Kurir Arwah Penasaran

Kurir Arwah Penasaran
Curahan hati 2 kurir


__ADS_3

Ferdian dan Reino akhirnya berhasil membawa pulang keempat roh setelah Raja Candra memberikan izin. Ferdian berjalan tertatih dibantu Reino. Sementara keempat roh mendapat penjagaan dari Louise dan John.


Pintu dimensi terbuka lebar tepat di pelataran kerajaan gaib Sang Raja gunung selatan. Thomas menyambut keduanya disisi lain dimensi. Suara peluit sudah dibunyikan tanda gerbong 666 siap diberangkatkan.


"Kerja bagus tuan-tuan, beristirahatlah. Keempat arwah ini akan dikawal Louise sampai tiba di Terowongan Kematian."


"Baguslah, aku rindu tidur. Badanku lelah dan butuh beristirahat." Sahut Ferdian sambil menahan nyeri di dada dan punggungnya.


Sabetan ekor Tangkalaluk meninggalkan memar dan lebam, membuat Ferdian sedikit kesulitan berjalan tegak. Badannya terasa panas dingin.


"Kita ke rumahku aja mas, banyak kamar di sana. Lagian aku juga sendiri, rumah pasti rame kalo ada penghuni lain."


"Tapi aku bukan penyewa yang baik," ujar Ferdian sebelum kembali terbatuk.


"Mas bisa bayar sewa pake bantuin bersih-bersih rumah!" Balas Reino cengengesan.


Thomas tersenyum melihat keakraban keduanya, "Aku menambahkan sejumlah bonus di akun kalian." Thomas menatap kedua kurirnya bergantian lalu kembali berkata. "Kalian kurir terhebat yang pernah kumiliki, ehm … bagaimana jika kalian menjadi partner kerja?"


Keduanya saling menatap, "Partner?"


"Aku memiliki beberapa kasus besar yang tidak bisa ditangani oleh satu kurir. Aku membutuhkan kalian untuk menyelesaikan masalah. Keberhasilan kalian mengalahkan monster raja gunung selatan itu cukup memberiku alasan mempekerjakan kalian berdua, bersama!"


"Pekerjaan besar artinya tanggung jawab besar, aku minta bayaran lebih. Cash tanpa penawaran!" Ferdian bicara mewakili ungkapan hati Reino.


Thomas tergelak dengan kejujuran Ferdian, "Tentu saja, aku sudah memikirkan hal itu tuan-tuan." 


Suara kereta kembali berbunyi nyaring memberikan peringatan kereta akan segera pergi. Thomas menaiki salah satu gerbong, dan kereta pun melaju perlahan, 


"Segera setelah kau pulih, aku akan memberi kalian tugas." Thomas membetulkan letak topi fedora di kepala, kereta mulai berjalan perlahan.


"Hei, tuan Ferdian! Ambil ini!" Thomas melemparkan botol kecil berisi cairan kebiruan.


Ferdian menangkapnya cepat, "Itu akan membantumu memulihkan luka dalam. Hadiah dari Sang Raja."


Ferdian tersenyum masam, "Thanks!"


Kereta hantu berangkat meninggalkan stasiun, suaranya terdengar nyaring dengan uap mesin yang memenuhi stasiun lalu dalam sekedipan mata rangkaian itu menghilang melesat dengan kecepatan cahaya.


"Akhirnya kita cuti mas, waktunya berburu yang lain." Reino membuka gerbang dimensi untuk menuju ke kamar pribadinya.


Ferdian semakin pucat dan kembali terbatuk darah. Reino membantu merebahkan Ferdian di ranjang dan melepaskan sepatunya.


"Thanks Rein, hari yang panjang dan melelahkan bukan?"


"Yup, obat itu mas jangan lupa diminum!"


"Aku hampir lupa. Dasar kakek tua bangka, kita pengantar arwah malah jadi pemburu monster."

__ADS_1


"Hmm, aku penasaran dengan ide menyatukan kita mas. Aksi perdana kita aja udah ngeri begini jangan-jangan tugas selanjutnya lebih mengerikan mas?!"


Ferdian menegakkan punggungnya di bantu Reino, setelah meminum cairan biru dari botol itu ia pun menjawab.


"Aku juga mikirnya begitu, sikapnya terlalu mencurigakan." Ferdian menarik nafasnya panjang-panjang merasakan obat kebiruan itu menjalar hangat di tubuhnya.


"Ohya coba kamu cek, kakek tua itu mengirim tambahan bayaran kan? Aku penasaran berapa bayaran kita setelah mempertaruhkan nyawa melawan ular berbulu itu."


Reino meraih ponsel dalam kantong, memeriksa transaksi m-banking miliknya. Kedua matanya membulat sempurna lalu senyum lebar.


"Kaya dadakan kita mas, one billion! Satu Em mas!" 


Reino melonjak dari duduknya, rasa lelah itu rasanya terbayar sudah. Tak sepadan memang dengan nyawa yang sempat nyaris melayang tadi tapi dengan segala fasilitas yang Thomas berikan, Reino bak mendapat durian runtuh. Kaya, muda, tampan, memiliki penggemar wanita dimana mana, apalagi yang ia butuhkan?


Ferdian terkekeh geli melihat tingkah rekan kerjanya itu, antara bahagia dan juga sedih. Andai ia masih memiliki Mia dan Agung tentu kebahagiaan itu akan terasa lebih indah. Sayangnya itu hanya impian. Harga yang harus dibayar untuk sebuah umpatan pada Yang Kuasa.


"Rein, tenanglah! Itu lantai bisa bolong kalau kamu jejingkrakan nggak karuan gitu." 


