Kumpulan Cerita Horor Desa

Kumpulan Cerita Horor Desa
Terpaksa Mengantarkan Kuyang ke Rumahnya Part 1


__ADS_3

...Chapter II...


...Terpaksa Mengantarkan Kuyang ke Rumahnya...


Saat itu pukul sepuluh malam, sepulang pergi dari acara tasmiah disalah satu rumah warga di desa kami, sebuah benda tiba-tiba jatuh dari atas pohon tiwadak (cempedak) membuatku sedikit kaget.


Aku pikir itu hanyalah buah tiwadak yang sudah matang, kerna dari jauh pun sudah tercium wangi buahnya. Aku penasaran hingga mendekatinya, ketika kulihat, ternyata bukanlah buah melainkan sesuatu yang berwarna hitam seperti rambut, ada benda terurai panjang serta gompalan-gompalan yang bergerak.


“Hiks … hikss … antarkan aku pulang Mas!”


...●●●●...


Perkenalkan Ogi adalah namaku, kini aku sudah berusia 26 tahun dan baru saja menikah beberapa bulan lalu. Pekerjaanku adalah sebagai petani di desa Anjir Serapat Tengah Km.12,5 Kuala Kapuas.


Jika kalian sudah dengar cerita Amin maka kalian pasti tahu dimana dia tinggal. Yah aku satu daerah dengannya, hanya saja dia masuk ke handil sedangkan aku bertempat tinggal di jalan utama desa dan dekat dengan sungainya.


Saat ini aku juga ingin menceritakan bagaimana pengalaman burukku ketika harus berhadapan dengan hantu yang sebenarnya manusia jadi-jadian.


•••••••


Saat itu adalah hari Kamis dan kerna sekarang adalah musim bercocok tanam maka setiap harinya aku pergi ke sawah untuk merumput dan menanam padi, akan tetapi saat itu airnya mulai surut kerna sudah beberapa hari tidak turun hujan dan cuaca pun sangat panas.


“Aduh panasnya …” Aku mengeluh seraya melihat ke atas lalu melihat sekitar.


Kulihat beberapa orang mulai pulang kembali ke rumah, beberapa dari mereka juga menyapaku, lalu kulihat juga ada seseorang remaja dekat rumahku membawa ember dan rangsang berukuran besar menuju arahku.


“Amang Ogi! (Paman Ogi)!” teriaknya memanggilku.


“Apa yang sedang kalian bawa, keliatannya senang banget.”


“Anu Mang, kebun karet udah kering airnya, jadi aku sama Isar sedang nyari ikan,” ucap Pihan nampak sumringah.


Aku pun melihat kedalam ember itu kerna merasa penasaran ketika mereka memegang ember itu terlihat sangat berat, benar saja beberapa ikan haruan (gabus) dan sepat cukup banyak.


“Emang rame ya ikannya?” tanyaku seolah tidak tau, padahal aku sendiri sudah berniat sepulang ini akan mencari ikan, kerna saat pergi tadi, aku lihat airnya sudah kering dan hanya sumur-sumur kecil saja yang ada.


“Iya Mang pian (Kamu) harus nyari juga nanti keburu orang handil gardu yang lebih dulu, kami tadi liat seseorang dari mereka sudah hampir seember,” ucap Isar nampak kesal.


“Waduh! harus segera nih, nanti ikan haruannya keburu habis!”


Aku pura-pura bersemangat untuk menyenangkan mereka. Kerna bagiku sebanyak apapun yang didapat orang, ikannya tidak akan habis begitu saja, walaupun beberapa orang hanya bermodalkan sebilah parang dan ember saja sudah bisa dapat banyak, kerna biasanya ikan haruan bersembunyi di gorong-gorong dan lobang tanah ukuran kecil atau sepergalangan tangan, jadi ketika dia masuk kedalam kita bisa membuat lubang lain dengan parang (golok) untuk mengambilnya.


“Inggeh Mang, kalau gitu kami mau ke arah sana lagi,” ucap pihan terlihat tak sabaran.


“Oh iya, cepat-cepat sebelah sana ikannya masih banyak, nanti keburu orang,” jawabku menekuti mereka.


“Ayo! Sar cepat!” teriak pihan terpancing.


