
Ferdian dibuat penasaran dengan munculnya dua tokoh baru di detik terakhir bulek Tina menutup mata. Tidak mungkin jika itu malaikat maut. Karena malaikat maut tidak berjenis kelamin wanita atau pria. Tak ada yang pernah melihatnya secara nyata termasuk mereka para kurir yang pekerjaannya jelas bersinggungan dengan para arwah.
Ferdian menarik nafas panjang, kenapa tugas kali ini begitu rumit. Begitu banyak melibatkan rasa didalamnya. Ia harus bertarung melawan rasa bencinya pada dua arwah di depannya, sekaligus berusaha mengabulkan permintaan dua roh yang sangat dibencinya itu.
"Fer, boleh paklek nanya? Kenapa kamu bisa ada disini, apa terjebak juga seperti kami?" Pertanyaan paklek Andi menghentikan pikiran Ferdian.
Ferdian menarik garis lengkung di sudut bibir. "Ini pekerjaanku." Jawabnya singkat.
"Kalian berdua betul tidak melihat Agung?" Ia mengalihkan pertanyaan pakleknya dengan cepat.
Kedua arwah itu mengangguk, Ferdian semakin penasaran. Pintu rumah tiba-tiba terbuka separuh lalu menutup dengan cepat. Seseorang menyelinap, Heri.
Mata kedua arwah itu seketika berbinar, "Heri, anakku!" Bulek Tina hendak memeluk tapi tentu saja tak bisa.
Mereka bertiga terhalang tabir gaib yang tak mungkin bisa saling bersentuhan. Ferdian memiliki kuasa atas dua arwah itu, interaksi kedua arwah dengan Heri bisa saja terjadi tapi ia tak ingin melakukannya. Rasa egois dalam diri Ferdian mendominasi, ia ingin memberi pelajaran pada dua roh itu.
"Brengsek, dimana bapak sama ibu simpan uang! Aku butuh banyak, gara-gara bajingan penipu itu hutang judiku semakin menumpuk!"
Heri terus mengumpat dengan kata-kata kasar sambil mengobrak abrik seluruh isi kamar.
"Lihat anak kesayangan kalian! Apa dia merindukan kalian berdua?" Ferdian berkata sarkas pada kedua roh.
"Bahkan hingga tujuh hari kematian tak satupun doa yang terdengar keluar dari mulutnya!" Ferdian melanjutkan perkataannya dengan geram.
Tak ada kalimat yang keluar dari sepasang roh itu, yang terdengar hanya isakan tangis pilu dari bulek Tina. Ferdian menarik nafas dalam-dalam, ia membuka gerbang gaib untuknya. Rasanya gatal untuk menyapa lelaki sok jago yang tak tahu diuntung itu.
"Mencari sesuatu?"
Heri terkejut apalagi saat memutar tubuhnya dan mendapati sosok Ferdian berdiri di belakangnya. Ia melonjak ketakutan.
"Ka-kau?!"
__ADS_1
"Kenapa, takut?" Tatapan tajam Ferdian mengunci suara Heri.
Ferdian berjalan mendekati Heri perlahan membuat lelaki muda yang dipenuhi tato dan ear piece itu mundur menjauh.
"Pergi, pergi! Kamu sudah mati!"
"Aku mati? Kau benar aku memang sudah mati jadi apa kau takut?"
Heri terpojok di sudut kamar, wajahnya pucat pasi dan berkeringat dingin. Ferdian semakin dekat dan berjongkok tepat di depannya. Ferdian mengangkat dagu Heri dengan kasar, tak ada perlawanan dari Heri selain ekspresi ketakutan.
"Coba lihat dirimu, bertato, perangai kasar, rambut lumayan juga, wajahmu juga cukup membuat takut istriku tapi kau … takut hantu? Menggelikan!"
"Aku ingin bertanya satu hal padamu, apa kau membunuh kedua orang tuamu, dua putranya dan dua asisten mereka?!"
Heri menggeleng cepat, dengan terbata bata ia menjawab. "Aku tidak pernah membunuh keduanya!"
"Jangan membuatku pusing kepala, saksi mengatakan kalau kau yang membunuh mereka!"
"Brengsek, aku tanya sekali lagi! Apa kau membunuh kedua orang tuamu!" Kali ini Ferdian menaikkan nada bicara hingga berteriak di depan wajahnya.
