
Aku menyimpannya dalam sebuah peti kayu dan meletakkannya di atas lemari baju di kamarku. Saat sampai ke rumah, aku segera mengambil keris itu dan melihatnya kembali. Kini aku terpikir untuk membuangnya.
“Apa yang kau lakukan, kenapa belum mandi. Ini sudah mau magrib,” ucap istriku mengagetkan.
Dengan sigap aku segara meletakkannya kembali ke atas lemari. “Nih pang handak mandi nah. Meambil anduk dulu (ini aku mau mandi. Barusan mau ngambil handuk).” Aku berbohong dan segera berjalan melewatinya menuju kamar mandi.
Kerna kelamaan mandi, aku tidak sempat lagi untuk pergi ke langgar sebrang rumah. Orang-orang juga sudah melaksanakan shalat Magrib.
Saat menjelang Isya, aku keluar untuk berkumpul bersama yang lain, sedang duduk santai di bangku pinggir jalan. Hitung-hitung nunggu Isya tiba.
Di bangku itu ada Amin, Mahmud, dan Ahmad, mereka adalah pemuda di sini. “Napa nang dipandirakan nih? (apa yang kalian bicarakan)?” tanyaku sekaligus menyapa.
“Seperti biasa aja Julak,” jawab Ahmad.
“Gimana tadi mancingnya banyak gak dapat ikannya?”
“Kurang rame Julak. Soalnya harinya berangin. Coba kalau panas pasti rame,” jawab Amin.
“Dapatnya gin paling menduapuluh ikungan (Paling dua puluh ekor yang kami dapat),” sahut Mahmud.
“Tidak ngajak-ngajak nih kalau mau mancing,” ucap Ahmad pada keduanya.
“Nanti besok coba lagi mancing,” jawab Amin.
“Kalau Julak gimana?” tanya Mahmud.
“Alhamdulillah cukup dua kali makan,” jawabku dan mereka mengangguk.
“Sudah dengar gak. Katanya orang handil cempaka nemu keris saat menurih (menyadap karet),” sahut Ahmad.
“Ada tarus kisah nang saikung ini (kau ini selalu saja punya cerita),” jawab Amin.
“Oh orang yang rumahnya dekat masjid tu ya,” sahut Mahmud.
Ahmad mengangguk. “Katanya dia ngeliat tu keris berletakan di pohon yang berlobang. Bahkan lobangnya pun terisi air hujan. Kerna penasaran, dia pun hendak melihat lebih dekat, tapi baru saja melangkah tuh keris malah tiba-tiba hilang,” ucap Ahmad bercerita.
“Loh, emang gimana jadi sampai hilang?” tanya Amin nampak sangat penasaran.
“Yah tidak tahu juga, tiba-tiba hilang di depan mata," Jawab Ahmad.
"Nah, pas saat hendak berpaling. Dia malah langsung dikagetkan dengan wajah hantu wanita berlumur darah. Wajah hantu itu begitu dekat dengan wajahnya. Matanya melotot menatap tajam, satu telinganya putus mengalirkan darah ke bajunya yang berwarna putih kotor kekuning-kuningan."
"Sontak saja, dia kaget hingga terjatuh. Ketika dia melhat ke depannya, hantu itu sudah tidak ada lagi,” sambungnya.
“Katanya juga, orang itu besoknya malah sakit demam,” sahut Mahmud.
Mendengar cerita mereka aku kembali lagi dibuat takut. Rasanya ingin sekali aku kembalikan keris itu ke tempat asal. “Anu ... kenapa kalian belum azan?” tanyaku sengaja mengalihkan pembicaraan.
“Kan tuh sudah mau azan,” sambungku.
“Oh iya lupa. Mari semuanya,” jawab Mahmud mengajak kami segera ke langgar dan kami pun segera mengikutinya.
•••••••
Saat selesai shalat Isya, salah satu warga sini berjalan keluar lebih dulu hendak pulang. Namun tiba-tiba, dia malah berteriak memanggil kami semua.
Aku sempat mengira ada api. Ternyata, kami semua malah dibuat merinding ketika melihat bayangan besar hitam, berdiri di atap rumahku.
“Makhluk apa itu?!” teriak orang yang keluar tadi seraya menunjuk.
“Ngintu di atas rumah pian Julak ai (Itu di atas rumah Julak)!’ teriak Amin.
"Gimana nih. Apa kita harus memanggil para warga?" tanya Mahmud begitu panik
__ADS_1
"Kita teriaki saja sambil mengejarnya!" Jawab Ahmad.
Namun belum lagi kami hendak mengejar, makhluk tadi perlahan hilang. Tanpa pikir panjang aku pun segara berlari pulang mengkhawatirkan istriku. Aku sempat dengar mereka memperingatkanku untuk pergi bersama-sama, namun aku tak menghiraukan.
Saat sampai di depan pintu aku lansung mendorong keras, dan malah mengagetkan istriku yang sedang makan sambil nonton TV. “Loh ada apa?!” tanyanya kaget.
“Kada papa ai handak lakas narai bulik (enggak papa, cuma mau cepat pulang aja).” Dia terlihat bingung, namun aku segera menutup pintu dan menemui warga yang khawatir dan menyusulku.
