
Reino membawa Agung berjalan jalan sejenak sebelum ia menemui Ferdian. Masih tersisa beberapa jam sebelum Thomas memperbolehkan Reino membawanya.
"Kita kemana om?" tanya Agung sesaat setelah masuki pintu dimensi.
"Ketemu mama kamu, Malik bilang aku boleh mempertemukan kalian."
"Malik? Siapa itu om?"
Reino tersenyum misterius, tak menjawab hingga mereka tiba di rumah besar nan megah milik Malik.
"Wah, apa ini surga om?" Agung terkesima dengan pemandangan indah yang memanjakan mata.
Rumah mewah, kebun bunga, halaman belakang yang sangat luas dengan danau buatan seperti istana Bogor yang pernah ia datangi bersama papa mamanya membuat Agung takjub.
"Ini bagus banget om, jadi kangen piknik sama mama papa."
Raut wajah Agung berubah seketika, dari takjub menjadi muram. Reino menepuk bahunya, menguatkan Agung.
"Kuat boy! Ayo kita masuk!"
Agung mengikuti Reino, membuka tabir dimensi agar Agung bisa melewati pembatas gaib yang dibuat Malik untuk melindungi rumahnya. Malik sebelumnya telah mengizinkan Reino membawa Agung untuk menemui Mia.
"Masuklah!" Reino mengajak Agung yang ragu.
Ada rasa aneh yang menggelayuti hati Agung, takut, sedih, bahagia bercampur menjadi satu. Ia berjalan perlahan menyusuri koridor panjang rumah Malik. Rumah yang lebih mirip dikatakan istana. Agung sampai berdecak beberapa kali mengagumi kemewahan rumah itu. Hingga akhirnya tubuh Agung kaku, ia tak bisa melanjutkan langkahnya lagi.
Matanya menatap sayu wajah Mia yang tengah menyulam di taman bersama dua wanita lain. Mia sesekali tersenyum saat dua wanita itu mengajaknya bicara.
"Mama,"
Reino ikut berhenti dan menoleh pada Agung, "mau mendekat?"
Agung tak menjawab, ia terisak, lidahnya terasa kelu, ingin berlari memeluk Mia tapi kakinya tak sanggup melangkah. Reino memahami perasaan Agung, ia mendekat dan memeluk remaja yang hancur hatinya itu.
"Kenapa agung harus begini om? Agung sayang mama, agung nggak siap ninggalin mama sendiri!" Tangisnya pilu membuat hati Reino sakit.
__ADS_1
"Mamamu akan baik-baik saja, Gung. Percaya sama om, dia ada ditempat yang tepat. Aku membawamu kesini untuk melihat senyuman malaikatnya."
Agung terus menangis, dan Reino membiarkannya meluapkan kesedihan. Siapa yang mengira jika kematian datang menjemput tiba-tiba. Agung masih terlalu muda untuk kembali ke sang Khalik, tapi takdir telah ditentukan bahkan ribuan tahun sebelum manusia diciptakan.
Setelah agung bisa mengontrol dirinya, ia memberanikan diri untuk mendekat. Untungnya mantra kuno pengendali roh yang disematkan Reino masih berfungsi dengan baik hingga roh Agung tak lagi berubah menjadi roh jahat.
"Mah …,"
Agung mencoba memeluk Mia tapi tak bisa, Reino tidak mengijinkan hal itu. Agung untuk saat ini hanya sosok tak kasat mata yang bisa melihat tapi tak bisa menyentuh.
Agung bersimpuh di kaki Mia, menangis tanpa bisa didengar oleh wanita yang melahirkannya.
"Maafin agung mah, agung harus ninggalin mamah sendirian sekarang. Jaga diri mamah baik-baik ya, makan yang banyak, istirahat cukup. Agung tetap ada untuk mama dari jauh."
Seolah merasakan kehadiran Agung, Mia gelisah, sedari tadi ia melihat ke arah Reino yang berada di dimensi gaib. Tabir tak kasat mata menghalangi pandangan manusianya. Hatinya tak tenang hingga beberapa kali jarinya tertusuk jarum.
"Apa ini, kenapa rasanya lain?" Mia bergumam sendiri.
"Kenapa mbak?" Wanita yang usianya hampir sama dengan Mia bertanya, dia putri dari Malik bernama Naira.
"Nggak tahu mbak, perasaan saya kok nggak enak ya? Apa pak Malik belum kasih kabar tentang Agung mbak?"
