrangan dengan rumah kai Rusdi. Semua pintu rumah disenja itu pun telah tertutup rapat, serapat misteri kuyang yang mulai jarang terdengar.
-Selesai-
__ADS_1