Kurir Arwah Penasaran

Kurir Arwah Penasaran
Sang Tangkalaluk


__ADS_3

Ferdian dan Reino mau tidak mau harus menerima tantangan Raja Candra untuk bisa membawa empat roh pemuda itu. Mereka harus melawan abdi setia penunggu hutan larangan.


"Aku memberimu waktu tak terbatas untuk dapat mengalahkannya. Aku juga tak perlu melihat bagaimana pertandingan kalian. Lentera ini akan mati dengan sendirinya jika kalian menang."


Raja Candra menunjukkan lentera dengan ukiran cantik berwarna keemasan yang dibawa abdi dalem. 


"Ini adalah lentera kehidupan milik abdi setiaku. Aku akan meletakkannya disini dan menunggu kedatangan kalian."


Abdi dalem raja Candra lainnya mengantarkan Reino dan Ferdian menuju sebuah pintu besar dari kayu, pintu berukiran yang sangat kokoh dan tebal. Derak pintu terbuka terdengar menggema di seluruh ruangan. 


"Silahkan masuk tuan-tuan. Selamat datang di dunia Tangkalaluk, monster terhebat yang dimiliki kerajaan kami!"


Tepat ketika si abdi dalem berhenti bicara terdengar suara teriakan menjerit menggema bak Tyrannosaurus dalam film Jurassic Park. Ferdian dan Reino sontak terbelalak, keduanya menoleh ke arah sang raja yang tersenyum sinis.


"Hadapi dan kalahkan dia untuk mereka!"


Pintu besar itu tertutup perlahan, meninggalkan kedua kurir tampan yang kini kebingungan harus berbuat apa. Hutan lebat layaknya hutan Amazon dengan kelembaban tinggi, sulur berduri yang menghiasi pepohonan besar dan cahaya matahari yang tak seberapa terang membuat siapapun yang ada disana ciut nyali tak terkecuali dua kurir tampan utusan Thomas.


"Kita tidak dibayar mahal untuk menghadapi ini mas?! Ini gila, benar-benar gila!" Reino menatap jauh kedepan dan memperhatikan sekitar. Suara binatang hutan mulai terdengar bersahutan.


"Kamu benar Rein, Thomas sepertinya melupakan sesuatu tentang ini!"


Suara geraman liar kembali terdengar diikuti kepakan sayap burung-burung yang beterbangan.


"Kau dengar itu Rein, itu jelas bukan harimau atau binatang biasa?" Ferdian mulai berjalan diikuti Reino.


"Yup, itu lebih mirip … dinosaurus?" Reino menaikkan sebelah alis, sedikit berlebihan tapi melihat kondisi yang ada semua kemungkinan itu bisa terjadi.


"Ya ampun Thomas, apa yang harus kami lakukan! Kita bahkan tak tahu harus menghadapi apa dan bagaimana cara mengalahkannya!" Ferdian mulai frustasi, sungguh ia tak membayangkan jika harus mati di alam monster seperti ini.


"Aku belum mau mati mas, penggemarku menanti bab petualangan terbaru dan aku masih ingin berjalan jalan ke luar negeri."


Ferdian menatap heran pada rekannya, "Kau gila? Disaat seperti ini masih memikirkan novel mu dan travelling?! Kita bahkan belum tentu selamat disini Rein!"

__ADS_1


Reino mengedikkan bahu, ia pun berkilah. "Setidaknya itu alasan kuat untuk tetap bertahan hidup."


"Yeah, kamu benar. Itu alasanmu bro, lalu apa alasanku? Tak ada yang aku tunggu dan aku harapkan dalam hidupku lagi selain kesepian." Sahut Ferdian getir.


Mereka berjalan memasuki hutan, suara siamang terdengar nyaring, burung liar berkicau saling bersahutan. Mata dan telinga mereka waspada  bersiap menghadapi hal yang bisa saja muncul tiba-tiba.


"Sejauh ini tidak ada yang aneh, dimana makhluk itu?" Reino terus memasang mata.


"Jangan lengah Rein, aku yakin monster ini sedang mengawasi kita. Keluarkan kompas mu!"


Reino merogoh sakunya dan membuka kompas penunjuk arah, belum ada tanda-tanda mencurigakan. Tapi dari balik pepohonan mereka tak menyadari kehadiran monster yang bergerak perlahan mengitari keduanya. Matanya tajam kekuningan memperhatikan tiap gerakan dua kurir dengan memantau energi panas tubuh yang dikeluarkan keduanya.


Ia bergerak pelan dengan bulu-bulu hitam yang memenuhi seluruh tubuhnya. Meliuk mengikuti pepohonan rindang, mengintip dari balik celah bebatuan. Sang Tangkalaluk mengintai dan bersiap menyerang kedua kurir di waktu yang tepat.