"Ini gila mas, saya kerja sama nulis novel aja nggak nyampe lo dapet segini dalam semalam!"


"Bisa kok, ngepet sama nuyul semalem dapet duit banyak!" Sahut Ferdian geli.


"Ccck, itu mah lain mas! Pesugihan namanya, ogah saya kalo itu! Ini kita kan kerja nganterin arwah lho!" Reino akhirnya kembali duduk lalu memeriksa beberapa pesan singkat.


"Kamu penulis juga? Bikin cerita apa, horor?" Ferdian membetulkan posisinya agar nyaman mengobrol.


"Roman mas, lumayan bisa bayar and lunasin rumah ini."


"Ya nggak juga sih kan saya kerja di advertising mas. Sekarang aja dah mundur, mana bisa saya kerja nyambi nganter arwah. Bisa-bisa nanti ketuker arwahnya saya anterin ke pelanggan, materi promosi saya kasihkan ke Thomas."


Keduanya pun tergelak, "Mas nggak istirahat?"


"Udah enakan, obat dari Ferdian manjur banget. Nyeri nya seketika hilang."


"Mau ngopi?" Reino bertanya penuh harap, ia juga belum mengantuk dan masih ingin mengobrol panjang lebar.


"Boleh, hitam ya, pahit aja!"


Tak lama Reino kembali dengan dua cangkir kopi dan cemilan ringan. Ferdian mencoba berdiri dan tidak merasakan nyeri lagi di punggungnya. 


"Mau ganti baju mas? Kayaknya ukuran kita sama." Reino membuka lemari pakaian dan memilihkan pakaian santai untuk Ferdian.


Ferdian mematut diri di cermin dan menggelengkan kepala. Noda darah dimana mana, ditambah robekan di lengan dan juga celana membuat kacau penampilannya.


"Masih cakep kok mas," 


Ferdian menarik nafas panjang, mengisi paru-parunya dengan udara, tak ada lagi nyeri yang menyesakkan dada. Lukanya menghilang begitu juga dengan memar di punggungnya. 

__ADS_1


"Kamu ketemu sama Thomas gimana cerita nya Rein?"


"Nggak sengaja mas, kemalaman naik kereta. Saya kira itu kereta beneran eh nggak taunya kereta hantu. Itu kali pertama saya ketemu hantu. Thomas lalu datang kasih penawaran buat nolongin Sheeren."


"Dokter muda itu kan, yang korban Trowek sama kayak Annisa?"


"Betul mas, kalau mas sendiri gimana?"


"Aku ketemu Thomas itu kondisinya lagi nggak baik. Diuji sama kehidupan, sama anak istri, kerjaan, pinjol. Sampai aku nggak percaya adanya Tuhan, Rein."


Reino manggut-manggut, Ferdian kembali melanjutkan kalimatnya. "Salahku disini, akhirnya ya aku kehilangan segalanya."


"Eh maksudnya gimana mas? Kehilangan keluarga?"


"Semuanya, perjanjianku dengan Thomas mengharuskan aku untuk meninggalkan jati diriku sebagai manusia … tapi aku masih hidup, Thomas mengharuskan aku menjauh dari keluargaku. Mereka hanya tahu aku tewas dalam kecelakaan, dan aku cuma bisa melihat mereka dari kejauhan."


"Padahal mas masih hidup, itu pasti berat."


Ferdian memainkan cangkir kopinya, matanya menerawang jauh mengingat kenangan Agung dan Mia. "Yeah, sangat berat."


Ferdian menarik nafas panjang, lalu menoleh ke arah Reino. "Aku penasaran apa Sheeren menyusahkan seperti Tami ehm maksudku Annisa?"


"Tami dan Sheeren itu berbeda kasus, Tami sempat masuk ke dunia bawah dan itu menyulitkan para kurir sementara Sheeren, dia memang roh penasaran selama bertahun-tahun." Reino kembali meminum kopinya.


"Darimana kamu tahu kasus Tami, Rein?"


"Siapa lagi kalau bukan si gendeng John!"


Keduanya tertawa geli, "Itu gimana ceritanya kamu bisa kenal dia?"


"Dia kiriman Thomas, entah salah apa saya sampai dapatnya asisten demit kemayu model gitu. Tapi aku akui, informasi dari dia tanpa batas. Dia bisa tahu semuanya, cuma ya itu tadi kalo lagi jadi John serem deketan ma dia!"


Ferdian kembali tergelak, "Awas menular!"


"Wah jangan dong mas, makanya saya seneng mas tinggal disini. Setidaknya ada orang waras yang bisa nyeimbangin otak saya."


"Ya, ya kamu bener Rein. Tapi dia lumayan juga, liat aja kekuatan dia waktu ngangkat tu ular gede, emejing lho! Kita aja yang laki bener nggak kepikiran."


"Kita ketakutan duluan mas, kalah pengalaman sama dia yang usianya sudah jauh diatas kita."


"Betul juga sih," keduanya kembali terdiam dan sibuk dengan pikirannya masing-masing.


"Aku nggak pernah menyangka bakal jadi kurir seperti ini, kamu?" Ferdian akhirnya membuka kalimat setelah sekian lama mereka terdiam.


"Sama mas, saya juga nggak pernah mikir untuk berhubungan sama hantu, roh, atau semacamnya."


"So … kita berjuang bersama?"

__ADS_1


Keduanya saling menatap, "Yup, nggak pilihan lain kan. Lagipula kita sama-sama nggak tahu bagaimana membatalkan perjanjian itu."


"Yeah, no way to return!"


__ADS_2