
Ferdian menerima uluran tangan lelaki tampan yang datang tiba-tiba. Tekanan magis yang dialami Ferdian dan Louise tidak terlalu berpengaruh pada lelaki muda itu.
"Aku cuma bisa bantu kasih tambahan energi selebihnya dia tanggung jawab kamu!"
Ferdian dibantu berdiri oleh lelaki misterius itu. "Apa kau siap bro? Kita akan melakukannya bersamaan. Kau lihat pusaran awan hitam diatas sana? Itu roh jahat dari dunia bawah, kita harus mengambil alih Tami sebelum ia ditarik dan terjebak selamanya di dunia bawah."
"Bukankah aku harus menghancurkan rohnya?" tanya Ferdian.
"Yup, itu jika kamu memiliki waktu untuk menangkap dan menghancurkannya seketika. Tapi, jika salah perhitungan roh jahat dengan cepat menarik Tami ke dalam awan hitam dan menjadikan roh gadis kecil nan malang itu sekutunya."
"Itu, tidak boleh terjadi! Aku berhutang janji pada Tami dan juga orang tuanya!"
"Kau benar, so let's do it!" Lelaki muda itu mengerling.
Tangan lelaki muda yang menempel di punggung Ferdian mengeluarkan cahaya keemasan, menghantarkan rasa hangat yang meningkat kan energi Ferdian. Aliran energi Ferdian mengalir dan berputar hangat di dada. Kedua matanya berkilat keemasan lalu dengan cepat ia menarik Tami dan membacakan ulang mantra penenang.
Lonjakan energi Ferdian menyapu sekeliling menghempaskan hawa mistis yang menekan dimensi paralel dan menghasilkan gelombang kejut. Awan hitam yang sedari tadi berputar diatas dimensi perlahan menghilang. Tami kembali normal.
"Paman,"
Ferdian lega, Tami kembali mengenalinya. "Syukurlah, kau aman sekarang." Ferdian memeluk Tami erat.
"Terima kasih atas bantuannya, Tuan?" Louise menyapa lelaki misterius itu.
"Reino,"
"Tuan Reino? Boleh saya tahu kenapa tuan bisa ada disini?" Louise bertanya lagi karena seingatnya tak ada kurir lain yang bisa memasuki dimensi paralel selain Ferdian.
"Sebelumnya jangan panggil aku tuan, panggil Mas aja biar nggak kaku kesannya. Pertanyaan kedua, saya juga heran kenapa bisa masuk kesini. Saya membuka gerbang dimensi untuk bertemu seseorang tapi malah salah masuk dan lihat mas ini sedang kepayahan."
"Tunggu, kamu juga kurir?" Ferdian mengernyit heran.
"Yup. Apa disini sudah selesai? Saya harus segera menemui klien."
Louise berpikir sejenak, "Siapa klien mu?"
"Sheeren, dokter muda yang menjadi salah satu korban kecelakaan Trowek."
__ADS_1
Ferdian dan Louise saling pandang, rupanya kesamaan klien membuat Reino bisa masuk ke dalam dunia paralel. Thomas memang bekerja dengan misterius, ia tak mau turun tangan sendiri dan mengizinkan dua kurirnya bekerja sama tanpa ada pemberitahuan.
"Baiklah aku pergi dulu, sebaiknya dia segera bertemu orang tuanya mas. Kondisinya tidak baik, lebih cepat sampai di terowongan itu lebih baik." Reino pun berpamitan, dari kejauhan seorang lelaki tampan nan gemulai menyambut Reino penuh suka cita.
"Jadi dia kurir? Andai aku memiliki partner mungkin semuanya akan jauh lebih baik, setidaknya aku tidak merasa kesepian." gumamnya lirih.
Louise tersenyum mendengarnya, ia menepuk bahu Ferdian. "Bawa Tami keluar dan segera antar ke terowongan kematian."
Ferdian mengangguk dan membuka pintu dimensi. Kedua orang tua Tami terlihat menunggu seseorang. Wajah mereka tegang, Ferdian memutuskan untuk mendekat bersama Tami. Keduanya masih berada dalam tabir dimensi gaib saat seorang wanita cantik berkacamata mendekat.
Ferdian menahan dirinya untuk tidak keluar dari tabir dimensi.
