Kurir Arwah Penasaran

Kurir Arwah Penasaran
Negosiasi


__ADS_3

Sang raja tampan berjalan angkuh mendekati pengikut yang masih dalam kuasa mantra Reino. Ia tersenyum bengis, sama sekali tak menampakkan wajah berseri seperti menyambut kedua tamu istimewanya.


"Raja, mereka telah lancang memasuki wilayah kita! Mereka bahkan memaksaku untuk mengantar kemari! Bebaskan aku raja dan hukum mereka." Lelembut wanita itu memohon pada Raja tampan yang kini berdiri tepat di hadapannya.


"Kau minta dibebaskan?" tanyanya pada lelembut itu.


Wajah makhluk serupa kuntilanak itu mendadak berubah, ia takut dan menunduk. Reino dan Ferdian saling memandang, sedikit heran karena sang Raja justru tidak menampakkan rasa iba.


"Kau gagal menjaga area itu hingga mereka bisa memasukinya! Ini bukan kali pertama kau gagal, kau bahkan membiarkan putriku mati tanpa bantuan sedikit pun!"


Sosok itu ketakutan, ia gemetar dan tak berani menatap Rajanya. "Aku sudah berusaha menjaganya tapi … putri melarikan diri." ia menjawab lirih.


"Melarikan diri katamu? Putriku atau dirimu?" Raka tampan itu menghardik keras.


Reino dan Ferdian tak memahami apa yang terjadi. Yang jelas sang Raja sedang murka.


"Aku benci melihat kegagalan, dan kau tahu hukuman dari kegagalan?" Sang Raja mendekatkan wajahnya pada abdinya itu.


"Mati!" bisiknya dengan seringai kejam, lelembut itu ketakutan. Ia semakin menunduk.


Tak ada wajah tampan rupawan yang ditunjukkan sang Raja yang ada hanya wajah dingin mengerikan. Abdinya gemetar saat mata sang raja berubah kemerahan, lalu dengan satu sentuhan saja, raja itu membakar sosok yang masih terikat mantra dengan Reino.


Sigil Jawa pengikat Reino retak dan hilang begitu saja bersamaan dengan leburnya sosok menyeramkan serupa kuntilanak. Teriakan panjang dan melengking yang menyertai terbakarnya sang abdi tak membuat raja tampan itu tersenyum. Ia menatap datar abdi yang perlahan berubah jadi debu.


Reino tersentak mundur selangkah saat sigil miliknya terpatahkan. Benang tipis di jarinya pun ikut menghilang.


"Dia mati?" gumamnya.


"Hancur tepatnya mas Reino! Maaf kedatangan kalian sudah disambut dengan hal yang kurang mengenakkan. Jadi … sampai dimana kita?"


Sang raja tampan itu kembali berubah ramah, sedikit menakutkan untuk kedua kurir utusan Thomas itu. Kekhawatiran pun muncul di hati keduanya meski tak bisa diungkapkan secara jelas. Raja tampan dengan jubah kebesarannya itu mengajak Reino dan Ferdian berbicara lebih serius di aula pertemuan. Tempat khusus dimana tak ada telinga yang bisa mendengar pembicaraan ketiganya.


Sang raja menempati tempat duduk khusus untuknya. Setelah terdiam beberapa saat Ferdian mengulurkan gulungan kertas dari Thomas pada sang raja.

__ADS_1


"Kami datang atas perintah Thomas, jika diperkenankan kami hendak menjemput empat roh yang ditahan di kerajaan ini." 


Sang Raja tak menjawab, ia membaca dengan seksama isi dalam gulungan kertas itu. Helaan nafas berat terdengar setelah sang Raja meletakkan gulungan kertas. Ferdian dan Reino menunggu.


"Ini sulit dan aku tidak bisa mengabulkannya." Raja yang biasa disebut Sing Mbaurekso itu kembali bicara, "Empat orang itu telah membunuh putriku, tidak hanya satu tapi dua! Mereka telah mengusik hati permaisuri ku."


"Kami tahu dan bisa memahami kesedihan anda, tapi putaran takdir harus berjalan. Roh-roh itu harus kembali segera." Reino menyahut.


"Mereka membunuh putri kembarku!" 


Suara sing Mbaurekso tampan itu menggelegar, menggema ke seluruh ruangan yang luas dan cukup tinggi. Baik Ferdian ataupun Reino hanya bisa diam dan saling pandang, mereka berusaha memahami posisi sang Raja. Kehilangan dua anak sekaligus pasti bukan perkara mudah.


Wajar jika sing Mbaurekso pun murka dan menarik keempat roh itu untuk menebus dosa mereka. Sing Mbaurekso memiliki kuasa dan kekuatan atas kerajaan gaibnya. Empat pemuda itu telah melanggar aturan dengan memasuki hutan terlarang dan juga membunuh kidang emas keramat.


"Saya memahami rasa kehilangan raja, tapi kita tidak bisa mengubah takdir kematian bukan? Tidak seorang pun bisa melawan kematian bahkan anda sebagai Raja sekalipun." Ferdian menatap tajam sang raja tanpa berkedip.