“Kayapa nang dirumah baik ja lah (gimana yang di dalam rumah, apa baik-baik saja),” tanya Sidiq ayah Mahmud.
“Alhamdulillah baik-baik saja,” jawabku.
“Emang makhluk apa itu Mang,” tanya Ahmad pada Sidiq.
“Yang pasti itu Jin. Mngkin dia cuma numpang lewat,” jawabnya membuat yang lain mulai sedikit tenang.
“Handak bulik ha lagi aku nah (aku mau pulang saja ah),” ucap Amin ketakutan dan berlari pulang.
Melihat Amin berlari lebih dulu Ahmad pun menyusulnya. Lalu yang lain pun pamit untuk ikut pulang. Aku mulai mengerti apa yang terjadi, kemungkinan besar itu ulah penunggu keris itu.
Aku segara masuk ke rumah dan mengambil keris tersebut, kemudian meletakkannya di belakang rumah, berharap besok akan hilang sendiri. Kerna sudah terbiasa tidur setelah Isya aku pun segera tidur.
••••••
Setelah itu, aku terbangun mendengar suara anak ayam. Aku tidak peduli soal itu dan berusaha untuk tidur kembali dengan merubah posisi tidurku menyamping.
Namun tiba-tiba, seluruh tubuhku tak bisa digerakkan, tidak ada yang bisa kulakukan salain berusaha membuka mata.
Batinku berontak menginginkan terbebas dari kekangan ini. Tetapi tubuhku tak bisa menjawabnya. Aku pun terus berusaha membuka mata saking paniknya. Suara anak ayam semakin terdengar nyaring, keringat pun mulai membasahi tubuhku, merinding pun menjadi puncaknya.
Aku berhasil membuka mata dan malah dikejutkan dengan seorang wanita berambut panjang. Bajunya sekilas berwarna putih nampak kotor. Dia duduk memangku kedua kakinya berada di ujung kedua kakiku di dalam kelambu.
Di saat seperti itu juga, dia menyeringai dengan wajah yang tidak begitu jelas terlihat.
"Aaaa ...!" Lengkingan suara wanita itu memekakkan gendang telingaku.
Aku segera berlundung di balik kedua tenganku, namun hantu wanita itu telah hilang.
Saat itu, aku sangat ketakutan hingga kesulitan bernafas, dan saat kulihat istriku di sebelah, dia tidak ada.
Dalam keadaan panik aku segera keluar dari kelambu dan malah menemukan keris itu kembali ke tempat asal, yaitu di atas lemari baju. Namun kali ini, aku tidak peduli tentang keris itu, yang kupikirkan keberadaan istriku.
Aku berlari ke dapur seraya memanggilnya. Tiba-tiba, aku malah menginjak sesuatu yang terasa lengket dan juga membuatku tersandung hingga terjatuh ke lantai.
Saat kulihat, ternyata aku malah menginjak sebuah wajah hancur, dengan lidah berjulur panjang sampai keperutnya.
Tubuhnya telihat jelas berbaring, berhalangan di tengah ruang terbungkus kain putih berlumpur. Dengan wajah hitam membusuk, dia membuka kelopak matanya menatapku tertawa. Aku pun langsung berteriak hendak berlari.
“Astagfirullah! Napa ngini kuciak-kuciak mengajuti aku ja (kenapa kau ini teriak-teriak bikin kaget saja)!” teriak isteriku juga saat keluar dari WC.
“Apa kau ini sedang mengigau?” tanyanya sedikit marah dan heran.
“Enggak! Cepatlah kembali aku mau ke WC juga,” balasku kembali berbohong.
Dia tak menjawab dan hanya berjalan melewatiku sambil merasa bingung. Aku sangat bersyukur kerna dia baik-baik saja, dan ketika kulihat lagi hantu pocong itu pun sudah tidak ada.
Sesaat setelah itu, aku teringat soal keris yang kembali ke tempat asalnya tadi. Aku pun ingin memastikannya dengan pergi berjalan menuju pintu belakang rumah untuk melihat.
Ternyata keris itu masih berada di sana. Aku mengira kalau apa yang barusan terjadi itu di akibatkan kelancanganku meletakkannya begitu saja di luar rumah. Jadi, aku membawanya kembali untuk diletakkan di atas lemari lagi.
Saat sampai di depan kamar, aku malah kembali dikejutkan dengan keris yang di dalam peti kayu itu juga ada di atas lemari.
Saat kulihat apa yang ada ditanganku, ternyata itu adalah bayi tanpa kepala, berlumuran darah menyucur deras ketanganku. Anehnya lagi bayi tanpa kepala itu meronta dengan suara bayi menangis terdengar.
__ADS_1
“Astagfirullah!” teriakku seraya melemparnya.
“Lailahaillah! Napa pulang ngini bakuciak! dasar bujur maigau ngini (kenapa lagi kau ini berteriak. Memang dasar ngigau nih)!” ucapnya kembali dikagetkan olehku. Sakarang dia nampak marah.
