
Ferdian menunggu kedatangan Thomas, seharusnya ia bersama John pergi mencari Agung tapi panggilan tugas dari Thomas memaksanya untuk menunda hal itu. Ferdian melirik jam tangannya, sudah jam satu lebih tak biasanya Thomas terlambat.
Kereta dengan tiga belas gerbong itu belum juga datang. Ferdian dibuat mondar mandir menunggu dengan resah.
"Firasat ku buruk, apa ini berkaitan dengan pembunuhan itu?" Ia bergumam kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri mencari tanda-tanda kedatangan gerbong setan.
"Sebentar lagi dia datang. Percaya padaku!" John yang menemani Ferdian menenangkan sang kurir yang terus berjalan mondar mandir.
"Nggak biasanya Thomas ngaret gini kan John? Ada keretanya macet?"
John seketika membulatkan mata dan berjalan gemulai ke arah Ferdian. "Heeei, mas Ferdi jangan asal ya jej kalo ngomong! Mana ada kereta itu kena macetos? Emang jej kira itu jalan kereta rumpita kek jalala jilili tol?! Iiih suka ngadi-ngadi deh!"
"Ngomong apa sih kamu, jalala jilili kayak lagu aja, pake bahasa yang jelas bisa nggak sih?"
"Nggak! Bawel deh jej!" John memicingkan mata, menajamkan penglihatannya, senyum pun mengembang saat setitik cahaya terang di ujung terlihat semakin mendekat.
"Naah, dia datang!" Suara bariton John mengganti suara ajaib miliknya sendiri.
Ferdian ikut menoleh ke arah yang sama, jantungnya berdebar kencang tidak seperti biasanya. Jika sebelumnya ia merasa bersemangat, kali ini sedikit berbeda. Ia gugup, firasatnya buruk.
Rangkaian gerbong berhenti tepat di tempat seharusnya. Kabut tipis seperti biasa muncul seiring datangnya kereta dengan tiga belas gerbong unik itu. Thomas turun bersama Louise diikuti dua roh lain yang belum terlihat jelas wajahnya oleh Ferdian.
"Selamat malam tuan Ferdian, maaf agak sedikit terlambat. Apa kau siap dengan misi baru mu?"
"Tentu, sesuai perjanjian. Tapi dimana Reino bukankah seharusnya kami bersama?"
Thomas menarik sudut bibirnya. "Dia sedang menjalankan misi khusus. Segera setelah misi selesai kalian akan bertemu."
Ferdian tak menaruh curiga, ia lebih tertarik memperhatikan calon klien yang dibawa Thomas. Mereka berdiri dengan kepala tertunduk di belakang tubuh Louise dan Thomas. Ferdian memiringkan kepala, mencoba mengintip.
"Siapa mereka? Klienku dua orang? Tak biasanya begini."
Thomas dan Louise saling menatap, "ini klien istimewa untukmu." Thomas menggeser tubuhnya hingga Ferdian bisa melihat dengan jelas siapa dua roh yang harus dia antar menuju gerbong kematian.
__ADS_1
Ferdian terbelalak, "tidak mungkin! Ini misi baru untukku? Apa kau bercanda?"
"Sayangnya tidak tuan Ferdian, kau harus mengantar mereka seperti biasa." Sahut Thomas tenang.
"John akan membantumu, Ferdian." Louise menambahkan.
Jantung Ferdian berdegup kencang, ia harus mengantar paklek Andi dan bulek Tina orang yang sejujurnya sangat dibenci. Bagaimana tidak semasa hidup, mereka tak pernah peduli dengan keluarga kecilnya.
Ferdian adalah anak pertama dari tiga bersaudara, dua adiknya pergi merantau dan memilih tinggal di kota rantauan masing-masing. Saat orang tuanya masih hidup, paklek Andi dan bulek Tina bahkan tak pernah berkunjung, sekalinya berkunjung mereka selalu meminta jatah uang yang membuat orang tua Ferdian pusing tujuh keliling. Mereka juga tak datang saat orang tua Ferdian meninggal dunia.
Paklek Andi dan bulek Tina seolah memiliki dunianya sendiri, mereka tak pernah menganggap Ferdian sebagai keponakan bahkan saat Ferdian dirundung masalah cacian, makian, dan hujatan yang mereka terima.
Rahang Ferdian mengeras, rasanya ingin sekali menolak tapi Ferdian tak bisa melakukannya.