"Selamat sore dokter, bagaimana hasilnya? Apa Asih bisa kami bawa pulang?" Rangga tak sabar untuk menanti hasil pemeriksaan.
"Sebenarnya saya tidak menganjurkan tapi, tidak ada track record Bu Asih mengalami resiko kekerasan dan resiko bunuh diri yang akut. Seandainya bapak dan ibu mau bawa pulang, ada beberapa hal yang harus diingat dan dilakukan."
"Tingkat halusinasinya memang sempat meningkat dengan kejadian kemarin tapi sekarang stabil lagi. Bu Asih juga mengalami isolasi sosial, merasa dirinya rendah dan self care deficit-nya tinggi."
"Dokter bisa disingkat saja, kami nggak paham dok." sahut Rangga dengan cepat.
"Intinya gini, support keluarga itu lebih baik. Ajak Bu Asih ngobrol, tempat kan dia di dalam keluarga, beri dia posisi setara dan jangan pernah labelling dia gila. Halusinasi yang tercipta di benak nya itu karena dia nggak pernah diajak berbicara dan selalu disalahkan."
"Tentu, silahkan." Rangga dan Erna berpamitan meninggalkan sang dokter yang masih berdiri terdiam.
Dokter wanita itu menghela nafas panjang sebelum akhirnya menatap persis ke arah Ferdian. "Siapa anda sebenarnya?"
Ferdian terkejut bukan kepalang, ia masih ada dalam tabir dimensi gaib. Tapi dokter itu melihatnya? Mustahil!
"Saya tahu anda disana bersama seorang gadis kecil. Keluarlah!"
Ferdian yang penasaran akhirnya menuruti perkataan dokter cantik berkacamata itu. "Anda melihat saya dan Tami?"
Dokter Thalia mengangguk dan mengulang pertanyaan, "Iya, jadi siapa anda sebenarnya?"
"Anda sungguh-sungguh bisa melihat saya?" Ferdian bertanya lagi tapi tak dijawab sang dokter.
Dokter Thalia berjongkok dan menyamakan tingginya dengan Tami. "Hei sayang, kamu pasti lelah sekali."
__ADS_1
Tami tersenyum, "Dokter bisa melihatku?"
"Tentu, kamu roh tercantik yang pernah dokter lihat." Thalia merapikan rambut Tami yang menjuntai ke depan. "Siapa namamu?"
"Tami, aku rindu ibuku. Dimana ibuku dokter?"
"Ibu Asih? Ibu Asih sedang tidur gimana kalau kamu bertemu sama ibu Erna? Dia juga ibumu." Tami berpikir sejenak lalu mengangguk.
Ferdian semakin dibuat heran bagaimana bisa dokter Thalia mengetahui tentang Tami dan kedua ibunya.
"Tidak perlu heran, saya bisa membaca masa lalu. Anak ini ada dalam kelebatan memori Asih."
Thalia berdiri dan mengajak Ferdian berjalan santai. "Bu Asih mengalami delusi parah saat dibawa kesini. Ia tertekan karena kehilangan Tami, peristiwa yang mengerikan, Trowek 1995!"
"Jiwa Bu Asih terguncang karena dia baru menyadari pentingnya Tami dalam hidupnya. Ditambah lagi …,"
Thalia menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke arah Tami yang Malang. "Tami bukan … mas tahu pasti kan siapa dia?"
Ferdian mengangguk, "Kita baru memahami arti pentingnya seseorang saat kehilangan mereka."
"Betul,"
Keduanya berhenti di dekat kolam ikan besar, Tami melepaskan genggaman tangan Ferdian dan asik bermain ikan.
"Jadi, siapa anda?" Dokter Thalia kembali bertanya.
"Saya, pengantar pesan. Tami harus segera kembali jika tidak rohnya akan hancur. Dia hanya ingin disebut namanya untuk bisa kembali."
"Hhhm, begitu rupanya. Apa dia tahu kalau ibu kandungnya itu Erna bukan Asih?"
Ferdian menggelengkan kepala, dokter Thalia menganggukkan kepala lalu menarik nafas panjang. "Itu akan sedikit sulit."
"Aku akan membantumu sebisaku, jika diperbolehkan tentu saja."
Ferdian mengernyit, entah hari ini hari apa yang jelas Ferdian merasa beruntung dengan kemunculan dua orang asing yang membantu menangani Tami.
Lucky day and lucky man, perhaps!
__ADS_1