Seketika itu mereka berlari dan tak sengaja Isar terjatuh hampir menghamburkan ikannya, beruntung pihan dengan sigap menahan ember itu. Tentu saja aku dibuat tertawa melihatnya, aku merasa berhasil mengerjai mereka.


“Astagfirullah Sar, hati-hati,” ucap pihan tersenyum menahan tawa dan mengulurkan tangan untuk membantu Isar berdiri, sedangkan Isar justru terlihat sedikit menahan sakit.

__ADS_1


Setelah berdiri mereka pun kembali berlari ke arah kebun karet, melihat rasa semangat mereka aku pun ikut mencari ikan sekaligus berjalan pulang.


Tempat sawah warga sini berada di belakang kebun karet, sedangkan rumah kami mengahadap ke arah jalan. Jika di mulai dari rumah, maka kebun karet itu ada tepat di belakang rumah kami, dengan berjalan lurus melewati padang keret itu maka akan menemukan persawahan yang luas.


Setiap musim hujan kebun karet ini akan banjir cukup lama, ketika airnya mulai surut biasanya akan banyak ikan sepat, papuyu, dan juga haruan yang menghuninya dan itu berlangsung setiap tahun.


•••••••


Ikan yang berhasil kudapat lumayan banyak, cukup untuk dimakan sampai besok, aku pun segera pulang kerumah kerna azan Dzuhur sudah berkumandang.


Sesampainya dirumah istriku malah marah-marah. “Kok lama banget! katanya cuma ngerumput!” ucapnya cemberut ke arahku.


“Nih! Aku cari ikan dulu sebentar buat lauk makan,” jawabku sambil ngasih ember itu.


“Ya sudah sekarang tolong beli garem,” jawab Halimah.


“Hah … ya sudah mana uangnya,” balasku agak malas, dia hanya cemburut sambil memberikan uangnya.


Setalah sampai di warung, amang warung nampak bingung melihatku masih kotor dengan lumpur, sebelum sempat dia bertanya aku memberitahunya lebih dulu.


“Tuh kebun karet udah surut, jadi banyak ikannya, jangan sampai terlambat nyari, aku sudah nyari tadi dan dapat banyak,” ucapku memberitahunya.


“Wah harus cepat nih, nanti keburu dihabiskan olehmu,” ucapnya mencandaiku dan membuatku sedikit tertawa.


“Oh ya, apa benar Gi! Katanya ada kuyang malam tadi di tempat kita?" tanya amang warung.


“Nah kada tahu ulun mang ai (Nah tidak tahu saya).”


“Katanya hampir setiap malam ada terus berlalu lalang di atas rumah warga sini, ibu Lala malam tadi liat dibelakang rumahnya saat mencuci piring, katanya dia lihat seperti kepala dengan rambut panjang dan ada  untain seperti tali-tali kusut menjuntai terbang di atas pohon-pohon karet, lalu berhenti di antara rumah Majid dan Anang,” ucapnya bercerita padaku.


Tiba-tiba Majid datang dengan sepeda motor. “Mang beli aqua gelas dua dus,” ucapnya sambil berjalan ke arah kami.


“Panjang umur!” jawab amang warung membuatnya bingung.


“Apa benar Jid malam tadi ada kuyang di tempatmu? Soalnya ibu Lala lihat dia singgah antara rumah kamu dan Anang,” tanyanya seketika, saat itu pun aku juga merasa penasaran dan ingin mendengar pengakuannya.


“Untuk malam tadi nggak ada, tapi malam ketiga habis lahiran paman kami lihat dia sedang terbang di atas atap seolah sedang lirik sana sini, sontak saja kami meneriakinya Kuyang-kuyang agar dia merasa takut kalau warga desa mengejarnya, dan benar saja dia terbang menjauh kerindangnya pohon karet belakang rumah.”


“Emang kaya gimana bentuknya Jid?” Aku penasaran kerna belum pernah lihat.


“Kayapa yulah (Gimana ya)?” jawabnya bingung ingin menjelaskan.


“Yang ulun lihat tuh seperti gompalan hitam berambut, sama ... juntain tali, ulun tidak bisa melihat jelas kerna gelap.”


