Kurir Arwah Penasaran

Kurir Arwah Penasaran
Akhir dari Tangkalaluk


__ADS_3

Tangkalaluk masih terlihat penasaran dengan kehadiran dua manusia tak dikenal di wilayahnya. Raja candra memerintahkan padanya untuk menjaga hutan larangan setelah kematian kedua putri kesayangannya. Siapa pun yang memasuki hutan harus mati, begitu pesannya.


Tangkalaluk mencium bau darah manusia, itu bau kesukaannya. Ia waspada menaikkan bagian tubuh atasnya dan membiarkan kedua tangan tengkoraknya menjuntai. Lidah bercabang super besar menjilat jilat udara sekitar memastikan rantai kimia dari apa yang dirasakannya benar.


Ia juga memindai panas dari dua manusia yang datang. Tangkalaluk merasa aneh karena perpindahan panas keduanya begitu cepat, saling berlompatan kesana kemari dalam waktu dekat. Bau anyir darah semakin pekat, ia yakin jika salah satu dari dua manusia itu sedang terluka.


Binatang besar serupa ular itu mengikuti inderanya penciumannya ke arah barat, sesekali ia melihat perpindahan energi yang cukup besar hingga ia berhenti sejenak. Bau darah itu tercium jelas bersamaan dengan lonjakan energi di sisi kirinya.


Ferdian muncul dari gerbang dimensi memancing Tangkalaluk dengan luka yang sengaja digoreskan pada tangannya.


"Hei jelek! Kemarilah!"


Pergerakan Ferdian terlihat, Tangkalaluk menjerit keras membuat tanah bergetar. Tanpa menunggu lama makhluk itu mengejar Ferdian, kecepatannya luar biasa dan menghancurkan pepohonan yang dilewatinya. Ferdian berkali kali membuka gerbang dimensi saat makhluk buas itu hampir menyentuh kakinya.


Reino bersiap dengan garam ajaib pemberian Malik. Ia menunggu aba-aba Ferdian yang kini berlari ke arahnya.


"Rein, bersiaplah!" Ferdian masuk ke dalam gerbang dimensi lagi dan menghilang.


Tongkat estafet kini ada pada Reino, dengan cepat ia merapal mantra kuno membuat rune sihir dan melemparkan garam ke arah Tangkalaluk. Makhluk itu menjerit saat garam yang dilemparkan Reino berubah menjadi serpihan kaca tajam yang melukai tubuhnya. Ledakan-ledakan kecil juga terdengar saat beberapa kali serpihan kaca tajam itu menyentuh bagian tertentu.


Ferdian yang berada dibelakang Tangkalaluk mencari keberadaan mustika darah yang ditanam di ruas ketiga dari ruas atas. Tebalnya bulu yang menutupi tubuh bagian atas Tangkalaluk membuatnya sedikit kesulitan. Ia membalut kuat luka gores di tangannya agar darah tak kembali menetes.


Reino terus melemparkan garam bermantra membuat ular besar itu terus menggeliat, hingga akhirnya pendaran merah itu terlihat. Ferdian harus mengambilnya cepat untuk melemahkan makhluk besar itu. Berbekal pisau komando dan pintu dimensi yang sengaja dibuka sedikit, Ferdian menghujamkan pisau miliknya dan mengambil mustika darah dengan cepat.


Tangkalaluk yang tak menyangka diserang dari belakang mengibaskan ekor untuk mengusir Ferdian. 


"Mas, awas!" 


Teriakan Reino terlambat, Ferdian terpental sebelum dirinya berhasil masuk dalam lubang dimensi. Tubuhnya menghantam beberapa pohon sebelum akhirnya tersungkur dengan luka dalam. Kepala Ferdian rasanya hampir pecah, dadanya panas punggungnya nyeri sekali terkena sabetan ekor Tangkalaluk. Ia muntah darah, kesadarannya menipis. 


"Dasar monster bodoh, tinggal menunggu waktu saja." Ferdian tersenyum penuh kemenangan sebelum terlempar mustika itu telah berhasil di tangan.

__ADS_1


"Mas!" Reino keluar dari pintu dimensi segera memeriksa kondisi Ferdian.


Ferdian tak menjawab, hanya tersenyum lebar dengan mulut berlumuran darah. Ia menunjukkan mustika dalam genggaman tangannya.


"Kita habisi kampret berbulu jelek itu!" 


Reino mengangguk yakin, ia membuka pintu dimensi lagi membantu ferdian berdiri mereka masuk ke dalam lubang tepat sebelum moncong Tangkalaluk menghancurkan tempat itu. Monster itu mengamuk, ia terus mengejar lonjakan energi yang menunjukkan keberadaan kedua manusia itu.


"Sedikit lagi Rein, itu rumpun bambunya!" Ferdian menyemangati Reino disela kesadarannya.