Sing Mbaurekso yang memiliki nama asli Candra itu diam. Ferdian memang benar tapi egonya sebagai ayah tak rela jika harus melepaskan begitu saja empat roh pembunuh putrinya.


"Biarkan kami membawa keempatnya pulang, kami pastikan mereka akan mendapat ganjaran setimpal. Biarkan mereka dihukum sesuai kehendak pemilik alam." Reino ikut membujuk, tapi sang Mbaurekso tetap bergeming.


Gurat kesedihan masih jelas terlihat di wajah sang raja. Meski masih memiliki keturunan yang lain, tetap saja kehilangan putri kembarnya yang unik menjadi pukulan telak bagi sing Mbaurekso. Si kembar kidang emas memiliki keistimewaan tersendiri. Tanduknya yang berkilau bisa mengobati penyakit apa pun, ditambah bulu-bulu emasnya yang begitu menawan menjadikan dua putri cantiknya itu kebanggaan sang raja.


Malam saat kejadian naas, harusnya kedua putri sang raja ada bersamanya. Ada ritual mandi bulan yang sedianya dilakukan. Setiap bulan purnama di bulan ketujuh kedua putrinya akan mendapat tambahan kekuatan dari sinar bulan. Tapi sayang putrinya harus mati karena ketamakan manusia. Entah bagaimana ceritanya sampai kedua putrinya itu meninggalkan ritual mandi bulan.


"Bolehkah kami melihat empat roh itu." Ferdian mengajukan pertanyaan yang mustahil. Empat roh itu kabarnya disimpan di ruangan khusus yang hanya bisa dilihat oleh orang kepercayaan sang Raja.


Candra terdiam sejenak untuk  selanjutnya berkata, "Ikuti aku!"


Sang raja berjalan di depan, Ferdian dan Reino mengekor. Kerajaan yang sangat luas, dingin, gelap, dan dipenuhi aura negatif. Reino dan Ferdian bisa merasakan kesedihan yang memenuhi hampir setiap sudut ruangan. Sang permaisuri, masih berduka dan tak percaya dengan kematian kedua putrinya sekaligus.


Dua kurir tampan itu terus waspada dan mengedarkan pandangan. Sebagai utusan yang ditugaskan untuk menjemput roh yang tersesat bukan tak mungkin mereka akan diserang secara tiba-tiba, demi menggagalkan misi.


Memasuki ruangan bawah tanah yang gelap, lembab, dan hanya diterangi cahaya obor sang Raja mengantarkan dua kurir ke dalam penjara khusus miliknya. Ia berhenti di satu sel yang letaknya di ujung ruangan.

__ADS_1


"Mereka ada disini!"


Ferdian dan Reino memperhatikan sel berdinding batu yang gelap, lembab, dan dingin. Empat roh itu terikat besi di kedua tangan dan kaki serta leher. Wajah pucat, tubuh penuh luka, dan pakaian compang camping tak karuan.


"A-air …," salah satu roh merintih.


"Haus, aku minta air …,"


Sang raja menyeringai tanpa berniat memberi mereka minum. 


"Berapa lama mereka disiksa?"


"Setiap hari, setiap jam, setiap cambukan mereka dinilai sesuai helaian bulu di tubuh kidang emas." jawab sang raja dengan tatapan tajam, ia sangat membenci keempatnya.


"Sebaik raja berhenti, mereka hanya memiliki waktu tujuh hari sebelum roh mereka hancur. Ampuni mereka dan serahkan hukuman pada pemilik semesta." Reino kembali membujuk.


"Kau tahu mas Reino, setiap teriakan kesakitan mereka bagai anak panah yang menusuk tubuhku. Aku sakit tapi lebih sakit lagi mengingat nyawa putriku yang hilang karena ketamakan mereka." mata Raja Candra berkilat kemerahan menahan amarah dan juga kesedihan disaat bersamaan.


"Memaafkan dan mengikhlaskan akan membuat rasa sakit mu berkurang." Reino kembali bicara.


"Kami tahu, aku juga bisa merasakan sedihnya kehilangan anak. Meski kasus kita berbeda tapi kita sama-sama kehilangan anak. Putraku menganggap diriku mati, secara teknis memang benar, dan aku kehilangan dia. Tak lagi bisa menyentuh ataupun berbicara dengannya." Nada suara Ferdian bergetar mengingat Agung.


Raja Candra menoleh dan memperhatikan Ferdian, "Kau kehilangan putramu?"


"Yup, bedanya aku masih bisa melihatnya di dunia manusia dan kau tidak."


"Itu sama saja menyakitkan!"


Sang raja menghela nafas berat, menatap kedua kurir bergantian. "Baiklah aku akan melepaskan keempatnya tapi dengan syarat."


Ferdian dan Reino saling memandang, mereka setengah tak percaya dengan apa yg dikatakan Raja Candra. Apa yang ada dalam pikiran sang Raja hingga ia berubah pikiran?


"Apa syarat nya?" sahut Reino penasaran.

__ADS_1


"Kalian harus menang menghadapi abdi setiaku. Jika kau bisa melukai atau membunuhnya aku akan melepas keempatnya. Tapi jika tidak … kalian harus menjadi abdi setiaku!"


__ADS_2