“Oh sama seperti yang dikatakan ibu Lala hiii …!” jawabku bergidik ngeri bersama amang warung.


“Makanya," jawabnya dan kami mengangguk.


"Oh iya, anu mang aqua dua dus,” sambungnya dan di ambilkan oleh amang warung.


“Malam ini ulun ada acara tasmiah ba’da Isya datang Mang lah, Gi,” ucapnya melempar pandangan ke arahku setelah amang warung, saat itu kujawab Insya Allah.

__ADS_1


“Waduh Mang sampai lupa beli garem gara-gara bicara kuyang ha ha …” ucapku mencandainya, namun dia hanya diam dan mengambilkan garem.


“Makanya parah banget dah kuyang ini!” jawabnya seraya ngasih garem dan aku pun menyerahkan uangnya.


“Ha ha … tukar mang.”


“Ya jual.” Seperti itulah akad jual beli yang kami gunakan di desa ini.


••••••


Di saat petang aku santai bersama para bapak-bapak di pos melihat mereka bermain catur dan juga nonton TV, kulihat Majid datang menghampiri kami semua, aku yakin dia pasti sedang basaruan (mengundang) bahwa ada acara tasmiah dirumahnya, dan benar saja saat itu dia basaruan sama bapak-bapak dan juga aku, saat itu aku juga menjawab Insya Allah.


Setelah Majid pergi tidak lama berselang Amin dan Ahmad singgah setelah pulang dari pesantren, mereka ikut santai sebentar untuk membeli gorengan, kerna saat itu paman gorengan sedang mangkal di depan pos kami yang menghadap jalan.


“Anu Min gimana persawahan di handil mantat?” tanyaku.


“Anu airnya mulai surut.”


“Oh gitu ya, di sini juga mulai kering, tapi syukur masih berair, aku juga punya sawah di sana tapi lebih ke dalam dan melalui perumahan warga kalian.”


“Paling gak lama lagi hujan, soalnya sudah beberapa hari ini belum hujan.”


"Iya semoga saja."


“Nih! kemarin Amin ketemu hantu pocong di pohon bulan yang angker itu,” sahut Amad setelah kami diam beberapa saat.


Sontak saja para bapak-bapak disana langsung penasaran, karena kami tahu betul soal itu, aku pun gak kalah penasaran. “Kayapa tu kisahnya Mad (Gimana tu ceritanya Mad)?”


“Malam selasa tadi, dia pulang sendirian pas acara tahlilan di tempat amang Arif, padahal saat itu jam 10 malam tapi malah berani pulang sendiri ha ha …”


“Mau gimana lagi, pengen bermalam tapi malu,” sahut Amin.


“Ha ha … gimana bentuknya Min?” tanyaku padanya.


“Hiii … wajahnya busuk dan bau banget saat itu,” jawabnya singkat kerna mungkin dia masih merasa ngeri.


“Banyak yang tersesat ketika nyari kodok gak jauh dari tempat itu, bahkan sampai pagi baru bisa pulang,” balasku bercerita sedikit.


“Makanya, disitu memang banyak hantunya,” sahut Amad.


“Oh iya, ada kabar kuyang gak di tempat kalian?”


"Enggak ada tuh Mang,” jawab Amin


“Loh kamu gak ingat atau belum dengar kabar Min,” sahut Ahmad dan Amin hanya menggeleng.


“Kemarin malam, para giliran ronda lihat ada yang terbang di atas salah satu rumah warga yang baru melahirkan, beruntung mareka yang ronda meneriakinya hingga membuatnya kabur ke arah persawahan menuju handil cempaka,” sambung Ahmad bercerita menatapku serius.


“Waduh harus hati-hati nih kita semua,  sebaiknya kalian segera pulang udah mau magrib juga.”


“Inggeh Mang, kami juga mau pergi takutnya malah kesenjaan,” jawab Amin sedangkan Ahmad kulihat masih ingin sekali bercerita tapi dia memilih untuk ikut pulang.

__ADS_1


Orang-orang yang ada di pos pun mulai pulang kerna suara rekaman mengaji sebelum azan sudah terdengar dimana-mana, aku pun segera pulang dan bersiap pergi kelanggar yang bernama Al-fajar.


-Bersambung-


__ADS_2