"Waktumu hanya dua hari, permintaan mereka simpel. Bertemu putranya, Heri."
"Heri, huh?" Ferdian tersenyum sinis, sepupunya yang satu itu lebih menjengkelkan lagi.
Heri, preman abal-abal yang kerap meminjam uang kepadanya dan juga mengancam Mia. Dia bahkan hampir menganiaya Mia saat Ferdian tidak berada dirumah.
Louise mengikuti Thomas dan saat berpapasan dengan John, keduanya tersenyum misterius. Ferdian tidak menyadari hal itu, ia fokus pada dua orang yang kini menatapnya kosong.
Ferdian mengusap wajahnya frustasi, ia harus mengesampingkan perasaannya dan menjalankan tugas.
"Ferdian?" Paklek Andi bertanya memastikan karena ia juga masih bingung dengan keadaannya.
"Ya ini saya, sebaiknya kita pergi dari sini paklek. Waktu kita nggak banyak." Ferdian memutar tubuhnya tapi tangan bulek Tina menahan.
"Fer, tunggu! Bulek minta maaf,"
Ferdian berbalik dan menatap keduanya bergantian. "Sekarang bukan waktunya untuk bermaafan, ada kereta yang harus kita kejar!"
"Tapi kami belum tenang kalau belum mendapatkan maafmu Fer!" Paklek Andi menambahkan.
__ADS_1
Ferdian menarik nafas dalam-dalam, mendapatkan maaf bagi roh penasaran juga sangat berarti. "Baiklah, aku memaafkan semua kesalahan kalian. Semoga kalian bisa tenang. Apa itu cukup?"
Sepasang suami istri itu saling memandang. Meski sedikit kecewa tapi mereka menerimanya dan mengangguk pelan.
"Ayo pergi!"
Ferdian membuka portal dimensi kembali menuju rumah tempat kejadian perkara.
"Katakan padaku siapa pembunuh kalian?"
Keduanya menunduk lesu, lalu dalam satu tarikan nafas bulek Tina menjawab lemah.
"Heri, kami juga tidak menduga akan tewas di tangan putra kesayangan kami sendiri."
"Heri? Lalu kenapa jadi putraku yang harus bertanggung jawab, huh?!"
Ferdian tersulut emosi, putranya sampai harus menderita karena kejadian ini dan belum lagi Mia yang ketakutan karena tindakan anarkis warga.
"Maaf tapi kami sungguh tidak tahu. Kami tidak mengingat apapun selain kenangan terakhir tentang Heri dan kelakuan anehnya." Paklek Andi menjawab.
"Kelakuan aneh?" Ferdian dibuat penasaran.
"Ya, kamu boleh percaya atau tidak pada kami tapi … Heri terlihat aneh, dia bukan Heri anak kami!" Paklek Andi berujar sambil mengingat saat itu.
Paklek Waluyo menceritakan malam dimana mereka terbunuh. Waktu magrib baru saja berlalu saat Heri datang dengan mata merah dan mulut berbau alkohol. Ia datang dengan membawa sebilah parang panjang. Bulek Tina yang menyambutnya tak menyangka jika putranya tega membabat tubuh tuanya. Puas menyiksa ibunya yang hidupnya tinggal satu tarikan nafas, Heri mencari sang ayah dan langsung membunuhnya tanpa ampun.
"Paklek merasa itu bukan Heri. Dia sangat berbeda, mabuk tapi tindakannya sama sekali tidak mirip orang mabuk. Dia waras, tenaganya bahkan jauh lebih kuat. Mata itu bukan mata Heri."
Ferdian terkesiap, firasatnya buruk. Ia menduga Heri dimasuki roh jahat.
"Aku sempat mendengar suara Agung berteriak minta tolong tapi kemudian suara itu hilang. Aku hanya mendengar suara jeritan jeritan kesakitan sebelum akhirnya semua gelap dan dingin." Lanjut paklek Andi.
"Sebentar, sebelum aku mati ada dua orang yang muncul di dalam rumah. Tapi aku tidak bisa mengingatnya jelas. Hanya bayangan hitam tapi aku bisa mendengar salah satunya adalah wanita. Iya suara wanita!" Bulek Tina setengah berteriak.
__ADS_1
Wanita, dua orang? Apa maksudnya ini? Siapa yang bersama Heri? Atau itu hanya tetangga yang hendak menolong?