"A-aku … entahlah, aku tak tahu!" Jawab Heri kemudian setelah tak sanggup lagi menatap Ferdian.
"Apa maksudmu dengan tidak tahu?! Kau tak punya nyali untuk menghadapi roh kedua.orang tuamu atau …,"
"A-ku tidak membunuhnya, sungguh aku tidak membunuhnya!" Heri berteriak histeris, kedua tangannya menarik narik rambut di kepalanya dengan kasar, ia juga membenturkan kepala ke lemari kayu tepat di samping kirinya.
Tak ada pilihan lain bagi Ferdian, ia tak punya banyak waktu. Lencana milik Thomas berkilat, tangan Ferdian menyentuh kepala sepupunya itu dan memasuki ruang memori.
Heri berjalan dalam gelap ditemani botol minuman kesayangannya, ia bertemu dengan sosok bayangan dalam gelap di tengah jalan. Bayangan itu menerjangnya dan kemudian semua hilang dalam memori. Potongan memori lain muncul, Heri sedang melihat dirinya yang berlumuran darah dan parang panjang di tangan.
Satu jasad teronggok di depan Heri dalam posisi tertelungkup di sebuah hutan dan saat Ferdian hendak melihat tubuh siapa itu, sesuatu menyentaknya kuat hingga kembali ke alam nyata.
__ADS_1
"Mas Feriiii, jej ngapaiiin? Para kurir dilarang memasuki memori manusia tanpa ijin! Jej gila, mau kena hukuman Thomse? Iiih, Eike mah ogaaah!"
"John, aku nggak punya waktu banyak. Dan laki-laki nggak berguna ini malah terus mengelak!" Ferdian kesal karena John membuatnya gagal melihat siapa yang terbunuh di hutan.
"Tapi bukan dengan memasuki memori manusia mas Feriii … tugas jej mempertemukan duo roh itu kan sama anaknya, bukan cari tahu siapa pembunuhnya!"
"Tapi aku harus mencari tahu apa yang terjadi pada Agung juga, mereka ini berkaitan!" Ferdian terus membela diri.
John memijat keningnya, "beeeh susah deh kalo udah urusan sama bapak-bapak begindang! Udah buruan temuin aja si Heri sama tuh bapak ibunya! Abis ini kita cari deh itu Agung!"
Ferdian hendak menjawab tapi John kembali memotong. "No debate! Do it now!"
Ferdian berdecak kesal, dengan sekali jentik bak sulap, tabir gaib yang menutupi dua roh itu memudar. Paklek Andi dan bulek Tina muncul di hadapan Heri. Lelaki bertato itu terkejut, menatap nanar kedua orang tuanya. Kilas balik perbuatannya kembali seperti puzzle yang hilang, sepotong-sepotong dan membuatnya bingung.
"Bapak, ibu!"
Heri berdiri mendekati keduanya dengan lutut gemetar. Ia ragu dengan ingatannya, "aku … apa aku, membunuh kalian? Kenapa … kenapa Ferdi bilang aku yang membunuh?"
Paklek Andi dan bulek Tina memeluk putranya. Ada kerinduan yang menusuk direlung hati keduanya.
"Apa pun yang sudah kamu lakukan pada kami, sudah kami maafkan. Ibu yakin kamu nggak berniat membunuh ibu dan juga bapak." Bulek Tina mengusap lembut rambut putranya.
Tentu saja hal itu membuat Ferdian berkata sarkas, "lihatlah itu sudah menjadi roh pun kalian masih memanjakan Heri." Ferdian menatap kesal pada tingkah mereka yang dinilainya berlebihan.
"Kalian mati karena ulahnya tapi kalian masih menganggap itu bukan kesalahannya? Menggelikan sekali!"
"Karena kami melihat dan merasakan sendiri saat itu Fer, itu bukan Heri! Sesuatu telah merasuki dirinya, setan, roh jahat mungkin, entahlah paklek tak tahu. Kami bisa merasakan jika yang berdiri saat itu bukan putraku!"
Paklek Andi dan bulek Tina menatap Ferdian dengan tatapan yang sama, membuat Ferdian bertanya tanya. Mungkinkah Heri dalam pengaruh roh jahat?
__ADS_1