"Ini gila! Mas bisa nggak sih kita hubungi Thomas?! Kita perlu bantuan, senjata mungkin atau … entahlah sesuatu yang bisa kita pakai buat menyerang gitu. Aku yakin yang kita hadapi ini adalah monster besar!" Reino dilanda panik, ia menghalau binatang sejenis nyamuk yang dengan santainya hinggap diatas kulit putihnya.


"Bawa pisau komando? Aku rasa itu cukup." Ferdian berusaha menghibur meski tak yakin dengan ucapannya.


Reino terus menggerutu sambil sesekali memutar badannya, memperhatikan sekitar.


"Ssstt, bisa nggak sih kamu diam sedikit! Kamu lama-lama udah mirip aja kayak siapa tuh Jojon, Jane … ah, siapa itu namanya?!"


"John! Yeah, dan aku merindukannya sekarang."


Ferdian menoleh dengan menaikkan kedua alisnya, "Hei bukan itu maksudnya! John memiliki kekuatan memindai energi supranatural makhluk halus, kekuatannya pun lumayan sebagai seorang, kau tau … trans hantu!"  Terang Reino cepat.


KRAAK!!


Keduanya berhenti, Ferdian waspada dan mengisyaratkan pada Reino untuk diam.


"Kau dengar itu?" Bisik Ferdian pada Reino saat punggung mereka saling bersentuhan. Keduanya berdiri saling membelakangi menjaga satu sama lain.


KRAAK!!

__ADS_1


Suara patahan kayu kembali terdengar dan kali ini terdengar lebih keras dan nyaring. 


"Mas, kamu dengar desisan halus?" 


Ferdian mengangguk pelan, "Ya, apa menurutmu itu ular?"


Tanpa mereka sadari satu sosok menyeramkan berdiri menjulang tinggi dihadapan keduanya. Bulu-bulu hitam memenuhi seluruh tubuhnya dan menyisakan bagian kepala yang dihiasi mahkota indah. Dua tangan panjang yang lebih mirip jalinan tulang belulang menghiasi bagian atas tubuh ular berkepala naga itu. Matanya kekuningan menatap nyalang pada kedua kurir tampan yang kini ternganga melihatnya.


"Ya Tuhan, apa sebaiknya kita menjadi arwah saja mas?"


"Kamu benar Rein, bagaimana bisa kita menghadapinya? Ini pasti akal-akalan Raja demit itu!"


Suara teriakan panjang yang memekakkan telinga keluar dari mulut mengerikan makhluk serupa siluman ular itu. Sang Tangkalaluk bersiap menyerang. Dengan satu gerakan cepat makhluk itu menyambar Ferdian dan Reino dengan kedua tangan tulang belulangnya. Jemarinya yang panjang bak sulur pohon berduri menggores dalam pada batang pepohonan di kanan dan kiri kedua kurir.


Reino dan ferdian menatap ngeri pada jejak menganga di pohon. Membayangkan jika jemari itu mengenai tubuh mereka.


"Brengsek, anj***! Bisa jadi sate kita mas!" Reino mengumpat sambil kembali berguling menghindari serangan Tangkalaluk.


"Makhluk apa itu, bulunya hitam seperti gorila tapi kepalanya mirip naga, badannya ular begitu. Raja Candra pintar memilih koleksi monster, aku berani bertaruh ini hanya satu dari sekian makhluk aneh pengikutnya!" Ferdian kembali melompat menghindari tangan aneh yang terus memburunya. 


Tak hanya kedua tangan, sesekali moncong makhluk yang terdiri dari ribuan gigi tajam itu juga merangsek menyerang Reino dan Ferdian bergantian. Giginya yang tajam, mampu menghancurkan pohon besar maupun bebatuan yang ada disekitar. Mulut Tangkalaluk itu menyerupai hewan air diperairan dalam yang selalu membuka dengan moncong gerigi menakutkan.


"Lakukan sesuatu mas, sebelum kita jadi perkedel manusia disini!" Reino terengah-engah mengatur nafasnya saat akhirnya mereka bisa bersembunyi di balik gua sempit.


"Kampret bener tuh demit! Jelas saja kita kalah!" Ferdian kesal, ia hampir kehabisan nafas karena harus menghindari serangan yang bertubi-tubi.


"Kita butuh bantuan mas, nggak mungkin kita ngadepin sendiri!"


"Ada yang butuh bantuaaaaaan? Mas Reeiiin, Eike datang spesial buat jej!"


Ferdian seketika menepuk jidatnya, "Oh, come on! Thomas, apa nggak ada bantuan lain?!" 


 

__ADS_1


__ADS_2