“Sudah jangan dipikirkan, lebih baik kita tidur lagi,” ucapku segera masuk kelambu berusaha tenang, namun nyatanya kedua tanganku tak hentinya bergetar.
Aku berusaha menyembunyikan semuanya kerna tidak ingin membuatnya ketakutan. “Dari tadi dah handak guring ikam tu nang bakuciak tarus (Dari tadi aku sudah mau tadur, kau saja yang teriak terus)!” balasnya marah.
“Sudah-sudah diam,” balasku dan dia pun kembali berusaha tidur.
Aku melihat ke bawah dari dalam kelambu, dan lagi-lagi sosok bayi itu sudah menghilang, sedangkan peti berisi keris di atas lemari itu juga ikut menghilang. Kali ini aku memutuskan tidak ingin lagi keluar dari kelambu, agar tidak bertemu dengan mereka lagi.
Aku juga membacakan ayat kursi dan meniupkannya kekelambu, berharap dengan berkat ayat kursi kami terlindungi dari mereka termasuk kuntilanak yang membuatku ketindihan.
••••••
Malam itu aku tidak bisa tidur lagi. Entah kenapa, tiba-tiba muncul suara Tong ... Tong ... Tong ... Bergema seperti orang memukul besi di belakang rumahku.
Saat kutanyakan pada istriku dia tidak mendengar apa-apa, dan saat mendakati imsak suara itu pun telah menghilang.
Kini hari mulai sedikit terang. Aku pun segera bersiap untuk pergi ke sawah sekaligus mengembalikan keris itu ke tempat asal. Aku benar-benar dibuat kapok.
Aku segera mengambil keris itu yang ternyata memang masih berada di belakang rumah, tepat berada di mana aku meletakkan sebelumnya. Setelah itu, segera kumasukkan ke bakul, lalu segera berangkat.
Aku sempat singgah untuk mengambil banjur (taut, alat mengail ikan yang biasa didiamkan semaleman). “Ngambil banjur ya. Bisa banyak nih dapat ikan haruan,” sapa Zainal yang juga mau pergi ke sawah dengan motornya. Dia singgah di dekat motorku.
Dia pun seketika menengok kebakul yang aku tinggalkan bergantung dimotor. Aku pun seketika panim. “Eh jang-” Aku terlambat dia sudah melihatnya.
“Hanyar saikung jakah (baru satu ekor ya?” tanyanya membuatku heran.
Aku segera berjalan dan melihatnya sendiri, dan keris itu masih ada di sana. Aku pun menyadari kalau Zainal melihat keris itu sebagai ikan haruan. “Ha ha ... baru satu banjur yang diambil,” balasku pura-pura.
“Oh iya. Ini soal keris yang di ceritakan Hj. Sabran kemarin. Ternyata orang yang mendapatkannya itu sudah mengembalikannya ke tempat asal, tapi sarungnya sudah hilang entah ke mana. Kalau aku berhasil mendapatkannya pasti akan kujual,” ucapnya bercerita.
Kali ini aku tersadar ada kemungkinan besar keris tersebut adalah keris yang sama yang talah aku dapatkan dan kubawa pulang.
“Mun kawa jangan sampai tatamu yang kitu. Nyatanya dulu, hidup kita kada harapan tanang (Kalau bisa jangan sampai nemu yang kaya gitu. Yang pasti hidup kita tidak akan tenang).”
"Iya sih, apa lagi dengan kejadian yang dia alami sampai segitunya."
“Ya sudah aku mau lanjut lagi,” sambungku segera pergi.
“I-iya” balasnya terlihat ragu.
•••••••
Saat itu aku telah sampai di sawahku. Aku masih ingat di mana pertama kali aku menemukan keris itu. Dengan perasaan yakin aku tancapkan keris tersebut ke tempat asal.
“Gimana ... jera gak!” teriak seorang laki-laki terdengar jelas mengejekku.
Aku segera berpaling melihat ke sekitar dan tidak ada seorang pun di sana. Saat kulihat lagi, keris itu telah lenyap entah ke mana.
Entah siapa yang memperingatkan dari awal dan mengejekku sekarang. Yang pasti hatiku saat itu telah merasa sangat tenang. Aku merasa telah bebas.
Kini aku menyadari hal-hal seperti itu tidak bisa di anggap remeh. Jangan sekali-kali bersekutu dengan mereka melalui benda-benda tertentu.
Jika menemukannya, lebih baik dikembalikan atau di berikan kepada orang yang tepat. Atau berusaha untuk tidak peduli dengan menghiraukannya. Kalau tidak, hanya akan menjadi petaka nyata.
Sebenarnya aku juga ingat sebuah cerita yang pernah aku dengar. Mengenai orang yang bersekutu dengan makhluk seperti itu.
Menyedihkan saat menjelang ajalnya. Tubuhnya telah mati membusuk. Orang-orang pun menyemen tubuhnya yang telah lama mati.
kini tersisa kepala yang masih hidup dan utuh. Dia benar-benar tidak bisa mati sepenuhnya. Kerna makhluk yang menjadi sekutu telah menguasai dirinya.
__ADS_1
-Tamat-