
Jelang malam Bu Asih mulai gelisah, ia ketakutan dan mulai meracau tak jelas. Erna dan Rangga berusaha menenangkan Asih yang berkali kali memutar bola matanya kesana kemari. Mereka dalam perjalanan pulang ke panti, dokter Thalia memberi banyak bantuan hingga proses kepulangan Asih bisa berjalan cepat dan lancar.
"Pak Ferdi, Asih kenapa? Saya jadi takut." Rangga mulai berkeringat, tangannya tak lepas dari tangan Asih yang mulai meronta.
Ferdian melirik dari kaca spion, tak ada yang boleh menghalanginya untuk membawa Tami pulang ke gerbong hantu. Termasuk Asih, waktu Tami tak banyak ia tak mau usahanya sia-sia.
Ferdian menepikan mobilnya diikuti mobil Thalia. Dokter cantik itu memutuskan untuk ikut mengantar pasien spesial nya hingga ke panti. Amy, sahabat gaib Thalia menemani Tami bermain di dalam mobil. Thalia dan Ferdian sengaja memisahkan Tami untuk menjaga kestabilan Asih.
"Asih, bisa tenang sedikit. Kamu aman disini, ada Erna dan juga Rangga. Mereka keluarga kamu, ingat kan?" Ferdian mencoba bicara dengan Asih.
"Tami, Tami datang untuk membalas aku! Tami datang!" Asih gemetar, matanya terus berputar ke kanan dan kiri.
Melihat kondisi Asih, Ferdian tak bisa tinggal diam. Ia tak mau kehilangan momen Tami. Ferdian menarik nafas lalu menyentuh tangan Asih, menyalurkan energi positif disertai mantra penenang.
"Tidurlah, perjalanan kita masih jauh." perintah Ferdian pada Asih, matanya berkilat keemasan sejenak sebelum akhirnya Asih tertidur lelap.
Erna dan Rangga saling pandang, heran, takjub, bingung, dan takut sekaligus bercampur menjadi satu. Apa yang dilakukan Ferdian sungguh diluar nalar tapi itu nyata terjadi di depan mata.
"Jangan takut, saya hanya melakukan apa yang harus saya lakukan."
Kalimat Ferdian diikuti anggukan kepala pasangan suami istri itu. "Terimakasih, waktu saya dan Tami nggak banyak jadi kita harus bergegas."
Ferdian memberi tanda pada Thalia untuk kembali berjalan, "Apa semua terkendali?" tanya Ferdian saat mobil mereka sejajar.
"Lihat saja mereka. Aman terkendali." Thalia menunjukkan Tami dan anak kecil berparas Indo-Belanda sedang asik bermain di kursi penumpang pada Ferdian.
Mobil yang dikendarai Ferdian dan Thalia masuki gerbang gaib untuk mempersingkat waktu. Erna gelisah, berkali kali ia menoleh ke arah belakang seolah memastikan Thalia mengikuti mereka.
"Ehm, pak Ferdi … boleh saya tanya sesuatu?"
"Silahkan Bu,"
"Apa Anissa ada bersama dokter Thalia? Saya, apa dia …," Erna bingung harus memulainya dari mana.
Sebagai ibu, ia sangat merindukan putrinya tapi Erna sangsi Tami akan mengenalinya. Ferdian memahami hal itu. Tami besar sebagai putri dari Asih bukan Erna, itu sebabnya Ferdian meminta bantuan Thalia untuk menangani roh gadis kecil yang malang itu.
__ADS_1
"Semua akan berjalan lancar dan saya pastikan itu terjadi." Ferdian menenangkan Erna.
Akhirnya rombongan tiba di Rumah Panti Anyelir. Bu Saedah menyambut kedatangan mereka dengan haru. Selama di rumah sakit Rangga sudah memberitahukan semuanya pada ibu pemilik panti. Bu Saedah juga yang menyarankan agar Asih dibawa pulang. Ia juga merindukan Asih yang sudah dianggap putrinya sendiri.
Thalia memeriksa kondisi Asih, sementara Tami, Amy dan Ferdian berdiri tak jauh dari ranjang Asih. Tangan Tami tak lepas dari genggaman Ferdian.
"Apa ibu baik-baik saja?" Tami bertanya pada Thalia.
Thalia tersenyum lalu mendekati Tami, "Ibu Asih baik-baik saja. Tami sayang ibu?"
Tami mengangguk, Thalia mengusap lembut rambut Tami lalu kembali bertanya. "Tami ingin menyampaikan sesuatu sama ibu Asih?"
Tami tak menjawab, ia menatap wanita yang dianggapnya sebagai ibu selama ini. Asih tampak begitu lelah meski dalam posisi tertidur. "Aku sayang ibu, tapi ibu tak pernah menyayangiku. Ibu tak pernah menginginkanku."