"Oh, begitu." Wajah muram Mia menunduk lesu, ia kembali menoleh ke arah Reino yang terhalang tabir pelindung.
Agung masih terisak, ia menyentuh pipi ibunya sekedar meluapkan rasa rindu. Mia tersentak, ada hawa dingin yang menyapu pipinya. Ia menyentuh pipi dan menembus tangan agung.
"Agung,"
Batin seorang ibu tak bisa dibohongi, firasatnya kuat mengatakan jika di dekatnya ada sang putra.
Agung menangis dan mencium kening ibunya, 'maafkan agung mah, agung pamit!'
Airmata Mia menetes begitu saja ia merasakan keharuan dan kesedihan mendalam tanpa sebab. Jarinya mengusap air mata yang jatuh begitu saja, "ya Tuhan, semoga tidak terjadi apa-apa pada Agung-ku. Lindungilah dia ya Rabb."
Agung tak kuasa lagi, ia berlari dan menghilang. Tentu saja ini membuat Reino kelabakan. Ia bergegas mencari Agung karena waktunya untuk bertemu sang ayah mulai dekat.
__ADS_1
"Aah, sial! Malah lari, Agung!" Reino memanggil Agung yang melesat cepat keluar rumah Malik.
Ia berpapasan dengan Malik saat keluar rumah. Malik yang bisa melihat Reino meski dalam lindungan tabir gaib berteriak padanya, "gunakan mantra pemanggil roh!"
Reino mengangguk, dengan cepat ia bergumam lirih. Mantranya mulai bekerja dan dalam sekedipan mata Agung sudah kembali ke sisi Reino. Malik ikut lega, agung akan menjadi penentu keberhasilan rencana Thomas.
"Bawa dia menemui ayahnya, dia ada di stasiun." Perintah Malik saat situasi telah terkendali.
Reino menghela nafas berat, ini adalah bagian terberat dari misinya. Malik sudah mengingatkan padanya untuk tidak ikut campur. Apa pun yang terjadi, Reino harus menyingkir. Keputusan para Penjaga adalah mutlak dan tak seorang kurir pun yang mampu menghalanginya.
*
*
*
Ferdian mencari barang bukti keterlibatan Heri dalam pembunuhan keluarganya. Ia ingin Agung selamat. Ambisinya menemukan bukti membuat Ferdian melupakan janjinya untuk tidak menggunakan kekuatan istimewa di luar misi sebagai kurir.
Ferdian kesulitan mendapatkan bukti tambahan karena semua bukti sudah dikumpulkan pihak penyidik. Mencari saksi mata pun sulit dilakukan hingga akhirnya Ferdian memaksa masuk dalam memori beberapa warga yang ditemuinya. Hal terlarang yang tidak boleh dilakukan para kurir.
Tapi dari semuanya, Ferdian tak menemukan apa pun. Tak ada satupun dari memori itu yang menunjukkan korelasi penting yang berkaitan dengan Agung.
"Aaaargh!! Aku harus menemukannya, aku harus menemukan bukti itu!" Ferdian mengamuk, menendang, melempar benda yang terdapat di ruangan TKP. Menghancurkan apapun yang ada di dekatnya. Ia tak peduli jika itu akan merusak tempat kejadian.
"Mas Ferdiiiii … jej gila ya! Udah berhenti, ngapaiiin juga jej ngamuk-ngamuk nggak jelas gitu!"
Ferdian menatap nyalang John, menarik kerah bajunya dengan kasar dan mendorong John ke lemari kayu dengan keras.
"Aku harus menemukan bukti! Aku harus membebaskan anakku, John!"
"Iiih, mas Ferdi jaharaaa … lepasin, eike sakit! Jej kadang suka lupita deh sama posisi! Jej kurir bukan polisi keleeezz!"
Ferdian menatap John sejenak dengan nafas ngos-ngosan menahan amarah lalu melepaskan cengkraman tangan di lehernya. John tersenyum ganjil saat Ferdian membelakanginya.
"Jej, ditunggu Thom-thom di stasiun. Pergi cepet sebelum waktu untuk dua roh itu habis!"
__ADS_1
Ferdian memejamkan mata menetralkan amarah yang membuncah. Ia tak bisa menolak perintah Thomas, "dimana dua roh itu, John?"
"Mereka sudah menunggu di sana bersama Louise."