
Reino menatap ketiga sosok gaib yang berdiri di depannya. Ia masih tak mengerti kenapa Thomas memberi tugas ini kepadanya.
"I-ini serius? Dia ..,"
Thomas tersenyum masam, ia menatap anak malang itu. "Sayangnya iya, aku tidak bisa memberikannya pada Ferdian. Konflik kepentingan."
"Jadi Agung sudah tewas? Tapi siapa pembunuhnya?"
Reino masih tak percaya jika sosok yang berdiri di depannya adalah Agung, putra Ferdian, anak yang dituduh sebagai pembunuh keji satu keluarga.
"Seseorang telah memfitnahnya, orang yang sangat dekat dengan keluarga Ferdian." Thomas menatap iba pada Agung yang kini menunduk menahan bulir air mata.
"Jangan katakan apapun pada Ferdian, tugasnya jauh lebih berat. Kau baru boleh mengatakannya setelah waktu yang aku tentukan."
Thomas menepuk bahu Reino, berlalu meninggalkannya diikuti Louise. "Ayo Louise, ada pekerjaan berat untuk kita."
Thomas dan Louise menghilang di balik kabut asap tipis, Reino menatap nanar Agung yang masih tersedu.
"Hei, namaku Reino. Aku teman ayahmu, apa kita bisa pergi sekarang?"
Agung mengangkat wajahnya perlahan, mengusap matanya yang basah. "Papa? Apa aku bisa ketemu papa, om? Aku kangen."
Reino tersenyum, "tentu, kalau sudah waktunya nanti kamu pasti ketemu dia."
"Tapi papa sudah meninggal om apa aku masih bisa ketemu papa?"
Hati Reino pilu mendengarnya, Agung merindukan ayahnya dan dia belum memahami jika dirinya juga sudah meninggal dunia. Ferdian berbeda alam dengan Agung, ia masih hidup dan hanya dimatikan di dunia manusia. Tapi sebagai kurir tentu hal itu tidak masalah besar hanya menunggu waktu yang tepat.
"Kita pergi? Apa kamu mau sesuatu?" Reino bertanya mengabaikan pertanyaan Agung.
"Aku hanya ingin bertemu papa."
Reino mengacak rambut agung yang tingginya hampir sama dengannya. "Come on good boy, kita pergi jalan-jalan."
Mau tidak mau Agung mengikuti Reino, "so tell me, seperti apa papamu yang hebat itu!"
Agung menerawang sedih, "papa, adalah orang terbaik, terhebat, dan panutan keluarga."
"Kenapa sedih begitu?" Reino memperhatikan perubahan ekspresi Agung.
Agung tak langsung menjawab, "kami baru tenang semalam om, sebelum papa pergi bertugas dan … meninggal dunia."
Reino terdiam, ingin rasanya ia mengatakan pada Agung jika ayahnya masih hidup tapi, itu tidak mungkin.
"Apa yang kamu sesali, dia sudah tenang disana?" Reino memancing perasaan terdalam Agung.
"Seandainya waktu bisa diputar om, aku pengen banget nurut apa kata papa mama."
"Hhm itu sudah seharusnya kan?"
__ADS_1
Agung menggeleng, "nggak om, semua karena salah Agung. Seandainya Agung nggak kecelakaan dan butuh biaya besar papa mama nggak bakal terjebak sama pinjol begitu. Keluarga kami tenang dan damai."
Reino menepuk bahu Agung lalu menariknya dalam dekapan. "Setiap orang punya jalan hidup masing-masing boy, jangan menyalahkan dirimu sendiri."
Mereka tiba di satu tempat sesuai dengan ingatan Agung terakhir sebelum meninggal. Sebuah rumah dimana pembunuhan itu terjadi.
"Katakan apa keinginan terakhirmu selain bertemu dengan ayahmu?"
"Menangkap pembunuh keluarga paklek Andi. Dia yang membunuh mereka, dia juga yang menyerang ku!"
"Oke, kita akan melakukannya dan setelah itu aku akan mengantarmu ke terowongan kematian."
Agung menatap Reino dingin. Wajahnya terlihat berbeda dengan sebelumnya. Pucat, mata tajam penuh dendam, tidak terlihat manis dan menyedihkan lagi.
"Heri, sepupuku! Dia pelakunya, aku benci dia! Kenapa dia menimpakan kesalahan dan menjebak ku?!"
Emosi Agung meluap melebihi yang seharusnya. Reino terkejut bukan main karena perubahan signifikan itu.
"Agung, kendalikan emosimu! Kau bisa menjadi roh jahat dan kehilangan waktu untuk bereinkarnasi!"
"Dia harus membayar semuanya!" Kebencian, dendam, amarah yang membuncah kumpul menjadi satu membentuk aura hitam menakutkan.
"Oh tidak, Agung!"
Energi negatif Agung semakin meningkat membungkus tubuh remaja itu dan semakin lama semakin kuat, menimbulkan pusaran angin dahsyat.
Agung tak bisa mengendalikan kesedihan dan amarahnya lagi. Tubuhnya melayang perlahan, sorot mata teduh itu hilang berganti dengan mata kemerahan yang mengerikan.
"Tidak ada cara lain sebelum dia berubah jadi roh jahat!"