Thalia menatap Ferdian sejenak, ia menarik tangan Tami dan memeluknya. "Ibu Asih sayang Tami, cuma ibu Asih bingung dan nggak tahu harus bilang apa kalau bertemu Tami."
"Apa dia bukan ibuku? Kenapa dia tidak pernah memanggil namaku." Tami menoleh pada Ferdian, ia juga bertanya padanya.
"Paman, kenapa ibuku diam dan tak menyebut namaku? Apa aku sudah dilupakan?"
Tami mengangguk, "Ibu Asih mungkin lupa kalau namamu Annisa." lanjut Ferdian lagi.
Jujur saja Ferdian bingung harus berkata apa, rasanya begitu sulit menjelaskan yang terjadi pada Tami. Thalia mengambil alih pembicaraan, ia mengajak Tami duduk di sofa tak jauh dari ranjang Asih.
Thalia memberitahukan pada Tami hal yang sebenarnya terjadi. Tami mendengarkan dengan tenang sambil sesekali menoleh ke arah Ferdian dan Asih secara bergantian.
"Jadi Bu Asih bukan ibuku? Lalu siapa ibuku sebenarnya?"
Thalia belum menjawab saat sayup-sayup terdengar suara indah dari anak-anak panti yang melantunkan ayat-ayat Yasin tahlil untuk Tami alias Annisa. Suara itu begitu merdu dan indah terdengar bersahutan. Terselip nama Annisa binti Rangga Aditiya yang diucapkan di sela doa yang tulus.
Tami alias Annisa merasakan sesuatu yang hangat dan teduh di hatinya, ia berjalan perlahan menuju ruang tengah dimana anak-anak panti berkumpul bersama ibu Saedah, Erna, Rangga dan pengurus panti lainnya. Tanpa dikomando mereka kompak membaca doa yang dipersembahkan khusus untuk Annisa.
Airmata Erna tak tertahan lagi, ia tak peduli meski airmata nya mengering. Ia hanya ingin memberi hadiah terindah untuk terakhir kalinya pada putri kesayangannya yang tak pernah sekalipun ditemui.
Tami melangkah pasti mendekati Erna dan Rangga, "Apakah mereka orang tuaku paman?"
__ADS_1
Ferdian mengangguk, Thalia tak bisa menahan haru. Tami alias Annisa berubah perlahan pakaiannya tak lagi merah tapi berganti putih bersih, wajahnya begitu berseri dan bercahaya.
Ferdian membuka tabir gaib, menarik Erna dan Rangga dalam selubung dimensi lain. Pasangan suami istri itu terkejut karena mereka berpindah tempat begitu saja.
"Ini Annisa, putri kalian." Ferdian mengenalkan Annisa pada keduanya.
Keduanya menatap haru dan langsung memeluk Annisa. Permintaan maaf dan ungkapan sayang bertubi-tubi diucapkan Rangga dan Erna. Annisa tersenyum lebar, tak ada rasa benci dan kecewa pada kedua orang tuanya. Ia merasa sangat bahagia.
Namanya telah disebut, namanya telah menggema ke langit ketujuh. Diucapkan oleh orang-orang yang sangat mencintainya bersama dia terindah untuknya.
"Waktunya pulang, kereta sudah menunggumu." Ferdian mengingatkan ketiganya yang masih melepas rindu.
"Terimakasih ayah, ibu, aku sayang kalian." pamit Tami untuk terakhir kalinya.
Erna dan Rangga tak bisa lagi berkata apa-apa selain, "Kami juga sayang, Annisa."
Annisa meraih tangan Ferdian, pintu dimensi lain terbuka lebar. Annisa melambaikan tangan dengan ceria pada kedua orang tuanya.
"Hei tunggu!" Thalia menyela, "Kamu meninggalkan ini." ucapnya lagi sambil menyerahkan boneka beruang coklat pada Annisa.
"Bubu!" Annisa berteriak kegirangan, ia menemukan bubu-nya.
Ferdian pun tersenyum, "Thanks, hampir saja terlupa!"
"Well, sepertinya kau perlu asisten tuan Ferdian." sahut Thalia dengan senyuman lebar.
Perpisahan yang indah untuk Tami alias Annisa binti Rangga Aditiya. Pintu dimensi tertutup bersamaan dengan suara peluit panjang dari kereta hantu.
"Selamat datang di gerbong 666, nona Annisa!" sambut Thomas dengan senyuman khasnya.
"Thomas! Terimakasih sudah menjagaku, aku menyayangimu, kakek." Annisa memeluk Thomas erat.
Thomas tertawa, ia mengusap punggung Annisa dengan lembut. "Jaga dirimu baik-baik, jangan nakal selama dalam perjalanan bersama paman Ferdian, ok?"
Tami mengangguk ceria, ia menarik tangan Ferdian agar segera memasuki gerbong.
__ADS_1
"Good job tuan Ferdian, selamat menikmati perjalanan dan tunggu tugas berikutnya."