Kurir Arwah Penasaran

Kurir Arwah Penasaran
Ilusi yang tersamar


__ADS_3

Reino membimbing Agung untuk berjalan meninggalkan tempat dimana jasadnya berada. Agung masih shock dan terus menangis. Sebelumnya Reino menghubungi ranger hutan dan mengabarkan penemuan mayat di bawah timbunan dedaunan. Setelah memberi titik koordinat lokasi mayat Agung, Reino pergi melintasi dimensi gaib. Jika perkiraannya benar dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam mayat Agung akan ditemukan.


"Duduklah, tenangkan dirimu!"


Agung menurut, "om, gimana nasib saya sekarang?"


Reino mengusap tengkuknya bingung, "nasib?" Sejujurnya ia bingung harus menjawab apa pada remaja itu. "Ya, kamu sudah mati dan waktumu nggak banyak lagi. Om cuma bisa bantu kamu untuk ketemu sama papa kamu dan nemuin siapa pelaku sebenarnya. Setelah ini tugas om mengantarmu ke putaran takdir selanjutnya."


Reino menepuk bahu Agung, "be stronger boy!"


Agung berusaha mengingat siapa pembunuh nya di hutan. Potongan-potongan ingatan itu terlalu membingungkan untuknya. Wajah pembunuh keji itu perlahan terlihat jelas, ia juga bisa mengingat lelaki bertudung hitam yang menganiaya dirinya di hutan.


"Heri!" 


Reino menoleh karena terkejut, "siapa Heri?"


"Sepupu papah, anaknya eyang Andi! Aku ingat waktu aku datang kesana dia berdiri di depan jasad eyang!"


"Tunggu, kamu kesana itu ngapain sih? Jujur om penasaran dari tadi."


Agung terdiam berusaha mengingat, "ada yang meminta aku datang kesana om."


"Iya, siapa?"


"Nomor nggak dikenal, ngakunya sih eyang Andi tapi … ada yang aneh, suaranya sedikit berbeda. Waktu awal nanya pake suara cewek eeh setelah tanya namaku suaranya berubah jadi cowok. Mungkin eyang Tina ya om?"


Reino terkesiap, "eeh, kok bisa gitu ya? Emang kamu nggak bisa ngenalin suara eyang kamu?"


Agung menggeleng, "eyang nggak pernah telpon. Jangankan telepon nengokin kita juga nggak, terakhir ketemu waktu papah meninggal."

__ADS_1


Reino mendadak curiga, keterangan Agung mengarah pada John yang bisa mengubah suaranya. Firasatnya mengatakan jika apa yang terjadi pada Agung adalah konspirasi yang sengaja dibuat untuk menjebak Ferdian. Pertemuannya dengan Malik cukup memberinya alasan untuk menduga hal itu. Sang Penjaga tengah mencari penggantinya.


"Oh ya satu lagi om, waktu aku pergi keluar dari rumah karena terburu-buru aku sempat menabrak perempuan cantik berbaju kuning. Dia berdiri nggak jauh dari halaman rumah. Dia bisa jadi saksi om kalau aku nggak salah! Aku nggak bunuh eyang Andi sama yang lainnya!"


"Perempuan berbaju kuning? Gaun atau kebaya maksud kamu?"


"Iya gaun selutut, cantik banget om! Dia pake topi besar seperti topi orang-orang bule gitu om."


Reino mengernyit ia teringat sosok dengan ciri khas seperti itu. "Gimana bisa dia jadi saksi kan dia ada di luar rumah Gung, mana mungkin dia liat kamu! Apa yang terjadi di rumah itu kan nggak bisa terlihat juga dari luar!"


Agung terdiam sejenak, wajahnya tertunduk lesu. "Dia lihat, dia pasti melihat om." Agung mengangkat dagunya dan menatap Reino. "Perempuan itu orang yang sama. Dia yang menyelamatkan kami di rumah sakit, Agung ingat sekali dia itu utusan tuan Thomas."


DEG!!


Bingo, ketemu! Itu jelas Louise!


Batin Reino bersorak, ia menemukan benang merah dari kejadian ini. Sudah bisa dipastikan ini adalah permainan Thomas dan kaki tangannya. Sama seperti saat mereka memanipulasi kematian Ferdian. Sejak awal semua sudah diatur oleh Thomas, Ferdian dijebak agar bisa selamanya terikat pada aturan para kurir untuk selanjutnya menjadi Sang Penjaga.


"Kenapa om, ada apa?" Agung yang bingung karena Reino terus mengumpat pun bertanya.


"Nggak, gini deh. Kamu tunggu disini ya, jangan kemana mana. Ada yang harus om urus dulu. Ok?"


Agung mengangguk, ia membuka portal dimensi. "Inget jangan kemana mana atau kamu nggak akan ketemu papa mu lagi!"


"Janji om, tapi setelah ini kita cari papah ya om?"


Reino mengangguk sebelum melangkahkan kaki ke dalam gerbang dimensi. 


"John, Louise! Dimana kalian?"

__ADS_1


Reino memasuki daerah khusus para kurir, ibarat sebuah perusahaan para kurir, pengawas, dan penjaga kurir tersentral pada satu tempat. Bangunan kuno dengan atap tinggi yang penuh sesak dengan tumpukan buku menjulang tinggi menghiasi di berbagai sudut, ratusan pintu kuno dan satu meja besar dikelilingi kursi unik ala ksatria templar berada di tengah ruangan.


"John, Louise keluarlah! Aku butuh bantuan!" Serunya sekali lagi berharap dua makhluk ajaib itu mau menemuinya.


Seorang kakek dengan tuxedo hitam dan bersarung tangan keluar dari balik salah satu pintu. 


"Ada yang bisa saya bantu tuan?"


"Kau siapa? Dimana John dan Louise?"


"Keduanya sedang bertugas, tuan. Perkenalkan saya Leonard, apa ada yang bisa saya bantu?" Kakek tua itu tersenyum misterius.


Reino tersenyum masam mendengarnya, ia ingin sekali menanyakan kasus Agung dan Ferdian. Tapi ia urung melakukannya, Reino tak bisa mempercayai siapapun sekarang selain kata hatinya sendiri.


"Tidak, lain kali lagi saya kesini!"


Reino memutar tubuhnya berjalan menuju pintu saat suara kakek itu kembali terdengar. 


"Semua memiliki tujuannya masing-masing, berjalan lah sesuai garis yang ditentukan dan jangan coba mencampuri keputusan para penjaga!" 


Reino berbalik dan tidak menemukan siapapun dibelakangnya. Kakek itu sudah raib entah kemana, Reino pun bergegas keluar.


"Betul dugaanku, semua ini sudah diatur. Pembunuhan itu, kematian Agung, dan misi konyol ini. Tujuannya hanya satu menjadikan mas Ferdi penjaga pengganti Thomas!"


"Rein, sedang apa disini?" Suara berat Malik menyapanya membuat mata Reino melebar.


"Pak Malik! Kebetulan sekali, bisa kita bicara sebentar?" Reino menarik Malik menjauh dan mereka pun duduk di kursi taman tak jauh dari rumah tua itu.


"Semua ini sudah diatur kan? Tidak ada ujian, tidak ada misi, dan tidak ada kasus pembunuhan kan? Ini semua hanya ilusi untuk menggiring mas Ferdi pada pilihan mutlak. Menjadi Penjaga, apa aku salah?"

__ADS_1


Reino dan Malik saling menatap, pria berumur lebih dari sembilan puluh tahun itu menarik nafas berat.


"Sayangnya ini bukan ilusi,"


__ADS_2