
Ferdian dan Reino mengintip dari balik celah gua, ular besar berbulu tebal itu masih berusaha mencari jalan untuk memangsa mereka.
"Mas gimana caranya kita keluar dari sini kalau si ulet itu terus aja muterin tempat ini." Reino bertanya dengan mata yang terus tertuju pada Tangkalaluk.
"Hmmm, eeike kagak dianggap disini Yee mas Reeiiin?! Sutralah Eike pergi ajaaah kalo gituuuuh!" John berlagak kesal dan hendak pergi tapi tangan Ferdian menariknya.
"Eets, nggak bisa gitu dong! Kamu pasti kesini dikirim Thomas kan? Bantuin kita dulu baru boleh pergi!"
Mata John langsung berbinar saat Ferdian mengikis jarak dengannya, "Aaaaw, mas Reeeiin … cucok bener, ni lekong bikin ekie berdesir aaauuucch!"
"Demit kaleng! Awas aja kalo lu mikir macem-macem! Udah lepasin!" Ferdian menyesal menarik tangan makhluk unik.
Reino menepuk jidat, disaat seperti ini John malah membuatnya semakin pusing.
"Astagaaaaaa, John! Sebaiknya kamu bawa berita bagus kesini, karena aku nggak mau mati disini!" Raut wajah Reino tegang, ia menatap tajam ke arah John.
John berlagak melepaskan tangan Ferdian dengan kesal. "Huuh, mas Rein bikin kesel!" John berjalan menuju celah batu dan memperhatikan gerakan Tangkalaluk.
__ADS_1
"Makhluk itu perpaduan dari Mariaban dan Tangkalaluk. Raja Candra menciptakannya khusus untuk menjaga hutan larangan. Urban legend dari tanah Borneo yang sedikit dimodifikasi oleh sang Raja. Rambut dan sedikit bagian tubuh Raja Candra ditanamkan pada tubuhnya saat penciptaan hingga kekuatannya menjadi dua kali lipat lebih besar dan kuat dari aslinya." Suara John berubah lebih berat, ekspresi wajahnya pun berubah serius.
"Membunuhnya bukan perkara mudah, kalian harus menemukan titik lemahnya sekitar tiga ruas dari kepala bermahkota itu. Hancurkan mustika milik sang raja, maka semuanya akan berakhir."
"Bentar, mustika? Maksudmu mustika ular?" Ferdian bertanya memastikan.
"Bukan, raja Candra memasukkan bagian bagian dari tubuhnya itu ke dalam satu mustika berwarna kemerahan. Kalian harus mengambilnya untuk melemahkan kekuatannya." John masih menjawab dengan serius.
"Heleh teori! Masalahnya gimana kita bisa dapetin itu mustika apa lagi hancurin lha wong pegang senjata aja nggak kok." Reino tampak frustasi.
John tergelak melihat kedua kurir tampan itu putus asa. "Heei, kalian berdua ini lupa atau gimana? Kalian dibekali kemampuan lintas dimensi, kalian juga bisa menyerang tanpa menyentuh? Kenapa bingung dan kenapa kalian menghindar?!"
"Kalian bisa bekerja sama mengecoh ular jelek itu, pancing masuk ke dalam hutan ada rumpun bambu kuning yang tumbuh di dalam sana. Gunakan bambu itu untuk membunuhnya."
"Hanya itu?" Tanya Ferdian lagi.
"Tidak, ini bagian tersulitnya. Dia hanya bisa mati diatas tanah. Jangan sampai tubuhnya menyentuh permukaan bumi, meskipun kalian melukainya tapi setiap tubuhnya menyentuh tanah, kekuatannya akan kembali."
__ADS_1
"Kampret! Uler segede gitu gimana caranya kita bikin dia diatas tanah?! Kamu nggak nyuruh kita buat gendong dia kan?" Reino terbakar emosi mendengar informasi itu.
John menatap serius ke arah Reino, "Apa aku terlihat sedang bercanda?"
Melihat John begitu serius bicara bahkan tak ada terdengar sedikitpun nada kemayu, Reino pun mengubah sikap, "Kau serius? I mean, beneran? But how?"
"Kunci utamanya tidak menyentuh tanah, kalian bisa buat dia merayap di atas bebatuan, pohon or something yang berada di atas tanah."
Ferdian dan Reino saling memandang, "Baiklah, let's kill that things! Lebih cepat kita pergi lebih baik bukan!" Ferdian memompa semangat.
"Yup, kamu benar mas lebih cepat lebih baik! Kamu ikut kan?" Reino bertanya pada John.
John menatap tajam keduanya lalu, "Me? Males! Itu urusan dan tanggung jawab jej en jej, Eike? Mau nyalon duluu, bye bye cintaaah!"
John kembali bersikap kemayu dan menghilang begitu saja membuat Ferdian sangat kesal, "Astaga, andai aku sedang tidak dalam posisi ini udah aku getok itu mulut pake kayu!"
Reino menyahut sambil menahan tawa, "Mas baru sebentar ketemunya, saya tiap kasus bareng dia! Untung aja nggak nular gendengnya!"
__ADS_1
"Rejeki kamu! Ok, jadi apa rencana kita?"