Cincin unik miliknya bersinar, Reino mendekati putaran angin itu dengan sekuat tenaga. Ia berusaha meraih tangan Agung yang mulai berbalut kabut kehitaman.
"Agung, kendalikan dirimu! Ingat tujuanmu untuk bertemu ayahmu!"
Reino berusaha mengingatkan Agung, ia berjalan terus mendekat. Energi negatif milik Agung mulai mencabik pakaian Reino, tubuhnya bak tertusuk ribuan jarum. Tekanan udara semakin kuat membuat perjuangan Reino untuk mendekat bertambah sulit, nafasnya mulai sesak.
"Agung, sadar boy! Ingat ayahmu!"
Tinggal sejengkal lagi Reino berhasil meraih tangan Agung, tapi darah mengalir dari hidung Reino, angin berputar sangat kencang, pandangannya mulai kabur. Kepalanya mengalami tekanan hebat.
"Aku nggak boleh … gagal!"
Dapat!!
Reino mengerahkan seluruh kemampuan khususnya, merapalkan mantra kuno yang perlahan mengikis kabut hitam di tubuh Agung. Rangkaian huruf kuno mengelilingi Agung dalam dua lingkaran besar yang saling menyilang. Semula lingkaran itu berukuran besar tapi perlahan mengecil seiring dengan hilangnya kabut energi negatif.
Pusaran angin pun berhenti, Reino lega. Keringat membanjiri tubuhnya dan ia duduk bersimpuh, energinya terkuras banyak.
"Syukurlah, untuk sementara kamu aman. Mantra itu akan menjadi segel sampai waktu yang ditentukan. Kamu nggak boleh berubah jadi roh jahat. Tidak sebelum bertemu dengan ayahmu!"
__ADS_1
Agung turun perlahan menjejak bumi, matanya kembali normal. Rangkaian kalimat mantra itu masih berpendar keemasan lalu menghilang menyatu dengan tubuh remaja itu.
"Maaf, om." Sesalnya dalam.
"Lupain, ayo kita cari jasadmu lalu temukan pembunuh itu."
Reino memutuskan untuk pergi dari rumah itu untuk menjaga kestabilan emosi Agung. Tapi mereka pasti akan kembali setelah mengamankan jasad remaja malang itu.
Portal dimensi membawa keduanya ke sebuah hutan dalam ingatan terakhir Agung. Hutan yang gelap, lembab, dingin, berkabut, keduanya berjalan diantara pepohonan berbatang besar.
"Kamu lari kesini? Gimana ceritanya? Ini jauh banget dari tempat tadi."
"Nggak tahu om, waktu aku lari dari rumah itu di ujung gang tau-tau kepala aku dihantam sesuatu. Habis itu udah nggak inget apa-apa lagi. Pas bangun sudah disini, itupun susah payah saya melarikan diri."
"Kamu liat siapa pelakunya?"
Agung mengangguk, "orang yang sama yang membunuh paklek Andi sama bulek Tina."
"Dua anak dan dua asisten?" Reino bertanya lagi tapi Agung menggeleng pelan.
"Saya nggak tahu om, waktu saya datang dia cuma bunuh dua orang, saya ketakutan. Berusaha menolong tapi nggak bisa, tenaganya kuat banget." Agung terdiam sesaat, ia menyentuh dadanya. "Liontin dari papa!"
"Kenapa liontinnya, kamu nggak pake kalung kok?"
"Dia rebut liontin itu om!"
Reino mengerutkan kening, untuk apa pembunuh itu mengambil kalung tak berharga milik Agung. Bukankah itu sangat aneh? Dan lagi ia malah membiarkan Agung lolos, lalu dengan sengaja menyerang agung di ujung gang.
Firasat Reino mengatakan ini dilakukan lebih dari dua orang, seseorang sengaja menjebak Agung. Tapi, untuk apa?
"Disana om!"
Agung membuyarkan lamunan Reino dan segera mengikuti langkah cepat remaja itu. Agung menuju timbunan daun kering yang cukup besar. Bau tak sedap menyeruak hanya beberapa meter dari tempatnya berdiri.
"Siapa yang menimbun tubuhku?" Agung bergumam lirih, menatap jemari tangan kebiruan yang menyembul dari balik dedaunan kering.
Reino mendekat, menutupi indra penciumannya dengan tangan. Perlahan dedaunan kering itu disingkirkan dengan hati-hati.
"Astagaaa, ini mengerikan!"
Jasad Agung sudah tak utuh lagi, hewan liar kemungkinan memangsanya. Luka fatal di kepala dan beberapa bagian dengan darah mengalir deras jelas memancing predator malam untuk mendekat. Tak heran jika jasadnya tak lagi utuh. Tapi siapa yang menutup jasad Agung dengan dedaunan kering?
"Kamu ingat siapa yang melakukan ini?"
Agung yang menatap pilu jasadnya menggeleng pelan. "Aku cuma ingat waktu penutup mata dibuka orang itu tak membuang waktu untuk memukul dan menyabetkan parang."
Agung menangis, sungguh ia tak menyangka nasibnya akan berakhir tragis. "Apa salahku om, kenapa dia tega menghabisi ku seperti binatang!"
Tangis Agung pilu menggema ke seluruh penjuru hutan. Agung hanya remaja biasa yang berada ditempat dan waktu yang salah. Dia hanya kambing hitam dari kejadian keji yang sebenarnya.
__ADS_1