"Bertahan mas, kamu nggak boleh mati disini kalo nggak kamu justru bakal jadi alat barter buat empat arwah itu." Reino sedikit khawatir karena wajah Ferdian mulai pucat.


"Gue masih kuat bro, masa kalah sama si ulet!" 


Reino tersenyum masam, mereka tiba di rumpun bambu. Reino membantu Ferdian duduk, makhluk itu terus memburu dan sebentar lagi dipastikan sampai. Reino bingung bagaimana cara memotong bambu jika tidak ada alat tajam. Menggunakan pisau komando milik Ferdian jelas tak mungkin. Reino frustasi.


"Brengsek cepet banget larinya tuh ular! Gimana cara potong ini bambu!"


CRAASH!!


"Mas Reeeiiiin, Eike bawain bambu! Butuh bantuan?!" John kembali datang, berlagak sambil menatap kelima jarinya.


"Kelar nyalon?" Dengus Reino.


"Hooh, kelar! Bagus kan tangan Eike!" John tersenyum lebar, ia menatap ke arah Tangkalaluk yang semakin mendekat.


Wajahnya berubah serius, ia berjalan dengan langkah pasti menyongsong monster berbulu itu. Dengan satu hempasan tangan, sang Tangkalaluk terpental mundur.


"Wow, that's cool man! Kau bahkan tidak menyentuhnya sama sekali!" Puji Ferdian.


"Yeah, that John … the real John!" Sahut Reino.

__ADS_1


"Aku akan mengangkatnya tinggi dan menghempaskan ke arah bebatuan disana, kalian berdua gunakan bambu itu untuk membunuhnya!" Suara John menggema lantang bak superhero.


Hanya dalam satu kedipan mata saja, John berhasil melempar dengan mudah Tangkalaluk ke bukit kecil bebatuan serupa punden pemujaan. Tidak adanya mustika darah membuat monster itu melemah.


Reino dan Ferdian tak mau membuang waktu. Dengan sisa tenaganya Ferdian memaksakan diri untuk bangun, ia memburu monster itu dan menusukkan bambu di belakang kepala, perut dan juga ekor belakang Tangkalaluk.


"Ini untuk ekor menjijikkan yang membuatku terluka!"


Ular itu menjerit, menggeliat dan mencoba melawan tapi ia tak bisa bergerak. John menguncinya dengan mantra kekuatan yang dipahaminya. Mulut John berkomat kamit dan iris matanya berubah kuning kemerahan.


Reino bergegas dengan menancapkan empat bambu terakhir. Kedua tangan, jantung dan terakhir puncak kepala yang tak tertutup mahkota. Sang Tangkalaluk melengking panjang untuk kemudian menutup matanya. Monster besar itu terkalahkan, tubuhnya perlahan terbakar bak kertas beserta tujuh bambu kuning yang menancap di tubuhnya.


"Pring kuning pitu, pitulungan saking Gusti Pangeran." Gumam John sebelum matanya kembali normal.


Lentera kehidupan sang Tangkalaluk padam, Raja Candra tersenyum puas. "Luar biasa Thomas, kedua kurir patut diacungi jempol." Ucapnya saat melihat lentera itu padam.


"Well mereka orang pilihan. Jadi kesepakatan ini berakhir?" Thomas mengenakan kembali topi fedora nya.


Raja Candra mengulas senyum misterius, "Ya berakhir, aku berikan empat arwah itu pada mereka. Jangan lupakan untuk mengantar putriku kembali. Ia harus bereinkarnasi menjadi manusia yang cantik secantik ibunya."


"Tentu, aku akan memastikan dia menjalani putaran takdir dengan baik. Dua putrimu akan kembali terlahir sebagai manusia istimewa. Gadis istimewa dengan mata indah serupa bulu merak, sekuat Lembuswana, secantik putri Kandita, sehebat penyihir Calonarang."


"Jangan berlebihan Thomas, kau membuatku tertawa!"


"Itu adalah hadiah terbaik yang bisa kuberikan untuk raja hebat sepertimu."


"Dasar penjilat!" Balas Candra dengan sarkas.


"Itu keahlian ku tuan! Baiklah aku pergi, sampaikan salam ku untuk Kirana, dan sebaiknya ia jangan mengurung diri dalam kesedihan. Putrinya akan kembali terlahir, bergembiralah!"


Thomas melenggang pergi, dan menghilang begitu saja. Candra merebahkan punggungnya, beban berat itu akhirnya terangkat sudah. Kedatangan Thomas membuatnya lega. 

__ADS_1


"Dasar pak tua gila, berani menentang hukum alam demi aku dan kedua kurir hebat itu. Aku salut padamu pak tua!"


Setelah mengatur nafasnya sejenak Candra memanggil abdinya. "Lepaskan dan siapkan keempatnya!"


__ADS_2